Keppres UKP3R 'Diendapkan'
Tim Marsillam Hanya 18 Hari
Jakarta 04/11/06: Baru 35 hari dibentuk dan 18 hari bekerja, Unit Kerja
Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R) harus keluar dari
istana. Kemarin tim ahli pimpinan Marsillam Simanjuntak itu
dinonaktifkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Keputusan
tersebut diambil setelah SBY melakukan pertemuan empat mata dengan Wakil
Presiden Jusuf Kalla.
"Presiden dan saya sepakat bahwa dalam kabinet sudah ada koordinasi yang
built in (matang). Jadi, tidak diperlukan lagi (lembaga) koordinasi yang
lain," kata Wapres Jusuf Kalla usai membuka Rakornas Lembaga Pemenangan
Pemilu Partai Golkar di Hotel Menara Peninsula Jakarta kemarin. Sebelum
datang ke acara Golkar itulah, Wapres menghabiskan waktu 2 jam 45 menit
di Istana Kepresidenan.
Pertemuan SBY dan Kalla itu digelar mendadak. Berdasar informasi dari
Kantor Wapres, SBY menelepon Kalla pukul 08.00. Saat itu SBY meminta
Kalla hadir ke kantornya untuk membicarakan masalah UKP3R yang dibentuk
pada 29 September melalui Keppres Nomor 17 Tahun 2006.
Kalla hadir di istana pukul 11.00 dengan mengenakan kemeja biru muda dan
langsung masuk ke Kantor Presiden yang berada di antara Istana Negara
dan Istana Merdeka. Pertemuan tersebut digelar tertutup. Bahkan,
wartawan yang biasa meliput di istana pun diberi informasi bahwa acara
SBY kemarin intern. Biro Pers dan Media Rumah Tangga Kepresidenan juga
tidak bersedia memberikan ID Card harian bagi wartawan yang akan masuk
ke istana.
Tepat pukul 12.00, kedua pemimpin itu keluar dari Kantor Presiden untuk
salat Jumat di masjid istana. Keduanya tampak ingin terlihat mesra di
depan para wartawan. SBY dan Kalla menaiki bogie (mobil golf) dari
Kantor Presiden ke Masjid Baiturrahim yang berjarak sekitar 500 meter.
SBY sendiri yang menyetir bogie. Kalla duduk di sebelah SBY. Keduanya
terlihat berbicara serius selama perjalanan.
Menurut keterangan pegawai istana, baru pertama selama menjadi Wapres,
Kalla salat Jumat di Istana Kepresidenan. Usai salat Jumat, teater
kemesraan SBY-Kalla dilanjutkan kembali. Kali ini penumpang bogie-nya
bertambah. SBY tetap menyetir, Kalla juga tetap duduk bersebelahan
dengan SBY. Di belakang mereka, duduk Staf Khusus Presiden untuk Urusan
Timur Tengah Alwi Shihab.
Pertemuan SBY dan Kalla kemudian dilanjutkan dengan makan siang. Kali
ini bertiga dengan Alwi Shihab. Menunya ikan balado, tahu, daging, dan
sup kacang merah. Pertemuan lanjutan itu berakhir pukul 13.45 karena
Kalla harus menghadiri acara Partai Golkar di Hotel Peninsula.
Tidak ada keterangan pers baik dari presiden maupun wakil presiden
terkait pertemuan tersebut. Baru setelah acara Partai Golkar di Hotel
Peninsula, Kalla "membocorkan" hasil pertemuannya dengan SBY.
Menurut Kalla, dalam tubuh Kabinet Indonesia Bersatu telah ada
kesepakatan tentang pembagian tugas mengoordinasikan kinerja
pemerintahan. Presiden mengoordinasikan kebijakan pemerintah dan wakil
presiden bertugas mengoordinasikan implementasi kebijakan pemerintah
yang digariskan presiden.
"Sedangkan urusan koordinasi teknis pemerintahan yang lebih detail
dilakukan menteri koordinator," papar Kalla.
Dalam pasal 4 Keppres 17/2006, UKP3R mendapat tugas dan kewenangan yang
cukup besar dalam membantu tugas presiden. Fungsi UKP3R dalam keppres
itu, antara lain, membantu presiden menetapkan sasaran perubahan dan
prioritas pencapaian kemajuan yang harus dilakukan dalam waktu tertentu,
membantu presiden menemukan kelemahan dalam pelaksanaan program dan
reformasi serta cara mengatasinya, menampung saran dan keluhan
masyarakat dan dunia usaha.
Selain itu, UKP3R ditugaskan memantau dan menganalisis kelemahan
pelayanan publik yang terjadi serta membantu presiden menetapkan
perbaikan mutu administrasi publik dan pelaksanaan pembaruan tata kelola
pemerintahan.
Pembentukan unit kerja baru tersebut memantik kontroversi. Di kalangan
pengamat, itu merupakan bentuk ketidakpercayaan presiden kepada para
menteri. Dari parpol, Partai Golkar paling menentang kehadiran Tim
Marsillam tersebut.
Ketua Dewan Penasihat DPP Partai Golkar Surya Paloh pada Kamis (2/11)
menyatakan, masalah UKP3R akan menjadi salah satu agenda dalam Rapimnas
Partai Golkar 13 November mendatang. Menurut dia, SBY berhak membentuk
tim kepresidenan yang dibutuhkan. Namun, Golkar terkejut karena UKP3R
dibentuk tanpa memberi tahu Kalla sebagai wapres.
"Itu menjadi masalah dan bisa berdampak politis tertentu," jelas Paloh.
Tekanan Partai Golkar itulah yang diyakini menjadi alasan SBY
menonaktifkan tim Marsillam tersebut.
Sumber di Istana Wakil Presiden mengungkapkan, pembekuan UKP3R diikuti
larangan atas kehadiran Marsillam Simanjuntak serta dua deputinya,
Letjen TNI (pur) Agus Widjojo dan Edwin Gerungan, dalam sidang-sidang
kabinet. Marsillam yang juga mantan jaksa agung pada era Presiden
Abdurrahman Wahid tersebut juga tidak diperkenankan melanjutkan rapat
koordinasi dengan kementerian negara maupun lembaga pemerintah
nondepartemen. Sejak dinyatakan mulai bekerja 16 Oktober lalu, Marsillam
beberapa kali ikut hadir dalam sidang kabinet.
Meski setuju membekukan UKP3R, Kalla mengaku bahwa belum ada keputusan
pencabutan keppres pembentukan UKP3R. Sebab, SBY masih akan mengkaji
langkah guna menindaklanjuti hasil pertemuan dengan Kalla. "Itu soal
teknis saja," ujarnya.
Kalau Kalla blak-blakan soal penundaan pengaktifan UKP3R, SBY justru
berusaha menutupi. Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng
menyatakan, SBY sengaja mengundang Kalla untuk menjelaskan keberadaan
UKP3R.
"Banyak spekulasi yang berkembang di luar. Agar tidak menimbulkan salah
paham, presiden membicarakannya dengan wapres. Suasananya hangat dan
tidak ada masalah. Itu hal yang biasa," ungkapnya.
Kepada Kalla, kata Andi, SBY menjelaskan bahwa keberadaan UKP3R tidak
mengubah apa pun tentang peran serta tugas presiden, wapres, menko,
maupun menteri kabinet. Semua tetap berjalan seperti biasa.
Secara teknis, jelas dia, UKP3R membantu presiden dalam hal-hal yang
diperlukan presiden, yakni memantau dan mempercepat jalannya agenda
reformasi. "Jadi, saya ulangi, keberadaan unit kerja tersebut tidak
mengubah apa pun, kecuali secara teknis membantu hal-hal tertentu,"
tegas alumnus Fisipol UGM tersebut.
Andi juga membantah bahwa pembentukan UKP3R itu tidak dikomunikasikan
dengan Kalla. "Komunikasi antara presiden dan wapres berjalan intensif.
Tidak harus bertemu langsung, tapi bisa telepon setiap saat," kata
lulusan Universitas Northern Illinois, AS, tersebut.(Indopos,4 November
2006)
**************
Presiden-Wapres
Sepakat Tak Ubah Koordinasi
Jakarta, 4 November 2006: Setelah beberapa hari jadi polemik di media massa,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memanggil Wakil Presiden Jusuf Kalla
untuk menjelaskan Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program
Reformasi yang baru saja dibentuknya.
Penjelasan itu diberikan, antara lain karena pembentukan UKP3R tidak
melibatkan Wapres. Pertemuan itu, berlangsung di ruang kerja Kantor
Presiden, Jakarta, Jumat (3/11).
Selain memberi penjelasan mengenai UKP3R yang diketuai Marsillam
Simandjuntak, pertemuan mendadak itu dilakukan untuk menunjukkan kepada
publik atas harmonisnya hubungan kedua pemimpin.
Usai pertemuan empat mata, kedua pemimpin muncul berdua dengan mobil
golf yang dikemudikan Presiden menuju Masjid Baiturahman untuk shalat
Jumat. Selama dua tahun pemerintahan, ini kesempatan pertama kedua
pemimpin shalat Jumat bersama di masjid di kompleks Istana Kepresidenan.
Setelah pertemuan dan shalat Jumat bersama, Presiden dan Wapres kembali
ke ruang kerja masing-masing untuk makan siang.
Isi pembicaraan empat mata tertutup itu disampaikan juru bicara
kepresidenan Andi Mallarangeng yang tak ikut serta dalam pertemuan.
Dalam jumpa pers, Andi mengemukakan, "Presiden menjelaskan kepada Wapres
tentang UKP3R yang kini hangat dibicarakan di mana-mana."
Menurut Andi, kepada Wapres, Presiden menegaskan UKP3R tidak mengubah
peran dan tugas Presiden, Wapres, menteri koordinator, maupun seluruh
anggota kabinet. UKP3R juga tidak mengkoordinasikan tugas-tugas menteri.
UKP3R dibutuhkan Presiden untuk memantau dan mempercepat jalannya agenda
reformasi.
Dalam pertemuan juga dibahas langkah-langkah pemerintah di bidang
ekonomi setelah melihat indikator ekonomi makro ekonomi yang terus
membaik. Menurut Andi, Presiden juga memberi tugas khusus kepada Wapres
untuk membantu mengendalikan komitmen investasi yang selama ini telah
dilakukan pemerintah dengan sejumlah pihak.
Sementara itu saat ditanya hasil pertemuan, Wapres Jusuf Kalla
menyatakan, dirinya dan Presiden Yudhoyono sepakat bahwa koordinasi
untuk menjalankan tugas-tugas pemerintahan sudah menyatu dalam kabinet.
Karena itu tidak dibutuhkan lagi koordinasi lain seperti dari UKP3R yang
dipimpin Marsillam Simandjuntak.
"Saya dan Presiden tentu sepakat bahwa dalam kabinet itu sudah ada
koordinasi yang built-in, yaitu saya mengkoordinasikan tugas-tugas yang
implementatif dan hal-hal yang detail. Sedangkan para Menko
mengkoordinasikan para menterinya, sehingga tidak dibutuhkan koordinasi
lainnya dari mereka (UKP3R)," ujar Kalla menjawab pers, seusai
memberikan pengarahan pada pembukaan Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis)
Lembaga Pemenangan Pemilu (LPP) Partai Golkar di Jakarta, Jumat.
Namun, perihal Keputusan Presiden Nomor 17 tahun 2006 yang mendasari
terbentuknya UKP3R, Kalla menegaskan, Keppres-nya tidak dicabut.
"Presiden akan mempelajari lagi lebih lanjut Keppres-nya secara teknis,"
tambah Kalla, tanpa merinci.
Sebelumnya, Kalla sempat tidak mau menjelaskan mengenai hasil
pertemuannya ketika pers menanyakan pertemuannya dengan Presiden
Yudhoyono di Kantor Presiden, Kompleks Istana. Namun, setelah didesak,
Wapres akhirnya menjawab.
Jelaskan ke Golkar
Seusai meladeni pers, Kalla melakukan pertemuan dengan sejumlah pengurus
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar. Menurut salah seorang pengurus
Golkar, yang tak mau disebut namanya, pada intinya masalah UKP3R sudah
diselesaikan bersama Presiden Yudhoyono. Presiden dan Wapres sepakat
tetap menjalankan peran yang telah disepakati sebelumnya. "Kehadiran
UKP3R tidak dibutuhkan. Namun, karena Keppres terlanjur diterbitkan,
maka Keppres itu untuk sementara diendapkan dulu," ujarnya.
Dalam pertemuan, Wapres menjelaskan, Presiden Yudhoyono tidak punya
maksud untuk tidak mengajak Wapres saat memutuskan pembentukan UKP3R.
Bahkan, Presiden juga tidak menduga kalau personil UKP3R kemudian
dianggap menimbulkan masalah bagi Partai Golkar.
"Wapres menyatakan UKP3R adalah hak prerogatif Presiden. Masalahnya
bagaimana jika UKP3R menimbulkan masalah baru seperti adanya spekulasi
lembaga itu akan menggusur lembaga kepresidenan sendiri, seperti
Sekretaris Wapres, Sekretariat Negara, Sekretaris Kabinet. Juga
menimbulkan dugaan adanya keretakan hubungan Presiden dan Wapres,"
tambahnya.
Kalla juga sempat mengingatkan Presiden Yudhoyono mengenai komitmen
dasar mereka ketika mereka bergabung menjadi calon Presiden dan Wapres
sebelum kampanye calon Presiden dan Wapres.
Namun Wakil Ketua Umum Golkar Agung Laksono lebih diplomatis saat
ditanya reaksinya. "Sebagian memang kecewa. Tapi sikap Golkar akan
ditentukan dalam Rapim Golkar," ujar Agung, usai pembukaan Musyawarah
Nasional XV Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, Kamis (2/12)
malam.
Bubarkan UKP3R
Sementara, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadyah Din Syamsuddin, Jumat
pagi menyatakan prihatin dengan terbentuknya UKP3R. Pasalnya, selain
tidak melibatkan Wapres dalam pembentukannya, keberadaan UKP3R juga bisa
mengganggu kinerja pemerintahan serta bisa menimbulkan keretakan
"dwitunggal" Presiden Yudhoyono dan Wapres Kalla
"Apalagi ada dugaan orang-orang di UKP3R hanya berasal dari kelompok
tertentu. Demi keutuhan dan kekompakan pemerintahan, UKP3R sebaiknya
dibubarkan. Memang itu pilihan sulit buat Presiden, tapi saya kira agar
kinerja pemerintahan tak terganggu, itu pilihan terbaik, " ujar Din yang
datang ke Istana Wapres secara mendadak, dan tak tercantum di agenda
Wapres.
Sebaliknya, Wakil Sekretaris DPP Partai Persatuan Pembangunan Lukman
Hakim Saifuddin berpendapat sikap Partai Golkar terhadap UKP3R merupakan
tidak berdasar. "Alasan itu tidak logis. Aneh jika Wapres
keberatan.Terlebih lagi kalau alasannya adalah subyektif dan personal
karena Ketua UKP3R Marsillam Simandjuntak pernah memusuhi Golkar." kata
Lukman.
Ketua MPR Hidayat Nur Wahid mengingatkan, pembentukan UKP3Rhendaknya
bukan untuk kepentingan Pemilu 2009. "Saya setuju jika lembaga itu
bertujuan menguatkan hubungan antarlembaga dan kementerian yang sudah
ada. Tapi jangan memperuwet hubungan dan bukan untuk kepentingan
pemilu," ujar Hidayat Nur Wahid di kampus FISIP Universitas Indonesia
Depok, Jumat (3/11) sore
Tak Perlu Emosional
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Muladi mengingatkan,
partai politik tidak perlu emosional menanggapi pembentukan UKP3R.
Karena, unit kerja itu tidak lebih merupakan lembaga ad hoc, yang
bersifat sementara, dan setiap saat bisa dibubarkan. “Partai tidak perlu
emosional menanggapi pembentukan UKP3R itu. Tetapi, di sisi lain
Marsilam Simandjuntak dan anggota UKP3R jangan terlalu percaya diri dan
over acting dalam melaksanakan tugasnya, sehingga melebihi kewenangan
menteri koordinator atau Wapres yang juga punya kewenangan melakukan
pengawasan," kata Muladi, Jumat (3/11) di Semarang.
Menurut Muladi, UKP3R merupakan lembaga yang bersifat ad hoc, sampai
Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Kementerian Negara dan RUU tentang
Dewan Penasihat Presiden yang saat ini dibahas DPR, diundangkan. “Dalam
era demokratisasi seperti sekarang, memang mestinya tidak perlu lagi ada
lembaga bersifat ad hoc. Pemerintah harus memanfaatkan lembaga yang
ada," tegas Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang
itu. "Tapi sebelum ada UU yang mengatur lebih rinci, bisa saja Presiden
membentuk lembaga baru," tambahnya.
Walaupun demikian, Muladi mengakui, UKP3R bisa menjadi terapi kejut
(shock therapy) terhadap anggota Kabinet Indonesia Bersatu. Presiden
tampaknya “meragukan" kinerja sejumlah menteri dalam melakukan
pengelolaan reformasi, sehingga dibentuk lembaga lain untuk
mengawasinya. Pembentukan UKP3R ini bisa saja berujung dengan
dilakukannya reshuffle kabinet.. (Kompas 4 November 2006) e-ti |
|
|
|