| BIOGRAFI |
|
|
 |
BIOGRAFI:
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10
11
12
13
14
15 16
17 = Budi Harsono
(06)
Mengabdi melalui Partai Golkar
Karena pertimbangan historis dan ideologis, Budi Harsono menerima ajakan
Akbar Tandjung bergabung ke Partai Golkar. Dia pun menyambut kepercayaan
dan tanggung jawab sebagai Sekjen Partai Golkar.
Belum genap dua bulan menjalani masa pensiun dari dinas ketentaraan,
Budi diajak Akbar bergabung ke Partai Golkar. Dia juga ditawari posisi
Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar oleh politikus kawakan tersebut.
Budi lantas minta waktu satu minggu untuk memikirkan secara matang
tawaran Akbar, yang saat itu menjabat Ketua Umum DPP Partai Golkar,
sebelum mengambil keputusan.
Akhirnya, dengan segenap pertimbangan termasuk berbagai konsekuensi yang
bakal diterima, terhitung sejak Agustus 2002, Budi yang pensiun dari TNI
pada awal Juni 2002 memutuskan menerima tawaran sekaligus tantangan
tersebut.
Ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi keputusan Budi Harsono
bergabung ke partai politik terbesar di Indonesia itu. Dua di antaranya
adalah alasan ideologis dan pertimbangan historis.
Selama meniti karir di dunia militer, mulai sejak menjalani pendidikan
pembentukan militer sebagai taruna AMN di Magelang sampai menunaikan
tugas dan pengabdian akhir di Fraksi TNI/Polri DPR, dengan pangkat
terakhir Letnan Jenderal TNI, ada sebuah spirit yang senantiasa menjadi
pedoman hidupnya dalam mengaktualisasikan diri. Yakni semangat bernegara
dan membela negara.
Di mata seorang Budi Harsono, semangat kebangsaan, yang nota bene
selaras dengan TNI, merupakan karakter yang melekat sangat kuat pada
Partai Golkar dan menjadi kelebihannya dibandingkan Parpol-parpol
lainnya.
Terlebih lagi, Partai Golkar sangat tidak asing bagi anggota Fraksi
Partai Golkar (2004-2009) yang kini ditugaskan di Komisi VII (bidang
Energi dan Sumber Daya Mineral) DPR itu. Budi menghabiskan sebagian
besar masa 35 tahun pengabdiannya di bidang teritorial. Pengalaman
bertugas di bidang teritorial membuat Budi mengenal dan memahami sekali
seluk-beluk Partai Golkar. Sebab, dia banyak berinteraksi dengan
kalangan fungsionaris, termasuk para petinggi, Partai Golkar.
Seperti dipahami, Golkar merupakan satu dari tiga jalur yang menjadi
tulang punggung pemerintahan Orde Baru, yang terkenal dengan sebutan
ABG. ABG sendiri adalah singkatan dari ABRI untuk huruf A, Birokrasi
untuk huruf B, dan Golongan Karya (di era reformasi berubah nama menjadi
Partai Golkar) untuk huruf G.
Di berbagai forum pertemuan ABG, dia sering terlibat di dalamnya. Dalam
kesempatan-kesempatan itu, dia selalu berinteraksi dengan kalangan
petinggi dan fungsionaris Golkar. Karenanya, dia relatif tidak terlalu
kesulitan menyesuaikan diri dengan dinamika di Golkar.
Partai Perekat NKRI
Dari pengalaman interaktif selama puluhan tahun itu, dia sangat memahami
apa dan bagaimana Golkar. Seperti halnya TNI, Partai Golkar memiliki
landasan berfikir, platform, dan komitmen nasionalisme serta menjadi
simbol perekat sekaligus pengawal bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) dan Pancasila sebagai Dasar Negara. Partai Golkar
berperan sebagai tonggak perekat bagi bangsa Indonesia yang majemuk ini.
Bagi Budi, faktor-faktor perekat bagi tegaknya NKRI ini adalah
Birokrasi, TNI, dan Parpol. Sebagai sebuah Parpol, apabila Partai Golkar
sampai lemah, maka kekuatannya sebagai perekat NKRI bisa hilang.
Bertolak dari pemahaman tersebut dia kemudian mau bergabung ke Partai
Golkar dengan sebuah motivasi agar dapat menyumbangkan darma baktinya
kepada bangsa dan negara, melalui Parpol itu.
Sokoguru kehidupan demokrasi adalah Parpol. Demokrasi akan dapat
bertumbuh dan berkembang dengan sehat jika Parpolnya berkualitas. Sejauh
penilaiannya, di antara begitu banyak Parpol yang ada saat ini, hanya
sedikit yang berkualitas, salah satunya adalah Partai Golkar.
Dia ingin mengabdikan diri di Partai Golkar karena sangat meyakini dan
menaruh harapan bahwa proses demokrasi di negeri ini akan bisa berjalan
dengan baik melalui kiprah Partai Golkar.
Satu kekuatan lain yang dimiliki Partai Golkar adalah sumber daya
manusia (kader)-nya yang berkualitas serta jaringan yang terstruktur dan
mengakar rumput sampai ke daerah yang tersebar di seluruh penjuru tanah
air.
Dari aspek kualitas SDM, misalnya, Partai Golkar punya kader yang
rata-rata berkualitas sehingga persaingan di internal pun relatif ketat.
SDM dari Partai Golkar adalah salah satu yang terbaik di negara ini.
Menunjuk anggota Fraksi Partai Golkar di DPR, dia menegaskan, sebagian
besar dari mereka adalah kader partai yang memang besar melalui proses.
Tidak ada yang karbitan.
“Saya melihat Partai Golkar memiliki struktur jaringan terbaik dari
pusat sampai ke daerah dan kader yang berkualitas baik di antara
partai-partai politik yang ada di Indonesia. Saya ingin agar Partai
Golkar yang sudah 30 tahun dibangun ini tidak hilang ditelan zaman,”
papar Budi.
“Saya ingin ikut membangun Partai Golkar agar partai ini benar-benar
dipercaya oleh rakyat. Alhamdulillah, sampai saat ini, Partai Golkar
masih dipercayai rakyat yang diindikasikan dari perolehan suara
terbanyak pada Pemilu 2004.”
Konflik Internal
Di samping alasan historis dan ideologis tersebut, ada satu faktor
penting lain yang memotivasi Budi memberikan sumbangsih kepada Partai
Golkar.
Apa itu? Kondisi Parpol pemenang Pemilu 2004 itu tengah diterpa konflik
internal, yang potensial sekali memicu perpecahan menyusul masalah Bulog
yang menimpa Akbar Tandjung.
Dia mengaku prihatin, di saat mengerahkan segenap energi guna menghadapi
persoalan hukum, Akbar justru digoyang secara politis oleh internal
partainya sendiri. Ada kelompok yang hendak melemahkan posisinya.
“Andai Pak Akbar tidak punya masalah seperti itu, mungkin saya belum
tentu mau bergabung ke Partai Golkar. Tapi karena ada masalah, saya
terpanggil untuk membantu beliau menyelesaikan masalah tersebut,” tutur
Budi.
Apakah ada kedekatan emosional Budi Harsono dengan Akbar Tandjung?
“Hubungan saya dengan Pak Akbar baik dan sudah berlangsung lama. Namun,
motivasi utama saya bergabung ke Partai Golkar adalah keinginan saya
agar partai ini tetap utuh,” ungkapnya.
Dia melihat potensi perpecahan yang ada di Partai Golkar dapat merusak
semuanya. Karena saat ini Partai Golkar adalah salah satu partai yang
punya tekad dan komitmen pada NKRI dan mampu menjadi perekat bangsa ini,
selain TNI dan pemerintah.
“Sangat disayangkan bila partai ini sampai pecah dan hancur, apalagi
dulu TNI ikut membidani kelahirannya. Jika Partai Golkar pecah,
perkembangan demokrasi di negeri ini akan menjadi berantakan. Karena
itu, saya terpanggil dengan segenap kemampuan untuk ikut membantu
meredakan ketegangan yang tengah berlangsung di internal Partai Golkar
saat itu,” cetus Budi lagi.
Begitu bergabung dan menjalankan tugas sebagai Sekjen partai, Budi
Harsono tidak menemui hambatan serius dalam menyesuaikan diri. Hal itu
tak lepas dari pemahamannya yang mendalam akan seluk-beluk Partai
Golkar.
Selain itu, secara pribadi, dia juga sudah lama kenal baik dengan
tokoh-tokoh Golkar. Apalagi, pengalamannya dulu sebagai Assospol TNI
sangat mendukungnya menjalin interaksi dengan para tokoh Golkar.
Setiap Ketua Umum Golkar mengadakan rapat-rapat tiga jalur Partai
Golkar, misalnya, Budi yang ditugaskan dari Mabes TNI. Karenanya, dia
kenal banyak tokoh Golkar dalam rapat-rapat intensif tiga jalur
tersebut.
Maka, ketika dia diajak Akbar Tandjung bergabung ke Partai Golkar dan
diberi kepercayaan memangku jabatan Sekjen, dia relatif mampu
memposisikan diri sebagai jembatan.
Peran sebagai jembatan komunikasi di tubuh Partai Golkar bisa Budi
jalani berkat pengalaman sebelumnya di DPR saat menjadi Ketua Fraksi
TNI/Polri, yang sering dimintai fraksi-fraksi yang saling berseteru
sebagai penengah.
Kini, setelah tidak lagi duduk dalam struktur kepengurusan pusat partai
terhitung sejak akhir Desember 2004, pasca-Pemilu 2004, Budi tetap
menunjukkan loyalitasnya kepada Partai Golkar.
Secara pribadi, dia tetap menjalin hubungan baik dengan seluruh kader
dan tokoh-tokoh Partai Golkar, dengan sikap saling menghargai.
Lagi pula, Budi menekankan, dia bergabung ke Partai Golkar semata-mata
dimotivasi oleh keinginan untuk menjaga keutuhan partai dan pada
gilirannya menjaga keutuhan negara ini.
Sebagai wujud konsistensi loyalitasnya kepada partai, bila ada hal-hal
yang menurutnya penting, dia tetap menyampaikan saran dan masukan kepada
partai baik secara informal yakni melalui pribadi-pribadi pengurus pusat
partai, maupun secara formal memberi saran melalui berbagai media yang
ada. Bagi Budi, selaku kader, dia hanya mengabdi kepada partai bukan
mengabdi kepada orang perorang.
Dulu, secara formal, sewaktu memegang posisi Sekjen Partai Golkar, dia
memang bisa mempraktikkan ide/gagasannya. Dan, ada kepuasan batin pada
diri Budi tatkala seluruh jerih-payahnya dan segenap energinya yang
dicurahkan kepada Partai Golkar selaku Sekjen, membuahkan hasil yang
tidak mengecewakan.
“Sewaktu saya diajak Pak Akbar untuk membesarkan Partai Golkar, saya
bantu sepenuh hati demi kebesaran dan keberlangsungan partai ini. Dan,
alhamdulillah, Partai Golkar tetap utuh dan selamat dari ancaman
perpecahan. Bahkan, Partai Golkar mampu tampil sebagai pemenang Pemilu
2004, yang ditandai dominasi wakilnya di DPR,” tandas Budi Harsono. ►e-ti/af
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|