| |
C © updated 10012006 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ht |
|
| |
Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Jabatan:
Syaykh al-Ma'had Al-Zaytun
|
|
| |
|
|
|
|
| PERSPEKTIF |
|
|
 |
Syaykh Dr Abdussalam Panji Gumilang
Interdependensi, Fitrah Kehidupan Manusia
IDUL FITRI 1427 H:
Beraktivitas untuk mencapai masa depan yang terhormat, memerlukan
pengendalian diri, masing-masing pada proporsinya. Itulah wujud saling
ketergantungan satu dengan lainnya (interdependensi) dalam beraktivitas.
Syaykh al-Zaytun AS Panji Gumilang mengemukakan hal itu pada Khutbah
‘Ied al-Fithri 1427 H/2006 M, di Kampus Al-Zaytun, pada tarikh 01
Syawwal 1427 H (24 Oktober 2006 M).
Di hadapan lebih 7000 jamaah, terdiri dari para eksponen Al-Zaytun, tamu
dan para wali santri yang datang dari berbagai daerah serta penduduk
setempat, Syaykh Panji Gumilang, tokoh pemangku pendidikan bervisi
toleransi dan perdamaian itu mengatakan semakin panjang rantai saling
ketergantungan, individu makin banyak belajar mengendalikan dirinya
sendiri, dan individu semakin terbebas dari nafsunya sendiri.
Menurut tokoh pembelajar demokrasi, toleransi dan perdamaian itu, makin
panjangnya rantai ketergantungan, tak hanya berkaitan dengan makin
kuatnya pengendalian atas kemauan individual, tetapi juga berkaitan
dengan makin meningkat kepekaan terhadap orang lain dan diri sendiri.
“Makin tingginya derajat kepekaan ini merupakan aspek kunci proses
peradaban dan menjadi penyumbang utama perkembangan peradaban
selanjutnya,” kata Rektor Universitas Al-Zaytun Indonesia itu.
Pendiri dan pemimpin Al-Zaytun, lembaga pendidikan bersemangat pesantren
tapi bersistem modern, itu menegaskan: “Kunci proses peradaban adalah
pengendalian diri.” Pengendalian diri dimulai dengan cara pengendalian
melalui orang lain dari berbagai segi, kemudian diubah menjadi
pengendalian diri. Kemudian aktivitas manusia yang bebas berdasar naluri
didesak ke belakang panggung kehidupan komunal manusia yang selanjutnya
ditanamkan menjadi perasaan malu, kemudian diciptakan cara, norma umum
masyarakat yang terus menerus dipengaruhi oleh pengendalian diri yang
makin lama makin stabil dan mumpuni.
Cendekiawan alumni Ponpes Gontor dan IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah
Ciputat, itu mengatakan: “Memasuki masa depan yang bermakna adalah
kemampuan dan kepiawaian kita men-solving problem masa kini. Kita
katakan sebagai kepiawaian, sebab untuk menanggulangi berbagai macam
masalah memang tidak ada jawaban rasional tunggal, karenanya diperlukan
berbagai jawaban yang rasional.”
Menurut Syaykh Panji Gumilang, agaknya jawaban-jawaban rasional yang
harus ditampilkan untuk memasuki masa depan terhormat tentunya meniti
pada kapital-kapital yang telah kita miliki, yang semua kapital-kapital
itu harus diperkuat dengan ilmu pengetahuan, yang dapat memperhalus
kepekaan kita terhadap pandangan yang berbeda dan memperkuat kemampuan
kita untuk bertoleransi atas pendirian-pendirian yang tak mau
dibandingkan.
“Kita yakin masyarakat kita (Indonesia) akan terus berkembang maju
secara evolusioner menuju ke kepribadian dan moral yang ideal, setelah
melewati berbagai fase yang mendahuluinya. Dari masyarakat militan
menuju kepada masyarakat pendidikan,” Syaykh optimis.
Namun, katanya, kita sadari bahwa perubahan sosial tidak dapat sekali
jadi, memerlukan ketekunan dan ke-lumintu-an kemauan dan tindakan.
Pendekatan kita terhadap masa lalu harus arif, sehingga dapat kita
jadikan sesuatu yang tetap bermanfaat. Mari kita jadikan masa lalu itu
sebagai kumulasi pundak raksasa yang daripadanya kita dapat berdiri di
atasnya untuk memandang masa depan yang ideal itu.
“Jika kita katakan gerak perubahan dari masyarakat militan menuju
masyarakat pendidikan, itu yang dimaksudkan adalah: masyarakat militan
yang bercirikan kekerasan (yang memang kekerasan dan pemaksaan pendapat
masih sering terdemonstrasikan di masyarakat Indonesia). Karenanya perlu
dirancang dan disebarluaskan suatu bentuk pendidikan untuk belajar hidup
bersama dalam damai dan harmoni. Suatu bentuk pendidikan pengembangan
belajar hidup bersama dengan orang lain, dengan semangat menghormati
nilai-nilai pluralisme dan kebutuhan untuk saling pengertian, toleransi,
dan damai. Proses belajar hidup bersama yang akan memungkinkan
terhindarnya pertikaian atau memungkinkan penyelesaian pertikaian secara
damai. Hidup bersama semacam ini memerlukan suatu proses yang dinamis,
holistik, sepanjang hayat melibatkan warga bangsa secara keseluruhan,”
jelas Syaykh Panji Gumilang.
Sholat ‘Ied al-Fithri 1427 H berlangsung di Mesjid al-Hayat. Selain
diikuti para eksponen, guru dan karyawan Al-Zaytun, juga diikuti sekitar
7000-an wali santri, tamu dan penduduk setempat. Sementara santri sedang
berlibur. Seusai sholat ‘Ied, acara dilanjutkan makan bersama di Gedung
al-Akbar, diiringi alunan musik Gamelan yang diasuh langsung oleh Syaykh
Abdussalam Panji Gumilang.
Selepas makan bersama, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dengan
penduduk setempat, sekaligus pemberian ‘boboko’. Penduduk setempat
dengan antusias, senang dan khitmat mengikuti acara itu.
Semenetara itu, tamu dan para wali santri yang sengaja datang ke kampus
itu untuk merayakan hari kemenangan, Idul Fitri, mengeluhkan rusaknya
jalan menuju kampus itu. Mereka berharap agar pemerintah memberikan
perhatian untuk memperbaiki jalan tersebut. Seorang wali santri dari
Jakarta mengatakan dibiarkannya jalan menuju Kampus Al-Zaytun sangat
rusak dalam waktu yang sudah sangat lama, suatu indikasi perhatian
pemerintah terhadap pendidikan masih sangat rendah. Wali santri itu
berharap pemerintah semakin peka untuk mempermudah akses ke
lembaga-lembaga pendidikan, agar bangsa ini lebih cepat cerdas, maju dan
bermartabat.
Fitrah Kehidupan Manusia
Berikut ini kami sajikan selengkapnya Khutbah ‘Ied al-Fithri 1427 H/2006
M, Syaykh al-Zaytun AS Panji Gumilang di Kampus Al-Zaytun, pada tarikh
01 Syawwal 1427 H (24 Oktober 2006 M) tersebut:
Penciptaan manusia oleh Tuhan merupakan karya ciptaan-Nya yang terbaik
secara rohaniah maupun jasmaniah. Manusia ditugasi mengisi bumi dan
memakmurkannya, sebagai tempat mulia di alam semesta ini. Manusia adalah
bagian dari alam ini. Manusia dan tanah adalah satu, sebab daripadanya
manusia diciptakan. Manusia secara jasad adalah makhluk yang lemah, yang
selalu bergantung pada belas kasih sang Pencipta. Bahkan, dalam
memanfaatkan alam untuk melayani kebutuhannya, manusia harus melayani
alam ini, harus menjaganya, dan mengolahnya untuk mencapai tujuannya.
Selanjutnya kehidupan manusia ditentukan oleh dan melalui tindakan
manusia itu sendiri. Seseorang adalah apa yang dikerjakannya. Sebagai
pelaku manusia mempunyai kapasitas untuk keluar dari masa kini, bergerak
maju ke masa depan. Manusia adalah memiliki kebebasan, namun mereka
harus bertanggung jawab atas apa saja yang mereka kerjakan. Nasib
manusia ada di tangan manusia itu sendiri.
Semua aktivitas manusia dilakukan dalam kehidupan dunia, yang merupakan
tempat bertemunya mutakallim dan mukhatab (pembicara dan pendengar)
suatu tindakan komunikatif, dimana mereka saling mengajukan tuntutan
bahwa ucapan mereka sesuai dengan apa yang mereka pikirkan, dan dimana
mereka dapat mengecam dan memperkuat kebenaran yang mereka nyatakan,
menyelesaikan perselisihan pendapat mereka, maupun mencapai kesepakatan.
Kehidupan dunia adalah latar belakang dari proses mencapai saling
memahami, melalui tindakan komunikatif. Dimana kehidupan dunia itu
sendiri tersusun dari kultur, masyarakat, dan kepribadian. Kultur sangat
erat kaitannya dengan tindakan manusia, tindakan manusia mengakibatkan
terbentuknya pola-pola hubungan sosial (masyarakat) yang sesuai
(sebaliknya), daripadanya dapat terlihat seperti apa kepribadian dan
perilaku mereka.
Kehidupan itu merupakan dunia mikro tempat individu berinteraksi dan
berkomunikasi. Daripadanya tumbuh kebiasaan (habitus), yaitu bangunan
mental atau kognitif yang diinternalkan, dengan melaluinya individu
dapat memahami kehidupan sosial. Kebiasaan (habitus) menghasilkan dan
dihasilkan oleh aktivitas bermasyarakat.
Sejalan dengan hakikat kejadian manusia yang intinya adalah makhluk
rasional, individu selalu membangun kehidupan dunia secara rasional
(rasionalisasi), membangun kebiasaan rasionalisasi kehidupan dunia yang
termasuk di antaranya komunikasi rasional. Tatkala komunikasi rasional
menjadi suatu kebiasaan (habitus) yang semakin meningkat dalam kehidupan
dunia, diyakini bahwa semakin rasional kehidupan sehari-hari, makin
besar kemungkinan interaksi akan dikendalikan oleh motivasi rasional
untuk saling memahami.
Itulah bentuk metoda rasional untuk mencapai konsensus, yang selanjutnya
mewujudkan kebiasaan penampilan argumen yang lebih baik.
Dalam uraian terdahulu telah dikatakan bahwa kehidupan dunia itu
tersusun dari kultur, masyarakat, dan kepribadian. Dimaksud dengan
kultur adalah peradaban, yakni kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir
batin. Berupa hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa dan
kebudayaan suatu bangsa (ummat manusia). Kemajuan dan peningkatan
peradaban ummat manusia maupun bangsa mampu menghantarkan mereka ke arah
perubahan, tentunya perubahan positif. Karenanya perubahan itu berlanjut
seiring dengan kemajuan peradaban. Peradaban mendominasi perubahan dalam
cara mengendalikan gerak hati manusia. Yang selanjutnya tercipta
perubahan cara individu berpikir, bertindak, dan berinteraksi.
Kunci proses peradaban adalah pengendalian diri. Pengendalian diri
dimulai dengan cara pengendalian melalui orang lain dari berbagai segi,
kemudian diubah menjadi pengendalian diri. Kemudian aktivitas manusia
yang bebas berdasar naluri didesak ke belakang panggung kehidupan
komunal manusia yang selanjutnya ditanamkan menjadi perasaan malu,
kemudian diciptakan cara, norma umum masyarakat yang terus menerus
dipengaruhi oleh pengendalian diri yang makin lama makin stabil dan
mumpuni.
Jaringan hubungan mendasar yang berasal dari keinginan dan tindakan
berbagai individu ini dapat berubah menjadi aturan bersama dan terpola,
yang tak dapat lagi dikatakan sebagai rencana atau ciptaan manusia
individual. Dari saling ketergantungan individual inilah timbul
peraturan sui generis, peraturan yang lebih memaksa dan lebih kuat
daripada kemauan dan nalar individu yang membentuk jaringan hubungan
itu. Peraturan itulah yang menjalin kemauan dan aktivitas manusia,
peraturan sosial ini yang menentukan jalannya perubahan historis, ia
melandasi proses peradaban.
Dalam aspek ajaran Islam, hal itu adalah tuntutan-tuntutan etis dalam
pola kehidupan masyarakat manusia dengan ciri-ciri kemajuan dan
peradaban yang tinggi. Dan itulah Thaibatul Madinah yang dibangun oleh
Nabi Saw. Orang menyimpulkan bahwa ajaran dan praktek Nabi Saw, pada
esensinya bersifat tatanan kota (urban) secara radikal. Program-program
Nabi di Madinah sangat radikal dibanding dengan pola hidup orang-orang
Arab jahiliyah ialah tiadanya keteraturan, dengan ciri menonjol tiadanya
pranata kepemimpinan masyarakat yang mapan, yang menjadi kebutuhan
masyarakat maju, yang ada hanyalah pranata kepemimpinan atas dasar
kesukuan dan keturunan saja. Maka yang diwujudkan oleh Nabi Saw adalah
pola hidup sosial dengan pranata kepemimpinan yang mapan dan rasional.
Yang menjadi inti ajarannya adalah perubahan dari kehidupan “liar”
menjadi pola kehidupan beradab, dengan dukungan-dukungan sistem tertib
hukum dan kekuasaan. Setiap anggota masyarakat diwajibkan menghormati
dan menjalankan hukum yang dianutnya dengan tulus dan setia hati, sebab
hanya dengan cara itu suatu kehidupan yang lebih tinggi dapat
diwujudkan.
Manusia dalam kehidupannya adalah pembuat sejarah, walaupun tidak dapat
dibuat dengan sesuka hatinya, mereka ciptakan berdasar keadaan yang
langsung mereka hadapi, mereka terima, sebagai lanjutan dari masa lalu.
Yang dimaksud dengan itu semua adalah aktivitas dan pemikiran manusia
itulah yang kelak akan menjadi suatu sejarah yang mereka ciptakan.
Aktivitas yang kemudian menjadi sesuatu yang bersejarah bukanlah
dihasilkan sekali jadi oleh pelakunya, tetapi secara terus menerus
mereka ciptakan ulang melalui suatu cara, dengan cara itu juga mereka
menyatakan dan dinyatakan sebagai pelaku sejarah.
Dalam kaitan ini bimbingan ke arah tumbuh suburnya motivasi dan
kreativitas mesti seimbang, sebagai potensi untuk bertindak. Motivasi
menyediakan rencana menyeluruh untuk bertindak, sekalipun banyak
tindakan manusia tidak termotivasi secara langsung. Meski tindakan
tertentu tidak dimotivasi dan motivasi seseorang umumnya tidak disadari,
namun motivasi memainkan peran penting dalam tindakan manusia. Motivasi
adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak
sadar untuk melakukan tindakan dengan tujuan tertentu, atau suatu usaha
yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tergerak melakukan
sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya.
Membangun Peradaban
Kini, apa yang sedang kita lakukan dan terus kita lakukan, adalah
membangun peradaban menuju perubahan sosial yang terhormat. Dalam kaitan
ini (perubahan sosial) kita tidak melihat selalu berlangsung secara
mulus, dalam prosesnya terkadang terhenti dan mulai lagi. Namun, karena
memiliki motivasi yang jelas, maka membangun peradaban yang kita lakukan
ini kita yakini akan terus bergerak dan tidak pernah terhenti. Dalam
kaitan ini, kita telah memiliki kapital (modal) dengan berbagai
jenisnya, baik kapital ekonomi, kapital kultural, kapital sosial, bahkan
kapital simbolik.
Semua kapital yang kita miliki harus kita arahkan untuk meraih masa
depan yang bermakna. Masa depan yang bermakna tidak dapat ditunggu
bahkan tidak dapat ditemukan kembali. Maksudnya, bahwa kita takkan
menemukan masa depan itu di masa lalu, dan kita tidak boleh berdiam
pasif menunggu nasib kita. Masa depan mesti ditemukan, diciptakan,
ditulis dalam apa yang kita kerjakan kini. Untuk meraihnya, sebenarnya
tidak ada jawaban tunggal, namun semua kita berhak menjawabnya dengan
berbagai jawaban, yang kemudian kita rangkum sebagai jawaban bersama,
dan itulah wujud dari kepribadian yang mesti kita pegang teguh.
Dalam hal ini tak perlu lagi kita mempertanyakan siapa diri kita namun
sebaliknya pikirkan dan lakukan perbuatan apa yang terbaik untuk meraih
masa depan yang terhormat, dan terus berbuat dan bekerja.
Beraktivitas untuk mencapai masa depan yang terhormat, memerlukan
pengendalian diri, masing-masing pada proporsinya. Itulah wujud saling
ketergantungan satu dengan lainnya (interdependensi) dalam beraktivitas.
Semakin panjang rantai saling ketergantungan, individu makin banyak
belajar mengendalikan dirinya sendiri, dan individu semakin terbebas
dari nafsunya sendiri. Makin panjangnya rantai ketergantungan, tak hanya
berkaitan dengan makin kuatnya pengendalian atas kemauan individual,
tetapi juga berkaitan dengan makin meningkat kepekaan terhadap orang
lain dan diri sendiri. Makin tingginya derajat kepekaan ini merupakan
aspek kunci proses peradaban dan menjadi penyumbang utama perkembangan
peradaban selanjutnya.
Memasuki masa depan yang bermakna adalah kemampuan dan kepiawaian kita
men-solving problem masa kini. Kita katakan sebagai kepiawaian, sebab
untuk menanggulangi berbagai macam masalah memang tidak ada jawaban
rasional tunggal, karenanya diperlukan berbagai jawaban yang rasional.
Agaknya jawaban-jawaban rasional yang harus ditampilkan untuk memasuki
masa depan terhormat tentunya meniti pada kapital-kapital yang telah
kita miliki, yang semua kapital-kapital itu harus diperkuat dengan ilmu
pengetahuan, yang dapat memperhalus kepekaan kita terhadap pandangan
yang berbeda dan memperkuat kemampuan kita untuk bertoleransi atas
pendirian-pendirian yang tak mau dibandingkan.
Kita yakin masyarakat kita (Indonesia) akan terus berkembang maju secara
evolusioner menuju ke kepribadian dan moral yang ideal, setelah melewati
berbagai fase yang mendahuluinya. Dari masyarakat militan menuju kepada
masyarakat “pendidikan”.
Masyarakat militan yang dimaksud adalah masyarakat yang tersusun sebagai
militer, guna melakukan berbagai rangkaian pengawasan terhadap kehidupan
bangsa. Struktur masyarakat dari tingkat atas sampai kepada lapisan
paling bawah tersusun sebagai militan (militer) yang bertugas “perang”
mempertahankan stabilitas. Pendekatan semacam ini membawa efek yang
sangat mendalam, yang sisa-sisanya tidak dapat terselesaikan dalam tempo
singkat. Tindakan-tindakan kekerasan sosial dalam berbagai macam
bentuknya (sekalipun beralasan kebebasan dan demokrasi), itu semua
merupakan cerminan akibat dari pada fase masyarakat militan yang telah
kita lalui.
Namun kita sadari bahwa perubahan sosial tidak dapat sekali jadi,
memerlukan ketekunan dan ke-lumintu-an kemauan dan tindakan. Pendekatan
kita terhadap masa lalu harus arif, sehingga dapat kita jadikan sesuatu
yang tetap bermanfaat. Mari kita jadikan masa lalu itu sebagai kumulasi
pundak raksasa yang daripadanya kita dapat berdiri di atasnya untuk
memandang masa depan yang ideal itu.
Jika kita katakan gerak perubahan dari masyarakat militan menuju
masyarakat pendidikan, itu yang dimaksudkan adalah: masyarakat militan
yang bercirikan kekerasan (yang memang kekerasan dan pemaksaan pendapat
masih sering terdemonstrasikan di masyarakat Indonesia). Karenanya perlu
dirancang dan disebarluaskan suatu bentuk pendidikan untuk belajar hidup
bersama dalam damai dan harmoni. Suatu bentuk pendidikan pengembangan
belajar hidup bersama dengan orang lain, dengan semangat menghormati
nilai-nilai pluralisme dan kebutuhan untuk saling pengertian, toleransi,
dan damai. Proses belajar hidup bersama yang akan memungkinkan
terhindarnya pertikaian atau memungkinkan penyelesaian pertikaian secara
damai. Hidup bersama semacam ini memerlukan suatu proses yang dinamis,
holistik, sepanjang hayat melibatkan warga bangsa secara keseluruhan.
Apa yang kita tekuni kini (masyarakat pendidikan) merupakan citra
mendasar tentang apa yang menjadi masalah pokok di masa kini bangsa
kita, dan itu kita jadikan kerangka pikir kita (paradigma). Sebagai
ummat beragama, kita memiliki sandaran kokoh yaitu ridla Allah. Untuk
mendapatkannya merupakan suatu keniscayaan. Karenanya mari kita
gantungkan segala daya dan upaya kita untuk mendapat ridla-Nya
semata-mata.
Mengemban tugas suci dan mulia ini tidak boleh ada suatu keraguan dan
canggung, dengan kepribadian yang utuh, dalam perjalanan, kita pasti
dapat menilai segala yang bernilai baik maupun sebaliknya. Kita harus
selalu arif dalam menghadapi tantangan dan rintangan. Jiwa besar mesti
kita internalisasikan ke dalam diri kita. Menjalankan tugas mulia memang
sepertinya menjadi sangat baik bila mendapatkan kesepakatan semua
manusia, namun itu merupakan sesuatu yang mustahil. Ridla Tuhan jauh
lebih “gampang didapat” daripada kerelaan manusia. Namun jangan pernah
berhenti mengemban tugas mulia ini hanya karena tidak mendapatkan
kesepakatan dari semua manusia (yang mustahil itu).
Ada suatu adagium: “Kerelaan semua manusia sesuatu yang tak mungkin
dicapai.” Karenanya: “Kerjakan sesuatu yang baik itu sekalipun tidak
mendapatkan persetujuan dari segala lapisan manusia.”
Kita tidak boleh canggung, seperti canggungnya sang penunggang keledai
(sudahpun binatang tunggangannya keledai canggung pula, apa jadinya?).
Alkisah, seorang bapak dan anak sedang menempuh perjalanan pengembaraan,
berkendaraan keledai. Tatkala di perjalanan yang jauh dari keramaian
mereka (bapak, anak, dan keledai) berjalan dengan semangat dan riang
gembira. Begitu memasuki keramaian kota, banyak manusia berkomentar,
bermacam-macam komentarnya. Yang paling direspon oleh sang penunggang
adalah kritik orang jalanan yang mengatakan: “Wah, itu orang tidak
berperikemanusiaan, keledai begitu kecilnya kok ditunggangi oleh dua
penumpang”.
Karenanya, turunlah sang ayah dan menuntun keledai sambil membiarkan
anaknya tetap di punggung keledai. Dalam perjalanan selanjutnya didengar
pula kritik dari orang yang mengaku ahli dalam etika dan sopan santun,
apa katanya: “Anak tak tahu diri, orang tua disuruh berjalan sambil
menuntun keledai sedang dia duduk di punggung keledai”.
Direspon pula kritik itu oleh sang anak, kemudian mereka berjalan
bersama, bapak, anak, dan keledai. Tak lama kemudian berpapasanlah
mereka dengan seorang pedagang yang selalu berhitung untung rugi, dan
berkata penuh kritik: “Ah, bodoh kali kalian ini, cuaca panas seperti
ini kamu berjalan kaki tanpa terumpah lagi” (padahal mereka memakai
sandal usang). Mendengar kritik berbau penghinaan ini, bapak dan anak
mengambil keputusan fatal, mereka anggap akan lebih etis dan
berperikemanusiaan tindakan yang akan dia ambil, yaitu: Mereka ikat kaki
keledai itu selanjutnya mereka gotong dengan pikulan, dan mereka pikul
sambil meneruskan perjalanan di keramaian manusia. Tentunya semua yang
melihat menjadi bertanya-tanya, tertawa melihat kelakuan seperti itu.
Itulah contoh tamsil orang yang kurang teguh pendirian. Mengapa tidak
teguh pendiriannya? Karena kurang modal ilmu, keledai mampu mengangkat
beban dua kali lipat berat badannya. Andainya sang bapak dan anak tadi
mengetahui berat badan keledai mereka taklah mungkin terjadi peristiwa
yang menggelikan tadi. Padahal dari jalan cerita tadi, sepanjang
perjalanan sebelum masuk kota kekuatan keledai telah teruji. Namun
karena sang bapak dan anak ternyata kurang percaya diri, bukan ridla
Tuhan yang dicari, namun puja-puji manusia yang didengar, akhirnya fatal
maupun celaka. Sudahpun berkendaraan keledai, celaka pula yang didapat.
Semoga kita terjauh dari tamsil sang penunggang keledai tersebut. Dan
dalam kesempatan ‘Idul Fithri ini kami menyampaikan Selamat ber-‘Idul
Fitri, semoga amal darma bakti kita diterima oleh Tuhan Allah Subhanahu
Wata’ala, dan maaf lahir batin atas segala kekhilafan yang kami lakukan. ►e-ti ►Versi
Word Document
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|