| |
C © updated 22072005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Nama:
Bahtiar Effendy
Lahir:
Ambarawa, 10 Desember 1958
Agama:
Islam
Pendidikan:
- Sarjana IAIN Jakarta, 1986
- Master Program Studi Asia Tenggara dari Ohio University, Athens, 1988
- Master Ilmu Politik dari Ohio State University, Colombus, OH, 1991
- Doktor Ilmu Politik dari Ohio State University, Colombus, OH, 1994
Pekerjaan:
- Ketua Program Studi Pascasarjana Universitas Muhammadiyah
Jakarta, 2001-2004
- Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta, 1995-sekarang
- Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia, 1995-sekarang
- Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta, 1996-sekarang
- Deputy Director of the Institute for the Study and Advancement of
Business Ethic, 1996-sekarang
- Ketua Dewan Akademi, Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri
Jakarta, 1999-sekarang
Publikasi:
- The Nine Stars and Politics: A Study of the Nahdlatul Ulama's
Acceptance of Asas Tunggal and its Withdrawal from Politics, Thesis,
Ohio University, 1988
- Islam and the State: Transformation of
Islamic Political Ideas and Practices in Indonesia, Disertation, Ohio
State University, 1994
- Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di
Indonesia, Jakarta, Paramadina, 1998
- Teologi Baru Politik Islam, Yogyakarta, Galang, 2001
|
|
| |
|
|
|
|
| BIOGRAFI |
|
|
 |
Bahtiar Effendy
Pengamat Politik Islam
Bahtiar Effendy, lahir di Ambarawa, 10 Desember 1958. Sarjana IAIN
Jakarta, 1986, ini meraih Master Program Studi Asia Tenggara dari Ohio
University, Athens, 1988 dan Master Ilmu Politik dari Ohio State
University, Colombus, OH, 1991. Gelar Doktor Ilmu Politik diperolehnya
dari Ohio State University, Colombus, OH, 1994.
Pakar dan pengamat politik ini sehari-hari aktif sebagai pengajar di
Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta, Pascasarjana
Universitas Indonesia, dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah
Jakarta.
Dia menjabat Ketua Dewan Akademi, Program Pascasarjana Universitas
Islam Negeri Jakarta, 1999-sekarang dan Ketua Program Studi Pascasarjana
Universitas Muhammadiyah Jakarta, 2001-2004. Selain itu, dia juga
menjabat Deputy Director of the Institute for the Study and Advancement
of Business Ethic, 1996-sekarang.
Selain aktif menjadi narasumber talkshow mengenai politik di beberapa
stasiun televisi juga aktif menulis di berbagai surat kabar dan majalah.
Dia juga telah memublikasi beberapa buku, di antaranya: (1) The Nine
Stars and Politics: A Study of the Nahdlatul Ulama's Acceptance of Asas
Tunggal and its Withdrawal from Politics, Thesis, Ohio University, 1988;
(2) Islam and the State: Transformation of Islamic Political Ideas and
Practices in Indonesia, Disertation, Ohio State University, 1994; (3)
Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam di
Indonesia, Jakarta, Paramadina, 1998; dan (4) Teologi Baru Politik
Islam, Yogyakarta, Galang, 2001
Ketua Dewan Akademi, Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri
Jakarta, ini mengatakan transisi demokrasi di Indonesia tanpa disadari telah membawa anomali.
Adanya ketidaksesuaian antara apa yang diinginkan dan realitas politik.
Salah satu yang menonjol, keinginan untuk tetap mempertahankan sistem
pemerintahan presidensial, tetapi juga menoleransi bahkan terkesan
mendorong lahirnya multipartai.
Kondisi itu, kata Doktor Ilmu Politik lulusan Ohio State University,
Colombus, OH, 1994, itu jelas di luar kebiasaan
langgam kelaziman ilmu politik. Biasanya, sistem presidensial dibarengi
jumlah partai yang tidak terlalu banyak.
Kondisi seperti ini sangat mencemaskan pakar politik Bahtiar Effendy
karena kehidupan partai politik bisa terancam. Celakanya, orang partai
sendiri tidak menyadarinya. Malah menganggapnya sebagai hal biasa saja,
atau hanya mengatakan sekadar efek negatif dari masa transisi dari
otoritarianisme menuju demokrasi.
Pengajar di Universitas Islam Negeri Jakarta, Universitas Indonesia, dan
Universitas Muhammadiyah Jakarta ini, yang juga dikenal sebagai pengamat
politik Islam, sangat mengkhawatirkan kehidupan politik Indonesia yang
diwarnai dengan kapitalisasi politik. Dalam artian, politik menjadi
sangat mahal dan menyebabkan persaingan kekuasaan hanya bisa diikuti
orang-orang yang sudah memiliki tumpukan kapital dalam jumlah yang
sangat besar.
Menurut pria kelahiran Ambarawa, 10 Desember 1958, ini tidak heran
jika seorang pemimpin yang terpilih dalam mekanisme politik yang mahal
biaya politiknya ini berusaha mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan.
Paling tidak, mencoba mendapatkan lagi modal yang bisa dipakai untuk
bertarung pada periode mendatang. ► e-ti/tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|