|
==
1
2
3 4 5 6 7
8
9
10
11
12
13
14
15 ==
►
English Version
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang (9)
Al-Zaytun Laboratorium Toleransi
Pada gilirannya, Syaykh AS Panji Gumilang memberi sambutan selamat
datang di Ma’had Al-Zaytun. Syaykh mengatakan bahwa persaudaraan sedang
dimulai di tengah bangsa Indonesia. Mengutip makna kata Koinonia yang
adalah persaudaraan, Syaykh AS Panji Gumilang mengemukakan bahwa Al-Zaytun
menciptakan perdamaian dan toleransi yang diterapkan melalui pendidikan
sebab Tuhan sudah berpesan lewat nabi-nabi-Nya seperti Nuh, Ibrahim, Isa,
Muhammad dan sebagainya.
Ia membayangkan betapa indahnya hidup umat manusia tatkata menyikapi
keagamaan seperti apa yang dilakukan pada hari itu. Hidup beragama yang
tanpa perpecahan, persengketaan dan perselisihan yang mengatasnamakan
agama. Itulah pesan Ilahi yang dijalankan oleh Ma’had Al-Zaytun.
Syaykh AS Panji Gumilang menekankan bahwa peristiwa bersejarah hari ini
sebagai satu laboratorium toleransi dan perdamaian. Dan apa yang dibuat di
dalamnya bukan dalam skala penelitian tetapi dalam skala produksi
perdamaian.
Sebab bila hanya dalam skala penelitian bisa diterapkan dalam
kompleks Ma’had Al-Zaytun belum tentu bisa diterjemahkan di tempat-tempat
lain. Namun, bila skalanya diperluas menjadi skala produksi dalam arti
memproduksi perdamaian dan toleransi dan sikap saling bersaudara antarumat
beragama di Indonesia, Syaykh yakin Indonesia ke depan akan mempunyai
penduduk yang mengerti keberadaan keagamaan dan Indonesia yang Bhinneka
Tunggal Ika.
Syaykh AS Panji Gumilang berharap mudah-mudahan dari titik tanah
Al-Zaytun digabungkan dengan titik tanah Koinonia di Jakarta, ditarik
garis ke kanan-kiri, ke utara-selatan, ke timur-barat, akan menjadi domain
yang luas demi terciptanya perdamaian dan toleransi di muka bumi
Indonesia.
Setelah itu, Pendeta Rudy didaulat kembali naik ke podium untuk
memanjatkan doa. Pendeta itu tampak kaget, karena tak mengira akan diminta
berdoa dalam acara itu. “Ini suatu hal yang belum pernah terjadi, apalagi
dalam lingkungan pesantren,” kata Pendeta Rudy kepada wartawan Tokoh
Indonesia, seusai acara itu. Pendeta itu memanjatkan doa kiranya Tuhan
Yang Maha Kuasa melimpahkan rahmatnya mempererat kasih persaudaraan
antarumat beragama di muka bumi ini.
Kalimatun Sawa’
Selepas acara penyambutan di Gedung Pertemuan Al-Akbar, dilanjutkan
dengan menancapkan patok (batu asas) tanda dimulainya pembangunan asrama
ke-6 bernama Kalimatun Sawa’ di Ma’had Al-Zaytun. Lokasi penancapan patok
ini tidak terlalu jauh, kira-kira 18 langkah dari Gedung Al-Akbar.
“Kami ingin memberikan kenang-kenangan. Kami akan mengajak Pak Pendeta
dan rombongan untuk menancapkan satu patok tanda dimulainya pembangunan
asrama ke-6 di Ma’had Al-Zaytun,” ajak Syaykh al-Ma’had. Asrama itu
dinamakan Kalimatun Sawa’ yang artinya satu kata yang sama, satu ungkapan
yang sama, satu visi yang sama. “Kita tanamkan bersama sebagai tanda bahwa
kita telah menanam satu kata yang sama, persatuan, pengertian,
persahabatan dan kasih sayang serta cinta kasih. Mudah-mudahan Tuhan
memberkati apa yang kita lakukan sebagai amal bakti kita kepada-Nya dan
kepada nusa, bangsa dan umat manusia. Semoga Tuhan memberkati perjalanan
kita semua. Amin ya rabb al-alamin,” kata Syaykh al-Ma’had.
Dalam acara penancapan patok, Pendeta Rudy diminta untuk membuka sebuah
selubung kain berwarna hijau yang menutupi sebuah papan nama berdiameter
kira-kira 3x2 meter. Saat selubung itu dibuka, terlihatlah serangkaian
kalimat “Di sini akan dibangun Gedung Asrama Santri Kalimatun Sawa’.
Peletakan Batu Azaz dilaksanakan bersama Pendeta Rudolf Andreas Tendean.
Saat membaca tulisan di papan nama itu, Pendeta Rudy semakin terkejut.
Saat itu, ia berpikir akan menyaksikan Syaykh menancapkan patok pertama
itu. Tapi rupanya dugaannya salah. Ma’had Al-Zaytun memberinya kehormatan
yang luar biasa dengan mencantumkan namanya di sana dan turut menancapkan
patok itu.
Saat Pendeta Rudy bersiap-siap hendak mengayunkan palu besar berwarna
merah putih ke patok yang juga berwarna merah putih sebagai lambang khas
Al-Zaytun itu, Syaykh AS Panji Gumilang berseru akrab, “Tiga kali Pendeta
Rudy, kan Trinitas..” Saat mendengar perkataan tiga itu, Pendeta
Rudy sejenak menoleh ke arah Syaykh. Lalu, Syaykh kemudian menambahkan,
“Akar, batang dan buah.” Pendeta Rudy kemudian mengangguk lalu mengayunkan
palu besar itu sebanyak tiga kali menghantam patok kayu itu.
Penancapan patok juga dilakukan oleh Ibu Silvana Rosita Maksurila, sang
istri sebanyak lima kali sebagai simbol shalat dalam rukun Islam. Tiba
giliran Syaykh AS Panji Gumilang, istri Pendeta Rudy menyahut, “Lima kali
juga”. Rupanya ia hendak ‘balas dendam’ kepada Syaykh karena sebelumnya
diminta memukul sebanyak lima kali. Syaykh AS Panji Gumilang menoleh
sambil berkata, “Lima kali juga, baiklah”. Namun, sebelumnya sudah memukul
tiga kali, sehingga berjumlah delapan kali. Dalapan penjuru angin. Setelah
itu dilanjutkan oleh Ibu Khotimah Rahayu, sang istri. Tidak ketinggalan
turut juga perwakilan dari mahasiwa, dosen dan guru, karyawan dan wartawan
baik itu wartawan Majalah Al-Zaytun maupun wartawan dari luar Al-Zaytun
yaitu Majalah Tokoh Indonesia dan Majalah Medium.
Sebagai penutup, Syaykh AS Panji Gumilang berkata, “Saat ini kita telah
secara resmi memulai pembangunan asrama ini. Maka dengan ini, saya minta
agar segera ditindaklanjuti sebaik-baiknya. I’maluu fasayarallahu
‘amalakum wa rasuluhuu wal mu’minun sebanyak tiga kali.” Para hadirin
menjawab dengan serempak, “Sami’na wa atho’na…”
Masjid dan Rumah Sendiri
Keakraban di antara saudara itu, tidak berhenti setelah acara
penancapan batu asas itu. Waktu terus berdetak seiring dengan detak
jantung persaudaraan yang ada di sana. Selepas makan siang di Wisma
Al-Ishlah, Pendeta Rudy bersama rombongan diajak berkeliling melihat
setiap sudut di Ma’had Al-Zaytun.
Mereka melihat-lihat laboratorium kultur jaringan, peternakan sapi, dan
berbagai sarana, termasuk menyaksikan para santri menghasilkan kerajinan
seperti Perahu dan Hand Tractor serta peralatan-peralatan lainnya.
Saat melihat-lihat waduk Istisqo’ yang mempunyai kedalaman sembilan
meter, rombongan memanfaatkan pemandangan yang ada untuk berfoto bersama.
Tidak ketinggalan para pengurus yayasan Ma’had Al-Zaytun di antaranya
H.Abu Tsabit yang berpakaian ala Melayu dikerubungi ibu-ibu untuk minta
foto bersama. Mereka berkeliling ke berbagai sudut kompleks Ma’had
Al-Zaytun, tak tampak merasa lelah. Mereka bersukacita laksana berada di
rumah sendiri.
Saat memasuki Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin yang masih dalam proses
finishing, Pendeta Rudy diminta berdoa. Pada awalnya, Pendeta Rudy
tampak agak ragu ketika diminta berdoa di masjid berlantai enam yang
berkapasitas 150 ribu orang jemaah itu. Sepanjang pengetahuannya belum ada
kisahnya seorang Kristen memanjatkan doa dalam masjid.
Tapi penjelasan tentang pembangunan masjid itu yang disampaikan seorang
eksponen Ma’had Al-Zaytun, antara lain menyebut bahwa masjid ini dibangun
oleh orang-orang beriman, maka sebagai seorang pendeta yang sudah melayani
selama puluhan tahun, Pendeta Rudy kemudian berdoa sebagai seorang umat
Kristen beriman:
: “......Ya Allah, Tuhan kami. Betapa namaMu dimuliakan di muka bumi
ini, yang telah menghimpun segala bangsa dan umat dalam kehidupan
keseharian, bahkan yang telah menghimpun kami dalam kebersamaan di
tengah-tengah sukacita kami di kompleks Mah’had Al-Zaytun. Kami ada di
suatu bangunan yang akan dirampungkan, tempat kekasih-kekasih kami
beribadah. Dari tempat ini, akan naik doa dan puji-pujian ke hadirat-Mu ya
Tuhan. Dari tempat ini, kiranya juga akan melahirkan rasa kebersamaan
manusia dan akan membina umat manusia untuk memelihara persaudaraan.
Ijinkan mereka menyelesaikannya karena Engkau adalah sumber
segala-galanya. …. Amin.”
Doa yang dinaikkan menjadi pengikat abadi bahwa Ma’had Al-Zaytun akan
melahirkan generasi yang membawa perdamaian dan persaudaraan. Kebenaran
bukan milik kelompok tertentu melainkan milik semua orang. Biarlah Tuhan
sendiri yang akan menentukan iman seseorang di hadapan-Nya.
Pendeta Rudy bersama rombongan tiada hentinya menggeleng-gelengkan
kepala berdecak kagum setelah melihat kemandirian yang sedang dibangun
oleh Ma’had Al-Zaytun. Mereka sudah menyaksikan berbagai industri yang
berkembang pesat mulai dari industri pertanian, perikanan, perkebunan,
hingga pakan ternak. Tidak luput dari perhatian bagaimana kehidupan
manusia di sana ditopang oleh sistem ekonomi terpadu yang memerlukan kerja
keras dan ketekunan.
Pertandingan Persahabatan
Matahari perlahan-lahan bergerak turun di ufuk barat. Sore hari itu,
Pendeta Rudy bersama rombongan melakukan pertandingan olahraga
persahabatan dengan tim olahraga Ma’had Al-Zaytun. Ada dua pertandingan
yang dilakukan, yaitu olahraga basket dan bulu tangkis.
Rasa salut terpancar dari hati Pendeta Rudy dan rombongan ketika
menyaksikan betapa rapi dan siapnya tim olahraga Ma’had Al-Zaytun untuk
bertanding. Bahkan Pendeta Rudy dihadiahkan sepatu baru sebelum bertanding
bulu tangkis. Hasil pertandingan terbilang seimbang. Pertandingan bola
basket menjadi milik GPIB Koinonia sedangkan pertandingan bulu tangkis
menjadi milik Ma’had Al-Zaytun.
Pertandingan olahraga persahabatan ini rupanya membawa kesan yang
mendalam di hati kaum muda rombongan GPIB Koinonia yang ikut bertanding
sore itu. Mereka berharap akan ada lagi pertandingan persahabatan di masa
mendatang. Oleh karena itu, Pendeta Rudy berencana akan berolahraga di
Ma’had Al-Zaytun setelah Idul Fitri 2004.
Rasa lelah sama sekali tidak terpancar dalam wajah-wajah mereka yang
bersaudara ini. Tidak sedikit ibu-ibu yang sudah tua masih terlihat
semangat dan santai seakan-akan Ma’had Al-Zaytun sudah menjadi rumah
sendiri. Setelah berkeliling melihat setiap sudut di Ma’had Al-Zaytun,
Pendeta Rudy dan rombongan makin mengenal dan mengagumi bahwa Ma’had
Al-Zaytun adalah pondok pesantren yang bukan hanya handal dalam teori dan
slogan tetapi terdepan dalam implementasi toleransi dan perdamaian.
Menyanyi Bergandeng Tangan
Menjelang malam, selepas magrib, Pendeta Rudy dan rombongan makan malam
bersama Syaykh AS Panji Gumilang dan eksponen Ma’had Al-Zaytun di restoran
Wisma Tamu Al-Ishlah. Meja-meja panjang bertaplak putih tersusun berderet
mengisi ruangan itu. Layaknya sebuah restoran mewah, di atas meja sudah
tersusun lengkap piring, gelas, sendok, garpu dan serbet. Botol-botol air
mineral juga tersusun rapi di atas meja-meja itu. Sembari menikmati
hidangan makan malam, Pendeta Rudy bersama rekan pengurus gereja lainnya
berbincang-bincang dengan Syaykh AS Panji Gumilang membahas berbagai topik
yang terlintas di kepala mereka mengenai berbagai prinsip kebenaran dan
prinsip kehidupan.
Tidak terasa, hampir satu jam sudah berlalu, sementara semua yang ada
dalam restoran itu sudah menghabiskan makanannya. Mereka bangkit dari
kursi masing-masing melangkah menuju sebuah ruangan yang sudah
dipersiapkan untuk acara perpisahan (temu ramah mesra). Ruangan itu berada
di sebelah restoran. Kedua ruangan itu hanya dipisahkan sebuah jalan gang
yang menghubungkan pintu depan dan pintu lift menuju kamar-kamar yang ada
di lantai atas wisma itu.
Irama lagu keroncong melantun merdu di ruangan itu. Saat Syaykh dan
Pendeta Rudy memasuki ruangan, instrumentalia Jingle Bell mengalun
perlahan oleh pemusik keroncong Ma’had Al-Zaytun. Ruangan penuh sesak.
Pembacaan puisi oleh seorang santriwati dan persembahan lagu dari
perwakilan jemaat GPIB Koinonia menjadi pembuka sebelum Syakh AS Panji
Gumilang dan Pendeta Rudy membawakan pidato penutup.
Di atas mimbar, Pendeta Rudy merasa kesulitan menemukan kalimat yang
tepat untuk menggambarkan apa yang sudah terjadi sepanjang hari itu. Dari
lubuk hatinya yang paling dalam, peristiwa hari itu adalah peristiwa yang
sangat luar biasa. Tanpa bermaksud mendahului kehendak Tuhan, baginya mati
pun sudah bisa (siap). Mewakili Jemaat GPIB Koinonia, ia mengucapkan
banyak terima kasih dan mendoakan Syaykh AS Panji Gumilang dan keluarga
beserta seluruh penghuni Ma’had Al-Zaytun diberikan kesehatan dan hikmat
marifat ilahi. Ia ber-harap, bila suatu kali nanti, Al-Zaytun berkunjung
lagi ke GPIB Koinonia, mereka sudah siap menyambut dan memberikan yang
terbaik.
Syaykh AS Panji Gumilang mengatakan sependapat dengan apa yang
dikatakan dan dirasakan oleh Pendeta Rudy bahwa ia juga sulit membuat
kalimat yang tepat untuk menggambarkan apa yang sudah terjadi sepanjang
hari itu. Ia kemudian menjelaskan bahwa itulah yang disebut dengan
kalimatun sawa’, mereka satu kata, sama-sama sulit menggambarkan peristiwa
yang indah itu. Suatu ungkapan dan pemahaman yang sama akan perdamaian,
persatuan dan persaudaraan di antara umat manusia tanpa terkecuali.
Dalam pidatonya itu, Syaykh AS Panji Gumilang mengatakan bahwa dalam
obrolan mereka, Pendeta Rudy menanyakan apakah ada peluang bagi umat
Kristiani untuk bersekolah di Ma’had Al-Zaytun dan mungkinkah agar syarat
menghapal Jus Amma dikredit dulu.
Syaykh AS Panji Gumilang mengatakan bahwa bila nanti ada umat Kristiani
yang ingin bersekolah ke Ma’had Al-Zaytun, mereka tidak perlu menghapal
Juz Amma. Mereka akan diwajibkan menghapal rangkaian ayat dalam Alkitab
sebagai persyaratan masuk ke Ma’had Al-Zaytun.
Syaykh AS Panji Gumilang kemudian bertanya kepada perwakilan guru dan
santri, apa pendapat mereka tentang jawaban Syaykh itu. “Bila setuju
acungkan jempol, bila salah, katakan salah,” kata Syaykh. Dengan cepat
mereka mengacungkan jempol tanda setuju. Syaykh AS Panji Gumilang kemudian
bertanya apakah ada umat Kristiani yang mau bersekolah di Ma’had Al-Zaytun
sebab mereka menunggu hal itu kelak bisa terjadi.
Syaykh AS Panji Gumilang kemudian berbagi visinya ke depan. Ia berkata
bahwa kelak santri di pesantren Ma’had Al-Zaytun berasal dari Muslim,
Nasrani, Budha, Hindu, Kong Hu Chu dan sebagainya. Di sana akan berdiri
gereja, kuil dan masjid. Sesuai dengan peraturan Sisdiknas, setiap siswa
akan dibimbing oleh guru agama sesuai dengan agamanya yang dianut.
Jikalau itu nanti terjadi, Syaykh AS Panji Gumilang akan meminta guru
dari Pendeta Rudy. “Alangkah indahnya kalau itu terjadi,” kata Syaykh AS
Panji Gumilang sambil tersenyum. Tidak lupa Syaykh AS Panji Gumilang
mengucapkan terima kasih dan berdoa agar Pendeta Rudy beserta rombongan
tiba dengan selamat di Jakarta dan persaudaraan mereka terus terjalin.
Di akhir acara, sembari menikmat hidangan snack dan minum teh atau
kopi, VG jemaat GPIB Koinonia membawakan beberapa lagu. Malam semakin
larut, dan akhirnya mereka harus berpisah. Semua mereka yang hadir di situ
kemudian bergandengan tangan sambil menyanyikan lagu khas Ambon berjudul
‘Pela Gandong.’ yang memberi makna persaudaraan abadi. Perpisahan hari itu
bukanlah akhir melainkan sebuah awal yang manis. Sebab dalam tahun-tahun
mendatang mereka akan terus menjalin komunikasi dan persaudaraan.
Tidak lama kemudian setelah lagu itu selesai, rombongan jemaat GPIB
melangkah keluar ruangan itu menuju bus yang sudah menunggu mereka. Tiada
hentinya mereka tersenyum dan menjabat tangan siapa saja yang mereka
jumpai. “Terima kasih yah Pak,” sahut seorang ibu tua kepada seorang
satpam di pintu keluar. Tidak ada seorang pun yang luput dari jabat tangan
dan ucapan terima kasih termasuk para satpam yang hanya bisa tersenyum
kala menyadari bahwa mereka pun mendapat perhatian.
Sungguh indah melihat persaudaraan yang terjalin hari itu. Kebersamaan
di tengah-tengah kemajemukan umat beragama begitu nyata di Kompleks Ma’had
Al-Zaytun. Rangkaian kata yang indah sekalipun rasanya tidak cukup untuk
menceritakan kembali kisah persaudaraan itu. Hanya hati mereka yang hadir
saat itulah, yang mengerti betapa Tuhan mengasihi mereka dan mengijinkan
kebersamaan terjadi hari itu.
Malam itu, bintang-bintang berkedip penuh arti sebab tahu kalau suatu
saat kelak, Indonesia akan menjadi bangsa yang besar bukan hanya karena
kekayaannya tetapi karena cinta kasih yang terjalin di antara umat
beragama yang berbeda-beda. Al-Zaytun dan Koinonia telah memulai bahwa
perbedaan agama bukan tembok yang bisa memisahkan mereka sebab selamanya
mereka bersaudara. ►atur-crs ►Lanjut
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|