| |
C © updated
12122003 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
rpr sh |
|
| |
Nama:
Bobby Gafur Umar
Lahir:
Agama:
Islam
Jabatan:
Presiden Direktur PT Bakrie & Brothers Tbk.
Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)
Pendidikan:
Fakultas Teknik Universitas Trisakti, lulus tahun 1992
Sumber:
Sinar Harapan/naomi siagian
|
|
| |
|
|
|
|
Bobby Gafur Umar
Kapten Kebangkitan Bakrie & Brothers
Dalam usia yang masih muda, Bobby Gafur Umar, 35 tahun, mendapat
kepercayaan sebagai Presiden Direktur PT Bakrie & Brothers Tbk sejak
Agustus 2002. Bobby optimis dapat mengembalikan kejayaan kelompok usaha
yang dibangun oleh Alm H. Achmad Bakrie, ayah Aburizal Bakrie, konglomerat
terkenal. Bahkan, ia yakin dapat melampaui kejayaannya zaman dulu.
Kepercayaan besar yang diberikan kepadanya merupakan ganjaran atas usaha
Bobby melepaskan Bakrie & Brothers dari belitan utang yang cukup besar.
Utang senilai US$ 1,086 miliar pada November 2001 itu berhasil
direstrukturisasi melalui penukaran utang menjadi aset pihak kreditur
(debt to equity swap).
Walaupun akibatnya keluarga Bakrie yang sebelumnya merupakan pemegang
saham mayoritas kini hanya memiliki saham 2,5 persen. Namun yang
terpenting, Bakrie & Brothers tidak lagi memiliki utang dan menyisakan
utang pada anak perusahaan yang bisa mereka bayar. Itulah sebabnya Bobby
optimistis bahwa Bakrie & Brothers akan kembali besar, bahkan melampaui
kejayaannya zaman dulu.
Menjadi presiden direktur pada PT Bakrie & Brothers Tbk, menurut Bobby
Gafur Umar bukan karena kedekatan dengan keluarga Bakrie. Kariernya di
Bakrie & Brothers digapai melalui sebuah proses yang cukup panjang dan
lama. Ancaman krisis yang terjadi di perusahaan ini, menjadikan dia
semakin berupaya keras untuk membuktikan unit-unit yang dipimpinnya bisa
berhasil. ”Saya seorang profesional. Saya diangkat dan dievaluasi oleh
pemegang saham,” katanya.
Meski tergolong muda, Bobby sudah menunjukkan prestasi dalam perjalanan
kariernya sejak 1995 di Bakrie & Brothers. Boleh dibilang kariernya
dihabiskan di grup usaha ini. Di luar itu, dia hanya pernah bekerja
sebagai asisten manajer pada perusahaan konsultan kurang dari satu tahun
sebelum mengambil program MBA di University of Arkansas, Amerika Serikat.
Setelah menyelesaikan pendidikan masternya dan kembali ke Indonesia,
Aburizal Bakrie menawarinya bekerja di perusahaannya. Perkenalannya dengan
Ical, panggilan Aburizal Bakrie terjadi ketika sama-sama menjadi pengurus
Persatuan Insinyiur Indonesia (PII).
Kesempatan ini tidak dilewatkannya dengan pertimbangan Bakrie sebagai
kelompok usaha yang punya prospek cukup baik dari segi aset dan sumber
daya manusia. Bakrie dianggap sebagai tempat yang bagus untuk belajar.
Pria berkulit putih ini pertama masuk sebagai Assistant Chairman Bakrie
Group Of Companies. ”Di situlah saya dekat Pak Ical, seseorang yang
langsung mengetahui visi dan misi kelompok usaha Bakrie. Saya belajar
bagaimana Pak Ical memandang bisnis, karakter bisnis semuanya langsung
dari dia,” tutur jebolan Fakultas Teknik Universitas Trisakti pada 1992
ini.
Dari sana, dia kemudian dipindahkan ke sektor perkebunan sebagai
Restructuring & Acquisition Project Manager PT Bakrie Sumatera Plantation
hingga menduduki jabatan direktur. Pada saat yang bersamaan dia juga
menjadi Wakil Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)
hingga sekarang.
Ketika di sektor perkebunan ini, dia membangun konsep otonomi.
Masing-masing perkebunan harus memiliki pimpinan untuk mengambil keputusan
yang sebelumnya harus dari pusat. Dengan begitu pengambilan keputusan
tidak lama dan perusahaan bisa berkembang cepat. Konsep ini kemudian
diterapkan di unit-unit usaha Bakrie.
Sewaktu memimpin unit usaha perkebunan, Bobby memutuskan tinggal di Jambi.
”Saya beranggapan kalau benar-benar mau belajar harus tinggal di
operasionalnya langsung,” ujarnya.
Bobby menilai Bakrie & Brothers adalah perusahaan dengan budaya kerja yang
baik dan visi yang jelas. Melihat prosek yang bagus ini, ayah tiga anak
ini menekankan tidak berniat pindah dari Bakrie & Brothers. Padahal ketika
perusahaan gonjang-ganjing, Bobby dengan mudah bisa hengkang ke perusahaan
besar lainnya yang masih mapan.
”Banyak orang yang bertanya kepada saya apakah akan terus bertahan di
Bakrie. Saya katakan direksi adalah orang yang ditunjuk oleh pemegang
saham. Ada laporan pertanggungjawaban. Sepanjang saya bekerja baik saya
akan tetap di sini. Saya belum pernah berpikir untuk keluar,” katanya
terus terang.
Dia mengakui ketika di perkebunan ada beberapa perusahaan besar yang
menawarkan pekerjaan dengan jabatan yang bagus. Tapi dia katakan kepada
mereka, ”Saya belum ada rencana”.
Masa 1997 – 2001 menurut Bobby merupakan perjalanan pahit bagi perusahaan
itu. Saat krisis mulai melanda, manajemen memutuskan untuk menyelesaikan
permasalahan yang timbul. Bobby yang saat itu masuk sebagai anggota tim
restrukturisasi, mengatakan permasalahan ini tidak boleh dibiarkan
berlarut-larut meski belum mengetahui skema penyelesaiannya. “Tapi kami
yakin akan menjalaninya,” tutur Bobby yang berkarier di Bakrie & Brothers
mulai 1995.
Sejak itu, manajemen harus bekerja keras untuk meyakinkan para kreditor,
perbankan maupun lembaga keuangan dengan perencanaan penyelesaian
restrukturisasi yang bisa diterima.
Tetapi kendala yang dihadapi tidak hanya dari faktor eksternal, juga
internal perusahaan. Banyak di antara manajer puncak yang tidak yakin
apabila Bakrie & Brothers akan bisa memulihkan bisnis. Mereka yakin Bakrie
& Brothers tidak bisa menyelesaikan utang dan tidak mampu bertahan lama
sehingga memilih hengkang dari perusahaan.
Bobby mengatakan perjalanan bisnis Bakrie & Brothers mengalami tiga tahap.
Pertama, prakrisis di mana Bakrie menikmati masa-masa jayanya. Pada saat
itu, tuturnya, bisnis di Indonesia sangat mudah, uang dengan mudah
diperoleh sehingga ekspansi bisnis tidak menjadi masalah. Tahap kedua
merupakan ujian bagi Bakrie dengan datangnya krisis.
Pada saat ini katanya, tidak ada pengembangan sama sekali. Semua unit
usaha dikonsolidasikan hingga mencapai tahap ketiga yakni tahap
restrukturisasi bisa diselesaikan. “Sekarang kami sudah melewati masa-masa
sulit, karena itu saya percaya Bakrie & Brothers akan bisa kembali
berkompetisi. Kami adalah salah satu perusahaan dari kelompok usaha
terbesar di Indonesia yang menyelesaikan restrukturisasi utangnya dengan
sangat baik,” kata Bobby dengan raut wajah serius.
Boleh dibilang tahun 2001 menjadi awal bagi Bakrie & Brothers untuk meraih
sukses. Pada tahun itulah restrukturisasi utang bisa diselesaikan dan
berhasil membukukan laba usaha Rp 61,4 miliar, lebih tinggi 70 persen
dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp 36,2 miliar. Pencapaian laba
ini mengejutkan setelah menghadapi serangan krisis yang sangat berat.
Laba terbesar diperoleh dari sektor infrastruktur Rp 40,8 miliar dan Rp22,
8 miliar dari sektor telekomunikasi. Dari sektor yang terakhir ini, laba
yang diperoleh naik 117 persen dari Rp 10,5 miliar dari tahun 2001.
Bobby, mengemukakan tim manajemen merencanakan restrukturisasi usaha
melalui konsolidasi sejumlah unit usaha dengan melihat potensi yang ada
pada Bakrie & Brothers. Pertama, sektor pendukung infrastruktur yang
mencakup pembuatan pipa, komponen bangunan dan jasa engineering. Kedua,
sektor telekomunikasi.
Untuk sektor pertama, yakni mendorong unit usaha untuk mengoptimalkan
kapasitas terpasang. Di bidang ini, beberapa unit usaha ternyata sudah
kapasitas penuh sehingga perlu pengembangan. Contohnya, salah satu unit
usaha Bakrie & Brothers yakni Bakrie Building Industries (BBI) sudah
mencapai over capacity atau over optimum akibat tingginya permintaan bahan
bangunan. BBI merencanakan menambah dua line mesin dengan investasi Rp 50
miliar – Rp 60 miliar untuk menambah kapasitas terpasang.
Namun untuk sementara, karena kesulitan modal rencana ini belum bisa
diwujudkan. Penambahan mesin itu mendesak dilakukan karena pertumbuhan di
sektor bangunan semakin meningkat. Di tengah pertumbuhan ekonomi 3,5
persen pada 2001 ternyata pertumbuhan di sektor bangunan bisa mencapai 6
persen. Ini, menurut Bobby menunjukkan tanda-tanda berjalannya kembali
pembangunan sudah mulai.
Selain itu, Bobby mengutarakan manajemen juga sedang mengevaluasi sejumlah
bisnis Bakrie apakah masih sejalan dengan bisnis inti. Hal itu berkaitan
dengan peluang yang ada dari luar.
“Kami akan pilih beberapa bisnis saja yang benar-benar berkembang dan
punya peluang lebih besar ke depan. Yang lain kita lihat apakah akan
didivestasi lewat aliansi strategis untuk memperkuat posisi atau dijual
untuk dibuat holding baru di luar Bakrie & Brothers,” papar Bobby.
Khusus untuk pipa, yang menjadi salah satu bisnis inti Bakrie, manajemen
merencanakan untuk menjadikannya sebagai satu perusahaan. Saat ini unit
usaha pipa baja Bakrie & Brothers mempunyai tiga unit usaha yakni Bakrie
Pipe Industries, South East Asia Pipe Industries (SEAPI) dan Seamless Pipe
Indonesia Jaya (SPIJ). Dari ketiga perusahaan ini, SEAPI pada 2001 masih
mencatat kerugian Rp 14,6 miliar.
Pasar pipa baja di Indonesia menurut Bobby sudah jenuh. Perkembangan
kapasitas terpasang sudah hampir 1,3 juta ton padahal pasar dalam negeri
hanya menyerap 300.000 ton. Dengan pertimbangan kondisi pasar demikian
diprediksikan akan lebih menguntungkan bekerja sama dengan investor
strategis. Langkah yang dilakukan saat ini adalah beraliansi dengan
beberapa perusahaan pipa besar, salah satu di antaranya Tenaris Group dari
Argentina di bidang pemasaran.
“Kita berpikir bagaimana kalau perusahaan ini dijadikan satu unit khusus
pipa, mungkin nilai dan kompetensinya lebih bagus. Bisa joint dengan
perusahaan lain sebagai salah satu pemegang saham sehingga pipa bisa
diekspor dengan jumlah lebih besar. Tapi ini masih dalam tahap wacana,”
katanya.
Bisnis telekomunikasi, agaknya juga menjadi andalan Bakrie & Brothers
sebagai salah satu sektor usahanya. Di sektor ini ada lima perusahaan,
yakni Bakrie Communications (BC), Ratelindo, Link Telecommunications
(LINK), Bakrie Uzbekistan Telecom (Buztel) dan Multi Kontrol Nusantara (MKN).
Pada 2001 meski sektor telekomunikasi total menghasilkan laba sekitar Rp
22,8 miliar namun laba usaha masing-masing perusahaan mencatat kerugian
atau mengalami penurunan. Ratelindo, misalnya merugi Rp 67,7 miliar, LINK
turun menjadi Rp 11,7 miliar, sedangkan MKN merugi Rp 5,4 miliar. Akan
tetapi kerugian ini masih lebih kecil dibandingkan tahun 2000.
Gambaran ini jugalah yang meyakinkan dirinya bahwa telekomunikasi
mempunyai peluang besar. Bakrie & Brothers, ujarnya sudah mempunyai
pengalaman yang lama di sektor ini dan memiliki kompetensi yang sudah
teruji.
Tanggung Jawab
Bobby mengakui saat ini dirinya sangat beruntung di tengah dewan direksi
yang solid dan pada umumnya masih berusia muda. Di antara struktur direksi
yang tergolong ramping ini Bobby merupakan yang termuda. Belum lagi,
direksi didukung oleh dewan komisaris yang sangat berpengalaman di Bakrie
& Brothers. Agaknya inilah yang memberi nuansa baru bagi Bakrie & Brothers
untuk mulai meraih kesuksesan.
Ditegaskannya untuk meraih itu harus ada perencanaan jangka panjang ke
depan. Harus ada pembaruan di bidang manajemen maupun perencanaan
perusahaan. Sebagai presiden direktur, tanggung jawab mengendalikan
operasional perusahaan dinilainya cukup berat. Sekitar 10.000 karyawan
termasuk dari perkebunan masa depannya di bawah Bakrie & Brothers. Untuk
itu, Bakrie & Brothers, katanya harus tetap berjalan.
“Saya sadari situasi sudah sangat berbeda dan semakin sulit. Kita harus
membaca situasi ini, bagaimana harus memanfaatkan kompetensi untuk
bersaing di pasar global,” ujarnya.
Bobby menekankan Bakrie & Brothers akan mampu berkompetisi didukung
pengalaman bisnis yang sudah puluhan tahun, sumber daya manusia yang
kompeten dan jaringan yang luas. Perlahan-lahan Bakrie & Brothers sudah
menunjukkan perbaikan. Kinerja keuangan dari segi operasional semakin
meningkat. Namun, kondisi eksternal yakni ekonomi makro belum mendukung.
Akibatnya keuntungan agak berkurang karena adanya ekonomi biaya tinggi.
Tak pelak efisiensi di tubuh perusahaan juga harus dilakukan. Semua unit
usaha berjalan dengan segala kemampuan yang ada dengan biaya yang rendah
dan tidak boleh terjadi ekonomi biaya tinggi. “Good corporate management
menjadi policy yang sudah jalan, mulai dari atas hingga ke unit-unit bawah
harus menjalankan semuanya,” katanya.
Mengayunkan langkah sebagai pimpinan tertinggi pada sebuah kelompok usaha
besar di tengah situasi makro yang masih gonjang-ganjing seperti sekarang
ini menjadi tantangan baginya. Namun, itu tidak menyurutkan langkahnya
untuk membawa kembali Bakrie & Brothers pada kesuksesan yang sempat hilang.
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|