Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Perjuangan Menjadi Bangsa Mandiri
Menjelang 2020, para pelajar Indonesia modern dapat menjadi the first in
the world dalam pencapaian sains dan matematik. Syaykh AS Panji Gumilang
mengemukakan hal itu sebagai salah satu butir Kesepakatan Muharram 1426
tentang Pencapaian Minimal Pendidikan Indonesia Modern 2020. Selengkapnya:

MEMBANGUN MERUPAKAN PERJUANGAN UNTUK MENJADI BANGSA MANDIRI
Pendahuluan
Pada hari ini kita berkesempatan menyambut datangnya tahun baru Hijrah
yang ke 1426. Tentunya kita bersyukur kepada Allah dan berdo’a semoga
sepanjang tahun ini kita dikaruniai kesejahteraan, kemakmuran, kebaikan,
keselamatan, dan kedamaian. Sehingga akidah hidup kita sebagai penyebar
kehidupan bertoleransi dan perdamaian dapat semakin meluas dan
terpenetrasi secara mendalam di dalam lingkungan kehidupan ummat manusia,
terlebih lagi di dalam kalangan ummat dan bangsa Indonesia.
Dalam pengertian sejarah, hijrah merujuk pada migrasi/eksodus Nabi
Muhammad dan para sahabatnya (kaum muhajirin) dari Makkah menuju Yastrib (Madinah).
Beliau berangkat dari Makkah pada Kamis, 01 Rabi’ul Awwal - 13 September
622 M, tiba di Madinah tepatnya di Qubba, pada Senin 12 Rabi’ul Awwal - 24
September 622 M. Peringatan Hijrah itu baru dilembagakan pada 637 M, oleh
Khalifah II Umar Ibnu al-Khattab (mem. 634-644 M), sebagai tahun pertama
kalender khilafah. Dan diperlukan sebagai motif dalam ungkapan politis,
kultural, sastra, dan estetis di dunia Muslim.
Pada tahun ini abad XV Hijriyah telah memasuki tahun ke-26, maknanya,
telah melewati seperempat abad. Setiap memperingati dan merayakan
datangnya tahun baru Hijrah, pertanyaan selalu kita sampaikan kepada diri
kita: Adakah tanda-tanda kemajuan yang telah kita capai selama ini ? Untuk
menjawabnya, samasekali tidak cukup hanya dengan ungkapan verbal,
melainkan dengan kegigihan amal perbuatan yang terbaik yang dapat
dirasakan oleh segenap lapisan ummat manusia dalam lingkup kecil sampai
dengan yang paling besar. Sebab amal perbuatan baik itu, tidak mengenal
batas, atau boleh dikatakan lintas batas.
Kita ummat muslim, merupakan komponen ummat manusia penghuni dunia yang
majemuk, bertanggung jawab secara bersama, mewujudkan kehidupan penuh
harmoni, toleransi dan damai, antar sesama ummat manusia. Dalam konsepsi
nasional, kita merupakan warga bangsa yang mendiami sebuah negara
Bhinneka Tunggal Ika, bertanggung jawab secara bersama dalam mencapai
tujuan nasional yang mencakup pewujudan Kepulauan Nusantara sebagai satu
kesatuan politik, sosial, budaya, ekonomi, dan pertahanan keamanan.
Karenanya, tatkala kita bersikap, berbuat, berkarya, dan berjuang,
tidak keluar dari wawasan dan konsepsi nasional, sebagai partisipasi aktif
kita mewujudkan Dunia Harmoni Penuh Toleransi dan Perdamaian, bersama
ummat dan bangsa-bangsa lainnya di dunia ini. Itulah manifestasi
Rahmatan lil ‘alamin, yakni: Berfikir Global dan Bertindak Lokal.
Sekilas Pembangunan Indonesia
Bangsa Indonesia telah dan sedang bahkan terus membangun. Era
pemerintahan Presiden Soekarno, membangun. Sukses mengumandangkan
slogan-slogan pembangunan, dan jatuh tertimpa slogan pembangunannya,
karena keberpihakan yang tidak seimbang terhadap ideologi-ideologi besar
dunia.
Era Presiden Soeharto, “sukses gilang-gemilang” dalam menjalankan
Rencana Pembangunan Lima Tahunannya (Repelita), sampai kepada era
pembangunan yang diistilahkan dengan Tinggal Landas, namun juga jatuh/tertimbun
oleh “kesuksesannya”.
Muncul Era Reformasi, seorang tokoh yang populer pada zamannya yang
singkat, Amien Rais, mampu menjebol kekuasaan Presiden Soeharto, atas
dorongan dari bawah, demonstrasi massa rakyat (mahasiswa), dan tekanan
dari atas, dengan ayunan palu ketua MPR yang membahana dari Gedung Bundar
Senayan, diayunkan oleh Bung H. Harmoko. Namun, tokoh reformasi ini tidak
berkeupayaan menjabarkan konsep-konsep verbalnya dalam bentuk implementasi
riel.
Sehingga tidak mampu menghantarkan ambisinya menjadi Presiden
Indonesia, karena secara demokratis mayoritas rakyat Indonesia belum
menerima "pionir" reformasi ini. Beliau dipeti-eskan oleh kekuatan
demokrasi. Kita teringat pada suatu kejadian di bekas Negara Uni Sovyet,
para pemimpin negara tersebut ditekan dari atas dan bawah, dan jatuh, dan
ada sebuah upaya untuk kembali, juga gagal. Namun penggagas dari
keseluruhan proses ini, Gorbachev, juga dijatuhkan. Ide-ide besar
reformasi itu, sesungguhnya juga pembangunan.
Era presiden-presiden sesudah Presiden Soeharto juga berprogram
membangun Indonesia ini, dari Presiden Habibie, Presiden Abdurahman Wahid,
dan Presiden Megawati Soekarno Putri.
Kini Era Baru telah datang, dalam tahun 1425 (2004). Bangsa Indonesia
mengukir fenomena baru, masuk ke dalam budaya Demokrasi Progresif, sesuatu
yang belum pernah dilakukan dalam agenda pembangunan demokrasi di masa
lalu.
Demokrasi progresif adalah suatu sistem yang terus bertumbuh-kembang.
Rakyat Indonesia berkemampuan menyikapinya secara piawai. Kita rakyat
Indonesia sedang dan terus membangun budaya, yakni Budaya Demokrasi.
Berpijak dari budaya yang dibangun oleh rakyat secara bersama inilah kita
memasuki Era Baru Indonesia. Kini Indonesia sedang menata dan memiliki
pemerintahan yang berpijak pada rentetan sejarah dan budaya yang dibangun
sendiri oleh rakyatnya.
Pemilihan presiden dan wapres terlaksana secara demokratis, rakyat
Indonesia telah memilih pemerintah negaranya secara demokratis,
selanjutnya berpengharapan secara demokratis pula, yakni, segala
perjalanan kini dan ke depan selalu bepijak pada ide besar demokrasi: Dari
rakyat oleh rakyat untuk rakyat.
Memaknai Kembali Pembangunan Indonesia
Banyak orang (rakyat Indonesia) menyimpulkan, bahwa berbagai proses
pembangunan Indonesia masa lalu disimpulkan “gagal”. Jika kesimpulan itu
benar, yakni proses pembangunan masa Ialu kita itu gagal, jangan pernah
menyerah, mari kita mulai lagi dari proses yang dianggap salah dan gagal
itu, bahkan kalau perlu dari awwal, sebab jika proses masa lalu itu
berhasil pun, dalam abad yang penuh tantangan ini kita juga harus
memperbaharui makna pembangunan itu. Kita tidak boleh memaksakan bahkan
pura-pura berhasil, sekalipun beban semakin tak tertanggungkan lagi. Jika
sepatu yang kita pakai sesak, jangan kita paksa memakainya, sepatu ukuran
lain pasti mudah didapatkan. Karenanya, mari kita maknai kembali
pembangunan Indonesia kita.
Membangun pada dasarnya adalah membangun diri. Untuk menciptakan
kemajuan pada level personal maupun sosial; Yakni menciptakan
personal-personal yang kuat, masyarakat-masyarakat yang kuat, menjadi
bangsa yang kuat, diawali dengan penyingkapan suatu budaya dan
merealisasikan budaya itu. Selanjutnya, karena ummat manusia itu mempunyai
kebutuhan-kebutuhan, jika tidak terpenuhi maka mereka bukan lagi makhluk
hidup.
Karenanya pembangunan juga pemenuhan kebutuhan-kebutuhan alam manusia
dan non manusia, dimulai dengan mereka yang paling membutuhkan. Pada makna
yang lain pula pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi, yang seharusnya
tanpa mengurbankan siapapun. Sehingga tercipta perdamaian sebagai kondisi
dalam ruang untuk pembangunan tanpa kekerasan.
Maka setting pembangunan adalah, membangun suatu budaya: Budaya
ingin maju, ingin kuat secara individual masyarakat, dan bangsa. Dilandasi
oleh budaya dan peradaban yang kokoh, masuk ke dalam realisasi. Pemenuhan
kebutuhan-kebutuhan hidup dan kehidupan untuk ummat manusia, dan makhluk
hidup lainnya yang non manusia, yang karenanya tercapailah pertumbuhan
ekonomi yang merata dalam tataran individual, masyarakat maupun bangsa,
bahkan bangsa-bangsa di dunia, yang dapat memancarkan perdamaian internal
dan external dalam ruang pembangunan tanpa kekerasan.
Menurut definisi siapapun, tujuan pembangunan adalah kemandirian. Pihak
lain tidak dapat menjadi sebab dalam membangun diri. Juga pembangunan
tidak boleh merugikan otonomi diri. Karenanya itu juga bermakna: Membangun
adalah menerima tantangan kita sendiri. Kemudian, kondisi yang diperlukan
bagi pembangunan jenis apapun adalah desentralisasi distribusi faktor
produksi bagi semua. Sehingga semua orang menjadi partisipan potensial
dalam produksi, bukan hanya dalam konsumsi.
Agar pembangunan berlangsung, kita harus menanamkan suatu budaya dalam
individu maupun masyarakat. Sebab, kebudayaan merupakan kerangka kerja
simbolik, pola pikir yang membentuk pemikiran kita, solah-bowo kita,
tutur-warah kita, serta laku-lampah kita, dengan demikian
pencarian kebudayaan yang kufu’ (adequate) mumpuni dan
memadai dengan pembangunan, merupakan suatu problematika yang tidak pernah
berakhir, yang harus dilakukan adalah semua upaya harus dapat diselaraskan
satu sama lainnya.
Mari kita mencoba masuk ke dalam Budaya Mandiri dalam membangun. Sesuai
dengan makna membangun adalah Membangun Diri. Orang lain tidak dapat
menjadi sebab pembangunan dalam diri. Kita membangun bukan karena Jepang,
Amerika, Eropa dan lain-lain. Sekali lagi otonomi/mandiri adalah tujuan
pembangunan. Kita membangun, kita membangun diri kita, masyarakat kita,
negara kita, dan kita membangun satu sama lain.
Tatkala kita membangun dengan Budaya Mandiri, itu berarti kita akan
mendapat pengalaman untuk membangkitkan percaya diri, formula ini mungkin
terasa berat dalam sepuluh tahun pertama. Namun setelah itu setelah
kemampuan kita sebati dengan Budaya Mandiri yang kita miliki, kita akan
menemukan suatu perkembangan baru, sebagai apa yang disebut dengan
halawatul kasab (manisnya usaha mandiri). Memang masuk dalam Budaya
Mandiri dalam membangun, bagi negara yang pemerintahnya terbiasa dengan
budaya utang, Budaya Mandiri merupakan sesuatu pekerjaan yang dianggap
tidak mungkin dilakukan.
Budaya Utang untuk pembangunan, itu maknanya budaya mengharap dibangun
orang lain, melenceng dari makna dan hakekat membangun. Membangun maknanya
menerima tantangan-tantangan kita sendiri. Jika pembangunan bersandar
kepada Utang Luar Negeri (bahasa halusnya Bantuan Pembangunan), itu
bermakna memberikan tantangan-tantangan atau menjadikan
tantangan-tantangan itu direbut dari tangan kita oleh orang lain.
Pada dasarnya, bantuan pembangunan (Utang Luar Negri) adalah cara untuk
memastikan reproduksi di seluruh dunia, bahkan kelangsungan hidup, budaya,
dan struktur negara-negara donor, dengan memanfaatkan kemiskinan lokal
untuk legitimasi. Ketika bantuan pembangunan gagal mengurangi kemiskinan,
tetapi sebaliknya mengarah kepada reproduksi kemiskinan, ini dilihat
sebagai satu lagi alasan untuk melanjutkan bantuan pembangunan itu. Negara
donor bertindak sebagai “Ayah” memanfaatkan kesempatan untuk berekspansi,
kali ini secara ekonomis dan budaya dan bukan semata politik dan militer,
dan dalam waktu yang sama bertindak sebagai “Ibu” merasa ringan untuk
membagi-bagi begitu banyak amal dalam semua arah.
Dalam menghadapi tantangan-tantangan, berbagai proses ditampilkan oleh
masyarakat dunia.
Dunia Pertama, tantangan datang pada orang yang menangani modal,
teknologi, atau manager, sebagai properti pribadi.
Dunia Kedua (waktu itu Sosialis), tantangan diberikan kepada kelompok
sangat kecil, perencana yang memiliki terlalu banyak tantangan sementara
penduduk lain tetap kurang tantangan.
Dunia Ketiga, tantangan sangat sering dan selalu diberikan kepada pihak
luar, dalam bentuk bantuan luar negeri, yang manfaatnya pergi kepada orang
lain.
Dunia Keempat, tantangan diberikan kepada orang yang sama sebagaimana
di Dunia Pertama, tetapi kemudian dibagi dalam kelompok-kelompok yang
melibatkan para pekerja, akibatnya perusahaan mendapat manfaat dan negara
diuntungkan dari pemrosesan bersama atas suatu tantangan.
Diperhatikan dari cara memroses tantangan-tantangan tersebut, Indonesia
masih masuk ke dalam kelompok Dunia Ketiga, yang selalu melepaskan
tantangan-tantangan internnya seraya menyerahkannya kepada pihak luar,
dalam bentuk Bantuan Luar Negeri (utang). Dalam setengah abad membangun,
pemerintah Indonesia selalu melepas tantangan-tantangannya kepeda luar
negeri.
Menjadi kelompok Dunia Ketiga, selalu merasakan akibat/efek samping
negatif dari aktivitas ekonomi (eksternalitas negatif), namun tidak
berkeupayaan untuk menanganinya (seperti penanganan limbah, atau yang
sangat jelas penanganan sampah di kota-kota besar). Kemerosotan besar
terus menggelinding dan mereproduksi keterbelakangan. Kegiatan ekspor
barang jadi/olahan semakin terhenti, andalannya hanya pada bahan mentah
dari sumber daya alam, yang keberadaanya semakin menipis. Dunia Ketiga
selalunya menjadi sasaran ekspor oleh Dunia Pertama, termasuk ekspor
eksternalitas negatif (misalnya limbah atau barang- barang bekas).
Mewujudkan Bangsa Mandiri
Mewujudkan bangsa yang lebih mandiri adalah sebuah perjuangan dan
merupakan kerja keras yang tidak pernah berakhir. Kemandirian bagi bangsa
Indonesia bukan lagi diukur dari statement/proklamasi kemerdekaan,
namun ukurannya lebih kepada upaya mengisi kemerdekaan, dengan sikap
mandiri, berbuat mandiri, dan membangun secara mandiri. Jika itu tidak
kita lakukan, kemudian kita tertinggal, maka pesaing kita akan maju.
Jika kita tertinggal, yang mendapat keuntungan besar dari
ketertinggalan kita adalah orang lain. Dan jika kita tertinggal maka
terjadilah ketidak-singkronan sangat serius dalam ekonomi finansil - riil
(F/R) dan arah ekonomi kita menjadi stel kendo dan mémblé
(undercooled) bahkan juga dapat berirama sangat panas dan
gila-gilaan (overheated), dimana finansial tidak mencerminkan
bahkan tidak dapat melayani riil.
Dengan Budaya Mandiri, akan tumbuh upaya menjadi bangsa yang
berkecukupan, bahkan menjadi bangsa yang kuat dan kaya. Untuk menuju
kearah itu, Bangsa Mandiri selalu ingin membantu alam dengan keseimbangan
lingkungan, dan terus meningkatkan kerja keras dalam peningkatan kesihatan
dan pendidikan, tanpa pernah lupa bahwa tingkat pendidikan dan kesihatan
50% lebih lapisan bawah sama pentingnya dengan lapisan atas.
Bangsa Mandiri harus mampu mewujudkan aliran keseimbangan ekologi (hubungan
timbal balik antara makhluk hidup dan kondisi aam sekitar). Alam telah ada
jauh lebih lama daripada manusia. Alam sebagai sumber pelajaran mengenai
holisme, dinamisme, dan keberlanjutan, karenanya alam bersifat dasar,
semua yang lain bergantung kepadanya, alam dapat bertahan tanpa manusia,
kita bergantung kepada alam sedangkan alam sama sekali tidak bergantung
kepada kita. Bahkan sering manusia menghancurkan alam, sebagaimana
ditunjukkan oleh krisis lingkungan hari ini (khususnya banyak terjadi di
Dunia Ketiga) yang karenanya alam juga dapat menghancurkan kita.
Bangsa Mandiri selalu memiliki kesadaran betapa makna kesihatan dan
pendidikan bagi setiap warga bangsa. Membangun SDM sehat berarti
menciptakan masyarakat-masyarakat Seger Waras, Sehat dan
Waras. Seger dan Sihat biasanya berhubungan dengan fisik,
sihat jasmani, cukup sandang-pangan dan papan, sedangkan Waras
biasanya berkaitan dengan kemantapan jiwa dan rohani.
Bangsa Mandiri selalu sadar akan makna pelaksanaan pendidikan
masyarakat-masyarakatnya, dalam segala lapisannya. Karena seluruh warga
masyarakat dan bangsalah hakekat pelaksana dan pelaku pembangunan yang
akan tampil sebagai bangsa dan individu-individu yang berjiwa
enterpreneur yang tinggi, yang kemudiannya dapat berkiprah di dalam
diplomasi geoeconomics, yang dibangun untuk menciptakan kebersamaan
antar kekuatan ekonomi ummat manusia.
Pendidikan merupakan wahana penanaman budaya. Pendidikan akan
menciptakan sumber daya manusia “matang”. Manusia terdidik secara “matang”
merupakan investasi yang sangat tinggi nilainya. Dari SDM yang “matang”
inilah negara akan mampu menyelenggarakan perdagangan, dimana perdagangan
itu sendiri adalah komunikasi.
Mengkomunikasikan kebudayaan adalah komunikasi pada tingkat yang lebih
tinggi daripada mengkomunikasikan alam.
Disamping itu, pada prinsipnya makin Padat-Budaya aktivitas ekonomi,
makin tidak berbahaya bagi lingkungan. Aktivitas ekonomi Padat-Alam
menghabiskan alam dan menimbulkan polusi. SDM terdidik secara “matang”
akan sanggup tidak terikat dengan bentuk-bentuk komunikasi Padat-Alam.
Komunikasi elektronik mungkin dapat mewakili satu langkah maju.
Selanjutnya SDM terdidik yang memiliki kemampuan Padat-Budaya akan dapat
menggantikan ekspor tenaga kerja Indonesia yang selama ini hanya memiliki
Padat-Dengkul.
Pencapaian Berbasis Pendidikan
Pendidikan dan sekolah akan sangat mempengaruhi pada pembentukan
perilaku bangsa. Karenanya pendidikan (sekolah) Indonesia kini dan
mendatang harus selalu up-to-date dan berkualitas, tidak boleh
asal-asalan dalam segala seginya. Sekolah Indonesia harus memiliki citra
sebagaimana citra yang dimiliki oleh pendidikan (sekolah) berkualitas
antarbangsa. Citra pendidikan yang berkualitas biasanya selalu menampilkan
school-image seperti berikut:
a- School as a factory (sekolah laksana perusahaan). Metafor
sekolah perusahaan, menekankan suatu image pada teori pendidikan
dan praktek. Metafor perusahaan, karena sifatnya memproduksi massal,
teknik jaringan pemasangan (assembly) dan quality control.
Kepala Sekolah sebagai manajer, guru sebagai karyawan dan murid sebagai
produk yang harus digerakkan dan dibentuk.
b- School as a hospital (sekolah laksana rumah sihat). Metafor a
hospital untuk sekolah adalah dalam membedakan manajemen dan
putusan-putusan profesional, laksana hospital dalam pengajaran diagnosa
perspektif, pengajaran individu dan sederet tes serta pendekatan yang
bersifat klinik.
c- School as a log (sekolah laksana log), mengacu kepada
bentuk sekolah klasik: Dimana dasar-dasar yang ditekankan, guru diberi
penghormatan dan status yang tinggi, diseleksi secara cermat dan ditunjang
dengan materi dan sumber-sumber lainnya.
d- School as a family (sekolah laksana keluarga), menunjukkan bahwa
murid harus dilayani/diperlakukan sebagai individu yang utuh, seluruh anak
didik harus dididik dan mereka tidak dipaksa sebelum mereka siap. Model
ini mengasumsikan bahwa: Hubungan antara guru dan murid adalah paling
penting dalam kegiatan pendidikan di sekolah.
e- School as a war zone (sekolah laksana zona perang), metafor ini
menggambarkan antara konflik dan damai dan aksi agresif merupakan bagian
yang diharapkan dalam kehidupan sekolah dan kelas. Kalah dan menang lebih
penting daripada cooperation and accommodation.
f- School as a knowledge work organization (sekolah sebagai
organisasi kerja ilmu pengetahuan). Sekolah sebagai tempat kerja merupakan
pandangan yang paling banyak dianut. Dikuatkan dengan adanya berbagai
pekerjaan tugas dari sekolah, berupa pekerjaan rumah, pekerjaan kelas, dan
pekerjaan Iainnya. Karenanya, sekolah sebagai organisasi kerja ilmu
pengetahuan. Peserta didik ke depan akan menjadi pekerja ilmu pengetahuan
(knowledge workers).
Mencipta/membangun image atau citra pendidikan Indonesia seperti
yang diurai tadi, merupakan urusan besar yang wajib ditempuh oleh seluruh
lapisan kekuatan warga bangsa tanpa terkecuali. Dengan image
pendidikan seperti itu, maka sekolah dan pendidikan Indonesia merupakan
proses pendidikan terbuka yang mudah dimasuki dan menerima ide-ide dan
konsep-konsep baru yang selalu muncul.
Guru, murid, masyarakat, dan sistem menjadi terpadu dan jarak
psikologis antar semuanya dapat terjembatani. Sejarah pendidikan Indonesia
selama ini belum mempersiapkan siswa untuk berfikir dan bersikap mandiri
yang kreatif, seperti image sekolah yang diuraikan tadi. Yang
dikembangkan selalu mengarah kepada penguasaan sesuatu yang dipersiapkan
untuk menjadi pegawai yang setia dan patuh, bukan pengembangan kecerdasan,
kepekaan, dan kesadaran sebagai entrepreneur.
Mari semua itu kita jadikan masa Ialu dan kita tinggalkan. Sebab bangsa
yang tidak sanggup meninggalkan masa lalunya, itu merupakan pertanda bahwa:
Bangsa tersebut tidak berkeinginan untuk menampilkan generasi yang kuat,
berketahanan fisik, berkecerdasan fikir, dan berkecepatan reaksi.
Mari kita tinggalkan paradigma pembangunan dan pendidikan masa Ialu,
dan kita persiapkan bangsa ini melalui pendidikan, agar mereka mampu
menjadi bangsa yang mandiri, menjadi leader/ pemimpin yang sesuai
dengan abad ini, minimal untuk memimpin diri sendiri. Melalui pendidikan,
mari kita hantarkan generasi produk pendidikan yang bercirikan abad 21 ini:
a- Systems thinker (pemikir sistem-sistem) yang berkeupayaan
menggabungkan antara isu, kejadian, dan data secara utuh/terpadu.
b- Change agent (agen perubahan) berkemampuan mengembangkan
pemahaman dan memiliki kompeten tinggi dalam menciptakan dan memenej
perubahan (change) bagi kehidupan bangsa agar dapat bertahan hidup.
c- Innovator and risk taker, yakni pembaharu dan berani mengambil
resiko, terbuka terhadap perspektif yang luas dan kemungkinan-kemungkinan
yang esensial dalam menentukan tren dan menggerakkan pilihan.
d- Servant and steward, kemampuan dan keupayaan untuk meningkatkan
pelayanan kepada yang lain, pendekatan holistik untuk bekerja, memiliki
a sense of community dan berkemampuan membuat keputusan bersama.
e- Polychronic coordinator, yang berkeupayaan untuk dapat
mengkordinasikan banyak hal dalam waktu yang sama yang harus dapat bekerja
bareng dengan orang lain.
f- Instructur, Coach and Mentor, yang berkeupayaan tampil sebagai
pembantu orang lain untuk belajar, menciptakan banyak pendekatan yang
beraneka, sebagai instruktur, pelatih, dan mentor (penasihat yang baik).
g- Visionary and vision builder, yang berkeupayaan membantu
membangun visi bangsa/negaranya dan memberi inspirasi bagi segenap lapisan
masyarakat yang diposisikan sebagai pelanggan dan kolega.
Lima Ukuran Minimal Pencapaian
Tujuh characteristic generasi Indonesia produk pendidikan
Indonesia modern seperti yang telah diuraikan itu mesti ada ukuran minimal
pencapaiannya dalam waktu tertentu.
Untuk itu semua mari kita buat kesepakatan bersama, dalam menghantar
generasi baru Indonesia modern ini minimal untuk kurun waktu 2020 yang
menjelang datang besok pagi nan tak terlalu lama lagi. Kalau boleh
kesepekatan itu kita namakan Kesepakatan Muharram 1425 Tentang Pencapaian
Minimal Pendidikan Indonesia Modern di Tahun 2020.
1- Menjelang 2020 semua anak Indonesia umur sekolah tanpa kecuali,
mesti telah memasuki sekolah dengan segera.
2- Menjelang 2020 tingkat tamatan SMA menjadi terus bertambah sampai
95%.
3- Menjelang 2020 Pelajar Indonesia tahun ke-4, 8, 12 telah
berkemampuan mendemonstrasikan kompetensi mereka dalam berbagai materi
subyek yang sangat menantang, termasuk Bahasa Indonesia, Inggris, Arab
(Mandarin), Matematika, Sains, Sejarah, Geografi. Dan setiap lembaga
pendidikan Indonesia modern dapat menjamin bahwa setiap pelajar mampu
belajar menggunakan pemikiran mereka dengan baik dan telah dipersiapkan
sebagai warga negara yang bertanggung jawab, belajar lebih lanjut (further-learning),
sebagai pekerja produktif dalam ekonomi modern.
4- Menjelang 2020, pelajar-pelajar Indonesia modern dapat menjadi
The first in the world dalam pencapaian Sains dan Matematik.
5- Menjelang 2020, setiap manusia dewasa Indonesia modern telah melek
huruf semua tingkatan, dan terus berproses mencapai/menguasai knowledge
dan berbagai skil yang sangat penting, untuk berkompetisi dalam global
ekonomi, serta terus bergerak dan berlatih untuk masalah kebaikan dan
kebenaran juga tanggung jawab sebagai warga negara.
6- Menjelang 2020, setiap lembaga pendidikan Indonesia modern harus
terbebas dari narkoba, berdisiplin tinggi dalam tatanan lingkungan yang
kondusif yang cintakan belajar.
7- Semua produk pendidikan Indonesia modern sudah siap masuk dalam
tatanan hidup dalam Zone of Peace and Democracy.
2020 bukan waktu yang lama, namun juga bukan waktu yang singkat, jika
kita berkiprah untuk mencapai ukuran minimal yang kita sepakati itu, semua
dengan izin Allah dan amal perbuatan nyata kita, semuanya pasti dapat
dicapai.

بسم الله توكلنا على الله لا حول ولا قوة الا بالله
Atas namamu ya Allah, kami semua berikrar untuk memajukan bangsa dan
negara karunia-Mu, membangun melalui pendidikan, beri kekuatan kepada kami,
kepada bangsa Indonesia dan ummat manusia semua yang cintakan perjuangan
menempuh jalan pendidikan dalam usaha menyebarkan pengetahuan yang Engkau
telah contohkan dan anjurkan. Amin.
هذا والله يرعانا ويحفظنا والحمد لله رب العالمين
Ma’had Al-Zaytun, 01 Muharram 1426 H
10 Februari 2005 M
A.S. Panji Gumilang
Syaykh al-Ma’had
►Versi Word Document
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |