| |
C © updated 29042006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Erwin Sudjono, SH
Jabatan:
Panglima Kostrad (TMT Jabatan: 2 Mei 2006)
Jabatan Sebelumnya:
Pangdam VI/Tanjungpura (TMT Jabatan: 15 Maret 2005)
Lahir:
Bandung, 5 Februari 1951
Pangkat:
Mayor Jenderal TNI
Agama:
Kristen Katolik
Istri:
Wrahasti Cendrawasih (Ibu rumah tangga, lahir, 8 Juli 1951)
Anak:
- P Purwandani, lahir 10 Juni 1977
- Danang PW, lahir 12 Maret 1980
Pendidikan Militer
- AKABRI, 1975
- SUSSARCAB IF, 1976
- SUS STAF PUR, 1986
- SESKOAD, 1989
- LEMHANNAS XXXIII, 2000
- SUSPA JASMIL, 1977
- SUS DANKI PAN, 1979
- SUS BHS INGGRIS, 1988
- SOMB INTS COURSE, 1985
- AUST FAMII COURSE, 1989
Tanda Jasa:
- Satya Lencana (SL) Kesetiaan VII, XXIV
- SL Santi Dharma
- SL UNTAC/PBB
- Tanda Jasa Pemerintah Kamboja
- SL Dwija Sisma
- Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
- SL Seroja
- Bintang Kartika Eka Paksi Pratama
Riwayat Penugasan Operasi:
- Operasi Timor Timur, 1970
- Operasi Timor Timur, 1976
- Operasi Perdamaian PBB, 1992
- Operasi Aceh, 2003
Penugasan Luar Negeri:
- Pendidikan, di Australia, 1985
- Latihan, Singapura, 1991
- Perdamaian, Kamboja, 1992
- Seminar PKO, Australia, 1994
- Seleksi Personel, Kamboja, 1994
- Peninjauan, Spanyol, 1995
- Technicaal Meeting, AARM, 1995
- Latihan, 1997
- WWIM, 2000
Riwayat Jabatan:
- Danton SMS Bant 305/Kostrad, 11 Agustus 1976, SP/766/VII/1976
- Danton/I T/330/Kostrad, 1 Oktober 1972, SP/110/IV/1978
- KASI/3/Pers/330/Kostrad, 1 April 1980, SP/39/VI/1980
- DANCE B/305/Kostrad, 1 Agustus 1982, SK/134/XII/1982
- PAD-3/SIMA/Denm/17/Kostrad, 1 Oktober 1982, SP/352/XII/1982
- KASI-3/PERS/BRIGIF/9/Kostrad, 30 April 1986, SP/360/V/1985
- WADAN YONIF 509/9/Kostrad, 1 Oktober 1988, SP/452/XII/1988
- DANYONIF LINUD 503/18/Kostrad, 1 November 1990, SK/459/XI/1992
- DAN KONTINGEN GARUD XII, 1 Agustus 1992, SP/646/III/1992
- DANYONTAR DEWASA MENTAR AKMIL, 1 Agustus 1993, SK/176/VI/1993
- PYDA 3/LATOR PBAN II BINLAT SOPSAD, 1 Juni 1994, SK/213/VI/1994
- DAN BRIGIF LINUD 18/Kostrad, 1 Juli 1995, SK/280/VI/1995
- ASOPS KASDAM VI/Tnjungpura, 1 April 1996, SK/119/IV/1996
- DANREM 121/ABW DAM VI/TPR, 1 Mei 1997, SK/226/VI/1997
- DANMENTAR AKMIL, 1 Juni 1998, SK/230/VI/1998
- KASONIF I Kostrad, 15 Februari 2001, SP/154/II/2001
- KASDAM III/Siliwangi, 1 Juli 2002, SK/441/VI/2002
- Pangdif 2 Kostrad, 1 Februari 2003, SP/202/II/2003
- Dan PPRC TNI, 13 Mei 2003, SP/2/V/2003
- Pangdam/VI/Tpr, 15 Maret 2005, SP/489/IV/2005
- PANGKOSTRAD, 2 Mei 2006, Skep/138/IV/2006
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04 =
Mayjen TNI Erwin Sudjono, SH (02)
Profesional dan Kompeten
Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Suyanto memberikan sikap berupa respon
terhadap sejumlah kritik dan pertanyaan yang disampaikan berbagai
kalangan terkait dengan rencana pergantian Pangkostrad yang baru, dari
Letjen TNI Hadi Waluyo kepada Mayjen TNI Erwin Sudjono, salah seorang
perwira terbaik lulusan Akabri 1 Desember 1975.
Kritik-kritik yang terlontar terkait dengan posisi kekeluargaan Erwin
Sudjono, yang memang merupakan saudara ipar Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY). Di media massa, misalnya, beberapa anggota parlemen
mengkritisi bahwa sejak Mayjen Erwin Sudjono menjadi Pangdam
VI/Tanjungpura, dan tak lama kemudian ditetapkan menjadi Panglima
Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad), itu sarat
dengan KKN.
Tuduhan lain yang turut diarahkan, ada intervensi Cikeas dalam penentuan
Pangkostrad. Juga, tengah terjadi skenario untuk mengamankan posisi
Presiden SBY, yang mempunyai hubungan dekat kekeluargaan yakni sebagai
kakak ipar setelah sebelumnya, adek ipar Presiden pun Brigjen TNI Edi
Wibowo menempati posisi strategis sebagai Wakil Komandan Jenderal
Kopassus. Semua itu dikritisi sebagai upaya untuk kepentingan agenda
Pemilu Presiden 2009, atau demi melanggengkan kekuasaan.
Atas berbagai kritikan tersebut, di tengah perbincangan semi formal
terkait dengan agenda-agenda kebangsaan dan kenegaraan, terutama yang
terkait masalah pertahanan dan keamanan Panglima TNI Marsekal Djoko
Suyanto kepada Munawar Fuad Noeh yang juga Sekjen DPP KNPI, menegaskan,
bahwa Presiden SBY selama menjabat sebagai Presiden tidak pernah
sekalipun menitipkan atau pun menanyakan siapa yang akan menjadi ini dan
itu di lingkungan Mabes TNI, apalagi sampai menitipkan keluarganya.
“Tidak pernah,” tegas Panglima.
Menurut Djoko Suyanto, Presiden SBY selaku mantan TNI aktif amat sangat
mengerti mekanisme dan menghormati sistem yang berlaku di lingkungan
TNI. Kata Djoko, hanya pernah sekali Presiden menanyakan kepada Panglima
TNI secara rinci, mengenai siapa yang akan menjadi ajudannya. Itupun,
pertanyaan diajukan karena memang terkait dengan tugas dan posisi Ajudan
yang akan selalu terus mendampingi Presiden secara resmi.
Karena itu, terkait dengan pengangkatan Pangkostrad Panglima TNI Djoko
Suyanto lalu menyampaikan sejumlah alasannya. Menurutnya, Erwin Sudjono
menyandang kriteria secara profesional, pengalaman, kompetensi, karir
dan memiliki prospek yang berjenjang. Karenanya institusi TNI-lah, bukan
pribadi yang menetapkan nama akhir Erwin Sudjono sebagai Pangkostrad.
Hubungan antara Mayjen Erwin Sudjono dengan Presiden SBY itu menunjukkan
sebuah hubungan yang alami dan memiliki latar sejarah tersendiri. Bukan
hubungan politik dan kepentingan.
Kata Djoko cara memahaminya harus proporsional. “Siapa yang tahu, siapa
yang menduga, kalau saat Erwin Sudjono berpangkat Letnan Dua, kemudian
bersama-sama Pak SBY pada saat itu berjodoh dengan putri Jenderal TNI
Purnawirawan Sarwo Edhie Wibowo. Lalu setelah 30 tahun menikah, kemudian
Pak SBY terpilih menjadi Presiden padahal keduanya sama-sama berkarir di
TNI,” kata Djoko.
Panglima menegaskan pengangkatan Pangkostrad baru tidak ada kaitannya
dengan agenda dan situasi politik. Lebih tegas lagi, kata Panglima tidak
ada agenda politik dan tidak ada kaitannya dengan suasana, arah maupun
kepentingan politik dalam hal pengangkatan Pangkostrad atau jabatan lain
di lingkungan TNI. Keputusan benar-benar bersifat murni untuk
kepentingan bangsa dan negara, dengan meneliti dan mencari sosok terbaik
untuk posisi yang tepat dalam mengoptimalkan peran TNI demi bangsa dan
negara.
Dinasti Sarwo Edhie
Memang benar, Erwin Sudjono memiliki hubungan yang khas, unik dan
monumental dengan Presiden SBY dan Hadi Utomo (Ketua Umum Partai
Demokrat) karena ketiganya sama-sama menikahi putri Sarwo Edhie Wibowo.
Berlangsung sekaligus pada 30 Juli 1976, upacara pernikahan ketiga
pasangan ini digelar di Baliroom, Hotel Indonesia, Jakarta. Pasangan
pertama, Erwin Sudjono dengan Wrahasti Cendrawasih, pasangan kedua
Susilo Bambang Yudhoyono dengan Kristiani Herrawati, dan pasangan ketiga
Hadi Utomo dengan Mastuti Rahayu.
Ketiga mantu Sarwo Edhie Wibowo ini adalah sama-sama mantan taruna
Akabri, tempat dimana Sarwo Edhie pernah menjabat sebagai Gubernur
Akabri. Erwin angkatan tahun 1975 (ketika menikah berpangkat Letnan
Dua), SBY angkatan 1973 (Letnan Satu), dan Hadi Utomo (Kapten) angkatan
tahun 1970.
Sebuah pernikahan yang terbilang amat unik, langka dan banyak orang
mengangapnya bertentangan dengan tradisi.
Mengapa waktu, tempat dan suasana pernikahan ketiganya disatukan alasan
paling kuat dari Sarwo Edhie adalah karena dia seorang pejabat negara.
Sarwo Edhie tidak punya waktu jika setiap tahun harus menikahkan
putrinya di tanah air. Untuk meminta izin ke Presiden, karena tugasnya
sebagai Duta Besar RI untuk Korea Selatan, agar setiap tahun bisa pulang
ke tanah air rasanya tidak enak. Di sisi lain Sarwo Edhie merasakan pula
tabu kalau menikahkan yang muda terlebih dahulu.
Tabu untuk melangkahi maka jadilah pernikahan ketiga pasangan ini
disatukan. ►e-ti/munawar fuad noeh - haposan tampubolon)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|