| |
C © updated
17022006-19012003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/kompas |
|
| |
Nama:
Letjen (Purn) Hasnan Habib
Lahir:
Maninjau, Sumatera Barat, 3 Desember 1927
Meninggal:
Jakarta, 16 Februari 2006
Agama:
Islam
Isteri:
Naida Zastia
Anak:
Afitri Narindra, Kemala Damita, Narga Shakri, dan Syahriza Hirsyan
Ayah:
Habib Sutan Maharaja
Ibu:
Malini
Pendidikan:
- Sekolah Pelatih Infanteri di Cimahi
- Infantry Company Officer Course di Fort Benning (AS) tahun 1952
- Universitas Parahyangan, Bandung (1957)
-
Higher Military Academy and War College, Beograd (Yugoslavia) 1962-1964
-
Naval Post Graduate School, Monterrey, California (AS) tahun 1971
Pekerjaan:
Pelatih Sekolah Pendidikan Infanteri di Bandung tahun 1955
Asisten Perencanaan Umum Hankam
Kepala Staf Departemental Hankam
Kepala Staf Administrasi Hankam
Duta Besar RI untuk Kerajaan Thailand, merangkap Wakil Tetap RI untuk
Komisi Sosial Ekonomi Asia Pasifik PBB (UN ESCAP) tahun 1980-an.
Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (1982-1985)
Duta Besar Keliling Gerakan Non Blok untuk Amerika Utara, Karibia, Amerika
Latin (1992-1995)
Kegiatan Lain:
Anggota Dewan Penasihat Yayasan Paramadina
Dewan Penasihat The Nature Conservancy
Pengurus Yayasan Ilmu-ilmu Sosial
Pendiri Yayasan Pusaka Alam Nusantara
Anggota Board of Trustee US-Indonesia Society
Sumber:
Dari berbagai sumber di antaranya Kompas dan “Siapa Mengapa Sejumlah Orang Minang, Edisi I-1995,
halaman 29-32, terbitan Biro Penerbitan BK3AM DKI Jakarta).
|
|
| |
|
|
|
|
| HASNAN HABIB HOME |
|
|
 |
Letjen (Purn) Hasnan Habib
Jenderal yang Tidak Pernah Cuti
Letnan Jenderal (Purn) A Hasnan Habib, intelektual militer yang tak
henti-hentinya berperan merancang dan menggagas reorganisasi,
konsolidasi dan integrasi militer Indonesia, yang juga mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat
(1982-1985), meninggal dunia dalam usia 78 tahun, Kamis 16 Februari 2006
pukul 21.19 WIB, di Rumah Sakit Pondoh Indah, Jakarta.
Jenazah pengamat politik dan
militer, itu disemayamkan di Jalan Sekolah Duta Raya TC 6 Pondok Indah,
Jakarta Selatan. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan
Kalibata setelah shalat Jumat 17 Februari 2006.
Dia meninggal akibat
menderita kanker di lambung dan berbagai komplikasi penyakit. Namun
selama satu bulan dirawat, dia nyaris tidak pernah memperlihatkan rasa
sakitnya. Bahkan sekitar satu jam sebelum meninggal, dia masih meminta
koran.
Tak Pernah Cuti Ia militer intelektual yang tak henti-hentinya berperan merancang dan
menggagas reorganisasi, konsolidasi dan integrasi militer Indonesia. Ia
ingin menjadikan tentara Indonesia yang profesional. Menurutnya, bukan
hanya dwifungsi (ketika itu) yang menampilkan wajah militer Indonesia
tidak profesional, juga soal anggaran militer tak pernah jelas sejak
terbentuknya republik ini.
Meski pangkat terakhirnya letnan jenderal, sosok Hasnan Habib- pria
kelahiran Maninjau (Sumatera Barat) 3 Desember 1927 – ini memang lebih
dekat dengan dunia intelektual daripada medan tempur. Sebagai anak dari
pasangan guru dan penilik sekolah, tak heran jika Hasnan juga merasa akrab
dengan urusan berpikir dan mentransformasikan pikiran.
Aktivitas intelektual tak lekang dengan usia. Jika diingatkan pada umur,
yang tanggal 3 Desember 2002 lalu, genap berusia 75 tahun, ini malah
merujuk pada mereka yang lebih tua dan tetap bersemangat seperti Selo
Soemardjan. Karena itu, berbagai posisi tetap dipegang, seperti anggota
Dewan Penasihat Yayasan Paramadina, Dewan Penasihat The Nature
Conservancy, Pengurus Yayasan Ilmu-ilmu Sosial, Pendiri Yayasan Pusaka
Alam Nusantara, anggota Board of Trustee US-Indonesia Society, dan sederet
posisi lain.
Ilmu yang diserap dari Infantry Company Officer Course di Fort Benning
(AS) tahun 1952-yang katanya lebih mengajarkan pada keahlian (skill)
tempur dibanding pengetahuan (knowledge) dalam kesiapan mental
tempur-menjadi bekal bagi dirinya untuk merintis awal Sekolah Pelatih
Infanteri di Cimahi yang menghasilkan instruktur untuk pendidikan serupa
di tingkat tamtama dan bintara di seluruh Indonesia. Bersama dengan
rekannya, Letjen (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo, Hasnan juga mendidik
tiga angkatan pada Sekolah Pendidikan Infanteri tahun 1955 di Bandung.
Waktu pangkatnya mencapai letnan kolonel, Hasnan Habib mulai dikirim untuk
memperdalam militer sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Antara tahun
1962-1964, ia belajar di Higher Military Academy and War College, Beograd
(Yugoslavia). Ini dilanjutkan pada tahun 1971 dengan belajar di Naval Post
Graduate School, Monterrey, California (AS). "Di sini saya belajar soal
manajemen pertahanan, soal kepemimpinan, dan organisasi," ujarnya.
Terpapar dengan berbagai gagasan soal bangunan militer yang modern, di
tubuh ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, sekarang Tentara
Nasional Indonesia/TNI) Hasnan pun tak henti-hentinya berperan menjadi
perancang dan penggagas reorganisasi, konsolidasi, dan integrasi militer
Indonesia. Asisten Perencanaan Umum Hankam, Kepala Staf Departemental
Hankam, dan Kepala Staf Administrasi Hankam adalah deretan jabatan yang
dipegangnya.
"Saya ingin menjadikan tentara Indonesia yang profesional," begitu
cita-citanya saat itu. Salah satu alasannya, di dunia internasional
Indonesia akan dilihat terus-menerus dalam krisis, kalau selalu
mengedepankan tentara daripada sipil.
Namun, di sisi lain, Hasnan pun tidak bisa memungkiri bahwa peran TNI
dalam mewujudkan kemerdekaan sangat besar. Dan, konflik di berbagai
wilayah mau tidak mau membutuhkan kepemimpinan tangan kuat yang biasanya
hanya bisa dilakukan oleh militer. Dari sini muncullah para pejabat
birokrasi pemerintahan yang memang meniti karier dari dunia militer.
"Jadi, dwifungsi ABRI itu sudah ada sejak lahirnya kemerdekaan," kata
Hasnan.
Bukan hanya dwifungsi (ketika itu) yang menampilkan wajah tidak
profesionalnya militer Indonesia, celakanya, anggaran militer sendiri
sejak terbentuknya republik juga tak pernah jelas. Akibatnya, pengelolaan
dana terbiasa untuk tidak tertata. Beban utama untuk menjaga keamanan
dalam negeri, kata Hasnan, membuat tanggung jawab keuangan menjadi nomor
dua. "Yang penting, hasilnya adalah Indonesia aman," ujarnya.
Bukan lagi cerita kalau sikap "bapak"-isme merebak sejak dahulu di
kalangan militer. Seorang komandan kompi, kata Hasnan, bertanggung jawab
juga terhadap kesejahteraan anak buah. "Termasuk bertanggung jawab mencari
dana untuk beli senjata. Akibatnya, mereka terbiasa dagang. Dan, terbiasa
juga tidak ada auditing," ujarnya.
***
Andaikata tawaran belajar biola di sekolah musik di Wina (Austria) lebih
setengah abad lalu diterimanya, mungkin kita tak akan mengenal nama Letnan
Jenderal (Purn) Adnil Hasnan Habib berkibar di dunia militer dan diplomasi.
Kita tak akan bersentuhan dengan berbagai pemikirannya yang jernih dan
lugas, terutama dalam soal pertahanan keamanan dan hubungan internasional.
Boleh jadi, yang kita lihat adalah seorang Hasnan yang menggesek biola di
atas panggung bersama orkes simfoni.
"Tidak. Tugas saya di sini," begitu jawab Hasnan Habib atas tawaran
seorang anggota panitia, sehari setelah sebuah konser untuk menghimpun
dana bagi pembelian pesawat pengebom dilakukan di Akademi Militer
Yogyakarta saat itu.
Dalam bahasa Hasnan, begitu ia bergabung dengan dunia militer-dimulai
dengan sekolah pendidikan calon perwira bikinan Jepang, Gyugun, di Padang,
Sumatera Barat-semuanya mengalir begitu saja, "Seperti air bah." Suasana
saat itu juga diwarnai semangat patriotisme untuk membangun sistem
pertahanan rakyat. Dan, ini mungkin bisa dipahami juga dari kekaguman
Hasnan muda pada kepemimpinan Kemal Ataturk di Turki.
Hasnan memang mengaku tak pernah berpikir untuk keluar dari dunia militer,
kendati ia jago main biola, pernah ingin jadi dokter, dan
rekan-rekannya-seperti mantan Menteri Pertambangan Prof Dr Subroto-satu
demi satu keluar untuk beralih ke dunia akademis. Ia bahkan meninggalkan
biola, "Sejak clash ke-2," kata Hasnan. Padahal, saat remaja di INS
Kayutanam pada awal kehadiran Jepang, ia adalah satu dari tiga pemain
biola utama sekolahnya.
"Belakangan, biola hanya saya mainkan pada acara-acara makan malam yang
sifatnya pribadi," kata anak pasangan Habib Sutan Maharaja dan Malini,
yang keduanya memang pemain biola. Kendati demikian, Hasnan tak menolak
ketika diminta tampil dalam sebuah pesta diplomatik di Bangkok saat ia
menjadi Duta Besar untuk Kerajaan Thailand, merangkap Wakil Tetap RI untuk
Komisi Sosial Ekonomi Asia Pasifik PBB (UN ESCAP) tahun 1980-an.
***
Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (1982-1985) dan Duta Besar
Keliling Gerakan Non Blok untuk Amerika Utara, Karibia, Amerika Latin
(1992-1995), ini memang selalu bicara apa adanya. Mengkritik secara
terbuka dengan ringan dilakukannya, termasuk berbagai soal yang menyangkut
militer.
"Kalaupun orang lebih mengira saya intelektual ketimbang pensiunan
jenderal, karena saya memang tidak pernah membubuhkan pangkat saya di
depan nama pada ceramah-ceramah saya," katanya.
Pada akhir tahun 1998, misalnya, komentar Hasnan soal "perwira ABRI
sebagai traders in uniform (pedagang berseragam)" membuat rekannya, Letjen
(Purn) Sayidiman Suryohadiprojo mengirim surat pembaca ke harian ini dan
menyebut Hasnan sebagai kurang dapat menyelami dan merasakan risiko
kehidupan seorang prajurit lapangan.
Bagi Hasnan, bicara apa adanya-sejauh diri kita tak memiliki kepentingan
tersembunyi di balik kata-kata-bukanlah hal yang harus diredam. Bahkan,
dirinya yang beberapa kali diminta mantan Presiden Soeharto untuk ikut
menangani persoalan ekonomi-di antaranya saat Pertamina nyaris bangkrut
terlilit utang tahun 1970-an-terbiasa bicara tanpa tedeng aling-aling.
Kendati kadangkala melihat perubahan wajah Pak Harto ("Dahinya langsung
berkerut," ujar Hasnan), ia terus saja bicara. Umumnya, Soeharto pun bisa
menerima argumentasinya.
"Mungkin karena saya ini bukan orang Jawa, jadi agak barbar ya,
ha...ha...ha...," ujar suami dari Naida Zastia dan ayah dari Afitri
Narindra, Kemala Damita, Narga Shakri, dan Syahriza Hirsyan, sambil
tergelak.
Lebih Sipil
Ia seorang purnawirawan militer berbintang tiga. Namun jika bicara
dengannya sama sekali akan tidak terasa bahwa dia dahulunya militer tulen
yang berprestasi baik. Ia tampak sangat sipil melebihi kalangan tokoh
sipil lainnya. Bicaranya enak didengar dan menyejukkan. Rasanya berbicara
dengan pria kelahiran Maninjau, Sumatera Barat 3 Desember 1926 ini sama
seperti sedang bertemu dengan seorang guru empu yang membimbing dan
mengayomi.
Adnil Hasnan Habib, biasa dikenal Hasnan Habib saja mempunyai latar
belakang, pendidikan, dan pengalaman hidup beragam yang membentuk persepsi
dan sosok dirinya menjadi utuh sedemikian rupa. Ia adalah lulusan sekolah
akademi militer dalam dan luar negeri, pernah duduk di bangku kuliah
fakultas ekonomi, diplomat ulung di berbagai negara besar, eksekutif di
lembaga sosial dan ekonomi lembaga internasional, pemikir yang menggodok
dan menyusun GBHN, politisi di lembaga politik sekelas MPR, sebagai
perwira militer menerima banyak penugasan di berbagai lapangan, dan
menjadi pembicara serta penceramah kunci di berbagai institusi pendidikan
militer. Ia adalah perencana sekaligus pemikir ulung dari kalangan militer
yang mempunyai akses kemana-mana dan diterima dimana-mana. Pergaulannya
luas.
Riwayat Hasnan Habib masuk tentara bermula ketika di jaman Jepang ia
bersama 12 kawannya berinisiatif minta dilatih militer oleh Jepang.
Disetujui, mereka lalu dipersiapkan untuk menyongsong Indonesia merdeka.
Tahun 1945-1946 ia pernah menjalani masa pendidikan militer di Akademi
Militer Yogyakarta dan di luar negeri tahun 1962-1964 di War College
Yugoslavia.
Namun ketika Jepang sudah menyerah kalah kepada tentara Sekutu sebelum
kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, pasukannya bersama 12 kawan-kawan
dibubarkan. Setelah proklamasi ia bergabung dengan kesatuan yang
diprakarsai Ismael Lengah, di Sumatera Tengah. Sebelumnya sekitar tahun
1945-1950 ia memang pernah bertugas sebagai perwira lapangan di daerah itu.
Hasnan Habib pernah mendalami studi ekonomi di Fakultas Ekonomi
Universitas Parahiyangan, Bandung, tahun 1957 yang kelak berguna baginya
ketika dipercaya menjadi Direktur Eksekutif IMF untuk sejumlah negara Asia
Tenggara, Fiji, dan Nepal, juga ketika ditugaskan menjadi Duta Besar RI
untuk Thailand merangkap Wakil Tetap RI untuk Escap sebuah komisi ekonomi
dan sosial untuk Asia Pasifik.
Masa dinas aktifnya di militer lebih banyak diisi menjadi guru atau
komandan sekolah kader infantri. Ia terlibat aktif sebagai perencana dan
analisis militer di Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam), ikut
ambil bagian dalam penyusunan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN)
bidang pembangunan pertahanan dan keamanan nasional pada tahun 1970 dan
1973. Meski sekian lama berkecimpung di bidang militer, termasuk mengecap
pendidikan ilmu perang di luar negeri, sosok dan ketokohan Hasnan Habib
lebih menonjol sebagai pemikir daripada ahli perang.
Ketika menjadi anggota MPR RI tahun 1973-1978 ia berkesempatan menuangkan
pemikirannya dalam sejumlah karya tulis. Misalnya, tulisan “Konsep
Strategi Jangka Panjang Indonesia” sebuah telaah yang jangkauannya
menembus batas waktu hingga tahun 2000. Demikian pula, karya tulis
“Ketahanan Nasional, Wawasan Nusantara”, serta “Politik Pertahanan
Keamanan Indonesia Sejak Orde Baru” sebuah tulisan yang hanya boleh
diedarkan untuk kalangan terbatas.
Tahun 1982 ia ditugaskan menjadi Duta Besar RI di Amerika Serikat ketika
negara adidaya ini sudah tidak lagi menjalankan politik luar negeri yang
serba kaku. Hasnan menyebutkan, Amerika sudah bisa memahami posisi Non
Blok yang dijalankan Indonesia. “Kalau tahun 1950-an, kalau kita tidak
bersama mereka, artinya lawan,” jelas Habib. Kata Habib lagi, Amerika juga
sudah dapat memahami persoalan Timor Timur dan tentang konsep Wawasan
Nusantara.
Hasnan Habib mantan penasehat Menristek/Kepala BPPT era BJ Habibie ini
pernah pula ditugaskan menjadi Duta Besar RI di Thailand, merangkap
sebagai Wakil Tetap RI untuk Escap sebuah komisi bidang ekonomi dan sosial
untuk Asia dan Pasifik. Ia juga pernah menjadi Direktur Eksekutif IMF
untuk sejumlah negara Asia Tenggara, Fiji, dan Nepal. Seusai pelaksanaan
KTT Gerakan Non Blok (GNB), di Bogor, Jawa Barat tahun 1993 Kepala Negara
Presiden Soeharto kembali menugaskannya mengemban misi diplomasi sebagai
Duta Besar Keliling GNB untuk Kawasan Amerika, Karibia, dan Amerika Latin.
Hasnan Habib dikenal sebagai pekerja keras yang tak pernah mengenal kata
cuti. Sejak perjuangan fisik dahulu hingga berakhir masa dinas aktif
militer ia nyaris tak pernah cuti. Pada tahun 1973 ia pernah diperintahkan
oleh atasannya Menteri Pertahanan dan Keamaan untuk cuti, lalu pergi
beristirahat ke Tampaksiring, Bali. Ia hanya bisa bertahan beberapa hari
di sana lalu segera kembali ke Jakarta dan masuk kerja sebagaimana biasa
kendati masih dalam status cuti.
Persoalannya menjadi runyam ketika kebiasaannya itu dianggap dan
diperlakukan sama terhadap semua orang lain. Seorang perwira ajudannya
berpangkat kapten meminta cuti kepada Hasnan Habib. “Kamu, apa tugasnya,
apa pengalaman kamu, belum apa-apa sudah minta cuti. Saya marah betul,”
kenang Hasnan tentang sikapnya terhadap ajudannya yang meminta izin cuti.
Tiba di rumah kejadian tersebut diceritakannya kepada istri. Sang istri,
Naida Zastia malah menegur Hasnan Habib. “Kalau kamu tak mau cuti, itu
urusanmu. Tapi kalau bawahanmu minta cuti, ada ketentuan yang mengaturnya,”
terang istrinya. Ia lalu merenung. Esoknya si ajudan segera dipanggilnya.
“Mana surat permohonan cutimu kemarin, biar saya tandatangani,” kata
Hasnan Habib akhirnya.
Pada akhirnya hanya Hasnan Habiblah yang mampu membuktikan diri sebagai
jenderal yang tak pernah mengenal kata cuti atau bahkan pensiun. Di luar
jabatan resmi yang seolah tak pernah putus-putusnya dipercayakan kepadanya,
Hasnan Habib adalah nara sumber utama yang menyejukkan bicara tentang
politik, pertahanan, keamanan, serta hubungan internasional.
Hasnan Habib pandai berbicara sama pandainya menulis untuk menuangkan isi
pemikiran. Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengakui kebolehannya
sebagai guru dan menulis mungkin menurun dari kedua orangtuanya. Ayahanda
Habib Sutan Maharaja adalah pensiunan penilik sekolah sekaligus pengarang
roman “Nasib”, yang tahun 1932 telah diterbitkan oleh Balai Pustaka ketika
usia Habib masih belia enam tahun. Sedangkan ibunya Habib Sutan Maharaja
Malini, semasa hidupnya adalah seorang guru. Mertua Hasnan pun, Saadah
Alim dikenal beken sebagai pengarang.
Hasnan Habib sering dimintakan memberikan ceramah di berbagai forum
khususnya di lingkungan militer seperti Akabri, Sekolah Staf dan Komando (Sesko)
TNI, dan Lemhannas. Ia mendapat anugerah 19 bintang jasa dan lencana,
salah satunya Bintang Mahaputera Pratama dari Presiden RI. Berbicara
tentang keberhasilan yag dicapainya, Hasnan Habib menyebutkan semuanya
adalah berkat kebiasaannya yang tak pernah berhenti belajar. Tak ada waktu
kosong yang tak termanfaatkan. Alias tak pernah cuti. Ia banyak membaca.
“Yang penting, saya tidak pernah bersikap menanti. Malah, sering tugas
yang menunggu,” tukas suami dari Naida Zastia asal dari Kota Padang.
Mereka dikaruniai empat orang anak. Hasnan Habib suka menikmati musik
klasik seraya membaca. Untuk memelihara kondisi fisik manusia yang tak
mengenal kata cuti ini senang sekali bermain tennis. ►e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|