| |
C © updated
04102007-27072004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/tp |
|
| |
Nama :
Frans Seda
Nama Lengkap:
Franciscus Xaverius Seda
Lahir :
Flores, Nusa Tenggara Timur, 4 Oktober 1926
Agama :
Katolik
Pendidikan :
-SD, Flores (1940)
-MULO/HIK, Muntilan dan SMP BOPKRI, Yogyakarta (1946)
-HBS, Surabaya (1950)
-Katholieke Economische Hogeschool, Tilburg, Negeri Belanda (1956)
Karir :
-Anggota KRIS (1945-1946)
-Ketua Seksi Penerangan Kongres Pemuda Indonesia (1950)
-Penasihat Ekonomi Gubernur Militer Nusa Tenggara, Denpasar, Bali (1956)
-Ketua Partai Katolik Indonesia (1961-1968)
-Menteri Perkebunan (1964-1966)
-Menteri Pertanian (1966)
-Menteri Keuangan (1966-1968)
-Menteri Perhubungan dan Pariwisata (1968-1973)
-Duta Besar RI untul Begia dan Luksemburg/Kepala Perwakilan RI pada -Masyarakat
Ekonomi Eropa, Brussel (1973-1976)
-Anggota DPA (1976-1978). Pendiri dan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas
Atma Jaya (1960- 1964)
-Wakil Ketua Yayasan Bentara Rakyat
-Ketua Yayasan Atma Jaya. Anggota Dewan Komisaris PT Gramedia
(1970-sekarang)
-Komisaris PT Narisa dan PT Narisa Jaya (1978)
Kegiatan lain:
-Ketua Asosiasi Pertekstilan
Indonesia (API)
Alamat Rumah :
Jalan Bank Dagang Negara I No. 56-57, Cilandak, Jakarta Selatan Telp:
760542
Alamat Kantor :
Jalan Jenderal Sudirman 49A, Jakarta Pusat
|
|
| |
|
|
|
|
Frans Seda
Dedikasi dan Integritas untuk Bangsa
Franciscus Xaverius Seda salah seorang putera terbaik bangsa
kelahiran Flores, Nusa Tenggara Timur, 4 Oktober 1926. Mantan Menteri
Perkebunan (1963-1964), Menteri Keuangan (1966-1968) dan Menteri
Perhubungan dan Pariwisata (1968-1973) ini seorang politisi, tokoh
gereja, pengamat politik dan pengusaha Indonesia yang berdedikasi dan
intergritas tinggi kepada kemajuan dan kesatuan Indonesia.
***
Popularitas vs Kepribadian Politik
Dalam pengalaman aktivitas politik, saya mengenal dua tipe politisi, yakni
para politisi yang dalam mengambil sikap terhadap suatu masalah politik
mendahulukan popularitas politik, dan mereka yang mengutamakan kepribadian
politiknya. Ini tidak berarti bahwa seseorang yang memiliki kepribadian
politik tidak juga memperhatikan masalah popularitas, dan sebaliknya bahwa
seseorang yang mengejar popularitas tidak memiliki kepribadian politik.
Namun masalahnya adalah masalah mendahulukan, masalah prioritas dan
preferensi dalam mengambil sikap politik.
Dalam hal kepribadian politik, seperti dalam setiap masalah kepribadian,
maka watak, karakter dan pembawaan (bukan terutama kemampuan) seseorang
politikuslah yang menentukan sikap politiknya, sementara dalam hal
popularitas politik, yang diandalkan adalah persepsi orang terhadap si
politikus. Seseorang yang berkepribadian politik mantap dan prinsipil.
Sementara seseorang yang mengejar popularitas, senantiasa menyesuaikan
diri pada sikon politik, mencla-mencle dan bersikap oportunistis.
Seseorang yang berkepribadian politik akan menonjolkan kepribadiannya,
watak, karakter dalam sikapnya, sementara seseorang yang mengandalkan
popularitas, karena mendahulukan/mementingkan penilaian dan apa yang
dikatakan orang lain, masyarakat, dan opini publik, maka yang diutamakan
adalah penampilan, bukan watak ataupun karakter. Dan sering dalam
penampilannya itu, si politikus itu justru menyembunyikan watak/karakternya
yang sebenarnya! Ia berpenampilan bersahaja, rendah hati dan mau mendengar
semua, tetapi nanti, jika ia telah menguasai sikon dan kekuasaan politik,
barulah watak dan karakter yang sebenarnya muncul!
Pada awal pengalaman politik, saya pun menghadapi masalah popularitas vs
kepribadian politik ini, namun bukanlah masalah popularitas politik vs
kepribadian politik dalam sikap dari seseorang politikus, melainkan dalam
sikap dari sebuah partai politik yakni Partai Katolik. Para anggota dan
pimpinan di pusat dan di daerah dari partai itu menggerutu terhadap
kepemimpinan Pa Kasimo, karena Partai Katolik yang senantiasa duduk dalam
hampir semua kabinet sejak zaman revolusi, tidak pernah memperhatikan
nasib dan kesejahteraan mereka.
Timbul suatu upaya untuk mengganti Pa Kasimo sebagai Ketua Umum. Melihat
perkembangan ini, maka Sdr VB (Centis) da Costa SH yang mewakili dan
memperoleh mandat penuh dari Flores, sebagai daerah Katolik yang paling
utama di negara ini, untuk berusaha agar Pa Kasimo diganti, berbalik arah
dan justru membela Pa Kasimo. SdrVB (Centis) da Costa SH dibantu oleh dua
pemuda orator dan "tukang pukul" politik yakni Sdr Kanis Pari (tadinya
Kanis Parera menjadi Kanis Pari) dan Sdr Drs John Jelahut Tagung.
Berkatalah Pa Kasimo dengan pertanyaan beliau yang menjadi klasik dan yang
membuat Sdr da Costa berbalik menjadi pembela beliau. "Partai Katolik ini
mau jadi partai yang bagaimana, sebuah beginsel partij/partai yang
mempunyai prinsip-prinsip (beginselen) dan mendahulukan kepentingan umum
dalam berbakti pada nusa dan bangsa atau sebuah partai oportunis, yang
mencari rejeki untuk para pimpinan dan para anggotanya". Dengan demikian
Pa Kasimo adalah contoh dari seorang politikus yang berkepribadian dalam
politik. Dan beliau dipertahankan sebagai ketua umum partai, dalam Kongres
Partai Katolik di Yogyakarta itu, termasuk/terutama oleh Flores
Pada masa Orba pun ada pengalaman saya dengan para politisi yang lebih
mendahulukan popularitas dan backing daripada prinsip dan moral politik.
Orba pada awalnya mengingini demokrasi dan demokratisasi (salah satu dari
3 programnya, yakni pembubaran PKI, pembangunan secara berencana, dan
demokrasi). Dan pada awalnya penyelenggaraan pemerintahan berlangsung
secara demokratis.
Presiden masuk DPR dan meminta pesetujuan bagi APBN dalam suatu musyawarah
untuk mufakat yang dilaksanakan benar-benar secara bebas, dengan mengakui
penuh "Hak Budget" DPR, dan semua Keputusan Presiden/Kepres, sebelum
dikeluarkan, dibicarakan dulu materinya dengan DPR. Namun ternyata sikap
Demokratis itu hanyalah kedok belaka untuk memantapkan kekuasaan. Sekali
kekuasaan diperoleh muka topeng Demokrasi dibuang dan Bangsa dan Negara
digiring ke arah Otokrasi/Otoriterisme dan Diktatur.
Waspadalah
Jadi waspadalah terhadap penampilan, sosok dari seorang politikus! Dengan
kepercayaan Saudara, secara emosional Saudara bisa beli kucing dalam
karung! Dan seperti pernah saya utarakan dalam sebuah tulisan, tidak semua
yang ada dalam karung yang "meong-meong" itu benar-benar kucing, tetapi
semua kucing tanpa karung, walaupun tidak "meong-meong" itu memang
benar-benar kucing!
Dalam pemilu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, apakah amanat rakyat yang
dapat dibaca dari hasilnya? Dalam hal Pemilu DPR, yang masih dikuasai oleh
partai-partai politik, rakyat memberi amanat bahwa kebebasan politik dan
demokrasi politik tidak harus berarti semaunya mendirikan partai politik,
karena tidak puas, dan demokrasi tidak identik dengan sebanyak mungkin
partai politik. Diadakan pembatasan terhadap parpol yang ikut pemilu DPR,
hanya 24 parpol yang dapat ikut serta. Dari 24 parpol itu, hanya 17 parpol
yang memperoleh kursi, dan dari mereka itu ada 7 parpol yang memperoleh
kursi dibawah 5. DPR jadinya sangat terfragmentasi yang memperlemah daya
kontrolnya terhadap Pemerintah.
Sedangkan bangsa dan negara justru memerlukan sebuah DPR yang kuat sebagai
mitra dari pemerintah/presiden yang pasti kuat karena dipilih langsung
oleh rakyat. Dalam 5 tahun mendatang ini, kita akan menghadapi banyak
tantangan dari dalam dan luar negeri yang akan menentukan nasib kita
sebagai bangsa, sebagai negara, dalam pergolakan politik, ekonomi dan
sosial di dalam dan di luar negeri.
Juga dalam menghadapi tantangan-tantangan ini diperlukan pemerintah yang
kuat, DPR yang kuat dan mampu menjadi mitra yang kuat, serta bangsa dan
negara yang kuat pula. Namun di atas kekuatan-kekuatan ini semua,
diperlukan persatuan bangsa yang kuat. Dan melihat kondisi keterpurukan
dari Bangsa dewasa ini, maka diperlukan bukan bantuan/ pinjaman dari luar
negeri, namun suatu booth strap operation dari kita semua bersama-sama.
Tantangan-Tantangan
Di dalam Negeri. Tantangan dalam hidup berbangsa adalah tantangan terhadap
eksistensi atau keberadaan kita sebagai satu bangsa yang utuh bersatu!
Sedangkan dalam hidup bernegara, adalah tantangan terhadap eksistensi atau
keberadaan dari Negara Kebangsaan dan Negara Kesatuan RI dan terhadap
Pancasila sebagai Dasar Negara. Kemudian tantangan dalam hidup
bermasyarakat adalah terhadap eksistensi atau keberadaan kita sebagai
bangsa yang plural, yang beradab dan berkepribadian, antidiskriminasi
dalam bentuk apa pun, dan yang mendahulukan kepentingan bersama, diikat
oleh suatu solidaritas sosial dan nasional yang tangguh!
Dalam hal kesejahteraan, tantangan yang dihadapi dari pertumbuhan ekonomi
yang stagnan, yang mengakibatkan peningkatan pengangguran dan kemiskinan
secara luas di kota dan di daerah-daerah, terlebih di kalangan kaum muda (antara
15 - 30 tahun). Ditambah lagi bahwa, di samping tantangan-tantangan
terhadap eksistensi atau keberadaan kita sebagai bangsa, negara dan
masyarakat itu, kita pun digerogoti oleh korupsi dan KKN, yang jika tidak
diberantas akan merintangi dan menyulitkan kita dalam proses/transisi
menjadi negara yang demokratisi, negara hukum dan negara sejahtera yang
sejati.
Ada pula masalah politik yang timbul dalam post pemilu ini, yakni
berfungsinya suatu pemerintahan yang kuat, pilihan langsung dari dan oleh
rakyat, namun suatu DPR yang lemah, karena terfragmentasi dan
penyelenggaraan pemerintahan tanpa ada GBHN. Keadaan yang timpang ini
perlu diatasi dengan memperkuat persatuan bangsa dan negara. (Bukan dengan
koalisi-koalisi politik yang didasarkan pada power sharing)
Kemudian tantangan dari luar negeri berupa arus globalisasi dan
liberalisasi yang makin mengganas dan meluas. Dominasi dari kepemimpinan
Amerika Serikat dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial dan keamanan
internasional, dan obsesinya terhadap terorisme internasional.
Perkembangan ekonomi dunia yang tidak menentu disebabkan antara lain oleh
masalah apresiasi dolar AS yang tidak menentu dan kegoncangan harga minyak
dunia. Perkembangan dari Free Trade Areas, menggantikan Multilateral
Agreements. Perkembangan dari ekonomi dan pembangunan Cina Daratan dan
India, yang dapat merupakan pasar-pasar bagi suplai kekayaan alam (SDA)
kita, tetapai di lain pihak merupakan konkurensi kita dalam pengembangan
industri manufaktur, yang kita perlukan untuk mengatasi masalah
pengangguran.
Dalam menghadapi tantangan-tantangan dari dalam dan luar negeri ini, akan
diperlukan tindakan-tindakan yang tidak popular demi kepentingan bangsa
dan negara, yang berkelanjutan (bukan yang sesaat). Dan seorang politikus
yang mengutamakan popularitas politik, tidak dapat diandalkan dalam hal
ini. Karena itulah diperlukan presiden/pimpinan bangsa dan negara yang
berkepribadian politik, yang tangguh, mantap dan prinsipil, bukan yang
mengejar popularitas politik belaka.
Perkembangan perhitungan hasil Pilpres 5 Juli yang baru lalu menunjukkan
suatu tren bahwa yang akan maju ke putaran kedua bulan September yang akan
datang adalah pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dan pasangan
Megawati Soekarnoputri-KH Hasyim Muzadi. Tentunya harapan kita adalah para
pemimpin inilah yang nantinya membawa bangsa ini dalam menghadapi berbagai
tantangan-tantangan yang ada, untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa
yang besar dan memperhatikan nasib rakyat. Track record para calon,
terutama dari sosok kepribadian politik tentu juga menjadi pertimbangan. ►Sumber:
Suara Pembaruan, 19 Juli 2004, Penulis adalah pengamat politik,
mantan menteri keuangan.
FRANCISCUS XAVERIUS SEDA
pdat: Pengusaha ini terlibat dalam banyak kegiatan, rajin pula menulis
artikel di pelbagai penerbitan. Terutama masalah ekonomi, juga politik.
Belakangan, kongres ke-4 Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), memilih
dia sebagai ketua umum. Sebelumnya, ia menggantikan Soedarpo Sastrosatomo
menjadi ketua Indonesische Nederlandsche Associatie (INA), 1983.
Seda adalah pendiri sekaligus pengurus Yayasan dan Universitas Katolik
Atma Jaya, juga dekan fakultas ekonomi di universitas itu. Sedangkan di
Yayasan Bentara Rakyat, penerbit harian Kompas, ia wakil ketua, dan di PT
Gramedia anggota dewan komisaris.
Selalu banyak senyum, komisaris PT Narisa -- pabrik pakaian jadi -- ini
biasa bekerja keras sejak kecil. Ayahnya, Paulus Setu Seda, seorang kepala
SD. Pamannya, Pisu Sega Seda, seorang kapitan (lurah). Dari kedua orang
itulah, di Desa Lekebai, Paga, Kabupaten Sikka, Flores, ''Saya mendapat
pendidikan mendalam tentang cara membaktikan diri kepada masyarakat,''
tutur anak pertama dari delapan bersaudara ini.
Keluarganya di daerah itu termasuk berkecukupan. Suatu saat, pamannya
membuka persawahan, menanam kemiri, kelapa, dan memulai program perbaikan
kampung. ''Tindakan Paman itu sangat mengesankan buat saya,'' katanya. ''Sekarang
daerah saya penghasil kemiri nomor satu.''
Sesudah tamat SD di Flores, 1940, Frans Seda merantau ke Muntilan, Jawa
Tengah. Di sana, sambil belajar di SMP, ia menjadi tukang rumput, pengaduk
makanan, dan pemerah susu pada sebuah peternakan di lereng Gunung Merapi.
Lantas ia dipercaya sebagai loper susu dan penagih rekening.
Lulusan Katholieke Economische Hogeschool di Tilburg, Negeri Belanda, ini
di Jakarta lantas berwiraswasta dan menerjuni dunia politik. Sebagai Ketua
Umum DPP Partai Katolik, ia menjadi anggota MPRS dan DPR-GR. Kemudian
berturut-turut menjabat menteri: perkebunan, pertanian, keuangan, dan
perhubungan. Ketika menjadi Dubes RI di Brussel, untuk Belgia dan
Luksemburg, ia merangkap kepala perwakilan RI untuk MEE. Kembali ke
Indonesia, dua tahun ia menjadi anggota DPA, sejak 1976.
Terbuka dan suka humor, suatu waktu ia berbicara tentang pemuda. ''Ada
suatu perbedaan,'' katanya, ''pemuda zaman saya belajar politik dari
pidato Bung Karno dan Bung Hatta. Sekarang lain, mereka belajar dari
penataran ke penataran.''
Menikah dengan Johanna Maria Pattinaya, ayah dua anak ini menjadi anggota
komisi kepausan Isutitia et Pax (Keadilan dan Perdamaian) diangkat oleh
Paus Yohannes Paulus II, 1984. Biasa jogging atau jalan kaki selama satu
jam, dan sesekali berenang.
****
Ketika Pak Seda Mudik...
Kompas, 9 November 2005
St Sularto
Ulang tahun ke-79 memang tidak seistimewa ulang tahun ke-50, apalagi
ke-80. Namun, bagi Drs Franciscus Xaverius Seda, setiap ulang tahun
harus diistimewakan.
Maka pada ulang tahun ke-79, tepatnya 4 Oktober 2005, dia ajak sejumlah
rekannya di Jakarta, di antaranya Pak Jakob Oetama, merayakannya di
Maumere, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur. Mantan menteri
sejumlah departemen, komisaris beberapa perusahaan, kolumnis—Pak Frans
Seda—mudik.
Berbeda dengan perayaan ulang tahun selama ini, pesta mudik kali ini
tidak menyertakan istri dan anak-anak. Pak Seda dan rombongan napak
tilas ke Desa Lekebahi—sekitar 20 kilometer barat Maumere—tempat
kelahiran dan kuburan leluhurnya. Bertemu dengan adik-adiknya di
antaranya membahas soal pelimpahan tanah warisan untuk gereja setempat.
Merayakan ulang tahun dengan misa syukur di Maumere, disusul peresmian
Taman Bacaan Frans Cornelissen.
Di samping itu, dia juga meminta Pak Jakob Oetama menyampaikan ceramah
di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere. Mengunjungi
Larantuka, kota Rosario yang memiliki tradisi prosesi Jumat Suci,
arak-arakan patung Maria keliling kota, tradisi yang terus dilestarikan
dan menjadi daya tarik turisme sejak abad ke-16. Mengunjungi Biara
Trapis di bukit terpencil sebalik Larantuka.
Jadilah, Pak Frans Seda mudik, tanggal 26-30 Oktober 2005. ”Ibu (Yohanna
Pattinaya) kok tidak ikut, Pak?”
”Sedang sakit,” katanya.
”Anak-anak (Ery dan Nessa) tak ngawal?”
”Mereka tak bisa meninggalkan kesibukan.”
Itulah jawaban-jawaban singkat Pak Seda setiap ditanya soal mudiknya
tanpa keluarga.
Cerita tentang kebesaran dan keelokan bumi Flores dan manusia Flores
mengalir selama perjalanan. Pagi itu, dalam cuaca cerah dengan
perbukitan hijau pada musim hujan, sepanjang perjalanan, panorama indah
Pulau Flores tidak dia lewatkan.
Dalam perjalanan darat sesekali dia minta pengemudi menghentikan mobil.
Dia borong buah-buahan yang dijajakan di pinggir jalan antara Maumere
dan Larantuka. ”Beli semua. Mereka tak punya apa-apa di sini. Nanti
untuk para pater di biara,” katanya.
Pada lain kesempatan, dia minta mobil dihentikan lagi, hanya untuk
menyapa orang-orang yang tengah duduk-duduk di pinggir jalan.
Kepada serombongan anak sekolah berseragam pramuka, dia sapa, ”Eh, kamu
kelas berapa? Anggota pramuka harus bisa nyanyi. Nyanyikan lagu
pramuka!”
Anak-anak kebingungan. Ketika didesak seorang rekan, ”nama bapak ini
pasti kalian kenal”, baru mereka sadar berhadapan dengan ”orang besar”.
Kemudian terdengar alunan lagu ”Di sini senang, di sana senang, di
mana-mana hatiku senang.…”
Pak Seda pun ikut menyanyi dengan penuh semangat. ”Bagus-bagus, ini
kalian bagi-bagi bertiga,” katanya sambil menyodorkan uang lima ribuan.
Anak-anak itu bengong, berusaha mengingat-ingat siapakah ”bapak
berprofil Flores yang baik hati itu”.
Makna pluralisme
Hari terakhir mudik, Sabtu (29/10), menampakkan sepenggal sisi sosok
Frans Seda. Dia rela dan senang digelari ”sesepuh”, sebutan yang berasal
dari kosakata bahasa Jawa. Masuk akal sebab Pulau Jawa telah menjadi
bagian dari perjalanan hidupnya.
Setelah tamat sekolah rakyat di Ndao (Ende, Flores) tahun 1940, ia pergi
ke Yogyakarta, berjuang keras, misalnya, pernah jadi tukang rumput dan
penjual daging sambil bersekolah di SMP Bopkri. Sekolah guru di Muntilan
akhirnya menjadi tempat kota berlabuh kedua di Jawa.
Di bawah asuhan Pater Van Lith—pastor Jesuit—Frans Seda semakin mengenal
Indonesia bukanlah hanya Flores. Di asrama calon-calon guru yang berasal
dari seluruh pelosok Indonesia itu Frans Seda berkenalan dan mengakrabi
makna pluralisme.
Gelar sarjana ekonomi diperoleh dari Katholike Economische Hogeschool,
Tilburg, Belanda, tahun 1956. Berlatar belakang pendidikan ekonomi,
Frans Seda dikenal sebagai ekonom, yang produktif menulis
artikel-artikel ekonomi, sampai sekarang. Ditambah minat dan
keterlibatannya dalam politik praktis, terutama pernah menjadi Ketua
Umum Partai Katolik (1961-1968), pemikiran-pemikirannya tentang masalah
ekonomi selalu didekati secara politik, tidak ekonomis teknis.
Pengalamannya di bidang pemerintahan, di antaranya pernah menjadi
menteri di empat departemen dalam rentang waktu yang
berbeda-beda—terakhir sebagai penasihat presiden pada era pemerintahan
Megawati Soekarnoputri—membuat Frans Seda jadi sumber bertanya berbagai
pihak.
Mudik, menuju udik ke Flores, selama lima hari mengingatkan apa yang
berkali-kali disampaikan Pak Frans Seda, ”Bung Karno menggelorakan
semangat Merdeka atau Mati, kalau saya ingin agar Flores Merdeka dan
tidak mati.”
”Saya masih ingin pergi lagi, mengajak teman-teman tahun depan,” katanya
menambahkan.
Buku Khusus 80 Tahun Frans Seda
Maumere, Kompas Rabu, 01 November 2006 - Festival Ledalero 2005-2006 di
Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Pulau Flores, Nusa
Tenggara Timur, Senin (30/10), ditutup. Acara ditandai dengan
persembahan buku dari Penerbit Ledalero khusus untuk mengenang 80 tahun
Frans Seda, yang jatuh pada 4 Oktober. Buku yang berjudul Rancang
Bersama Awam dan Klerus itu langsung diserahkan kepada Frans Seda.
Frans Seda, mantan menteri empat departemen dalam rentang waktu
berbeda-beda, dipandang sebagai tokoh awam sejati. Ia dikelompokkan
dalam segelintir pemikir bersama kaum Klerus yang turut berkiprah dalam
membangun negara dan gereja.
Dalam sambutannya, Frans Seda tak menyinggung banyak soal buku ini. Ia
justru menekankan rasa bangganya terhadap pementasan sejumlah tarian
adat khas Flores yang ditampilkan pada Senin malam.
"Malam ini saya melihat kembali mutiara yang terpendam, yang sekian lama
kebudayaan dihimpun menjadi satu. Saya bangga dengan Flores sebagai
pulau penuh keindahan bunga di laut, yaitu karang-karang yang berbunga,"
tutur Frans Seda yang memberikan sambutan dalam posisi duduk.
"Saya orang yang senja, tetapi di saat senja, berarti besok ada matahari
terbit. Dan, di kala senja, saya dapat melihat pengalaman berharga di
masa lampau," katanya.
Hadir dalam penutupan festival ini adalah Wakil Gubernur Nusa Tenggara
Timur Frans Lebu Raya, Uskup Maumere Mgr Vinsensius Sensi Potokota Pr,
sejumlah pejabat Muspida Sikka, dan beberapa pejabat di daratan Flores.
Bagi Frans Lebu Raya, festival ini adalah ajang pembangunan seni budaya
serta pengembangan minat dan bakat bagi generasi muda. Ini kesempatan
bagi generasi muda untuk mengembangkan aneka kesenian yang selama ini
masih terpendam.
"Kaitan dengan sumpah pemuda, kita dapat mengambil hikmah idealisme yang
dibangun agar generasi muda hidupnya bisa bermanfaat bagi orang lain
serta mengembangkan daya saingnya. Anak-anak muda yang mengikuti
festival ini juga memiliki potensi luar biasa. Hal ini perlu
dikembangkan dan ini memerlukan dukungan pemerintah," ujar Frans Lebu
Raya yang sekaligus menutup festival.
Frans M Parera, yang mewakili pendiri Kelompok Kompas Gramedia Jakob
Oetama mengatakan, Kompas Gramedia tetap konsisten menerbitkan buku-buku
sastra meski mulai tahun 2000 kecenderungan pasar menurun.
"Tahun 1998 buku-buku sastra menjadi best seller dan Kompas Gramedia
merespons hal itu. Akan tetapi, dua-tiga tahun kemudian minat pasar
makin berkurang. Kami sempat bimbang, apakah terus menerbitkan buku-buku
sastra atau tidak. Namun, rupanya ada suara dari Timur, termasuk dari
almamater saya, bahwa buku-buku sastra tetap dibutuhkan. Bagaimanapun,
karya sastra harus tetap eksis," tutur Parera.
Rangkaian acara penutupan ini digelar 28 Oktober-30 Oktober 2006.
Festival dibuka tahun lalu, sementara rangkaian acara penutupan diawali
dengan pementasan teater Aletheia Ledalero dan peluncuran serta bedah
buku berjudul Tapak-tapak Tak Bermakna. Buku itu berisi kumpulan 10
cerpen dan 17 puisi pelajar SMU dan mahasiswa perguruan tinggi di Flores
hasil lomba karya tulis dalam rangkaian Festival Ledalero 2005-2006.
Buku itu dibedah oleh sosiolog Dr Ignas Kleden dan novelis Maria
Matildis Banda. (SEM)
Franciscus Xaverius Seda (Lahir: Flores, Nusa Tenggara Timur, 4
Oktober 1926 adalah politikus, menteri, tokoh gereja, pengamat politik,
dan pengusaha Indonesia.
Dalam pemerintahan, posisi yang pernah diembannya antara lain adalah
Menteri Perkebunan dalam Kabinet Kerja IV (1963-1964), Menteri Keuangan
(1966 - 1968) sewaktu awal Orde Baru, serta Menteri Perhubungan dan
Pariwisata (1968-1973) dalam Kabinet Pembangunan I.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|