| |
C © updated 28112005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti |
|
| |
Judul Buku:
Tiga Jejak Seni Pertunjukan Indonesia
Rendra, Sardono W Kusumo, Slamet A Sjukur
Penulis:
Bakdi Soemanto, Sal Murgiyanto, dan Dieter Mack
Penyunting:
Tommy F Awuy
Penerbit:
Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia
Cetakan:
Pertama, 2005
Isi:
viii + 232 halaman
Harga:
Rp 45.000
Resensi:
Yayat Suryatna
|
|
| |
|
|
|
|
| RESENSI BUKU |
|
|
 |
Resensi Buku
Jejak Tiga Maestro Seni Pertunjukan
Indonesia memiliki banyak seniman berbakat dan mampu menorehkan namanya
dengan tinta emas di panggung seni pertunjukan nasional maupun
internasional. Tiga di antara seniman besar itu dibahas dalam buku ini
yaitu Rendra, Sardono W Kusumo, dan Slamet A Sjukur.
Rendra selain dikenal sebagai penyair ternama Indonesia juga merupakan
pelaku seni teater modern di Indonesia. Jika kita melihat sosoknya pada
masa sekarang, kita tidak akan menyangka bahwa untuk menjadi seorang
maestro—barangkali ini tidak terlalu penting baginya—ia harus hidup
bersusah payah untuk bertahan dan berkarya dalam arti yang sebenarnya.
Dengan kepahitan itulah, ia menjadi tahan banting dan sanggup
menerima berbagai hambaan dan rintangan, dan akhirnya kalangan seni
teater pun mentasbihnya sebagai salah satu tokoh penting seni
pertunjukan Indonesia, di samping sebagai sosok seorang penyair kawakan.
Bakdi Soemanto yang menulis tentang Rendra memaparkan, pilihannya
sebagai seniman telah dipertimbangkannya termasuk risikonya. Hal itu
dikemukakan ketika sang ayah mengatakan bahwa kepandaian olah seni tidak
bisa menjamin seseorang memperoleh pendapatan yang cukup. Namun, Rendra
membantahnya dengan mengajukan fakta bahwa empu Panuluh, empu Sedah,
Ranggawarsito, Yosodipura, dan lain-lain juga bisa hidup sebagai
seniman. Mendengar jawaban itu, sang ayah mengingatkan bahwa zaman telah
berubah. Para empu itu bisa hidup karena mereka dilindungi oleh patron
seni, yang pada saat sekarang tidak lagi terjadi (hlm. 5).
Pada waktu remaja, Rendra telah menulis lakon Orang-orang di Tikungan
Jalan, yang tidak bercerita tentang remaja, melainkan tentang
orang-orang kesepian dan percintaan yang berantakan akibat berbagai
sebab (hlm. 9). Djoko yang ikut berperang dikabarkan gugur namun
menjalin hubungan dengan perempuan lain, Surati sang kekasih jatuh cinta
ke orang lain, dan ketika Djoko kembali dicap berkhianat. Lakon ini
merupakan embrio dari lakon-lakon protes sosial yang ditulisnya
kemudian. Hal itu tergambar pula dalam puisi-puisi yang terbit kemudian
seperti Nyanyian Angsa dan Bersatulah Pelacur-Pelacur Ibu Kota.
Sebagai seniman, Rendra membuat karya yang begitu dekat atau bahkan
menggambarkan kondisi masyarakat sekelilingnya. Ia berada, terlibat,
dengan keadaan masyarakat di sekeliling, dan melakukan kegiatan
menggraita, yaitu menangkap, meraba dengan tangan, mata dan telinga
batin, fenomena yang ada di sekeliling. Ia juga harus berlatih
mendengarkan the sound, bahkan, the voice of silence yang dalam bahasa
Jawa disebut swaraning asepi... bisikan sang sunyi (hlm. 11-12).
Pada saat menjelang berakhirnya kekuasaan Orde Lama, seniman yang tidak
ingin berada dalam tekanan penguasa melakukan gerakan perlawanan yang
dikenal dengan Manifes Kebudayaan. Rendra termasuk di dalamnya.
Menandatangani Manifes jelas bukan tanpa risiko. Mereka akan ditekan
oleh pemerintah dan orang-orang komunis. Majalah Sastra dibredel.
Pertunjukan dan kegiatan seni diawasi dan disensor amat ketat. Hal itu
membuat penyair yang dikenal dengan “si Burung Merak” itu kesulitan
untuk berekspresi dan mencari penghasilan. Beruntung ada seorang
direktur bank, I Nyoman Muna, mempersilakan Rendra dan kawan-kawan
tampil di hall kantornya. Lakon yang dipentaskan adalah lakon ringan
seperti Pinangan karya Anton Chekov. Pertunjukan itu tidak ada hambatan.
Namun, karena tidak ada publikasi, pernah sebuah pertunjukan dalam satu
malam hanya ditonton delapan orang (hlm. 21).
Setelah mempelajari seni teater di Amerika Serikat, bersama Moortri
Purnama, Azwar AN, Chaerul Umam, dan Bakdi Soemanto, Rendra mendirikan
Bengkel Teater, yang bertempat di Ketanggungan Wetan. Ia tampaknya telah
menemukan kesadaran baru bahwa teater harus dipelajari secara lebih
suntuk. Teater harus digarap dengan manual yang lebih sistematik,
terutama persiapan untuk calon-calon aktor. Dipilihnya nama Bengkel
Teater, walaupun sebenarnya merupakan terjemahan dari Workshops of
Theatre. (hlm. 24)
***
Pilihan untuk menjadi seorang penari dan penata tari barangkali bukanlah
pilihan utama bagi sebagian besar laki-laki di muka bumi. Apalagi, masa
depan seni tari plus penarinya yang tidak semua orang melihatnya sebagai
masa depan yang cerlang-cemerlang. Namun, Sardono W. Kusumo atau biasa
disapa Mas Don menapaki jalur penari, yang dimulai sebagai penari
tradisi Jawa hingga kemudian berkembang menjadi salah satu penari dan
penata tari garda depan Indonesia. Dengan kemampuannya sebagai penata
tari, ia menyampaikan berbagai pandangan dan gagasannya melalui tarian.
Jurnalis Seno Gumira Ajidarma menulis, karya tari Mas Don adalah sebuah
esai tentang kehidupan yang penuh bahan renungan.
Mas Don berasal dari sebuah keluarga priyayi Jawa yang modern. Pada usia
8 tahun ia disuruh belajar silat oleh ayahnya. Tiga tahun kemudian, ia
diperkenalkan (diwajibkan) belajar menari. Oleh guru tarinya, R. Ng.
Atmo Kesowo, ia hanya boleh belajar menari alusan, yaitu karakter tari
yang lembut (hlm 39). Maka, dapatlah dibayangkan betapa bingung atau
tergagapnya ia ketika gurunya menugaskan ia harus memerankan peran
Hanuman yang kasar dan tak pernah dipelajarinya dalam pementasan
sendratari Ramayana Prambanan.
Sal Murgiyanto menulis, sebagai penari, Mas Don, selain memiliki teknik
dan kepekaan rasa, ia juga memiliki kreativitas dan intelijensia.
Sardono bukan saja memahami apa yang telah terjadi dengan berbagai seni
tradisi Indonesia, mengetahui kekuatan dan kelemahannya, tetapi juga
mampu membaca wacana seni pertunjukan dunia dengan sama baiknya (hlm.
34).
Kreativitas dan intelijensia itu pula yang membuatnya melahirkan karya
Samgita Pancasona yang dipentaskan di auditorium RRI Surakarta tahun
1969. Lakon itu berdasarkan petikan kisah Ramayana yakni pertempuran
antara Sugriwa dan Subali. Namun kali ini dibawakan dengan berbeda.
Ia bermaksud meluaskan batas toleransi artistik dan budaya masyarakat
Indonesia dengan mendekonstruksi tembang Jawa yang didendangkan penari
diiringi gamelan sederhana namun tidak ada dialog yang mudah dimengerti.
Belum lagi kostum penari yang kelewat sederhana. Di sini ia membawakan
tari klasik Jawa dengan tidak lagi menghibur, tidak gemerlap, dan
memaksa penonton berpikir. Bagaimana respon penonton? Telur busuk pun
melayang ke atas panggung! (hlm. 36-37).
Pengalaman itu tidak membuat Mas Don gentar dan berhenti berkarya. Ia
terus berkarya dan tetap menjaga visinya untuk dekat dengan masyarakat.
Hutan Plastik merupakan refleksinya atas penebangan liar hutan di
Kalimantan dan menyengsarakan penduduk asli di sana, yakni Suku Dayak.
Refleksi atas kehidupan sehari-hari dituangkan dalam karyanya Prosesi
Kartini (2000) yang dimainkan di istana Mangkunegaran, Solo. Mas Don
menampilkan figur Kartini bukan hanya sebagai wanita-wanita Indonesia
yang berpendidikan tinggi dan berhasil meniti karier, tetapi juga
ibu-ibu pedesaan dan wong cilik yang setiap hari berjuang keras demi
sesuap nasi untuk menghidupi keluarganya (hlm. 73).
Apa yang dilakukan Mas Don itu adalah upaya untuk menyadarkan masyarakat
tentang panggung dan kehidupan. Selama ini di atas panggung tari yang
tampil adalah tokoh-tokoh ideal seperti dewa-dewi, wanita cantik yang
terdidik, atau priyayi, sementara wong-cilik seperti “petani, buruh, dan
pekerja” seakan tidak pernah hadir di dalam kehidupan. Mereka itulah
yang diangkat Mas Don ke atas mimbar (hlm. 74).
***
Tubuh Slamet A Sjukur tidaklah dapat dikatakan besar, namun ia telah
melakukan kerja yang luar biasa bagi perkembangan musik kontemporer
Indonesia. Dieter Mack dalam buku ini menulis profil dan karya-karya
besar Slamet. Slamet nyaris tidak memiliki darah seni dari orangtuanya.
Hanya agar Slamet lebih banyak tinggal di rumah lah orang tuanya
membelikan dia sebuah piano, yang mana dengan piano itu Slamet dapat
berlama-lama tinggal di rumah.
Alasan lainnya, ketidaksempurnaan kaki Slamet akibat kesalahan medis,
membuatnya akan menjadi bahan permainan kawan-kawannya dan inilah yang
ingin dihindari orangtuanya. Tentu saja, tanpa kemauan dan kerja keras
dari Slamet sendiri, keberadaan piano di rumah tidak akan mendorongnya
menjadi seorang musisi besar.
Guru pertama kali Slamet dalam belajar piano adalah D. Tupan, seorang
pianis yang secara rutin bermain piano di stasiun radio Belanda di
Surabaya. Kemudian ia belajar musik kepada guru lainnya. Ketertarikannya
dengan musik membuatnya masuk ke Sekolah Musik Indonesia (SMIND) yang
kemudian berubah nama menjadi Akademi Musik Indonesia (AMI) dan Institut
Seni Indonesia (ISI).
Tahun 1962 Slamet pergi ke Paris dengan maksud belajar musik. Dia
tinggal di sana hampir selama 14 tahun. Untuk menafkahi hidupnya, ia
menjadi pemain piano di berbagai sekolah balet (hlm. 107).
Tahun 70-an Slamet pulang ke tanah air dan ia pun mengajar “Teori Musik”
dan “Komposisi” di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Di kampus calon
seniman ini ia pernah memimpin program musik, sampai akhirnya
dikeluarkan pada tahun 1987 dengan alasan yang tidak jelas (hlm. 108).
Sejak tahun 2000, Slamet kembali ke dunia pendidikan. Akan tetapi kali
ini, dia bisa mengajar tanpa syarat-syarat apa pun, yaitu di program
studi pascasarjana “Penciptaan” di STSI Surakarta. Di sekolah itu,
kurikulum tidak dibuat oleh para pejabat di tingkat nasional, melainkan
seniman-seniman, ilmuwan-ilmuwan serta pecinta seni terkemuka (hlm.
112).
Berdasarkan data dari berbagai publikasi resmi, daftar karya Slamet
sangat bervariasi, terutama mengenai karya-karya pada awal karirnya.
Mack menulis, Slamet tidak mengingat semua aktivitasnya pada zaman dulu.
Lebih-lebih lagi diceritakan bahwa beberapa partitur telah hilang. Bagi
Slamet, fase garapan sebuah karya selalu merupakan proses menyeluruh
yang amat lama dan mendalam. Akan tetapi, justru dengan demikian
kelihatan Slamet masih sangat kuat terikat dengan tradisi yang khas
Indonesia (hlm.114). Padahal, Slamet terdidik dalam pola pendidikan
musik Barat dan nyaris tidak berhubungan dengan musik tradisi. Namun,
dalam konteks kreativitas, ia mampu menjembatani khazanah musik dan
melakukan dialog transkultural.
Tanda terbaik dari keberakaran Slamet adalah begitu dekat sikapnya
dengan cara kerja sama dan cara pementasan karya musiknya yang sudah
biasa di kebanyakan budaya etnik musik Indonesia. Sebuah karya baru
lahir dalam konteks praktiknya sendiri. Dengan demikian, kelahiran karya
tersebut juga sebagian besar merupakan hasil tawaran serta interaksi
antarmusisinya yang sedang melatih atau akan mementaskannya (hlm. 118).
Sebab bagi Slamet, keterlibatan musisi atau tanggung jawab diri para
musisi itu merupakan salah satu aspek terpenting dalam estetikanya, baik
partiturnya ditulis secara bebas maupun secara mendetail (hlm. 120).
Sedikit catatan, atas beragam karyanya yang berhasil diciptakan,
ternyata Slamet lebih banyak mendapat penghargaan (barangkali juga
pengakuan) dari luar negeri. Mungkinkah ini terjadi karena Slamet begitu
lama tinggal di luar negeri (selama 14 tahun) sehingga namanya tidak
begitu akrab dengan mereka yang berada di dalam negeri?
***
Berdasarkan catatan perjalanan tiga orang maestro seni pertunjukan
Indonesia itu, dapatlah dikatakan bahwa untuk menjadi seorang seniman
yang unggul, harum namanya dan memiliki karya yang bernilai tinggi,
tidak cukup hanya dengan niat dan terjadi dalam waktu singkat. Pencarian
tema, perluasan wawasan, dan pemahaman akan kehidupan dilakukan setiap
waktu tanpa henti dan tanpa mengenal lelah. Ruang-ruang dialog dengan
diri sendiri dan lingkungan di sekitarnya, serta refleksi atas kehidupan
yang terjadi senantiasa dibuka untuk menyerap dan terlibat dalam
berbagai perubahan yang senantiasa terjadi.
Berbagai hambatan yang dihadapi seperti pengucilan, penolakan karya,
bredel, izin pertunjukan yang tidak kunjung diberikan, hanyalah ujian
kecil yang justru memperkuat tekad para maestro itu untuk terus berkarya
dan menghasilkan karya yang lebih baik. Kita telah melihat, upaya untuk
menjadi maestro itu tidak mudah. Tetapi, ternyata bisa dilakukan. Semoga
jejak langkah mereka menjadi inspirasi bagi lahirnya maestro Indonesia
seni di masa mendatang. ►e-ti/yayat suryatna
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|