Pasca Tsunami H-31
Sekolah Dimulai Kembali
Banda Aceh, 27/1/05: Satu bulan setelah benca gempa dan tsunami
melanda Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara (Nias),
sekolah-sekolah dibuka kembali. Pencanangan kembali dibukanya sekolah di
NAD dan Nias dilakukan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang
Sudibyo di sekolah tenda di Markas Korem 012 Teuku Umar, Alue Penyareng,
Kecamatan Meureubo, Meulaboh, Aceh Barat dan di Simeulue Timur, Kamis
26/1/05.
Kendati belum ada kegiatan belajar mengajar, hari pertama sekolah itu
berjalan cukup baik. Guru-guru pada hari pertama itu umumnya hanya
mendata siswa-siswa yang mendaftar ulang dan anak-anak dari sekolah lain
yang datang untuk belajar. Hari pertama sekolah di Banda Aceh juga
diwarnai kesedihan karena sejumlah murid tidak masuk sekolah lagi karena
tewas atau hilang ditelan gempa dan tsunami. Banyak anak- anak yang
menangis begitu mengetahui kawan sebangku atau sekelasnya tidak ada lagi.
Tidak semua penyelenggaraan sekolah bisa dilakukan di bangunan sekolah,
tapi sebagian di sekolah-sekolah darurat di sejumlah kawasan. Sebagian
besar siswa, khususnya yang tinggal di lokasi pengungsian, tidak
mengenakan seragam merah-putih, bersandal jepit dan tanpa membawa
peralatan sekolah.
Sementara di pengungsian Sekolah Calon Tamtama Kodam Sultan Iskandar Muda
di kawasan Mataie, kegiatan belajar berlangsung di alam terbuka. Siswa
dari TK hingga SLTP duduk beralas plastik, di bawah pohon, tanpa kursi,
tanpa papan tulis. Anak-anak menulis di sebilah tripleks, berkaki kawat
yang biasa digunakan sebagai meja gambar anak-anak. Mereka tetap antusias
mengikuti pelajaran. Selain guru yang tersisa, kegiatan mengajar
dilakukan sejumlah relawan.
Seusai pencanangan, Mendiknas menjelaskan, pemerintah menerapkan
kurikulum khusus untuk sekolah dasar dan menengah di NAD dan Nias.
Kurikulum itu merupakan gabungan kurikulum formal dan tambahan, seperti
kegiatan bermain dan konseling untuk mengatasi trauma akibat tsunami.
Dalam dua-tiga bulan ini, kegiatan sekolah akan didominasi
konseling guna menstabilkan jiwa siswa pascatsunami.
Sementara, untuk mengatasi kekurangan guru, pemerintah akan memberdayakan
2.800-an guru di seluruh NAD yang belum mendapat penempatan. Ke-2.800
guru itu berstatus calon pegawai negeri sipil dan guru bantu. Pemerintah
juga menyediakan Rp 370 miliar untuk membangun kembali sistem pendidikan
di NAD dan Nias.
Ada juga sekolah yang belum ada guru tetap yang datang. Sehingga kegiatan
yang dilakukan hanya pendaftaran dan tahlilan di tenda. Sebab,
ruang-ruang kelas belum bisa digunakan karena kotor setelah sebulan
dijadikan lokasi pengungsian.
Menurut catatan Departemen Pendidikan Nasional, bangunan sekolah yang
rusak, termasuk madrasah, di NAD mencapai 765-1.100 unit. Sebanyak 12
gedung sekolah masih dipakai untuk pengungsi. Untuk mengisi kekurangan
gedung, dibangun 140 sekolah darurat di tenda-tenda di seluruh NAD. *e-ti/tsl
|