| |
C © updated 26052007 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/berindo |
|
| |
Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Jabatan:
Syaykh Al-Zaytun |
|
| |
|
|
|
|
| BERITA |
|
|
 |
BERINDO-36:
01
02
03
04
05 ==
Syaykh AS Panji Gumilang
Jangan Buang Air ke Laut
BERINDO 36-2: Cuplikan lirik lagu keroncong Bengawan Solo
ciptaan Gesang: “Air mengalir sampai jauh, akhirnya ke laut” menjadi
tidak relevan lagi, karena air yang dikelola dan dimanfaatkan dengan
baik menjadi sangat berguna bagi kehidupan manusia.
Pusat Pendidikan Al-Zaytun tengah membangun Waduk Windu Kencana menjadi
pusat pertanian terpadu (integrated
farming), terintegrasi dengan sistem pengelolaan air (manajemen air)
sungai Cibanoang sepanjang 6,5 km. Air ini akan dimanfaatkan untuk
pengairan, perikanan air tawar dan kebutuhan air baku. Agaknya apa yang
dilakukan Al-Zaytun bisa menjadi model bagi proyek pengelolaan air yang
lebih holistik.
Pucuk pimpinan Al-Zaytun, Syaykh AS Panji Gumilang, punya mimpi
spektakuler bagi pengelolaan dan pemanfaatan air liar di Ibukota Negara
Jakarta dan di kawasan belakangnya (hinterland). Apa yang disebutnya:
Mimpi untuk Jakarta, Syaykh mengidamkan terwujudnya sebuah proyek
monumental, seperti Terusan Suez dan Dam Aswan di Mesir, yaitu proyek
Tirta Sangga Jaya (TSJ) atau Sungai Penyangga Jakarta.
Proyek ini, meskipun akan menelan biaya yang cukup besar, bisa memberi
multi-manfaat bagi tiga provinsi—DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat.
Misalnya, TSJ bisa menjadi sarana pengairan dan pengendalian banjir,
pertanian, transportasi air dan darat, rekreasi dan pariwisata (baca
juga, Mimpi untuk Jakarta)
“Menyampaikan misi Ilahiah itu harus sabar. Sebab, tidak semua strata,
yang kita anggap sudah harus mampu, itu mampu. Mereka membatasi diri
dengan simbol-simbol, bukan dengan ilmu,” kata Syaykh dalam sebuah
dialog dengan Tim Wartawan Berita Indonesia yang berkunjung ke Al-Zaytun,
dua pekan lalu.
Syaykh tidak sekadar bermimpi tetapi juga berbuat. Meskipun dalam skala
yang lebih kecil, Al-Zaytun sedang membangun waduk Windu Kencana dengan
tema ketahanan terpadu. Maksudnya ketahanan yang menyangkut air, tanah
serta apa yang dibudidayakan di dalamnya dan di atasnya. Berbicara
tentang pangan, ternak, dan tanaman industri hutan, sekaligus berbicara
air. Air bukan saja untuk menciptakan pangan, tetapi juga ketahanan,
supaya air menjadi manfaat, bukan bencana.
Menurut Syaykh, air dan tanaman pangan menjadi manfaat, kalau dikelola
dengan baik, bagaimana agar air tetap ada di musim kemarau dan tidak
menjadi bencana di musim hujan. Kedua hal ini menjadi terpadu.
Waduk itu terletak 6,5 kilometer dari Kampus Al-Zaytun. Kampus ini,
kalau musim kering mengalami kekurangan air. Meskipun ada air tanah,
tidak dieksploitasi, sebab lebih mengutamakan pemanfaatan air permukaan.
Selama masih ada hujan, air permukaan tanah pasti banyak. Air permukaan
di musim hujan disimpan di Windu Kencana, manfaatnya bagi kampus serta
ke kiri-kanan sungai, jelas. Artinya, air memberi kehidupan. Air juga
membawa bencana jika tidak dikelola. Air seperti api, ketika kecil
menjadi kawan, tetapi begitu membesar menjadi lawan yang kadang-kadang
tak bisa dilawan oleh manusia.
Kata Syaykh: “Supaya itu tidak terjadi, harus kita kelola. Karena
manusia diberi hak oleh Sang Pencipta untuk mengelola dan menatanya.
Kalau mengalir jangan sampai melimpah, kalau musim hujan tidak datang
jangan sampai kering.”
Di dalam dialog panjang tersebut muncullah mimpi Syaykh untuk Jakarta.
Ibukota Negara itu dikepung dan dialiri oleh belasan sungai, baik besar
maupun kecil. Sesungguhnya sungai tidak ada besar, tidak ada kecil,
semuanya pasti dilalui air. Ketika tidak tertata jadi melimpah dan
membawa bencana, bukan rezeki.
Dengan titik sentral di kawasan Cibinong, kemudian ditarik garis ke
barat, di luar kota Tangerang, sampai di Cikupa sampai Mauk (Tanjung
Kait). Di jalur tersebut dibangun kanal, katakan lebarnya 100 meter dan
di bantaran kiri-kanan kanal 50-50 meter dibangun jalan yang diapit
jalur hijau. Kemudian dari kawasan Cibinong ditarik garis ke timur
sampai Tanjung Jaya, Karawang, dibangun kanal dengan ukuran sama. Jika
ditarik garis dari titik Jakarta (Monas), ke selatan (Cibinong),
panjangnya sekitar 60 kilometer, ke utara 20 kilometer. Kanal huruf U
impian Syaykh itu panjangnya 60-60-60-60 kilometer atau seluruhnya 240
kilometer, mengitari ibukota.
Kanal huruf U ini sudah pasti mencegat perjalanan 13 sampai 15 sungai
besar dan kecil menuju Jakarta. Sungai-sungai besar yang dicegat, di
tengah, Sungai Ciliwung, di timur, Sungai Bekasi dan Citarum, dan di
barat, Sungai Cisadane. Aliran sungai-sungai tersebut dikendalikan,
bukan dihentikan. Kemudian dibangun jalan dua arah 2x240 KM untuk
mengatasi kepadatan lalulintas, terutama di Jakarta, karena jalan
tersebut melintas di luar ibukota. Juga kanal tersebut bisa menjadi
sarana transportasi air. Proyek ini, menurut Syaykh, memberi manfaat
yang sangat besar dan menghasilkan uang untuk daerah dan negara.
Kemudian di dalam Ibukota Negara, kawasan pemukiman dinormalisir tanpa
mengusir penduduk. Menurut Syaykh, penduduk tetap di situ, tetapi
perumahannya tidak boleh horizontal, harus mulai vertikal. sehingga di
sisi-sisi sungai ada lahan yang luas. Katakan saja di sisi-sisi Ciliwung
dekat kawasan Tebet, Jakarta Timur. Pengkolan Ciliwung mencakup beberapa
kampung, masih kampung, kelurahan dan kecamatan Tebet. Penduduknya tidak
harus digusur, karena sumber budayanya ada di kampung-kampung itu.
Perumahannya dibangun menjulang ke atas, menampung sampai 1.000 KK dalam
satu flat. Kalau satu KK mendiami 200 meter per segi, maka sama dengan
200.000 meter per segi. Luasan tersebut dijadikan halaman, tempat
sekolah, tempat olahraga, pusat belanja, taman dan tempat rekreasi
dengan lingkungan yang hijau dan bersih. Rumah-rumah untuk 1.000 KK
menjulang ke atas, penghuninya lebih aman dan terkontrol. Soal pilihan
jalan, bisa lewat kiri-kanan Ciliwung. “Kemacetan Jakarta bukan
banyaknya kendaraan yang lalu lalang, tetapi karena kurang tertata,”
kata Syaykh.
Bagaimana dan dari mana biayanya? Kata Syaykh, proyek semonumental itu,
biayanya memang mahal. Namun lebih mahal jiwa yang melayang lantaran
terbenam banjir daripada menata seperti itu. Katakan puluhan miliar
dolar, sekali utang saja, jumlahnya USD 40 miliar. Orang Indonesia itu
kaya. Dari jumlah penduduk 250 juta, ambil saja 10 persen atau 25 juta
yang punya uang diam. Itu, 100 ribu dolar AS uang diam. Jual obligasi
kepada mereka, jangan dijual ke luar negeri. Jangan mencetak obligasi
yang cincai-cincai, satu-dua dollar. Paling sedikit 1.000 dolar satu
surat utang negara atau obligasi. Tentu ada yang mampu membeli 100.000
sampai 1 juta dolar. Mungkin bisa terkumpul 100 miliar dolar. Bisakah
dikembalikan. “Tentu bisa, karena Tirta Sangga Jaya menghasilkan uang,”
jawab Syaykh penuh optimis. ► e-ti/ Berita Indonesia
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |
|