| |
C © updated 22012004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/thc |
|
| |
Nama:
Prof. Dr.Ing. Dr. Sc.h.c. Bacharuddin Jusuf Habibie
Lahir:
Pare-Pare, 25 Juni 1936
Agama:
Islam
Jabatan :
Presiden RI Ketiga (1998-1999)
Pendiri dan Ketua Dewan Pembina The
Habibie Center
Istri:
dr. Hasri Ainun Habibie (Menikah 12 Mei 1962)
Anak:
Ilham Akbar dan Thareq Kemal
Cucu:
Empat orang
Ayah:
Alwi Abdul Jalil Habibie
Ibu:
R.A. Tuti Marini Puspowardoyo
Jumlah Saudara:
Anak Keempat dari Delapan Bersaudara
Pendidikan :
1. ITB Bandung, tahun 1954
2. Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman,
dengan gelar Diplom-Ingenieur, predikat Cum laude pada Fakultas Mekanikal
Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang (1955-1960).
3. Rheinisch Westfalische Technische Hochscule (RWTH), Aachen, Jerman,
dengan gelar doktor konstruksi pesawat terbang, predikat Summa Cum laude,
pada Fakultas Mekanikal Engineering, Departemen Desain dan Konstruksi
Pesawat Terbang (1960-1965).
4. Menyampaikan pidato pengukuhan gelar profesor tentang konstruksi
pesawat terbang di ITB Bandung, pada tahun 1977.
Pekerjaan :
1. Kepala Riset dan Pengembangan Analisis Struktur pada perusahaan
Hamburger Flugzeugbau Gmbh, Hamburg, Jerman antara tahun 1965-1969.
2. Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada Pesawat Komersial dan Angkut
Militer MBB Gmbh, di Hamburg dan Munchen antara 1969-19973
3. Wakil Presiden dan Direktur Teknologi pada MBB Gmbh, Hamburg dan
Munchen tahun 1973-1978
4. Penasehat Senior Teknologi pada Dewan Direksi MBB tahun 1978.
5. Pulang ke Indonesia dan memimpin Divisi Advanced Technology Pertamina,
yang merupakan cikal bakal BPPT, tahun 1974-1978.
6. Penasehat Pemerintah Indonesia di Bidang Pengembangan Teknologi dan
Pesawat Terbang, bertanggungjawab langsung kepada Presiden Republik
Indonesia Soeharto pada tahun 1974-1978.
7. Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus Ketua Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tahun 1978-1998.
8. Wakil Presiden R.I. pada 11 Maret 1998-21 Mei 1998.
9. Presiden RI 21 Mei 1998-20 Oktober 1999.
Organisasi:
Pendiri dan Ketua Umum ICMI
Penghargaan:
Theodore van Karman Award
Sumber:
Dari berbagai sumber antara lain The Habibie Center dan Soeharto
Center.com |
|
| |
|
|
|
|
Habibie, Bacharuddin Jusuf
Sosok Manusia Multidimensional
Mantan Presiden RI Ketiga, Si Jenius ilmuwan konstruksi pesawat terbang,
ini selalu menjadi berita hangat jika menginjakkan kakinya di tanah air,
sepulang dari ‘tanah idamannya’ Jerman. Pada masa emas kejayaan dengan
segudang jabatan diemban, dialah manusia paling multidimensional di
Indonesia. Ia manusia cerdas ajaib yang sempat menghadirkan selaksa
harapan kemajuan teknologi demi kejayaan negeri ini.
Sepakterjangnya penuh kontroversi, banyak pengagum namun tak sedikit
pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan
bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari “habitat”-nya
Jerman, ia selalu menjadi berita. Betulkah dia ingin berebut kursi RI-1?
Apa kendaraan politiknya?
Agak aneh, memang, anak bangsa yang satu ini. Dia hanya setahun kuliah
di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi
pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja
di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi
panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.
Di Indonesia dia 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT,
memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi
Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi
Presiden RI menggantikan “professor” politiknya Soeharto. Soeharto yang
tampaknya merasa dikhianatinya menyerahkan jabatan presiden itu
kepadanya berdasarkan Pasal 8 UUD 1945. (Tampaknya Habibie diduga
sebagai dalang penolakan 14 menteri untuk duduk kembali dalam Kabinet
Reformasi Pembangunan yang direncanakan Soeharto, suatu dugaan yang tak
pernah diklarifikasi). Spekulasi perihal dugaan pengkhianatan ini makin
berkembang tatkala Soeharto tak pernah membuka pintu bagi Habibie sejak
dilantik menjadi presiden.
Sampai akhirnya Habibie dipaksa pula lengser akibat refrendum Timor
Timur memilih merdeka. Pidato Pertanggungjawabannya ditolak MPR RI. Ia
pun kembali menjadi warga negara biasa, kembali pula hijrah bermukim ke
Jerman, dan setiap mengunjungi Tanah Air selalu menjadi berita hangat.
Itulah sosok dan kilas balik singkat perjalanan hidup B.J. Habibie,
lelaki kelahiran Pare-Pare, 25 Juni 1936 ini. Dia penuh kontroversi dan
merupakan sosok manusia paling multidimensional di Indonesia. Begitu
banyak kawan-kawannya dan nyaris segitu banyak pula orang yang tak
setuju dengan sepakterjang tokoh industri pesawat terbang kelas dunia
yang memperoleh berbagai penghargaan, salah satunya paling berkelas
adalah Theodhore van Karman Award dari Pemerintah China.
Ketika dia mendirikan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) dan
didaulat menjadi Ketua Umum, misalnya, sebagai antitesa berdiri pula
Forum Demokrasi (Fordem) pimpinan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang
populis dan egaliter serta inklusif. ICMI, yang dalam perjalanan
selanjutnya praktis menjadi kekuatan politik Habibie, oleh Gus Dur
dituding sebagai sektarian karena itu kurang bagus untuk masa depan
sebuah bangsa yang majemuk seperti Indonesia.
Ketika pada 10 Agustus 1995 dia berhasil menerbangkan pesawat terbang
N-250 “Gatotkoco” kelas commuter asli buatan dan desain putra-putra
terbaik bangsa yang bergabung dalam PT Industri Pesawat Terbang
Nusantara (IPTN, kini menjadi PT Dirgantara Indonesia), dia diserang
pelaku ekonomi lain bahwa yang dibutuhkan rakyat Indonesia adalah beras
bukan “mainan” pesawat terbang.
Pemikiran ekonomi makro Habibie yang terkenal dengan Habibienomics,
dihadirkan oleh lingkarannya sebagai counter pemikiran lain seperti
Widjojonomics (yang sesungguhnya merupakan Soehartonomic). Ketika
Habibie berhasil membarter (tukarguling) pesawat terbang “Tetuko” CN-235
dengan beras ketan itam Thailand, dia diledekin, pesawat terbangnya
hanya sekelas ketan itam dan lebih baik membuat panci saja.
Dan kontroversi paling hangat adalah ketika dia menawarkan opsi otonomi
luas atau bebas menentukan nasib sendiri kepada rakyat Timor Timur, satu
propinsi termuda Indonesia yang direbut dan dipertahankan dengan susah
payah oleh rezim Soeharto. Siapapun dia orangnya tentu ingin bebas
merdeka termasuk rakyat Timor Timur, sehingga ketika jajak pendapat
dilakukan pilihan terhadap bebas menentukan nasib sendiri (merdeka)
unggul mutlak.
Dari sekian puluh mungkin ratusan sepakterjang kontroversialnya, kasus
lepasnya Timor Timur agaknya menjadi sesuatu “kesalahan” fatal seorang
presiden yang sesungguhnya telah bersumpah dan berkewajiban
mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sutau
kesalahan yang memang sangat “tabu” untuk dimaafkan. Kesalahan ini
mengakibatkan penolakan terhadap pidato pertanggungjawaban Habibie dalam
Sidang Umum MPR RI hasil Pemilu 1999, Pemilu terbaik paling demokratis
setelah Pemilu tahun 1955. Penolakan ini jelas menciutkan nyali Habibie
untuk terus maju sebagai kandidat calon presiden. Maka, jadilah Habibie
kembali ke habitatnya di Jerman.
Ketika Habibie menjabat presiden hampir tidak ada hari tanpa demonstrasi.
Demonstrasi itu mendesak Habibie merespons tuntutan reformasi dalam
berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti kebebasan
pers, kebebasan berpolitik, kebebasan rektrutmen politik, kebebasan
berserikat dan mendirikan partai politik, kebebasan berusaha, dan
berbagai kebebasan lainnya. Namun kendati Habibie merespon tuntutan
reformasi itu, tetap saja pemerintahannya dianggap merupakan kelanjutan
Orde Baru. Pemerintahannya yang berusia 518 hari hanya dianggap sebagai
pemerintahan transisi.
Teknologi Terbang
Keinginan Habibie mengakselerasi pembangunan sesungguhnya sudah
dimulainya di industri pesawat terbang IPTN dengan menjalankan program
evolusi empat tahapan alih teknologi yang dipercepat “berawal dari akhir
dan berakhir di awal”.
Empat tahapan alih teknologi itu, pertama, memproduksi pesawat terbang
berdasarkan lisensi utuh dari industri pesawat terbang lain, hasilnya
adalah NC 212 lisensi dari Casa Spanyol. Kedua, memproduksi pesawat
terbang secara bersama-sama, hasilnya adalah “Tetuko” CN-235
berkapasitas 30-35 penumpang yang merupakan produksi kerjasama secara
equal antara IPTN dengan Casa Spanyol.
Ketiga, mengintegrasikan seluruh teknologi dan sistem konstruksi pesawat
terbang yang paling mutakhir yang ada di dunia menjadi sesuatu yang sama
sekali didesain baru, hasilnya adalah “Gatotkoco” N-250 berkapasitas
50-60 penumpang yang dikembangkan dengan teknologi fly-by-wire dari
Airbus. Keempat, memproduksi pesawat terbang berdasarkan hasil riset
kembali dari awal, yang diproyeksikan bernama N-2130 berkapasitas 130
penumpang dengan biaya pengembangan diperkirakan sekitar 2 milyar dolar
AS.
Empat tahapan alih teknologi yang dipercepat didefinisikan “bermula dari
akhir dan berakhir di awal”, memang sukar dipahami pikiran awam. Habibie
dianggap hanyut dengan angan-angan teknologinya yang tidak memenuhi
kebutuhan dasar teknologi Indonesia, yang ternyata membuat sepeda saja
secara utuh belum sampai.
Pemeritnahan Orde Baru sangat memanjakan program empat tahapan alih
teknologi Habibie dengan menempatkan berbagai proyeknya sebagai industri
strategis yang menyedot banyak dana. Satu di antaranya, yang paling
spektakuler, adalah IPTN, yang sepanjang zaman disubsidi. Sehingga
ketika perusahaan ini diposisikan sama seperti BUMN lainnya yang harus
mampu membiayai dirinya, perusahaan yang kini bernama PT Dirgantara
Indonesia ini pun terancam ambruk dan terpaksa merumahkan dan mem-PHK
6000-an karyawannya.
Lalu, dalam kesempatan deklarasi pendirian Masyarakat Ilmuwan dan
Teknolog Indonesia (MITI), Habibie menyebutkan hancurnya IPTN adalah
ulah IMF yang menghambat Pemerintah RI membantu pengembangan pesawat
terbang dengan mencantumkan klausal pencabutan subsidi dalam Letter of
Intent (LoI).
Nasionalisme Habibie
Istri adalah alasan utama Habibie tinggal di Jerman. Pendamping hidup
sekaligus teman suka dan duka yang sudah dikenal sejak anak-anak umur 14
tahun, dr. Hasri Ainun Habibie. Putri keempat H. Mohammad Besari itu
disebut terbaring menjalani perawatan di sebuah rumahsakit di Jerman.
Habibie ingin untuk selalu harus bisa mendampingi istri, dan harapnya
istri juga akan selalu bisa mendampinginya. Menurut tim dokter yang
menanganinya, Hasri Ainun belum dibenarkan tinggal atau berkunjung ke
daerah tropis karena kelembabannya tinggi. Karena itu, tim dokter
merekomendasikan untuk tinggal di Jerman sampai sehat secara tuntas.
Kepergiannya untuk bermukim di jerman dalam jangka lama, mengundang
pertanyaan beberapa pihak tentang nasionalisme Habibie. Walaupun
sesekali Habibie masih mau berkunjung ke negeri kelahiran, tanah tumpah
darahnya Indonesia, dari tanah idamannya Jerman. Namun sikap
kontroversialnya tetaplah melekat sebab selalu saja berita kedatangannya
menghebohkan. Sampai-sampai, ada yang menduga dia akan kembali ke arena
politik di tanah air berebut kursi presiden. Pengagumnya memang banyak,
terutama kaum teknolog yang bergabung di ICMI.
Organisasi ini sesungguhnya cukup mapan dan siap menjadi “juru kampanye”
Habibie berebut kursi tertinggi, bersama “Makassar Connection” atau SDM
(Semua dari Makassar). Keduanya justru terkesan membelenggu sebab
Habibie menjadi eksklusif sesuatu yang kurang pas untuk seorang
negarawan pemimpin bangsa yang harus pluralistik.
Kendati demikian, kepulangan ke tanah air Habibie agaknya hanya karena
dia ingin dikenang sebagai manusia yang baik. ‘"Mungkin saat ini tak
disadari. Tapi bisa jadi, berguna satu saat kelak, bila saya sudah tiada
nanti," tutur lelaki itu, lirih,’ demikian tulis Liputan6.com. Adalah
stasiun TV SCTV ini, dikenal sangat dekat dengan Habibie, yang pada 2
Juli 2002 menyiarkan langsung dari Jerman kesaksian Habibie dalam kasus
pelanggaran HAM berat Timtim untuk kebutuhan persidangan di Pengadilan
Ad Hoc HAM Jakarta Pusat..
Habibie menyebutkan presiden itu bukan segala-galanya. Walau jenius
dengan memperoleh royalti atas delapan hak paten hasil temuannya sebagai
ilmuwan konstruksi pesawat terbang seperti dari Airbus dan F-16, dia
mengaku masih banyak yang jauh lebih baik dari dirinya. Lama bermukim di
lingkungan yang sangat menghargai ketokohan dan personality setiap orang,
Habibie mendefinisikan jika ingin dihargai maka yang diperhatikan orang
lain adalah sikap yang tak berubah terhadap lingkungan.
Menurutnya status, jabatan, dan prestasi bukan alasan untuk berubah
terhadap lingkungan. Itulah sebabnya, ketika sudah menjadi RI-1 sikap
Habibie terhadap lingkungan tetap tidak berubah. Malah semakin
menampakkan watak aslinya, misalnya tidak mau diam dan bergerak sesuka
hati padahal sudah ada aturan protokoler yang harus dipatuhi.
Terngianglah saat itu singkatan Habibie sebagai “Hari-hari Bikin Bingung”.
► tsl/ht
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|