| |
C © updated 21062004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Franz Magnis-Suseno, SJ (dahulu Franz Graf von Magnis)
Lahir:
Eckersdorf, Jerman 26 Mei 1936
Agama:
Katolik
Jenis Kelamin:
Laki-laki
Keluarga:
Tidak berkeluarga (rohaniwan)
Ayah:
Dr. Ferdinand Graf von Magnis
Ibu:
Maria Anna Grafin von Magnis, prinzessin zu Lowenstein
Kakak-Adik:
5 orang adik, satu laki-laki (sudah meninggal), empat perempuan.
Pendidikan Akademik:
1957-1960: Studi Filsafat di Philosophische Hochschule Pullach
1964-1968: Studi Teologi di Institut Filsafat Teologi di Yogyakarta.
1971-1973: Studi doktoral di Ludung Maximilians Universitat di Munchen
Gelar akademik terakhir:
1973 Doctor Philosophiae summa cum laude dari Ludung Maximilians-
Universitat di Munchen dengan disertasi "Die Funktion normbativer
Voraussetzungen im Denken des Jungen Marx (1843-1848) dengan promotor
Prof. Dr. Nikolaus Lobkowicz dan Copromotor Prof. Dr. Hans Baumgartner.
Instansi tempat kerja:
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta
Jabatan Akademik:
Guru Besar, tgl. 1 April 1996
Jabatan Struktural:
Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Penghargaan:
1. Satyalancana Dundyia Sistha dari Menhankam 24-11-1986.
2. Das grobe Verdienstkreuz des Verdienstordens Republik Federasi Jerman
Alamat rumah:
Johar Baru VI A/6. Jakarta 10560
Tel: (021)4209377
Fax: (021)42875347
Alamat kantor:
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara
Jl. Cempaka Putih Indah 100A, Jembatan Serong, Rawasari Jakarta 10520
Tel: (021 )4259847/4247129.
Fax: (021 )4224866.
email: magnis@dnet.net.id
|
|
| |
|
|
|
|
== 1
2 3
4 5 6 7 8 ==
Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ (2)
Cerita Indah di Indonesia
Setelah memperoleh tugas pertama di Indonesia mengajar pelajaran Agama
di SMA Kolese Kanisius, Jakarta antara tahun 19662-1964 serta merangkap
Kepala Asrama Siswa yang membuatnya mengenal dan hafal nama 500 remaja
binaannya, Franz Magnis-Suseno, SJ lalu ditugaskan belajar studi teologi
ke Institut Filsafat Teologi Yogyakarta, di Yogyakarta antara tahun 1964
hingga 1968. Di situ dia mulai merasakan hidup dan studi nikmat bersama
dengan para mahasiswa Yesuit lainnya. Ada yang warga negara Jerman,
orang Indonesia, dan sebagian besar orang Jawa.
Kesempatan hidup nikmat yang seperti demikian adalah sangat jarang
diperoleh oleh orang asing. Yakni, sebuah kesempatan untuk secara amat
leluasa bisa terus-menerus berhubungan dengan orang Jawa, sekaligus
berkomunikasi dengan mereka tanpa dirusak oleh suasana hubungan
kewibawaan seperti antara pastor dengan dengan umatnya, atau hubungan
seperti antara orang ahli asing dari luar negeri dengan orang pribumi
yang bukan ahli. Franz Magnis berbicara dengan semua mahasiswa dalam
bahasa Jawa ngoko atau bahasa umum.
Di kampus itu dia mulai mengenal betul kodrat asli orang Jawa. Sesudah
lebih dari setahun kuliah, atau tepatnya setelah empat setengah tahun
bermukim di Indonesia sejak 29 Januari 1961 dia mengalami sebuah
goncangan kebudayaan atau culture shock. Dia merasa orang Jawa --sementara
orang Tionghoa diantara mahasiswa Yesuit lainnya lain lagi-- memiliki
pendirian, komunikasi, cara memandang masalah, situasi-situasi
menentukan dan sebagainya, yang sama sekali berbeda. Dia agak shock lalu
bertanya dalam hati, apakah dalam suasana demikian bisa mengembangkan
identitas diri.
Untunglah hubungan-hubungan mereka sesama mahasiswa, khususnya dengan
mahasiswa Jawa bagus sehingga hal-hal seperti itu dapat dibicarakan
dalam batas-batas tertentu. Dia dapat melampaui krisis goncangan
sekaligus berkesimpulan sudah berada di tempat yang benar.
Semua orang pada dasarnya menerima dia dengan utuh. Penerimaan itu
dikukuhkan dengan sikap positif yang terus-menerus ditunjukkan oleh
rekan-rekan seordo orang Indonesia. Bahkan, atasan Indonesia dalam
Serikat Yesus dan Gereja berulangkali menyerahkan posisi-posisi penting
yang penuh tanggungjawab kepada dia. Dia lalu memutuskan untuk terus
maju menjadi orang Indonesia tanpa merasa sesal.
Dia melihat bahwa orang Jawa itu sopan dan ramah. Memang benar demikian,
hal itu bukan sekadar penampilan luar saja. Walau demikian, kepada orang
Jawa sekali-kali tidak boleh berusaha mendesak atau menyudutkan mereka.
Orang Jawa rela bekerjasama asal bisa merebut hati mereka. Hormatilah
kebebasan orang Jawa untuk mengambil keputusan sendiri, jangan
memaksakan diri atau memanfaatkan sikap ramah dan kesopanan mereka untuk
memperoleh kedudukan yang lebih baik. Bersikap sabar menghormati
kebebasan orang lain, dan menaruh kepercayaan kepadanya, adalah
cara-cara yang paling baik mengembangkan hubungan-hubungan yang langgeng,
positif, jujur, dan sangat memuaskan dengan orang Jawa.
Persepsi dia tentang orang Jawa terus saja berkembang. Bahkan beberapa
tahun kemudian, sekitar tahun 1975 dia mencoba mencari apa landasan
teoritis terhadap pengalaman-pengalaman empirik dia berhubungan dengan
orang Jawa, yang saat itu sudah berlangsung 14 tahun. Landasan teoritis
itu dia cari antara lain lewat studi literatur antropologi, sosiologi,
sejarah kebudayaan, termasuk studi literatur Jawa klasik abad ke-18 dan
19. Hasilnya adalah sebuah buku berjudul “Javanische Weisheit und Ethik”,
diterbitkan oleh Oldenburg di tahun 1981.
Buku itu, setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul
“Etika Jawa”, dan diterbitkan oleh Gramedia, terjual laris hingga
mencapai oplag 15.000 eksemplar. Kepada Franz Magnis banyak orang Jawa
lantas mengatakan, bahwa dalam buku itu mereka dapat menemukan sesuatu
dari jati diri mereka sebagai orang Jawa. Malah, mereka melanjutkan,
boleh dikatakan untuk pertamakali mereka sempat melihat diri dalam jarak,
mereka sempat memproyeksi diri. Tujuan Magnis mencari landasan teoritis
dan menerbitkan buku, itu memang dimaksudkan untuk menggambarkan sebuah
“tipe ideal” seorang Jawa Tengah yang “klasik”. Dia lalu merumuskan tipe
atau tipos itu secara tertulis sekaligus mengukirnya sebagai figur.
Pada tahun 1977 die resmi dinyatakan sebagai warga negara Indonesia,
setelah tujuh tahun menunggu. Namanya pun “diindonesiakan” menjadi Franz
Magnis-Suseno, SJ. Peristiwa itu adalah sebuah langkah penting baginya
sebab ditempuh dengan kesadaran penuh. Bagi dia, menjadi warga negara
Indonesia sesungguhnya bukanlah berarti penolakan terhadap masa silam
Jerman dia yang, selama 24 tahun pertama adalah masa-masa pembentukan
dan paling menentukan dalam hidupnya. Dia tak bermaksud dan tidak bisa
menanggalkannya.
Orang-orang Indonesia pun sesungguhnya tidaklah mengharapkan dia menjadi
orang Indonesia atau orang Jawa tulen. Dia, justru menjadi sangat
diterima sebagai seorang “Kasman”, atau bekas Jerman. Dia yakin, setiap
orang pasti tidak mampu memasuki hubungan positif dengan dunia baru jika
orang itu mempunyai hubungan yang tidak beres dengan tanah asalnya
semula, dengan sejarah kehidupan pribadinya, dan dengan kehidupan
sosialnya sendiri. Pelarian dari masa lalu adalah jaminan yang buruk
untuk suatu masa depan yang positif. Kecuali, pelarian dari masa lampau
itu secara objektif menakutkan dan mengerikan sekali sehingga
sungguh-sungguh sangat memerlukan awal yang baru sama sekali.
Dia merasa masa silam Jerman dengan segala sesuatu yang tercakup di
dalamnya bukan sebagai beban untuk bisa mengakar di Indonesia. Malah,
semakin lama dia merasakan ada jarak tertentu, termasuk jarak emosional
terhadap peristiwa-peristiwa di Jerman. Sayangnya, dia menyebutkan sudah
lupa sejak kapan dia mulai secara spontan mengidentifikasikan diri
sebagai Indonesia ketika mengikuti penyelenggaraan kejuaraan-kejuaraan
olahraga internasional.
Disebutkannya lagi, justru kombinasi antara masa silam Jerman dengan
suatu identitas baru yang terus bertumbuh secara batiniah selama 40
tahun lebih, itu telah memungkinkan dia untuk memberikan sumbangan yang
spesifik dan terbatas dalam upaya Indonesia membangun suatu masa depan
yang manusiawi. Sumbangan itu, yang jika dilihatnya dari segi filsafat
dan iman Kristiani, adalah berupa mau menjadi teman seperjalanan yang
baik yang ikut dalam pencarian arah perjalanan.
*****
Tahun 1973 dia meraih gelar doktor bidang filsafat di Munchen dengan
karya tulis mengenai Karl Marx. Pencapaian itu adalah meneruskan garis
spesialisasi bidang studi yang sudah dia mulai hampir 15 tahun
sebelumnya di Pullach, dekat kota Munchen. Dia telah tertarik dengan
Teori Kritis, Etika, dan Filsafat Politik. Etika, lebih khusus lagi
Etika Politik adalah bidang studi paling pokok bagi dia. Tema-tema lain,
seperti yang sudah dia kuliahkan tentang masalah-masalah epistemologis
fisika kwantum dan teori evolusi, harus dikesampingkan. Dengan Etika,
ada keterarahan pada tantangan-tantangan aktual dalam kehidupan bersama
seperti di bidang sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia yang sudah
digariskan.
Beberapa orang Jerman yang tinggal di Jakarta, khususnya lewat Kedutaan
Besar Jerman sangat mengenal Franz Magnis lewat karya bukunya mengenai
“Etika Jawa”. Di Indonesia sendiri buku “Etika Jawa” dan terbitan lain,
seperti buku “Wayang dan Kita” diterbitkan oleh Lappenas tahun 1983, di
Jakarta, membawa dampak tersendiri bagi Frans Magnis. Misalnya, sejak
menerbitkan buku tentang wayang rata-rata setiap tahun dia menerima
undangan dan lalu ikut serta menghadiri pertunjukan wayang semalam
suntuk.
Franz Magnis yang tergolong sangat “laris” memberi ceramah dalam
seminar-seminar, jika ditelusuri lebih jauh semakin tampak bahwa
presentasi ceramah dia cenderung semakin masuk ke tema-tema etika
politik. Seperti, “Etika dan Pembangunan”, “Keadilan Sosial”, “Pancasila
sebagai Ideologi Terbuka”, dan tema tentang Pancasila sendiri. Kemudian,
tema-tema yang menyangkut hak-hak manusia dan demokrasi,
ideologi-ideologi, pembangunan dan ideologi, tanggungjawab sosial
politik para mahasiswa, pemuda dan masa depan di Indonesia, makna Sumpah
Pemuda, tanggungjawab sosial pers, politik dan etika,
tantangan-tantangan untuk Indonesia, dan lain sebagainya. Di kalangan
internal umat Katolik pun, sewaktu-waktu dia bisa memberikan tema
ceramah tentang ajaran sosial Katolik, teologi pembebasan, atau tentang
ensiklik-ensiklik baru dari Paus dan sebagainya.
Sebagai pembicara seminar terkemuka serta penulis buku dan artikel yang
sangat produktif, Franz Magnis sangat memahami profil audiensnya. Para
pembaca Indonesia, misalnya, menurutnya menuntut suatu uraian yang
hati-hati, ikut merasakan, dan cocok dengan situasi dan kondisi
terlebih-lebih di iklim rejim Orde Baru. Pembaca mengharapkan kritik
muncul namun dibentuk sedemikian rupa sehingga tidak tampak sebagai
kritik.
Untuk memenuhi itu, Franz Magnis menyebutkan perlu kemampuan berjalan di
atas garis sempit untuk bisa membicarakan al-hal yang diketahui setiap
orang sedemikian rupa sehingga orang masih memperoleh suatu perspektif
baru tetapi tanpa maksudnya menjadi terlalu jelas. “Jadi, mengatakan
sesuatu dan sekaligus memberi kesan bahwa kita tidak mengatakan apa-apa,”
katanya.
Namun, jika saja dia sebagai pembicara menjadi terkesan mengatakan
terlalu banyak, atau apa yang dikatakannya timbul dimana-mana, terkesan
terlalu sering mengatakan sesuatu sekalipun sebenarnya tidak mengatakan
apa-apa. Kalau sudah demikian maka, jika ada seorang kenalan mengatakan
bahwa akhir-akhir ini kok Anda memberikan banyak ceramah, itu sudah
cukup untuk mengetahui sebaiknya beristirahat saja dahulu untuk beberapa
lama. Atau, selama dua tiga bulan Franz Magnis membatasi diri hanya pada
ceramah-ceramah mengenai etika kedokteran atau mistik Jawa.
Dalam bidang etika kedokteran atau mistik Jawa ini pernah suatu kali
Franz Magnis mendapat reaksi keras. Dalam rangka memperingati Hari
Sumpah Pemuda dia diwawancara oleh harian “Kompas” mengenai makna serta
pentingnya kebudayaan Jawa dalam kehidupan Indonesia. Pendapat Franz
Magnis ini dimuat “Kompas” terpisah dengan judul besar, bahwa kebudayaan
Jawa mempunyai makna khusus bagi persatuan Indonesia. Bermacam reaksi
muncul bernada setuju dan membantah.
Bahkan, dua surat kabar besar “Sinar Harapan” (belakangan menjadi “Suara
Pembaruan”) dan “Merdeka” mengulasnya khusus dalam sebuah tajuk rencana
penuh. Keduanya mengecam keras pendapat Franz Magnis sebagai sesuatu
yang merugikan persatuan bangsa. Franz Magnis sesungguhnya sadar
sebelumnya, bahwa tema yang dilontarkannya itu adalah sebuah tema yang
paling hangat dan dapat menyinggung perasaan. Tetapi dia menaksir
kedalaman emosi yang akan muncul dan kuatnya tabuisasi tentang masalah
itu.
Reaksi keras juga pernah muncul di bulan Februari dan Maret 1990, ketika
Franz Magnis menurunkan satu seri tulisan terdiri empat artikel di
sebuah surat kabar harian. Dua artikel pertama menganalisa implikasi
perubahan-perubahan dalam komunisme internasional, yang mengulas sistem
komunis secara sangat kritis. Artikel ketiga masih berkaitan, membahas
teori Karl Marx, sejarah Marxisme, juga sangat kritis bahkan di kalangan
rekan-rekannya terlalu negatif. Dan pada artikel terakhir atau keempat,
Franz Magnis melontarkan pandangan bahwa, sosialisme sebagai harapan
keselamatan berdasarkan penghapusan hak milik pribadi atas sarana-sarana
produksi, adalah suatu pandangan yang sudah usang. Cuma, kali ini reaksi
keras ditujukan bukan kepada Franz Magnis melainkan kepada suratkabar
itu yang mendapat peringatan tertulis karena menerbitkan sesuatu
mengenai ajaran Marxisme.
Setiap ceramah selalu disajikan Franz Magnis dalam gaya bicara yang “resmi”.
Dia harus memperhitungkan, bahwa pada hari berikutnya terutama seusai
seminar-seminar besar, materi ceramahnya itu akan ditulis dalam bentuk
sebuah kalimat besar di suratkabar. Bahkan, terkadang ditulis dengan
huruf-huruf tebal di atas bagian tengah halaman pertama. Padahal,
kalimat itu menurut Frans Magnis sebetulnya adalah sebuah pernyataan
yang sudah sedemikian umum, misalnya “Keadilan Sosial itu Perlu
Diwujudkan”.
Dia, sebenarnya menjadi merasa malu melihat kalimat seperti itu
ditonjolkan besar-besar seakan-akan ada kebijaksanaan khusus di situ.
Sekalipun sebenarnya tidak ada apa-apa di situ, namun karena kalimat itu
benar-benar dibaca oleh setiap orang maka jadilah itu menjadi isyu
politik. Dan orang, seperti diri Franz Magnis, ditampilkan sebagai oknum
yang memang telah mengatakan sesuatu.
Dalam kenyataan yang sesungguhnya Franz Magnis belumlah pernah mendapat
kesulitan. Akan tetapi, jika memberikan ceramah dia akan selalu
memperhatikan apakah ada atau tidak kehadiran pers di situ. Jika
dirasakannya ada, maka dia terpaksa akan membatasi diri pada pembacaan
naskah tertulis yang telah dia persiapkan dengan seksama. Padahal, jika
tidak, maka biasanya Franz Magnis akan sering berbicara bebas walau
tetap berdasarkan teks.
Franz Magnis memahami, di kalangan dunia pers Jerman sama sekali tidak
akan pernah ditemukan pendapat seorang cendekiawan menjadi berita,
apalagi di halaman pertama, kecuali pendapat politisi. Fakta itu
memperlihatkan adanya perbedaan suasana keterbukaan masyarakat. Magnis
Suseno menyebutkan, di Indonesia pers dapat melontarkan
pandangan-pandangan dengan cukup aman dengan tidak melibatkan diri
secara langsung, terserah pembaca untuk menemukan apa yang tersirat
dalam yang tersurat itu.
Walau demikian pers harus selalu hati-hati sebab dalam seminar-seminar
tertutup masalah-masalah dibicarakan secara terbuka. Tentang hal itu
Franz Magnis berujar, “Sesungguhnya orang tak pernah mengetahui secara
pasti apakah kegiatan seminar seperti itu lebih berupa pemanfaatan
ruang-ruang kosong, atau apakah kami para cerdik pandai hanya meramaikan
sebuah kebun binatang, yang ditinggalkan untuk kami, hanya supaya kami
tetap merasa sibuk dengan sesuatu yang nampaknya penting. Mungkin,
keduanya benar.”
Dalam berbagai seminar Franz Magnis seringkali mengalami peristiwa
berkesan. Bahwa, dialah satu-satunya “bule” yang diundang lokakarya apa
saja. Orang, benar-benar mau mendengar pendapatnya. Agar pendapatnya
tetap didengar Franz Magnis sangat tahu bagaimana menempatkan diri dan
tempat. Misalnya, dia selalu membawakan diri sebagai seorang Kasman atau
bekas Jerman. Sehingga, apapaun pandangan serta kritik-kritiknya
terhadap keadaan Indonesia tidak bersifat menggurui, tidak menunjukkan
Franz Magnis mengetahui lebih, melainkan bersifat partisipatif saja.
Franz Magnis mengaku kagum dan menjadi bersemangat jika melihat betapa
terbukanya lingkungan intelektual Indonesia. Dia yang “Romo” Katolik
digelari oleh teman-teman Islam sebagai “Kyai Katolik”. Dia terus saja
diundang oleh para cerdik pandai Islam ke ceramah-ceramah khususnya
ceramah menyangkut ideologi dan filsafat modern.
Franz Magnis melihat kalangan intelektual muda Islam, khususnya dari
kelompok studi filsafat dan agama, amat gandrung dan menaruh minat besar
terhadap filsafat. Intelektual muda Islam itu sadar, Islam dalam 500
tahun pertama keemasannya telah menghasilkan cerdik pandai dan ahli
filsafat berkelas dunia namun kemudian macet. Zaman Renaissance (masa
kelahiran kembali) serta masa Pencerahan, telah mengorbitkan Eropa (dan
kemudian Amerika) menjadi pemimpin kekuatan intelek zaman modern.
Intelektual muda Islam itu berkeyakinan Islam hanya bisa tampil lagi
sebagai kekuatan intelek di arena internasional jika filsafat dan
pemikiran kritis dimekarkan kembali.
Franz Magnis punya pengalaman menarik tentang hal itu di tahun 1989. Dia
menulis sebuah artikel tentang hal tersebut secara kritis di harian “Kompas”,
tak lama sebelum DPR membicarakan RUU Peradilan Agama. Artikel itu
menimbulkan reaksi yang sangat tajam dari kalangan Islam. Berbagai
artikel tanggapan ditulis oleh para tokoh Islam, sebagian diantaranya
menyinggung masalah pribadi Franz Magnis. Teman-teman Islam lantas
memberitahu dia, bahwa nama Franz Magnis telah disebut-sebut dalam
kotbah pagi di mesjid-mesjid. Di kelompok berbeda lain lagi yang dialami,
nama Franz Magnis menjadi tabu untuk disebutkan bahkan masih berlaku
hingga sekarang.
Namun dua bulan sesudah peristiwa itu Franz Magnis diundang ke seminar
dua hari bertema “Filsafat Islam Persia”, di universitas Islam IAIN
Syarif Hidayatullah, Ciputat. Dia diterima dengan sangat ramah. Dan
ketika istirahat, para peserta muda Islam tampak ingin mengetahui
langsung mengapa Franz Magnis menulis artikel demikian. Tanya jawab
berlangsung dalam suasana akrab dan toleran, suasana yang hingga kini
tetap bisa dirasakannya. Artikel itu dibicarakan secara santai dan
tenang, tidak didiamkan begitu saja, telah membuat Franz Magis merasa
gembira. Bagi dia hal itu merupakan salah satu tanda paling jelas bahwa
di Indonesia, seperti pada orang Islam muda itu, toleransi bukanlah
rumusan kosong.
Sebagai seorang imam Katolik dan rohaniwan, Franz Magnis-Suseno
menyebutkan seluruh karyanya di Indonesia hanya mungkin terjadi kalau
didasarkan iman. Dia menyebutkan dirinya bukan seorang romantikus yang
entah kenapa lalu jatuh cinta begitu saja pada Indonesia. Dia juga bukan
seorang good doer atau seorang penolong negara berkembang. Dia merasa
terdorong untuk membantu gereja di Indonesia dan memberikan kesaksian
yang ditugaskan kepadanya. Hanya saja, kesaksian iman itu tak bisa
bersifat verbal dan tidak bersangkut paut dengan dengan hal mencari
penganut bagi agamanya sendiri.
Dia menyebutkan, penawaran keselamatan Tuhan menurut iman Katolik tidak
terikat pada keanggotaan dalam gereja yang kelihatan. Kesaksian yang
menjadi panggilan setiap orang Kristen tidak berupa kegiatan mendapatkan
penganut. Roh Allah sendirilah yang akan menetapkan kepada siapa saja Ia
membuka hatinya. Juga apakah Ia memanggil seseorang kepada pegetahuan
yang jelas dan membahagiakan tentang cinta Allah dalam Yesus Kristus.
Kesaksian kristiani harus berupa usaha agar cinta dan keadilan Allah
dihadirkan di dunia sekarang ini, dan terserah kepada siapa saja
bagaimana mau menanggapi.
Menurutnya, kesaksian yang seharusnya diberikan oleh Gereja, sebagaimana
dia melihat panggilan pribadi kepadanya, adalah kesaksian tentang cinta,
perdamaian, kejujuran, keadilan, dan kepercayaan akan kekuatan Allah
yang tanpa menggunakan kekerasan, manipulasi, kekuatan politik, bujukan,
pemerasan terhadap yang lemah, pembualan, dan sebagainya. Hal itulah
yang seharusnya disaksikan oleh orang Kristen lewat kehidupannya, lewat
ia menjalankan profesi dan pekerjaannya, dan lewat cara ia mengambil
bagian dalam kehidupan masyarakat.
Dia telah berusaha melakukan hal-hal demikian dengan menempatkan
keahliannya yang sangat terbatas ke alam pengabdian kepada perdamaian,
keadilan, dan kebenaran. Itu pulalah yang dia utamakan setiap kali
menjelaskan sesuatu, mengkritik, memberi semangat, dan bertemu dengan
orang lain. Itulah yang terpenting bagi dia kalau berkomunikasi dengan
orang beragama lain, juga kalau dia mengkritik ketidakadilan, penindasan,
dan kebohongan yang bercorak ideologis dan kekuasaan politik.
“Karena keyakinan itulah maka saya telah datang ke Indonesia dan menjadi
orang Indonesia. Ini tidak berarti Indonesia menjadi sebuah proyeksi
religius. Kalau iman kristiani mengakibatkan sesuatu, maka, bahwa ia
benar-benar membuka hati, sehingga orang lain tidak menjadi sarana demi
tujuan religius lebih lanjut, melainkan ia diterima demi dirinya sendiri.
Termasuk keyakinan dan agamanya sendiri. Begitulah saya belajar
menghormati dan mencintai negeri ini dan orang-orangnya, dari semua
agama, dan saya berterimakasih bahwa saya boleh termasuk di dalamnya,”
ujar Franz Magnis.
Pengalaman Franz Magnis dengan Indonesia dan dengan orang-orang
Indonesia telah membuatnya optimis akan masa depan Indonesia. Itu,
barangkali ada hubungannya dengan iman dia sebagai imam rohaniwan
Katolik. Dia mengharapkan Indonesia, sekalipun bukan tanpa macam-macam
kesulitan, akan dapat memecahkan masalah-masalahnya. ►
haposan -marjuka => Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|