A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  H O M E
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► PGI
 ► Publikasi
 ► Galeri
 ► Kontak
 ► Link
 ► Pemuka
 ► Kristen
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 
  C © updated 03032005  
   
  ► e-ti/sh  
  Nama:
Andreas Anangguru Yewangoe
Lahir:
Mamboru, Sumba Barat, NTT, 31 Maret 1945
Agama:
Kristen
Jabatan:
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
 
 
     
 
PUBLIKASI

 

Andreas A Yewangoe

Hidup yang Penuh Pengharapan


Tentu saja ini bahasa agama. Dan, bahasa agama selalu bersifat optimis. Bahasa itu selalu menunjuk pada sesuatu yang melampaui ranah sejarah ini. Bahasa agama selalu mengatasi apa yang dialami sekarang. Memang mesti begitu. Kalau tidak, agama akan kehilangan maknanya bagi kehidupan manusia. Agama akan kehilangan gregetnya bagi keselamatan manusia. Bukankah agama senantiasa menyediakan ruang bagi yang berputus asa, agar dengan demikian kembali lagi melanjutkan hidup?

Alkisah, adalah seorang bapak. Dulu ia seorang sukses. Kuat secara fisik. Sehat walafiat, tidak kurang suatu apa pun. Saleh dalam kehidupan iman. Setiap hari bergaul dengan Tuhan melalui pembacaan Alkitab dan berdoa. Mempunyai keluarga bahagia. Tetapi, sekarang ia duduk di kursi roda.

Beberapa tahun lalu, ia terjatuh di kamar. Ada sesuatu yang salah dengan tulang punggungnya. Dioperasi. Sayang, bukannya bertambah baik. Malah, seakan-akan ia memikul beban berat. Dilakukan operasi perbaikan. Juga tidak berhasil. Lalu ia juga menderita stroke. Jadilah ia duduk di kursi roda. Berminggu-minggu, berbulan-bulan. Bahkan tahunan.

Sakit itu telah mengubah sama sekali langgam hidupnya. Dari seorang pemrakarsa, menjadi seorang yang hanya menantikan uluran tangan orang. Dari seorang yang aktif, menjadi seorang yang pasif. Dalam tahun-tahun terakhir ini, malah ia tidak bisa lagi berbicara kendati masih bisa mengikuti apa yang dikatakan orang.

Sang istri dengan setia mendampingi sang suami. Sehari-hari ia melayani segala keperluannya. Mulai dari mandi sampai berpakaian, mulai dari makan sampai dengan menyeka air liur yang mengalir tanpa kontrol. Itu telah berjalan berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan tahunan. Dan masih akan terus terjadi. Namun, dengan telaten ia terus melakukan pelayanannya. Juga dengan kegembiraan. Ia berceritera, bahwa bapak senangnya ke gereja. Memuji Tuhan. Berdoa, dan bertemu dengan orang-orang lain. Ia rindu mendengarkan Firman Tuhan.

*

DARI mana sang suami memperoleh kekuatan begitu besar untuk bertahan? Dari mana juga sang istri mendapatkan energi untuk terus melayani tanpa henti, dan dengan kesetiaan besar?

Tentu saja karena ada keyakinan kuat, dan kepercayaan teguh kepada Tuhan. Ada pengharapan, Tuhan pasti akan memberikan banyak pelajaran melalui kesakitan itu. Banyak hikmah dianugerahkan Tuhan, yang sering kali tidak kita pahami sekarang.

Ketika saya melakukan kunjungan pastoral kepada keluarga itu, dengan sengaja saya membacakan Mazmur 23. Inilah sebuah mazmur yang sangat indah, yang menggambarkan relasi Allah dan manusia. Allah diibaratkan sebagai Gembala. Sebagai demikian, Ia membawa domba-dombanya ke padang yang berumput hijau dan ke air yang tenang. Ini semua menyegarkan jiwa. Ia menuntun di jalan yang benar. Menyejukkan. Menenangkan.

Tetapi satu ayat lebih menarik lagi. Dan sangat menghiburkan. Ayat itu berbunyi: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku."

Dalam Alkitab terjemahan lama, "lembah kekelaman" diistilahkan sebagai "lembah bayang-bayang maut". Itu terjemahan dalam bahasa Indonesia, sheol dalam bahasa Ibrani. Orang Ibrani yakin, sheol adalah tempat mengerikan, yang dilalui orang- orang yang meninggal dunia. Setiap orang takut melewati lembah yang mengerikan itu. Tetapi, justru di dalam lembah itu, Allah berjalan bersama manusia.

Mestinya Ia mampu meniadakan lembah itu. Tetapi kalau Dia menghapuskannya, manusia bukan lagi manusia. Maka dengan tetap membiarkan lembah itu, manusia menjalani kemanusiaannya secara wajar. Tetapi bahwa Allah berjalan bersama manusia, bahkan dalam lembah kekelaman itu, memberikan pengharapan kepada manusia.

Ialah laksana energi yang di-"charge"-kan ke dalam baterai yang telah kehilangan kekuatannya. Saya sangat yakin, sang suami dan sang istri diberi kekuatan mahadahsyat itu sehingga mereka bisa bertahan. Demikian juga dengan anak-anak mereka.

*

PERAYAAN Paskah tahun ini, oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia ditempatkan di bawah tema Pengharapan. "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan" (I Petrus 1:3).

Paskah adalah ketika kehidupan baru diberikan. Maka dalam pengharapan akan adanya hidup baru itu, kita dapat lagi melanjutkan kehidupan selanjutnya.

Pilihan tema ini bukan tanpa sebab. Bangsa kita baru saja mengalami rentetan bencana alam yang mengerikan. Banjir, topan, tanah longsor, asap, dan gempa bumi.

Tsunami di Aceh dan Nias seakan-akan merupakan ibu malapetaka abad ini. Mungkin juga dalam abad berikutnya belum tentu ada lagi tsunami sedahsyat itu, dengan skala kerusakan yang luar biasa besarnya.

Maka, mestinya ada alasan untuk berputus asa. Namun, tidak demikian. Kita menyaksikan, bangsa kita bangkit lagi. Dari puing-puing keruntuhan kehidupan baru dirajut. Dari runtuhan-runtuhan tembok, pengharapan ditegakkan. Ada hidup, ada hayat, ada masa depan.

Tepat untuk mengutip di sini penggalan narasi Ws Budi S Tanuwibowo, Ketua Matakin, yang diucapkan dalam perayaan Tahun Baru Imlek beberapa waktu lalu, "Bapa bangsaku pernah berkata, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak takut menghadapi tantangan. Bangsa yang besar tidak akan mengeluh dan berpaling lari dari penderitaan.

Bangsa yang besar senantiasa siap digembleng dalam kawah candradimuka, Digembleng, hampir lebur, bangun kembali. Digembleng, hampir hancur lebur, bangun kembali!"

Inilah pengharapan. Bahwa senantiasa ada sinar harapan baru di dalam kemelut petaka yang dialami bangsa kita.

*

UMAT Kristiani Indonesia sedang memasuki minggu-minggu sengsara. Inilah minggu ketika kesengsaraan Yesus direnungkan secara mendalam. Inilah minggu ketika umat Kristiani mencoba memahami (dengan hati) makna Allah berpihak pada penderitaan manusia. Bahwa Allah ini bukan Allah yang tahunya menghakimi dari surga, tetapi Yang mengasihi, bahkan masuk jauh ke dalam kehinaan dan kepapaannya manusia.

Tetapi, inilah pula minggu-minggu ketika umat Kristiani menghayati penderitaan manusia secara intens. De- ngan penghayatan itu, umat Kristiani didorong untuk merasakan bagaimana rasanya menderita sengsara. Masih banyak anak manusia di seluruh dunia ini yang terus menghadapi penderitaan dan kesengsaraan. Namun Allah yang berpihak pada penderitaan ini, adalah pula Allah yang mengatasinya. Maka sungguh-sungguh Ialah Allah Pengharapan.* Penulis adalah Ketua Umum PGI => Suara Pembaruan, 3 Maret 2005
 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)