| |
C © updated 09072005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/jawa pos |
|
| |
Nama:
Agus Harimurti Yudhoyono dan Annisa Larasati Pohan
Nikah:
Jakarta, 9 Juli 2005
Agama:
Islam
|
|
| |
|
|
|
|
| PERNIKAHAN |
|
|
 |
Agus Harimurti Yudhoyono dan Annisa Larasati Pohan
Menyaksikan Tiga Hari Anak Presiden Jadi Raja...
Kompas 10/7/2005:
Puncak acara menjadikan Agus Harimurti Yudhoyono dan Annisa Larasati Pohan sebagai
raja dan ratu dilakukan
hari Sabtu di halaman belakang Istana Bogor, yang dibangun di lahan
seluas 28 hektar pada masa Baron van Imhoff sebagai tempat
peristirahatan tahun 1745. Baron menyebut tempat peristirahatan itu
Buitenzorg yang artinya ”terlepas dari kesulitan”.
***
Sugeng Hariyanto (51) duduk termangu di tepi parit tak terurus Jalan
Senopati No 8, Jakarta Selatan, Jumat (8/7) siang lalu. Berita di Warta
Kota yang kerap dibelinya mengantarnya ke keramaian akad nikah Letnan
Satu (Inf) Agus Harimurti Yudhoyono dan Annisa Larasati Pohan.
”Pengin lihat gimana pesta nikah anak Presiden,” ujar pemulung itu yang
sehari-hari mengais rezeki di sekitar Jalan Senopati.
Sugeng berbaur dengan ratusan warga Kampung Senayan yang tinggal secara
ilegal tepat di tanah kosong di depan rumah megah mantan Deputi Bank
Indonesia Aulia Tantowi Pohan, besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Tanpa perlawanan, ratusan warga Kampung Senayan yang berprofesi sebagai
pemulung, pedagang nasi goreng, dan pedagang batagor rela memindahkan
gerobak mereka saat pegawai kelurahan minta mereka menjauh beberapa hari.
”Kami maklum, namanya juga hajatan. Apalagi yang hajatan pejabat tinggi.
Dua hari sebelum akad nikah, kami sudah pindah ke dalam biar enggak
kelihatan. Tahu dirilah,” ujar Asep Sugandi (47), yang lahir dan
menjalani hidupnya di Kampung Senayan.
Tidak berapa lama, iring-iringan panjang kendaraan roda empat lengkap
dengan pengawalannya memecah keriuhan warga Kampung Senayan yang
berbondong datang sambil mengendong anak mereka menyaksikan acara akad
nikah.
Setelah iring-iringan berhenti di Jalan Senopati yang sudah ditutup
untuk umum sehari sebelumnya, Agus dengan wajah berbinar keluar dari
sedan limusin hitam mengilap milik rumah tangga kepresidenan. Warga
Kampung Senayan berdecak kagum sambil menerawang memandang.
Gending Bindri lantas dialunkan. Pembawa acara meminta para hadirin
menghadap ke pintu masuk untuk menyambut Agus yang disebutnya sebagai
Sang Raja. Agus, yang mengenakan pakaian adat Yogyakarta, masuk ke rumah
calon istrinya dengan diantar pamannya, Hadi Utomo. Di dalam rumah yang
telah ”dibungkus” tenda megah dan luas berpendingin telah menunggu Wakil
Presiden Jusuf Kalla dan mantan Gubernur BI Arifin M Siregar sebagai
saksi serta Kepala Kantor Urusan Agama Kebayoran Baru Anwar Saadi
sebagai penghulu.
Undangan telah memenuhi rumah ketika akad nikah Annisa dan Agus
dilakukan dengan wali nikah, ayah Annisa. Ketika minta dinikahkan dan
dikawinkan dengan Agus, Annisa terisak. Sementara saat menyerahkan emas
kawin seperangkat alat shalat dan uang Rp 872.005, Agus mengucapkannya
dengan cepat dan lantang dalam satu tarikan napas.
Pembawa acara memecah ketegangan acara akad nikah dengan berujar,
”Hadirin boleh tepuk tangan kok...” Dan riuh tepuk tangan pun memecah
ketegangan. Dari layar televisi yang di tempatkan di sejumlah sudut
ruangan, terlihat wajah Annisa dan Agus berseri-seri setelah resmi
menjadi istri dan suami.
Warga Kampung Senayan yang berdiri berimpitan di depan layar televisi
turut bertepuk tangan sambil tersenyum lega.
Selesai akad nikah, Presiden dan Ny Ani Yudhoyono dengan pakaian adat
Yogyakarta dari Istana Merdeka datang ke rumah besannya. Setelah
rangkaian acara sungkeman, wejangan pernikahan dari KH Abdullah
Gymnastiar, dan acara singkat adat Sumatera Utara, mangulosi, Presiden
Yudhoyono menghampiri puluhan wartawan yang menunggu di Jalan Senopati.
Terlepas dari kesulitan
Puncak acara menjadikan Annisa dan Agus sebagai ratu dan raja dilakukan
hari Sabtu di halaman belakang Istana Bogor, yang dibangun di lahan
seluas 28 hektar pada masa Baron van Imhoff sebagai tempat
peristirahatan tahun 1745. Baron menyebut tempat peristirahatan itu
Buitenzorg yang artinya ”terlepas dari kesulitan”.
Untuk membuat ribuan undangan istimewa datang menghadiri acara resepsi
pernikahan di halaman belakang Istana Bogor, seluruh aparat telah
sepakat membuat para undangan ”terlepas dari kesulitan”.
Suasana Kota Bogor dari pagi sampai petang cukup cerah.
Jalan menuju Istana Bogor dan jalan di seputar Istana Bogor direkayasa.
Angkutan Kota yang selama ini menjadi sumber kesulitan bagi pengendara
lain dialihkan jalurnya sejak petang. Sistem buka tutup juga diterapkan
semata-mata demi membuat para undangan istimewa dan tentu saja tuan
rumah ”terlepas dari kesulitan”.
Seusai jumpa pers, prosesi resepsi pernikahan di halaman belakang Istana
Bogor yang megah dan luas dengan penyejuk ruangan berlimpah dimulai dari
halaman depan berupa prosesi Pedang Pora oleh taruna Akademi Militer.
Tamu-tamu istimewa, seperti para pejabat dan mantan pejabat negara serta
duta besar, telah memenuhi Istana Bogor menyaksikan prosesi militer itu.
Di ruang resepsi telah siap puluhan jenis makanan dan minuman nusantara
yang didatangkan dari empat katering Jakarta. Di panggung belakang
berhadapan dengan pelaminan, Purwacaraka bersama orkestranya bersiap
mengiringi beberapa artis kelas atas, seperti Ahmad Dhani, Krisdayanti,
dan Ruth Sahanaya.
Raja memang berhak mendapatkan semua yang istimewa-istimewa. Selamat
berbahagia. Kekal abadi selamanya.... Begitu doa Sugeng dan warga
Kampung Senayan. (INU/RTS/PUN) ►e-ti
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|