ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
Search     A   B     D     F       I       L     N   O   P   Q   R   S     U     W     Y   Z
OPINI
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
C © updated 150303
 
INDEX BERITA   

garis

:::::: Berita garis

:::::: Wawancara garis
:::::: Opini
garis
:::::: Editorial
garis
:::::: Resensi
garis
:::::: Leadership
garis
:::::: Selamat HUT
garis
:::::: Pernikahan
garis
:::::: In Memoriam
garis
:::::: Sebelumnya
garis
:::::: Redaksi
garis

 
garis
garis

 

Arief Budiman

Membaca Peta Pemilihan Presiden 2004


PARTAI Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) baru saja mengumumkan bahwa ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri, akan menjadi calon partai ini untuk pemilihan presiden tahun 2004. Dengan adanya pengumuman ini, maka perlombaan untuk meraih jabatan kenegaraan tertinggi di Indonesia dimulai. PDI-P memang tidak punya calon lain. Partai ini terbentuk karena adanya pendukung-pendukung Partai Nasional Indonesia (PNI) lama yang bernaung di bawah karismanya Bung Karno. Inilah yang mempersatukan macam-macam kelompok yang ada di PDI-P. Karisma ini sekarang diperagakan oleh putrinya, Megawati. Siapa lagi yang akan muncul untuk menjadi calon presiden pada tahun 2004 nanti?

Berbeda dengan Megawati, Amien Rais belum punya lembaga yang kuat yang akan mendukungnya. Partai Amanat Nasional (PAN), dengan hanya perolehan suara sebesar 8 persen pada Pemilihan Umum (Pemilu) 1999, tampaknya masih terlalu lemah untuk dijadikan sebagai kendaraan dalam mencapai tujuan ini. Kecuali kalau Amien Rais bisa mempersatukan PAN dengan kekuatan partai-partai Islam.

Tiga kekuatan

Kalau melihat data Pemilu 1999, maka kita lihat adanya tiga kekuatan besar. Pertama PDI-P dengan persentase perolehan suara 33,8 persen. Kemudian Partai Golkar sebanyak 22,5 persen. Dan akhirnya gabungan partai-partai Islam (Partai Kebangkitan Bangsa/PKB, Partai Persatuan Pembangunan/PPP, PAN, Partai Keadilan/PK, dan Partai Bulan Bintang/PBB) yang jumlah keseluruhan suaranya mencapai 33,7 persen.

Akan tetapi, partai-partai Islam ini tampaknya sulit untuk dipersatukan. Paling sedikit dalam keadaan politik yang sekarang. PKB dengan suara 12,6 persen berbasiskan Nahdlatul Ulama (NU), sedangkan partai-partai Islam lain didominasi oleh orang-orang Muhammadiyah. Kedua kelompok Islam terbesar di Indonesia tersebut sampai pada saat ini tampaknya masih sukar dipersatukan meskipun harus diakui di bawah para pemimpinnya yang sekarang, hubungan keduanya sudah lebih mendekat.

Kalau saja hasil Pemilu 2004 kira-kira sama dengan tahun 1999 (kelihatannya memang akan begitu), maka dari ketiga kelompok ini, PDI-P tampaknya memang masih merupakan partai yang paling besar dan utuh. Golkar sedang dilanda skandal korupsi Akbar Tandjung, yang sampai sekarang belum jelas bagaimana penyelesaiannya. Akbar Tandjung- yang punya pengalaman matang dalam berorganisasi sejak di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dulu- tampaknya masih menguasai partai ini sehingga masih besar kemungkinannya dia akan bertahan sebagai ketua. Akan tetapi, dengan pimpinan orang yang oleh pengadilan telah divonis bersalah dalam menyalahgunakan uang negara, partai ini pasti akan mengalami masalah dalam membangun citranya.

Adapun partai-partai Islam masih terpecah-pecah. Partai-partai ini memang mungkin dipersatukan pada tahun 2004 kalau ada orang yang cukup berwibawa dan bisa membuat sebuah platform politik cukup luas yang bisa mempersatukan PKB dan PPP serta PAN.

Amien Rais-yang dulu berhasil membentuk Poros Tengah untuk membendung terpilihnya Megawati sebagai presiden- merupakan orang yang punya bakat untuk melakukan ini. Tetapi, pada waktu itu memang ada isu cukup kuat yang mempersatukan mereka, yakni masalah kedudukan perempuan sebagai pemimpin dalam Islam. PKB, yang pada waktu itu cukup kritis dalam menghadapi isu ini, akhirnya bergabung karena pemimpinnya, Gus Dur, diajukan sebagai calon presiden oleh poros ini. Entah, apakah Amien masih cukup banyak akalnya untuk mengulang kesuksesannya membentuk Poros Tengah II kali ini.

Kalau penggabungan kekuatan partai-partai Islam ini bisa terbentuk, maka ada tiga ke kuatan politik yang akan bertanding untuk pemilihan presiden tahun 2004 nanti, yaitu PDI-P, Golkar, dan Poros Tengah II ini.

Para calon presiden

PDI-P sudah pasti akan menjagokan Mega sebagai presidennya. Maka sekarang PDI-P cuma perlu memilih, partai mana yang akan dijadikan pasangannya.

Tampaknya, kemungkinan untuk merangkul Poros Tengah II lebih kecil. Karena, kalau Poros Tengah II ini terbentuk, hampir dapat dipastikan dengan persentase suara yang hampir sama besarnya dengan PDI-P, kelompok ini akan lebih ingin meraih jabatan presiden bagi dirinya, bukan hanya sekadar wakil presiden. Ditambah lagi, ada hambatan ideologis kalau kelompok ini mau menjadi wakil dari seorang pemimpin yang berjenis kelamin perempuan.

Kerja sama antara PDI-P dan Golkar lebih mungkin karena tampaknya untuk tahun 2004- dengan masa lalu yang berlumuran dosa-Golkar masih perlu "mandi" untuk membersihkan noda-noda Orde Baru-nya. Jabatan presiden bagi Golkar hanya akan membuka luka lama saja. Sebaliknya, jabatan wakil presiden akan sangat lebih tepat bagi partai ini untuk menyelenggarakan come back politiknya. Mungkin pada pemilihan tahun 2009, pada saat ingatan orang terhadap kebobrokan pemerintahan Orde Baru sudah mulai terlupakan, Golkar dapat mencoba kembali untuk meraih jabatan presiden.

Alhasil, bagi Golkar, tawaran jabatan wakil presiden ini akan sangat menarik. Pada tahun 1999, gabungan suara dari kedua partai ini (PDI-P dan Golkar) mencapai 56,3 persen. Jadi, bisa diharapkan, angka tersebut cukup untuk merebut mayoritas mutlak.

Akan tetapi, tentu saja, kalau Poros Tengah II terbentuk, kelompok ini juga akan mencoba merangkul Golkar dengan tawaran yang sama: kursi wakil presiden. Tawaran ini akan menarik karena kedua kelompok ini akan menciptakan gabungan antara kekuatan Islam dan sekuler di pucuk pimpinan tertinggi bangsa ini. Gabungan kedua unsur ini diharapkan akan menciptakan pemerintah yang lebih stabil karena polarisasi antara kelompok Islam dan kelompok sekuler bisa dihindarkan.

Apakah Amien Rais akan menjadi calon presiden kelompok ini? Menurut perhitungan saya, mungkin tidak. Alasan saya, meskipun Amien dibutuhkan untuk mempersatukan kekuatan-kekuatan Islam dalam membentuk Poros Tengah II, tetapi tampaknya ketidaksukaan orang-orang NU terhadap dirinya cukup mendalam. Sukar dibayangkan kalau PKB mau dipersatukan dalam Poros Tengah II di bawah pimpinan Amien Rais. Kemungkinan besar, peran Amien hanyalah sebagai "the king maker". Dia sendiri akan harus menyerahkan posisi kepemimpinan Poros Tengah II kepada orang lain yang lebih akseptabel bagi pihak-pihak yang dipersatukan, terutama bagi PKB.

Tergantung siapa yang jadi tokoh perekat Poros Tengah II ini, Golkar akan menerimanya atau meminta orang lain untuk diajukan sebagai calon presiden. Kalau tokoh ini terlalu tebal keislamannya, mungkin Golkar akan meminta tokoh Islam lain yang lebih "sekuler". Orang seperti Nurcholish Madjid mungkin akan lebih bisa diterima oleh Golkar. Apalagi tokoh ini cukup populer sehingga harapan untuk memenangkan jadi lebih besar.

Kesimpulan

Pertama, kalau perhitungan di atas benar, kemungkinan yang paling besar adalah bahwa Megawati maju lagi dengan dukungan Golkar yang akan mendapatkan jatah kursi wakil presiden. Mega membutuhkan suara Golkar, dan Golkar membutuhkan proses ini untuk melakukan come back politiknya di tahun 2009 nanti. Kedua partai ini juga punya pendukung yang sejenis, yakni orang-orang yang berorientasi sekuler/nasionalis.

Kelemahan dari duet ini adalah akan terjadinya polarisasi antara pemerintah yang sekuler dan oposisi yang Islam. Hal ini bisa diperkecil kalau di dalam kabinet nanti, ada departemen-departemen yang diberikan kepada tokoh-tokoh Islam sebagai imbangan.

Kedua, kemungkinan untuk PDI-P bekerja sama dengan kelompok partai-partai Islam tampaknya lebih sukar terjadi. Pertimbangannya, yang pertama, karena belum tentu Poros Tengah II bisa terbentuk seperti pada tahun 1999. Yang kedua, kalaupun Poros Tengah II terbentuk, ada kesulitan ideologis bagi kelompok-kelompok Islam untuk bekerja sama dengan seorang pemimpin perempuan. Yang ketiga, para pendukung PDI-P yang merupakan kelompok Islam abangan alias "kejawen" akan sulit menerima ideologi Islam, terutama yang fundamentalis. Juga mungkin masih ada perasaan "dendam" di kalangan PDI-P pada pemilihan presiden yang lalu, di mana Megawati-yang sudah hampir jadi presiden-dijegal oleh Poros Tengah I sehingga Gus Dur berhasil menjadi presiden.

Ketiga, akhirnya kemungkinan kerja sama Golkar dengan Poros Tengah II. Kalau ini sampai bisa terjadi, maka kekuatan inilah yang merupakan kekuatan satu-satunya yang bisa membatalkan kemungkinan Megawati jadi presiden.

Kemungkinan ketiga ini memang lebih sukar terjadi meskipun bukan sesuatu yang mustahil. Kemungkinan ini bisa jadi kenyataan kalau ada isu kuat yang membuat orang keberatan menerima Megawati sebagai presiden lagi. Misalnya, kalau pemerintahan Megawati membuat skandal besar yang membuat marah banyak orang. Sampai sekarang, orang cuma sekadar kecewa atas kepemimpinan Megawati yang sangat pasif.

Kalau koalisi Golkar dan Poros Tengah II ini terjadi, ada kemungkinan kita akan mendapatkan presiden yang punya latar belakang keislaman yang kuat, tetapi juga berorientasi sekuler. Apakah ini berarti kita akan punya presiden yang ideal, yang lebih baik dari Megawati? Semua ini memang masih belum jelas.

*** Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Arief Budiman Ahli sosiologi, kini bekerja di Universitas Melbourne, Australia, dari Kompas 13 Maret 2003

  

Megawati Sukarnoputri

Mbak Pendiam itu Emas

Diam (tak banyak bicara) itu emas, akhir-nya menjadi suatu kekuatan bagi Megawati. Kendati, mendapat tekanan dan rintangan bahkan caci-maki, dia tetap diam dan sabar. Buahnya, ia pun berhasil mengga-pai singgasana Presiden RI ke-5. Setelah menjabat presiden, ia pun tetap tak banyak bicara. Tampaknya, ia tak mudah terombang-ambing. Puteri Bung Karno ini pun semakin sulit ditebak.

 

 PROFIL

M. Jusuf Kalla

Tokoh Utama Perdamaian Malino

Peng-usaha sukses dan kader Golkar ini justru berkibar dalam era reformasi. Dia memang seorang tokoh yang dinilai ‘ber-sih’ dan dapat diterima semua golongan. Tak heran bila putera kelahiran Watampo-ne, Sulawesi Selatan ini mendapat kesem-patan menjabat menteri. Ia pun menjadi tokoh utama perdamaian Malino. Namanya pun disebut-sebut sebagai salah seorang kandidat calon presiden 2004.

 

  PROFIL

Nurcholis Madjid

Cendekiawan Muslim Milik Bangsa

Dr. Nur-cholish Madjid (Cak Nur) meru-pakan ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Ia cendekiawan muslim milik bangsa. Gagasan tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual muslim terdepan. Terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemorosotan dan ancaman disintegrasi bangsa.

 

Prof. Dr. M. Amien Rais

‘King Maker’ Pentas Politik Nasional  

Kiprah Prof. Dr. M. Amien Rais dalam pentas politik nasional cukup fenomenal. Kendati Partai Amanat Nasional (PAN) yang dipimpinnya, hanya mendapat tujuh persen suara pada pemilu 1999, ia mampu mewarnai peta politik nasional dan nyaris pula jadi presiden pada SU-MPR 1999. Dan, kini ia menjadi salah satu kandidat kuat calon presiden 2004. Pada awal bergulirnya reformasi, ia didaulat sebagai Bapak Reformasi dengan pernyataan-pernyataannya yang keras. Di tengah derasnya tuntutan desentralisasi, ia pula yang menggagas agar Indonesia menjadi negara federasi.

 

 

Copyright © 2002-2003 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero