|
|
 |

Nama:
Abdul Khaliq Ahmad
Lahir:
Jakarta, 8 Agustus 1961
Isteri:
Etty Dalwiarti (35 tahun)
Anak:
Bagus Musthafa (8 tahun)
Adhi Muzakky (4 tahun)
Pekerjaan:
Anggota DPR/MPR RI Periode 1999-2004
Jabatan:
Sekjen DPP PKB 2002-2005
Pendidlkan
1. Sekolah Dasar Negeri di Jakarta, 1973
2. Madrasah Tsanawiyah Negeri di Cirebon, 1977
3. Madrasah Aliyah Negeri di Cirebon, 1981
4. IKIP Negeri Jakarta, S-1, 1988
5. Universitas Indonesia, S-2, 1993
Pengalaman Kerja
1. Guru SMP/SMA Swasta di Jakarta, 1982-1984
2. Wakil Kepala SMA Swasta di Jakarta, 1988-1989
3, Staf Peneliti Pusat Penelitian Pranata Pembangunan UI, 1989-1990
4. Speech Writer Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan,
1990-1994
5. Anggota Badan Pekerja MPR-RI, 1992-1997
6. Direktur ISIS (Institute for Social Institutions Studies),
1998-sekarang
Pengalaman Organisasi
1. Ketua Bidang Pendidikan Senat Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial
IKIP Jakarta, 1983-1984
2. Ketua Bidang Kesra Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas llmu Sosial
IKIPJakarta, 1984-1985
3. Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Jakarta,
1986-1987
4. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar PMII, 1988-1991
5. Fungsionaris Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia
(KNPI), 1990-1993
6. Ketua Biro Penelitian dan Pengembangan Dewan Pimpinan Wilayah Partai
Persatuan Pembangunan (PPP) DKI Jakarta, 1990-1995
7. Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul
Ulama, 1994-1999
8. Ketua Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Dewan Pengurus Pusat Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB), 1998-2001
Pengalaman Lain-Lain
1. Peserta, moderator dan narasumber dalam berbagai seminar dan
pelatihan di Indonesia, 1981-sekarang
2. Peserta Program Persahabatan Pemimpin Muda Politik Indonesia-Amerika di
Amerika Serikat, Juni 1992
3. Peserta dan Moderator Pertemuan Pemuda Indonesia-Malaysia (MALINDO) di
Kuching, Serawak, Malaysia, Januari 1992
4. Peserta Seminar International Basic Concepts of Liberalism di Jerman,
September 1995
5. Peserta Studi Banding Pembangunan Indonesia-Selandia Baru di Selandia
Baru, Agustus 1997
6. Peserta Program Persahabatan Pemimpin Muda Politik Indonesia-Australia
di Australia, Maret 2000
7. Peserta Program Studi Konstitusi di Inggris dan Mesir, April 2000
8. Peserta Program Studi Banding Parlemen Indonesia-Jerman di Jerman, Juni
2000
Alamat Rumah:
Rumah Jabatan Anggota DPR RI Blok A4 Nomor 41, Kalibata, Jakarta
12750
Telepon:
(021) 7993322
E-mail:
aka_fkb@hotmail.com
Alamat Kantor:
Gedung Nusantara I Lantai 18 Ruang 1819 Jl. Jenderal Gatot Subroto,
Jakarta 10270, Telpon (021) 5755703, 5755704 Fax. (021) 5755614
|
|
== 1
2 3 ==
Abdul Khaliq Ahmad
Berawal dari Pendidikan Moral
Dibesarkan dan dididik dalam keluarga santri, Abdul Khaliq Ahmad ingin
menjadi orang yang bermakna dan bermanfaat bagi orang lain. Mantan guru
asal Cirebon kelahiran Jakarta 8 Agustus 1961 ini sama sekali tidak pernah
menyangka akan duduk dalam kursi parlemen mewakili PPP dan PKB hingga
menjadi Sekjen PKB (Partai kebangkaitan Bangsa) yang kemudian menjadi
Pekade (Partai Kejayaan Demokrasi) tahun 2003. Di dunia politik ia banyak
berkecimpung dalam merumuskan pola dan sistem pendidikan dan pelatihan
kader partai serta mengimplementasikannya hingga ke daerah-daerah.
Masa kecilnya diisi dengan pendidikan agama dan moral dari kedua orang
tuanya. Meskipun ayahnya hanyalah PNS golongan rendah, ayahnya yang
berpandangan moderat mengharapkan Khaliq tidak hanya berperan di bidang
agama tetapi juga di bidang lain. Setelah Khaliq lulus dari SD,
keluarganya hijrah ke Jakarta dan tinggal di sebuah perumahan yang strata
sosialnya rendah, Pademangan Barat, sekitar tahun 50-an.
Di saat itulah terjadi pertentangan antara ayah dan ibunya. Ayahnya
menginginkan ia masuk sekolah teknik dan tidak perlu masuk pesantren
karena di sana hanya cocok untuk orang tua sedangkan ibunya berpikir kalau
Khaliq tidak bersekolah di Pesantren, dasar moralnya bisa jelek karena
khawatir anaknya bisa terpengaruh oleh pergaulan yang buruk di sekitar
rumahnya.
Dengan pertimbangan inilah, orang tuanya sepakat mengambil jalan tengah
dengan menyekolahkan Khaliq di sebuah Pesantren di Cirebon lalu masuk
Madrasah Tsanawiyah kemudian Madrasah Aliyah. Selama 7 tahun di pesantren
itulah, Khaliq mendalami pendidikan agama dan pendidikan umum. Setelah
lulus, gurunya menyarankan agar ia melanjutkan kuliah ke IAIN, tapi apa
dikata ia sudah mempunyai rencana lain. Ia memutuskan kembali ke Jakarta
untuk ikut dalam Proyek Perintis IV bersaing dengan lulusan-lulusan SMA
memperebutkan Perguruan Tinggi Negeri.
Waktu itu, program persamaan Madrasah masih relatif baru dan banyak yang
meragukan mutu dan kemampuan lulusan Madrasah Aliyah dibandingkan dengan
lulusan SMA. Hal inilah yang membuatnya tertantang lalu ‘memberontak’
tidak mengikuti saran dari gurunya. Keputusannya ini ternyata tidaklah
salah. Dari 2500 pendaftar, ia menjadi bagian dari 250 orang yang diterima
di IKIP (UNJ - red) jurusan PMPKN (Pendidikan Moral Pancasila dan Moral
KewargaNegaraan). Kemenangannya ini membuat Khaliq bisa sedikit berbangga
hati karena ia berasal dari sekolah Madrasah Aliyah di kota kecil dan
sekaligus mengukuhkan namanya sebagai generasi kedua dari Madrasahnya di
Cirebon yang diterima di PTN melalui tes.
Sebagai mahasiswa baru, Khaliq mendapati kenyataan bahwa teman-temanya
berasal dari berbagai latar belakang etnik, agama dan budaya. Banyak di
antara mereka yang aktif di HMI, GMMI, PMKRI, GMKI, dan PMII. Berbekal
semangat, keberanian, rasa ingin tahu dan pengalaman bertemu tokoh-tokoh
politik yang memiliki jenjang akademis, Khaliq sangat menyukai
kuliah-kuliah yang sifatnya diskusi dan seminar dan sempat membuatnya
memandang remeh dosen dan kuliah yang hanya mengandalkan text-book.
Untung saja, sikapnya itu hanya perasaan sesaat saja yang merupakan bagian
dari proses pembelajarannya. “Ketika kita menemukan yang baru sering kali
kita melupakan yang lama, padahal untuk mengenal yang baru kita dapat
mengenalnya dari yang lama.” katanya menjelaskan.
Di IKIP, Khaliq menjadi Ketua Pengurus Mahasiswa Jurusan (PMJ), dipercaya
menjadi salah satu pengurus Senat Mahasiswa di Fakultas Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial jurusan PMPKN (Pendidikan Moral Pancasila dan Moral
Kewarga Negaraan), dan aktif di Dewan Perwakilan Mahasiswa.
Tidak puas dengan kegiatan di kampus, Khaliq aktif dalam berbagai kegiatan
di luar kampus. Perlahan namun pasti, Khaliq di awal kuliahnya memulai
kegiatan organisasinya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
sebagai anggota pada tahun 1981, hingga kemudian ia dipercaya menjadi
Ketua Umum PMII cabang Jakarta pada 1986-1987. Setahun kemudian ia
memutuskan untuk beristirahat. Setelah itu ia terpilih menjadi Sekretaris
Jenderal (Sekjen) pengurus besar PMII bersama dengan Bapak Alm. Iqbal
Assegaf sebagai ketua umum sampai tahun 1991.
Meskipun kuliahnya sempat molor karena lebih sering ‘mengorbankan’
kuliahnya, Khaliq tetap menikmatinya karena ia ingin mencapai sesuatu yang
lebih dibandingkan dengan mahasiswa yang lain. Menurutnya, ada dua kampus
yang dia jalani waktu itu. Kampus yang pertama adalah tempat meningkatkan
kemampuan analitik akademis dan kampus yang kedua adalah tempat di mana ia
memperoleh pendidikan dan latihan kepemimpinan.
Suatu ketika, ia pernah diperhadapkan pada dua pilihan antara mengikuti
ujian akhir semester atau mengikuti ‘momentum berharga’ Muktamar Alim
Ulama NU di Situbondo 1984. Karena merasa ia mungkin tidak akan punya
kesempatan lagi untuk untuk mengikuti ‘momentum berharga’ itu lima tahun
berikutnya, Khaliq memutuskan untuk tidak mengikuti ujian akhir semester.
Akibatnya, pada semester berikutnya ia tidak diperbolehkan mengambil mata
kuliah lebih dari 12 SKS dan harus mengulang beberapa mata pelajaran.
Masa perkuliahan mempunyai kenangan tersendiri baginya, sebuah kenangan di
mana ia berjuang ingin meraih kompetensi di bidang akademis dan kompetensi
di bidang kepemimpinan organisasi. Dalam kesehariannya sebagai mahasiswa,
tugas-tugas kuliah ia kerjakan bersama-sama dengan temannya di PMII dan
dalam menghadapi ujian, ia lebih sering menggunakan sistem kebut semalam (SKS)
dengan bekal bahan-bahan kuliah yang sudah difotokopi dari beberapa
temannya yang suka mencatat dan rajin masuk kuliah.
Sewaktu kuliah orang tuanya selalu menanyakan dua pertanyaan yang sulit
untuk dijawabnya. “Kapan kamu lulus?”, “Mau bekerja sebagai apa?” Kedua
pertanyaan ini tidak pernah ia jawab dan untuk menyudahi pertanyaan itu ia
sering kali hanya menjawab “Ya pokoknya nanti luluslah, kalau nanti kerja
ya jadi guru”.
Khaliq lulus secara administratif dari IKIP baru pada tahun 1988 karena
perbedaan pandangan dengan dosen pembimbing skripsinya. Hampir lebih dari
dua semester skripsinya terbengkalai, sedangkan teman-temannya yang lain
dalam waktu empat tahun sudah menyelesaikan masa kuliah.
Persis setelah lulus dari IKIP, ia bekerja dalam kegiatan penelitian yang
diadakan oleh Pusat Penelitian Pranata Pembangunan UI yang diketuai oleh
Rozi Munir selama setahun. Sebenarnya sejak lulus dari IKIP, Khaliq tidak
berniat melamar pekerjaan karena profesi sebagai guru sudah ia rangkap
semasa kuliah walaupun belum menjadi guru tetap. Diam-diam, Khaliq
menyimpan suatu keinginan untuk berperan lebih besar bagi bangsa ini
dengan terlibat dalam pengambilan keputusan sehingga ia bisa turut
memperjuangkan nasib guru.
Ketika keluarganya pindah ke Depok di awal tahun 80-an, orang tuanya
menyaksikan betapa ‘enaknya’ menjadi pegawai tetap Departemen Agama, yang
setiap pagi hendak berangkat dijemput dan kalau pulang diantar. Karena di
Depok kebanyakan PNS semua, orang tuanya menjadi terpengaruh dan
berkeinginan agar Khaliq juga menjadi pegawai tetap Departemen Agama yang
mendapat ‘fasilitas’.
Meskipun mengetahui keinginan orang tuanya ini, Khaliq tetap pada
pendiriannya tidak ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil karena melihat PNS
pada waktu itu tidak netral. Agar orang tuanya tidak kecewa, Khaliq
menyimpan sendirian keputusan dan keinginannya itu dan tidak pernah
menyatakan hal tersebut di hadapan orang tuanya.
Ijazah baru diambilnya tahun 1991 setelah 3 tahun dibiarkannya ‘berkarat’
di kantor TU IKIP karena sibuk dengan kegiatan partai. Padahal, bagi
kebanyakan orang, ijazah adalah gantungan hidup untuk bekerja. “Normal
karena itu sebagai sesuatu sarana untuk mendapat kehidupan yangg lebih
baik, bukan?” ujarnya menambahkan.
Ia ‘terpaksa’ mengambil ijazah tersebut untuk memenuhi syarat pembuatan
visa ke luar negeri. Supaya tidak dianggap tidak menghargai hasil jerih
payahnya dan tidak menghargai institusi IKIP, ia memilih memberikan alasan
bahwa ijazah itu diperlukannya untuk melanjutkan studinya ke Amerika.
“Dengan begitu petugas TU itu tidak sempat marah,” kenangnya sambil
terseyum.
Pada tahun 1992, Khaliq melanjutkan studi S2 di UI jurusan Program
Pengkajian Ketahanan Nasional (Program Kajian Strategis) untuk
meningkatkan kemampuan berpikir sistematis dan naik ke jenjang akademis
yang lebih tinggi. Namun karena padatnya kegiatan partai, ia terpaksa
menunda untuk sementara waktu penyelesaian studinya.
Setahun kemudian, tahun 1993, ayahnya tercinta meninggal. Dari ayahnya ia
mendapat suatu pelajaran yang tak akan pernah ia lupakan. “Kalau mau
menghargai diri sendiri hargailah orang lain, menghargai orang lain
berarti menghargai diri sendiri,” kata ayahnya. Contoh yang sederhana
adalah melalui cara berpakaian. Berpakaian rapih adalah wujud menghormati
orang lain, dan dengan sendirinya nanti, penghargaan yang sama juga akan
datang dari orang lain. Ayahnya juga mengajarkan agar menghargai pandangan
orang lain yang berbeda dan tidak terpancing emosi ketika ada yang
mengkritik atau berbeda pandangan politik. “Perbedaan pandangan adalah
sesuatu yang wajar dalam dunia politik, karena demokrasi itu syarat
kuncinya adalah Agree to disagree (setuju untuk tidak setuju, sepakat
untuk tidak sepakat)” ujarnya menekankan.
Aktif di PPP
Kiprahnya di dunia politik tidak lepas dari pengaruh ‘guru politik’ yang
dikenalnya semenjak 1989, Matori Abdul Djalil. Setahun setelah lulus dari
IKIP Jakarta, aktivis
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang mengenal dunia politik
semenjak tahun 1981 ini, bergabung dengan PPP atas ajakan Matori Abdul
Djalil yang pada waktu itu terpilih sebagai sekjen PPP dalam Muktamar PPP
di Ancol tahun 1989.
Di PPP, Khaliq bersama teman-temannya terlibat dalam penyusunan dua draft
rumusan konsep partai yaitu rumusan sukses pemilu PPP 1992 dan rumusan
pola dan sistem pendidikan dan pelatihan kader PPP. Pengalaman ini
menurutnya luar biasa karena ia menjadi salah satu konseptor program
sukses pemilu PPP 1992 padahal belum pernah ikut pemilu. Meskipun semenjak
tahun 1982 ia sudah mempunyai hak suara, ia tidak menggunakan haknya itu
karena melihat proses politik di Indonesia saat itu tidak fair dan tidak
memberi ruang bagi rakyat untuk mengartikulasikan kehendak dan aspirasi
politiknya. Baru pada tahun 1992, ia menggunakan hak suaranya bersamaan
dengan pelaksanaan program sukses pemilu PPP 1992. Dalam melaksanakan
tugasnya, Khaliq tidak menemui kesulitan yang berarti karena data-data
empiris yang diperolehnya dari berbagai arsip nasional dan arsip partai
dapat diolah dan dijadikan sebuah rumusan yang nantinya menjadi program
dan komitmen partai.
Selain ia membantu Matori dan DPP PPP dalam menyusun konsep-konsep partai,
ia juga membantu dalam hal penyusunan pidato politik dan makalah partai
bagi Sekjen dan Ketua Umum PPP. Ia mendapat kepuasan tersendiri dalam
mengerjakan tugas tersebut, karena ketika sang pemimpin berbicara kepada
publik dengan menggunakan bahan yang disiapkannya, itu sama saja dengan ia
sendiri yang sedang berbicara. Khaliq menyadari betul bahwa dalam dunia
politik, masyarakat lebih melihat siapa yang berbicara, bukan apa yang
dibicarakan. Jadi, walaupun sama-sama mengeluarkan konsep yang bagus,
namun karena yang satu keluar dari seorang tokoh politik kenamaan, yang
satu dari rakyat biasa, masyarakat pasti akan memilih mendengar pembicara
yang mempunyai nama.
Setelah bergabung dengan PPP selama 3 tahun, Khaliq dipilih menjadi bagian
dari dua orang delegasi yang dipilih oleh ketua partai untuk memenuhi
undangan dari American Council of Politic Leaders (ACOPL). Ia sadar betul
bahwa ia termasuk orang baru di PPP, sehingga ia sangat kaget ketika ketua
partai menunjuknya sebagai salah satu delegasi PPP yang akan mengikuti
program pertukaran pimpinan muda politik Amerika-Indonesia selama 3 minggu.
Program itu adalah pengalaman internasionalnya yang pertama. Di sana ia
dibekali pengetahuan dan wawasan melalui berbagai dialog dan diskusi
dengan pimpinan partai republik dan demokrat serta pemimpin-pemimpin muda
partai. Ia juga banyak berdiskusi dengan tokoh pers, bisnis dan LSM
Amerika. Pengalaman tersebut sangat memberikan andil bagi perjalanan
karirnya termasuk posisinya sekarang ini.
Setelah kembali ke Indonesia ia diminta oleh DPP PPP bergabung dalam tim
penyusun yang terdiri dari Sri Bintang Pamungkas, Saleh Halib, Aisyah
Amini untuk menyusun rancangan GBHN PPP. Berdasarkan hasil Pemilu, PPP
mendapatkan 61 kursi, sedangkan saat itu masih ada anggota MPR Perimbangan
yang diangkat langsung oleh presiden, sehingga berdasarkan undang-undang,
PPP mendapatkan jatah 30 kursi untuk anggota MPR Perimbangan dari unsur
partai.
Khaliq termasuk salah satu orang yang diangkat oleh presiden menjadi
anggota MPR. Setelah resmi menjadi anggota MPR, ia diminta oleh partainya
menjadi anggota Badan Pekerja MPR untuk periode 1992-1997. Teman-temannya
dalam BP-MPR adalah Jusuf Kalla, Abdul Latief, Harianto Darnotirto dan
lain-lain. Hal ini menambah pengalaman politiknya apalagi ia adalah
anggota MPR termuda saat itu, pada usia 31 tahun.
Di tahun 1992 pulalah Khaliq menikahi Etty Dalwiarti, yang kemudian
memberikannya dua orang anak yaitu Bagus Mustafa, lahir 15 Juli 1994 saat
menjelang muktamar PPP dan Adhi Muzakky, lahir 10 September 1998 saat ia
sedang berada di luar kota dalam kegiatan program pelatihan PKB. Ia
mengatakan merasa beruntung memiliki mertua yang sudah mengerti dan
memaklumi kesibukannya dalam dunia politik sehingga setelah anaknya lahir
ia bisa mempercayakan anaknya kepada mertuanya.
Jauh sebelum menikah, Khaliq menceritakan bahwa ia mempunyai pengalaman
yang unik bersama ayahnya yang selalu ‘gatal’ menanyakan kapan ia akan
menikah. Suatu kali, Khaliq mengajak ayahnya dari Depok ke Kebon Baru,
Tebet tanpa memberitahu maksud dan tujuannya. Merasa saatnya sudah tepat
dan ingin membuat kejutan, Khaliq berkata, “Pak, lamarkan saya.” “Loh,
udah mau kawin?” tanya ayahnya sedikit kaget. Akhirnya di Kebon Baru,
Tebet, Khaliq dan ayahnya datang ke rumah calon mertua melamar Etty
Dalwiarti untuk menjadi isterinya.
Pada bulan September 1992, calon mertuanya bertanya, “Kapan menikahnya?”.
Khaliq menjawab dengan jawaban politis, “Ya akhir tahunlah Pak.” “Akhir
tahun itu kapan, Desember atau November?” tanya calon mertuanya.
Pertanyaan itu membuat ia harus berpikir keras bagaimana cara menjawab
yang benar karena waktu itu ia tidak punya uang sebab sebagai anggota MPR
waktu itu, ia hanya menerima honorarium sebesar 350 ribu rupiah per bulan.
Setelah dipikirkan dengan matang, pernikahan akan dilangsungkan 29
November 1992.
Khaliq dilantik menjadi anggota MPR 1 Oktober 1992 lalu diangkat menjadi
anggota Badan Pekerja MPR pada tanggal 3 Oktober. Mulai dari tanggal 4
Oktober hingga bulan Desember, Khaliq harus masuk base camp bekerja
mempersiapkan materi sidang umum MPR 1993 dan terpaksa menginap di hotel.
Karena tanggung jawab ini Khaliq tidak bisa maksimal dalam persiapan
pernikahannya. Untung saja, ia mempunyai teman-teman dari PMII yang
membantu mempersiapkan pernikahannya.
Pada hari H akad nikahnya, beberapa petinggi partai ikut hadir. Matori
Abdul Djalil menjadi wali dan istri Matori melakukan Seserahan sedangkan
Ismail Hasan Metareum membawakan khotbah nikah. Baginya, hari
pernikahannya adalah hari yang sangat berkesan karena beberapa petinggi
partai menjadi bagian dari sejarah hidupnya, dan karena itu ia sangat
menghormati mereka.
Perjalanan karir politiknya terus berlanjut ketika diadakannya suksesi PPP
melalui Mukatamar PPP pada tahun 1994 yang diadakan di Pondek Gede. Karena
sejak awal yang merekrutnya masuk PPP adalah Matori, maka ia mengambil
pilihan untuk mendukung penuh Matori dalam bersaing dengan calon-calon
lain.
Namun sayangnya, perjuangan Matori terhenti oleh suatu ‘ketentuan’ yang
menyatakan bahwa siapapun yang menjadi pimpinan partai harus mendapat
restu dari Soeharto. Karena berseberangan dengan Soeharto, hasil akhirnya
sudah dapat diduga, Matori kalah dalam bursa calon pimpinan umum PPP dan
ketua umum yang lama kembali terpilih.
Bersamaan dengan momentum Muktamar PPP, Khaliq dengan beberapa teman
mendirikan sebuah lembaga kajian yang disebut sebagai ISIS (Institute for
Sosial Institutions Studies). Lembaga ini merupakan lembaga advokasi
politik dan pelatihan-pelatihan politik terhadap anggota DPRD dan pengurus
partai khususnya PPP yang memiliki kemampuan lebih, di mana mereka
nantinya akan ditempatkan di posisi strategis intelektual dan managerial.
“Dan alhamdulillah, ISIS masih tetap berjalan hingga saat ini, dan lebih
berfokus kepada advokasi dan pelatihan politik.” katanya penuh syukur.
Sejak awal ISIS mendapat dukungan donor dana dari dua lembaga yaitu The
Asian Foundation (TAF) dari Amerika dan FNS dari Jerman.
Yayasan Kerukunan Persaudaraan Kebangsaan (YKPK)
Kemudian sejalan dengan mengerasnya kemauan Soeharto untuk tetap bertahan
memegang kekuasaan di negeri ini, Khaliq membantu Matori dan teman-teman
mendirikan Paguyuban yang diberi nama Yayasan Kerukunan Persaudaraan
Kebangsaan (YKPK) pada tahun 1996. Ia memilih bergabung bersama Matori
karena Matori adalah seorang figur yang memiliki idealisme dan bukan
pragmatis. Berdasarkan pengalamannya, orang yang idealis tidak akan
menyakiti orang lain, sedangkan orang yang pragmatis cenderung hidup untuk
dirinya sendiri dan tidak peduli kepada orang lain. Ia kagum kepada Matori
karena melihat Matori memiliki pendirian yang kuat tetapi tetap terbuka
untuk bernegosiasi. Sebagai orang yang teguh memegang prinsip, Matori bisa
bergaul dengan kalangan manapun. Kualitas inilah yang membuatnya untuk
terus memajukan partai bersama-sama dengan Matori.
Di YKPK, Bambang Triantoro, mantan Sekjen Dekdikbud dan mantan Kasospol
ABRI menjabat sebagai Ketua Umum sedangkan Matori sebagai Sekretaris Umum
Yayasan banyak dibantu oleh Khaliq dalam berbagai kegiatannya.
YKPK muncul sebagai bentuk perlawanan politik terhadap pemerintahan
Soharto yang berperan aktif agar gerakan reformasi semakin solid di tengah
masyarakat. YKPK menyelenggarakan Sarasehan Nasional untuk membahas
isu-isu politik dan sosial ekonomi dengan melibatkan berbagai tokoh bangsa
seperti Kwiek Kian Gie, Siswono Yudohusodo, Jakob Tobing, Wijarnako
Kuswoyo, Marzuki Darusman, dan lain-lain serta berbagai tokoh dari
berbagai golongan lintas suku, agama dan warna politik.
YKPK juga secara aktif mendukung gerakan mahasiswa yang menyerukan adanya
perubahan kepepimpinan nasional hingga pada puncaknya, 21 Mei 1998, YKPK
turut mendukung kawan-kawan mahasiswa berdemo di gedung DPR/MPR. Di
tengah-tengah proses reformasi yang semakin tidak jelas arahnya saat ini,
YKPK tetap terlibat dan tidak menjadi penonton atau penumpang gelap
seperti kebayakan orang yang mengaku reformis tetapi sebenarnya merupakan
bagian dari unsur yang perlu direformasi. “Kita tahulah siapa orang-orang
itu,” tegasnya.
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Sejak Mei 1998 NU mengadakan diskusi intensif dengan Matori Abdul Djalil.
Dalam diskusi tersebut muncul 3 pendapat: Apakah NU perlu membuat partai
politik tertentu, Apakah NU dijadikan partai politik, atau Apakah
komunitas NU yang ada dalam partai tertentu tetap tinggal di partainya
masing-masing?
Akhirnya diputuskan bahwa komunitas politik NU perlu memiliki partai
politik sendiri. Atas inisiatif dari Kyai Haji Cholil Bisri,
dikumpulkanlah para Kyai dan para tokoh politik NU untuk bertemu di
Rembang, yang kemudian terkenal dengan sebutan Pertemuan Rembang, termasuk
di dalamnya Matori Abdul Djalil sebagai penggagas awal lahirnya PKB. Pada
waktu itu, muncul berbagai nama seperti partai kebangkitan rakyat, partai
kebangkitan ummat dan lain-lain.
Matori, KH Cholil Bisri dan beberapa Kyai lain membentuk suatu tim yang
akan mempersiapkan lahirnya partai baru ini. Sebagai seorang muda, Khaliq
menghormati yang tua dan melakukan tanggung jawabnya dengan baik sebagai
pencatat Notulen, merumuskan hasil-hasil kesepakatan pertemuan dan nama
partai dalam Pertemuan Rembang.
Tim dari Rembang kemudian menyusun rapih rumusan teks deklarasi dan AD/ART
untuk dimatangkan kembali di Semarang, Malang dan Bandung. Di Bandung,
selain kelompok Pertemuan Rembang, hadir pula seluruh kelompok yang ada
dalam komunitas NU.
Semua aspirasi kemudian disalurkan kepada PBNU sebagai institusi yang
perlu memfasilitasi lahirnya partai baru. Hasil kerja keras tim dari
Rembang melahirkan usulan yang hampir sempurna dan memudahkan PBNU dalam
menentukan AD/ART.
Dalam proses pemilihan calon-calon pengurus, PBNU mengalami tarik-menarik
pendapat mengenai siapa yang akan mengisi kepengurusan di partai. Maka
dibuatlah sebuah persyaratan bahwa yang menjadi pengurus adalah mereka
yang sudah lama berkecimpung dalam dunia politik dan memiliki kemampuan
dalam berpolitik. Matori maju sebagai Ketua Umum dan Khaliq membantu
menyusun nama-nama pengurus pusat yang pertama, dan hampir 90% nama yang
diusulkannya terpilih.
Pada tanggal 23 Juli 1998 di Ciganjur, PKB dideklarasikan dan Khaliq
dipilih menjadi Ketua Bagian Pendidikan dan Pelatihan PKB, di mana saat
itu ia sedang bertugas memberikan pelatihan kepada kader PKB di Sulawesi
Selatan. Menjelang Pemilu, Khaliq berkeliling di 13 provinsi untuk
memberikan pelatihan kepada kader-kader PKB.
Khaliq menjadi fungsionaris PKB sejak muktamar luar biasa tanggal 14-16
Januari 2002. Dalam memajukan partai, ia mempunyai tiga tolak ukur.
Pertama adalah meningkatkan kinerja partai PKB. Dalam mengukur kinerja,
ada 2 indikator yang harus diperhatikan, indikator internal dan indikator
eksternal. Secara internal apakah ada kemajuan yang berarti dari sisi
kepemimpinan partai entah itu secara konsep, manajerial, dan perilaku
dibandingkan dengan periode sebelumnya. Sedangkan secara eksternal, apakah
partai PKB lebih baik daripada partai-partai lain pada saat sekarang entah
itu dari penampilan dan cara mengungkapkan visi dan misi partai.
Menurutnya partai-partai yang dianggap sebagai sparing-partner dalam
mengukur kinerja adalah partai-partai yang memenuhi treshold terutama
partai-partai pemenang pemilu.
Kedua adalah meningkatkan kualitas kader dengan dua pendekatan, pendekatan
intelektual dan pendekatan operasional. Pendekatan intelektual lebih
kepada meningkatkan wawasan, meningkatkan kemampuan manajerial dan
kepemimpinan yang didukung oleh pendekatan operasional yang berorientasi
pada komitmen dan kepedulian sosial. Kedua pendekatan ini diperlukan untuk
menghindari munculnya kader-kader yang hanya bisa berpikir tetapi tidak
mampu mengimplementasikannya atau kader-kader yang hobi jalan tetapi
kepalanya kosong. “Partai memerlukan kader-kader yang dapat berpikir dan
terjun ke lapangan”, katanya tegas. Untuk mencapai hal ini diperlukan
pelatihan kader yang berkesinambungan.
Ketiga adalah meningkatkan aliansi strategis, sebab persoalan bangsa ini
sangat besar dan kompleks dan tidak dapat diselesaikan oleh satu atau dua
partai, golongan atau kelompok saja, namun diperlukan kerjasama dari
seluruh komponen bangsa termasuk kalangan pers, LSM, perguruan tinggi,
petani, guru dan sebagainya.
Khaliq berharap jika ketiga hal ini dapat dikerjakan dengan baik, bukanlah
tidak mungkin PKB akan menjadi pemenang dalam pemilu mendatang. “Demi
tujuan itu, kita bekerja keras untuk menjadikan PKB menjadi pilihan rakyat,”
katanya.
Masalah Bangsa
Menanggapi tentang persoalan yang dihadapi bangsa ini, Khaliq sangat
menekankan pentingnya menghargai perbedaan. “Fakta yang ada sekarang
adalah bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang masyarakatnya plural dan
majemuk, jadi dengan demikian, bagi saya kehidupan mendasar dalam
masyarakat yang perlu dikembangkan oleh kita sebagai satu bangsa adalah
harus bisa menghargai perbedaan yang ada, oleh karena itu setiap prinsip
penyeragaman, penyatuan pendapat, dan proses yang mengarah serba disatukan,
saya tidak sepakat,” katanya dengan tegas.
Ia melihat bahwa setiap pribadi memiliki individualitas dan hak pribadi
yang harus dihargai oleh pribadi lain. Jadi individualitas itu penting,
oleh karenanya tidak boleh ada penyeragaman. Ia mengambil contoh budaya
Minang dan budaya Jawa. Kedua budaya ini berbeda namun memiliki titik temu
yaitu demokrasi. Dalam kebudayaan Minang setiap orang dianggap sama,
sehingga di dalam kebudayaan Minang tidak ada yang namanya tingkatan
bahasa sedangkan dalam kebudayaan Jawa terdapat tingkatan namun setiap
orang memiliki hak untuk berbicara di depan umum. Jadi, jika ia merasa
tidak puas atau protes terhadap hal-hal yang menyangkut dirinya, itu
diperbolehkan. Kenyataan seperti ini memberikan kesadaran bahwa kita tidak
dapat melakukan penyeragaman.
Makanya ia sangat menyambut baik otonomi daerah yang memberikan kesempatan
kepada daerah untuk mengembangkan potensinya masing-masing sesuai dengan
karakteristik budaya, sosial politik dan ekonominya. “Jadi tidak boleh ada
lagi tindakan penyeragaman nama, misalnya di Jawa menggunakan kata desa,
dan di Sumatera harus desa, ya gunakan saja nama yang sesuai dengan
tradisi daerah setempat,” katanya.
Meskipun secara sosial Indonesia adalah bangsa yang plural, ia
mengingatkan bahwa Indonesia sebagai suatu bangsa harus mempunyai suatu
komitmen yang sama sehingga komitmen itu bisa menjaga dan memelihara
subkultur yang ada di Indonesia. Wujud komitmen itu adalah Pancasila
sebagai dasar negara, dan bentuk negara, negara kesatuan. Dua hal inilah
yang menjadi komitmen bersama yang tidak akan pernah berubah. Demikian
juga dengan sikap NU sebagai bagian dari bangsa ini tetap berkomitmen dan
menyatakan bahwa Pancasila dan negara kesatuan adalah final, tidak boleh
lagi bergeser. “Sampai kapan pun dasar negara ini harus Pancasila dan
bentuk negara ini harus Negara Kesatuan.” katanya penuh keyakinan.
Menurutnya, ada dua pekerjaan besar yang harus diselesaikan oleh bangsa
ini. Pertama, pemulihan ekonomi dan yang kedua, integrasi bangsa yang
semakin kokoh. Baginya, gerakan reformasi dimulai oleh karena bobroknya
keadaan ekonomi, yang kemudian menimbulkan ancaman disintegrasi bangsa
seperti yang terjadi Aceh dan Papua yang merasa tidak mendapat keadilan
dari pemerintah. “Jadi, jika sebuah partai ingin memenangkan pemilu tanpa
melihat tugas utama bangsa ini, saya kira itu akan menjadi benih yang pada
akhirnya membawa bangsa ini kepada krisis yang terus berkepanjangan.”
katanya sembari menutup wawancara. (Atur, Anis, Yusak)
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|