Abdul Muis (1883–1959)
Melawan Belanda dengan Pena
Perlawanan terhadap penjajahan Belanda
dilakukannya tanpa putus-putus dengan berbagai cara. Dengan ‘pena’-nya
yang tajam, partai politik, komite perlawanan orang pribumi, bahkan
memimpin mogok kerja. Sebagai seorang wartawan, tulisan Abdul Muis
merupakan tulisan perlawanan terhadap Belanda.
Begitu juga sebagai
Pengurus Besar Sarekat Islam, ia selalu menanamkan semangat perlawanan
kepada anggotanya. Ia juga mendirikan Komite Bumiputera bersama
tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya sebagai perlawanan terhadap
rencana Pemerintah Belanda yang akan merayakan hari kemerdekaannya yang
ke seratus di Indonesia.
Tokoh yang menjadi utusan ke Negeri Belanda sebagai
anggota Komite Indie Weerbaar sehubungan dengan terjadinya Perang Dunia
pertama ini, juga merupakan tokoh di belakang cikal bakal berdirinya
Institut Teknologi Bandung (ITB). Pejuang yang juga terkenal sebagai
sastrawan ini, hingga Indonesia merdeka tetap melakukan perjuangan
mempertahankan kemerdekaan dengan mendirikan Persatuan Perjuangan
Priangan.
Sebelum terjun menekuni dunia kewartawanan, pria
yang lahir di Sungai Puar, Bukit Tinggi, 3 Juli 1883, ini sempat menjadi
pegawai negeri. Pekerjaan itu ia geluti beberapa waktu saja setelah
memutuskan untuk tidak meneruskan sekolahnya di STOVIA (Sekolah dokter).
Namanya mulai dikenal oleh masyarakat ketika karangannya yang banyak
dimuat di harian de Express selalu mengecam tulisan orang-orang Belanda
yang sangat menghina bangsa Indonesia.
Untuk mengefektifkan perjuangannya, ia selanjutnya
terjun berpolitik praktis dengan menjadi anggota Sarekat Islam. Di
organisasi tersebut ia diangkat menjadi salah seorang anggota Pengurus
Besar. Kepada anggota sarekat, ia selalu menanamkan semangat perjuangan
melawan penjajahan Belanda. Bahkan ketika Kongres Sarekat Islam diadakan
pada tahun 1916, ia menganjurkan agar Sarekat Islam (SI) bersiap-siap
menempuh cara kekerasan menghadapi Belanda jika cara lunak tidak
berhasil.
Perlawanan tidak hanya ditujukannya kepada
Pemerintahan kolonial Belanda, tapi terhadap ajaran-ajaran yang tidak
disetujuinya. Seperti selama kesertaannya di Sarekat Islam, ia selalu
berjuang agar diadakan disiplin partai, yang intinya untuk mengeluarkan
anggota-anggota yang sudah dipengaruhi oleh paham komunis.
Pada tahun 1913, ia bersama tokoh-tokoh pergerakan
nasional lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, mendirikan Komite
Bumiputera. Komite ini dibentuk awalnya adalah untuk menentang rencana
Pemerintah Belanda mengadakan perayaan peringatan seratus tahun bebasnya
negeri Belanda dari penjajahan Perancis. Rencana Pemerintah Belanda
tersebut memang sesuatu yang ironis. Di negeri yang sedang di jajahnya,
mereka hendak merayakan hari kemerdekaannya secara besar-besaran. Itulah
yang ditentang oleh para tokoh pergerakan nasional tersebut. Namun oleh
karena perlawanan itu, ia akhirnya ditangkap oleh Pemerintah Belanda.
Ketika Perang Dunia I terjadi, bangsa ini pun siap
sedia mengatasi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Untuk itu, pada tahun 1917, Abdul Muis diutus ke Negeri Belanda sebagai
anggota Komite Indie Weerbaar guna membicarakan masalah pertahanan bagi
bangsa Indonesia.
Selain itu, ia juga berusaha mempengaruhi
tokoh-tokoh bangsa Belanda agar mendirikan sekolah teknik di Indonesia.
Usahanya tersebut beberapa tahun kemudian membuahkan hasil. Oleh Belanda
didirikanlah Technische Hooge School di Bandung yang dikemudian hari
berganti nama menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) sekarang.
Abdul Muis terkenal sebagai orang yang selalu
membela kepentingan rakyat kecil. Ia sering berkunjung ke daerah-daerah
untuk membela rakyat kecil tersebut sambil membangkitkan semangat para
pemuda agar semakin giat berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan tanah air
Indonesia.
Melawan Belanda sepertinya ia tidak kehabisan ide,
berbagai cara perlawanan pernah dilakukannya termasuk mengajak kaum
buruh untuk melakukan mogok. Seperti yang dilakukannya pada tahun 1922,
ia memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta. Karena
tindakannya itu, ia kembali ditangkap oleh Pemerintah Belanda dan
mengasingkannya ke Garut, Jawa Barat.
Di samping terkenal sebagai pejuang kemerdekaan, ia
juga terkenal sebagai seorang sastrawan Indonesia. Karya sastra yang
berjudul “Salah Asuhan” yang sangat terkenal itu merupakan salah satu
dari karyanya.
Sang Pahlawan Pergerakan Nasional dan Sastrawan
yang hingga kemerdekaan ini tetap tinggal di Jawa Barat berprinsip bahwa
perjuangan tidak pernah berhenti. Setelah kemerdekaan ia mendirikan
Persatuan Perjuangan Priangan, suatu persatuan perjuangan mempertahankan
kemerdekaan. Pada tanggal 17 Juni 1959, pahlawan ini meninggal di
Bandung dan dimakamkan di sana juga. ► juka-atur
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |