| |
C © updated 03032004 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
►e-ti/az |
|
| |
Nama:
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang
Lahir:
Gresik, 30 Juli 1946
Agama:
Islam
Istri:
Khotimah Rahayu
Anak:
-Imam Prawoto,
-Ahmad Prawiro Utomo, sekarang bernama Ahmad Is’yaim,
-Ikhwan Triatmo, sering dipanggil Abdul Hamid,
-Khoirun Nisa (perempuan),
-Muhammad Hakim Prasojo,
-Sofyah Alwida (perempuan),
-Karim Abdul Zabbar (wafat menghadap ke Rahmatullah)
Ayah:
Panji Gumilang (alias Syamsul Alam, alias Mukarim, alias Imam
Rasydi)
Ibu:
Pengalaman Pendidikan:
-IAIN Ciputat
-Pondok Pesantren Gontor
-Sekolah Rakyat di Gresik
-Sekolah Arab (Madrasah) di Gresik
Pengalaman Pekerjaan:
-Syaykh Ma’had Al-Zaytun, Indramayu
-Mendidik di Madrasah Darussalam Ciputat
|
|
| |
|
|
|
|
==
1
2
3 4 5 6 7
8
9
10
11
12
13
14
15 16 ==
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang (1)
Pelopor Pendidikan Terpadu
Syaykh Abdussalam Panji Gumilang adalah personifikasi Ma’had Al-Zaytun.
Pendiri dan pemimpin pondok pesantren modern (kampus) ‘Pusat Pendidikan
dan Pengembangan Budaya Toleransi serta Pengembangan Budaya Perdamaian’
ini sungguh seorang pelopor pendidikan terpadu (kampus peradaban). Alumni
Ponpes Gontor dan IAIN (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat ini seorang guru
yang mengandalkan manajemen ‘kekitaan’ bukan ‘keakuan’.
Menurut pria kelahiran Gresik 30 Juli 1946 ini, pendidikan itu harus
diciptakan sebagai gula dan ekonomi sebagai semutnya. Jangan malah ekonomi
yang diciptakan sebagai gula dan rakyat (pendidikan) jadi semutnya. Bila
pendidikan sebagai gula dan ekonomi sebagai semut, maka semut (ekonomi)
akan mendatangi orang yang terdidik. Karena semut adalah makhluk yang
mengerti kualitas dirinya terhadap gula, sehingga semut tidak akan terkena
sakit gula.
Suatu cita-cita mulia dari Syaykh A.S Panji Gumilang, sejak kecil, adalah
menjadi guru dan mendirikan sebuah lembaga pendidikan. Dengan maksud agar
peradaban umat manusia tidak putus, maka dengan berbagai kemampuan yang
ada padanya, ia berusaha menyambungnya. Itulah cita-citanya mendirikan
pesantren ini, di samping untuk merangkum kehendak bangsa Indonesia
sendiri, menjadi bangsa yang diperhitungkan di antara bangsa-bangsa lain.
Pria yang sejak kecil bercita-cita jadi guru, dan yang hingga kini masih
tetap seorang guru, ini berpendapat bahwa peradaban tersebut harus
disambung dengan manajemen ‘kekitaan’ bukan ‘keakuan’. Sebab menurutnya,
keakuan umurnya sangat pendek, hanya terbatas. Tapi kalau kekitaan berumur
lama dan tidak pernah putus. “Kekitaan itu mempunyai satu kekuatan yang
tidak pernah dapat diruntuhkan oleh siapa pun kecuali oleh yang membuat
kita itu sendiri,” katanya lebih jelas. Kekitaan itu pulalah yang
dipakainya dalam membangun dan mengelola Ma’had Al-Zaytun ini.
Sedikit berkisah mengenai awal mula adanya ide atau cita-cita pendirian
lembaga pendidikan ini. Dia mengata-kan bahwa sebagaimana orang pada
umumnya selalu punya cita-cita untuk berlaku, berbuat dalam kebaikan,
demikian juga halnya dengan dirinya.
Dimotivasi sosok ayahnya yang mempengaruhi menguatnya cita-cita menjadi
guru dan mendirikan lembaga pendidikan terpadu. Ayahnya, seorang pemimpin,
seorang Kepala Desa. Walaupun hanya sebagai kepala desa, namun ayahnya ini
ditakdirkan oleh Ilahi menjadi orang yang suka mendidik lingkungan,
sampai-sampai mendirikan sebuah sekolah yang dinamai orang ketika itu
‘Sekolah Arab’ karena setiap hari mengajarkan baca Al-Qur’an, dan menulis
Arab.
Di samping itu, Sang Ayah juga seorang pejuang. Sebagai seorang pejuang,
Sang Ayah sengaja mempunyai banyak nama, sekali waktu dipanggil Panji
Gumilang, Syamsul Alam, Mukarib, atau Imam Rasyidi. Melihat Sang Ayah yang
demikian, tumbuh perasaan bangga dan senang pada diri Panji Gumilang kecil.
Bangga melihat orang tuanya yang kepala desa, yang konon setiap hari harus
lapor kepada Belanda, tapi sekaligus juga pejuang dan mendirikan sekolah.
Dalam kebanggaan Panji Gumilang kecil itu, timbul juga rasa penasaran
melihat sikap ayahnya. “Pihak mana dipilih oleh orang tua ini?” begitu
pertanyaan dalam hatinya saat itu. Maka ia akhirnya bertanya, “Ayah!
Kenapa harus laporan ke Ndoro Asisten Wedana?”.
“Karena dia yang menjadi pimpinan di kecamatan ini,” jawab Sang Ayah.
“Mengapa ayah ini kok ikut berjuang?”
“Karena kita akan merdeka”.
“Mengapa Ayah membuat sekolah?”
“Karena kamu dan kawan-kawanmu harus pintar nanti”. Begitu kira-kira
jawaban Sang Ayah saat itu, yang semakin membanggakan hatinya.
Akhirnya kalau petang, Panji Gumilang kecil masuk dalam sekolah yang
didirikan orang tuanya itu. Sedangkan pagi masuk ke Sekolah Rakyat (SR),
Sekolah Dasar sekarang. Sejak dari sanalah tumbuh cita-citanya ingin jadi
guru. Bahkan walaupun orang tuanya menginginkannya jadi kepala desa, ia
tetap bersikeras menjadi guru.
Awal keinginannya menjadi guru, terpantik ketika dirinya masih kecil yakni
antara tahun 1952 atau 1953, saat ada program pemberantasan buta huruf (PBB).
Ketika itu ia masih kelas satu SR. Begitu pulang sekolah ia ditanya orang
tuanya, “Kamu diajar apa tadi?” Kemudian ia jawab, “Ini pak, diajari baca
po,lo,wo, go, ro, no, go, sos, ro, to, mo, ho,…”. Masa itu yang diajarkan
bukan a,b,c,d, tapi po, lo, wo, dan seterusnya. Orang tuanya pun tanya
lagi, “Kamu sudah bisa nulis?” Dijawabnya, “Bisa pak”. Lalu ayahnya
menganjurkan: “Nanti malam, kamu mengajar ya…!”
Ia pun lantas mengajar pemberantasan buta huruf orang-orang yang sudah
sepuh. Ia merasa bangga dan senang. Pagi-pagi ditanya Pak Guru, disuruh
menulis, ia bisa. Malam harinya, ia mengajar beberapa orang buta huruf,
sekaligus mengulang pelajaran yang diterima di sekolah pada pagi harinya.
Mengajar orang-orang sepuh itu, membangkitkan perasaan sangat senang.
Saat itu suasana belajar dan mengajar itu membuatnya sangat senang. Maka
kalau ia dapat nilai 10 atau 9, ia langsung menempelkannya di pipi, lalu
lapor pada orang tuanya, “Pak, ini 9!” katanya mengenang.
Sejak itu, rasa senangnya jadi guru pun tumbuh. Orang-orang sepuh itupun
menjadi melek huruf. Hal ini menanamkan rasa bangga tersendiri baginya.
Bersamaan setelah tamat SR, sekolah yang tadinya dibina oleh orang tuanya,
akhirnya diambilalih sebuah yayasan. Orang tuanya sudah tidak mengurus
lagi. Pengambilalihan Madrasah ini berkesan bagi diri dan keluarganya.
Bersamaan dengan itu, ia pun kemudian meninggalkan Gresik, kampung
kelahirannya itu. Tidak mau tinggal di sana lagi. Tekadnya, ia harus
belajar jauh entah ke mana. “Biar bagaimanapun saya harus belajar jauh.
Jauh dari kampung,” itulah yang selalu ada di benaknya.
Tepatnya pada tahun 1961 ia pun melanjutkan sekolahnya ke Ponpes Gontor.
Di sana, di samping belajar, ia juga sudah sangat tertarik mengamati cara
mendidik dari berbagai guru. Sehingga ketika suatu kali ia mendapat
didikan yang keras dari seorang guru yakni pernah ditempeleng, juga pernah
dicukur rambutnya, kenangan itu masih diingatnya sampai sekarang. Bukan
karena dendam, tapi karena ia tidak setuju dengan cara mendidik seperti
itu.
Pengalaman itu akhirnya begitu cepat menanamkan hal positif dalam hatinya.
“Kalau saya punya tempat pendidikan, saya akan memberi kebebasan, tidak
akan aku cukur rambutnya, tidak akan aku hukum dalam bentuk kekerasan
fisik, aku hanya akan beri isyarat agar dimengerti,” begitulah kata
hatinya ketika itu yang akhirnya dibuktikannya kemudian sepanjang karirnya
sebagai guru, terutama di Ma’had Al-Zaytun.
Mengenang masa sekolah di Gontor, ia mengatakan bahwa walaupun dulu tempat
itu terasa sangat jauh sekali, namun ia sangat mengagumi sekolahnya
tersebut. Gresik dan Gontor yang berjarak 210 km itu terasa tambah jauh
karena bus waktu itu masih bus kayu yang setiap 10 km harus diengkol lagi.
Sehingga jika naik bus, subuh berangkat, magrib baru tiba.
Sekolah di Gontor sangat membanggakannya. Selama enam tahun sekolah di
sana, ia banyak memetik hikmah, pelajaran dan ilmu yang kemudian sebagian
ditularkannya dalam mendidik santri di Ma’had Al-Zaytun ini. Bahkan karena
kebanggannya dengan Pesantren Gontor tersebut, anaknya yang pertama sampai
yang keempat di sekolahkannya di sana.
Selesai dari Gontor, pada tahun 1966 ia datang ke Jakarta bertepatan
setelah peristiwa Gerakan 30 September, sehingga suasananya masih belum
tenang. Karena itu, orang tuanya awalnya tidak terlalu mengijinkan, karena
konon kata orangtuanya, Jakarta adalah tempat kekerasan. “Semua bisa
terjadi di Jakarta, kamu belum punya kawan di sana, karena kami tidak
punya kawan di sana,” begitu ucapan orang tuanya. “Saya ingin membuat
kawan bertambah di sana, doakan saja,” jawabnya meyakinkan orang tuanya.
Di Jakarta, ia kemudian masuk ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di
Ciputat, di mana saat itu masih belum seperti sekarang ini. Jalan ke Pasar
Jumat sampai ke Ciputat itu masih tanah merah. Kendaraan dari Kebayoran
Lama ke Ciputat juga hanya ada sampai pukul empat sore.
Mendidik sudah merupakan bagian dari hidup pria ini. Dalam membangun
kehidupan manusia, baginya pendidikanlah yang terutama dan harus
diutamakan. Maka hampir tidak ada waktunya yang terlewat selain dari
mendidik dan mendidik. Sampai hari ini dia mendidik. Ketika kuliah di
IAIN, ia membuat sekolah di Rempoa. Waktu itu dinamakan Darussalam. Ia
mengajar di Madrasah serta di sekolah lain yang berdekatan dengan Madrasah
itu. Malamnya mengajar, paginya sekolah. “Hingga hari ini saya adalah
seorang guru,” katanya bangga.
Selama di IAIN, ia mulai sering berkumpul dengan kawan-kawannya, dan mulai
merencanakan mendirikan suatu lembaga pendidikan yang bisa mewakili
kemajuan Indonesia. Keinginan-keinginan itu semakin kuat tapi tak pernah
kunjung terwujud. Namun walaupun begitu, dia terus bergerak dan berkarya.
Dalam upayanya itu ia pernah membuat gambar dan lain sebagainya, kemudian
didagangkannya pada kawan-kawannya. Namun kawan-kawannya tidak begitu
percaya, bahkan menganggap idenya itu suatu ide yang tidak masuk akal.
“Ah…kamu ini gila, bagaimana kita bisa membuat seperti ini,” begitulah
kadang sambutan kawannya ketika itu.
Namun ia tetap yakin, “Oh…bisa kalau kita buat, kalau nggak kita buat,
memang nggak bisa,” katanya menjawab temannya. “Kapan?” tanya kawannya itu
lagi. “Jangan tanya kapan, tapi mau apa tidak?” jawabnya lagi pada
kawannya. Ternyata kesabaran dan upayanya meyakinkan kawan-kawannya itu
ber-hasil juga. Akhirnya, mereka banyak yang mau.
Kemudian ia mulai mencari lokasi ke seluruh Indonesia, sampai ke Lampung,
Kalimantan. Walaupun menemukan tempat yang luas tapi susah untuk dibangun.
Maka ketika ia menemukan lokasi di Mekar Jaya, menurutnya sama seperti
menerka kelahiran sendiri, tidak tahu akan lahir kapan dan di mana.
Pembelian tanah yang menjadi lokasi Ma’had Al-Zaytun ini hanya diawali
dengan berbincang-bincang di ujung kampung Mekar Jaya itu. Seseorang
bertanya, mau beli tanah? Ia jawab jalan-jalan saja. Walaupun sudah
berusaha untuk tidak memberitahu bahwa ia sedang cari tanah, namun karena
orang itu mengetahui ada tanah mau dijual, akhir-nya seolah membujuknya.
Ia pun merespon dan bersedia meninjau dan akhirnya cocok.
Awalnya tanah yang dibeli hanya 65 ha. Namun dengan bantuan kawan-kawannya,
kemudian bisa terbeli seluas 1.200 ha. “Untuk memulai segala sesuatu itu
harus dari kita, apa yang ada pada kita, kita dagangkan, kita dirikan
tempat ini bersama-sama. Untuk 65 ha lahan pada tahun 1996 itu, kita
membelinya bersama sekitar 30 orang kawan-kawan,” katanya menjelaskan.
Menurutnya, lokasi Al-Zaytun sekarang pun bukan suatu yang direncanakan.
Sebelumnya mereka merencanakan tempat yang agak lebih dekat dengan
Jakarta. Mereka sudah mendapatkan tempat yakni yang sekarang ditempati
oleh pabrik Texmaco di Subang, Purwakarta. Ketika itu sudah setuju,
hargapun sudah setuju, namun suatu yang tidak dipahami terjadi, akhirnya
tidak jadi membeli tempat itu.
Begitu panjang perjalanan untuk memulai citi-citanya itu namun itu semua
tidak dianggapnya begitu susah. Kalau hari ini orang belum mau, tidak usah
dikatakan susah, begitu prinsipnya. “Hanya bikin orang percaya, yang
tentunya kadang ada yang sehari sudah percaya, ada yang setahun, ada yang
sebulan. Tapi yang jelas, kita tidak akan pernah berhenti mengajak untuk
kebaikan,” katanya.
►atur-juka-crs ►LANJUT
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|