A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  B E R I T A
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Opini
 ► Editorial
 ► Resensi
 ► Leadership
 ► Berita KIB
 ► Berita Tsunami
 ► Berita 2003
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 

 


 
Bantuan Aceh

BHN Jepang, Islamic Relief dan Mer-C


Banda Aceh 12/2/05: Posko Kominfo-LIN NAD menginformasikan kunjungan dua anggota BHN-NGO dari Jepang, Mr. Fumio Kaneko dan Mr. Akihide Tomoda ke Banda Aceh (9-12 Pebruari 2005). Juga kegiatan Islamic Relief di Aceh dan dioperasionalkannya kembali Rumah Sakit Malahayati oleh Mer-C dan telah melayani 50 pasien per hari selama 24 jam.

Dua anggota BHN-NGO dari Jepang, Mr. Fumio Kaneko dan Mr. Akihide Tomoda berkunjung ke Banda Aceh (9-12 Pebruari 2005) dalam rangka pengumpulan data bencana gempa dan tsunami di Aceh, sebagai masukan dalam upaya memberikan bantuan kepada pemerintah Indonesia khususnya kepada para korban gempa dan tsunami.

Posko Kominfo-LIN menginformasikan, kedua anggota BHN-NGO tersebut melakukan kunjungan ke Posko Pendopo Gubernuran Banda Aceh, Japan Relief Coordination Office yang ada di Aceh, dan ke wilayah yang terkena bencana seperti: Lhoknga, Lam Lhom, Ulee Lheu dan Lampolo.

Mereka juga mengunjungi tempat penampungan pengungsi, sekolah dan universitas, stasion radio dan stasion komunikasi untuk mengecek kondisinya, serta bertemu dengan perwakilan PBB dan NGO asing yang ada dan Posko kemanusiaan Jepang di Aceh.
Kedua orang anggota BHN-NGO Jepang ini kembali ke Jakarta tanggal 12 Pebruari 2005.

Islamic Relief
Respons yang cepat dari Islamic Relief terhadap bencana alam di Acceh, dilakukan dengan mengrim utusan pada hari Senin, 27 Desember 2004, dan hari Rabu 29 Desember 2004, bersama dengan LSM lokal seperti PKPU dan Dompet Dhuafa, memberikan bantuan makanan ke tempat penampungan pengungsi di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Selama di Aceh, Islamic Relief telah dan akan melakukan kegiatan di bidang air bersih dan sanitasi, pendidikan dan kesehatan serta distribusi. Kegiatan di bidang air bersih dan sanitasi dilakukan bekerjasama dengan Departemen Pekerjaan Umum dan PDAM. Sedangkan air bersih diperoleh dari depo air di Lambaro (THW dan GE). Sementara itu, juga telah didirikan 168 toilet darurat di 20 tempat penampungan pengungsi Banda Aceh dan Aceh Besar.

Di bidang pendidikan, bekerjasama dengan Plan International, Islamic Relief telah menyelesaikan pelatihan relawan untuk program ECCD (Early Childcare and Community
Development). Peserta sebanyak 63 relawan terdiri dari: 20 orang pengungsi di Krueng Raya dan 43 orang mahasiswa Universitas Syiah Kuala, lAIN Ar-Ranniry, dan Universitas Abul Yatama. Minggu depan, para relawan mulai bekerja di 10 tempat penampungan Krueng Raya.

Dalam bidang kesehatan, tanggal 25 Januari 2005 lalu Islamic Relief memberikan sebuah ambulans kepada Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Meulaboh. Di samping itu, saat ini Islamic Relief sedang mempersiapkan pembukaan sebuah klinik darurat di tempat pengungsian di Malahayati, Krueng Raya. Karena sampai saat ini, di Krueng Raya hanya ada seorang bidan desa yang melayani puluhan pasien setiap harinya. Islamic Relief juga telah memberikan 720 valet peralatan medis kepada BSMI, PKPU dan Puskesmas Darul Kamal.

Dalam proses distribusi bahan makanan dan non-makanan, Islamic Relief bekerja sama dengan LSM lokal, internasional, wakil pemerintah asing, dan bahkan organisasi lintas-kepercayaan, seperti dengan Gereja Yesus Kristus Orang-orang Suci, dan Latter-Day Saints, LOS untuk menyediakan 45 m3 peralatan medis dan hygiene. Perlengkapan tersebut telah dibagikan di Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, dan Pidie.

Islamic Relief adalah organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan, tidak menonjolkan semangat keagamaan tetapi murni kemanusiaan dan semangat kerjasama. Islamic Relief pernah memberikan bantuannya kepada masyarakat Sudan Selatan yang mayoritas penduduknya beragama kristen.

Sejak tahun 2003 Islamic Relief sudah hadir di Indonesia melakukan programnya di Aceh. Bulan Maret 2004 bekerjasama dengan Muhammadiyah, Islamic Relief memberikan bantuan 1.200 paket alat sekolah bagi pelajar di Aceh Jaya. Pada bulan November 2004 mengirim sejumlah paket makanan untuk menyambut bulan Ramadhan.

Selama Idul Adha (22-24 Januari 2005), Islamic Relief mendistribusikan 31 sapi dan kerbau di Aceh Besar, Sigli, dan Meulaboh. Mulai tanggal 14 Februari 2005, Islamic Relief akan pindah ke kantor baru dengan alamat Jalan T. Imeum Lueng Bata, Banda Aceh. Telepon: 0651-7410500, 74110600, Fax: 0651-7406000.

MER-C Operasionalkan RS Malahayati
Keadaan Rumah Sakit Malahayati cukup memprihatinkan akibat bencana gempa dan tsunami. Semua operasional lumpuh total. Dengan bantuan tim relawan Mer-C, rumah sakit ini dipulihkan kembali baik secara infrastruktur, maupun strukturnya, mulai dari pembangunan dan perbaikan gedung, sampai penyediaan alat-alat baru dan obat-obatan.

Hal ini dilakukan sesuai dengan MoU antara manajemen Rumah Sakit Malahayati dengan pihak Mer-C. Pada tanggal 22 Januari 2005 Rumah Sakit ini diresmikan oleh Wakil Gubernur dan pada tanggal 23 Januari sudah mulai menerima pasien.

Setelah dioperasionalkan kembali oleh Mer-C, rumah sakit ini mampu melayani lebih dari 50 pasien per hari dengan layanan 24 jam. Jenis penyakit yang ditangani antara lain : ISPA, penyakit kulit, diare, otitis media akut, trauma capitis, hypemerisis, anemia, febris, dyspepsia, riwayat stroke dan trauma. Untuk pasien dengan kasus berat misalnya untuk kasus tumor yang tidak bisa ditangani karena keterbasan peralatan, maka para relawan tenaga medis melanjutkan tindakan rujukan pada rumah sakit besar klas B/C yang ada di kota Aceh bahkan sampai ke Jakarta.

Dengan semakin beragamnya jenis penyakit yang ditangani tim Mer-C di RS ini, mengharuskan pihak Mer-C untuk segera berbenah dan melengkapi alat-alat medisnya.


Namun demikian, disatu sisi Mer-C ingin berbuat baik untuk masyarakat Aceh disisi lain muncul kendala misalnya, adanya beberapa pasien yang tidak mau menerima obat sesuai resep yang telah dibuatkan dengan alasan yang tidak logis. Ada juga beberapa pasien yang minta rujukan rontgen ke Lab lain walaupun tidak perlu.

Padahal sebenarnya, keberadaan tim MER-C di penampungan pengungsi begitu dielu-elukan oleh para pengungsi bahkan mereka bersikukuh pada saat kritis ini untuk hanya ditangani oleh tim MERC. Misalnya, seorang ibu dari penampungan pengungsi di Betung yang hendak melahirkan. Dia minta hanya untuk ditangani oleh tim Mer-C, padahal ada tim medis lain yang lengkap dengan mobilnya berada disamping pos Mer-C. *e-ti/lin-tsl

  BERITA LAINNYA  
:: BHN Jepang, Islamic Relief dan Mer-C Bantuan Aceh

:: Alwi Shihab: Aceh Masuki Tahap Transisi

:: Telkom Bebaskan Tagihan Januari-Februari

:: H+35, Evakuasi Korban dari Medan Sulit

:: Pasca Tsunami H-31, Sekolah Dimulai Kembali

:: Pemerintah-PBB Sepakat Empat Prioritas Kerja

:: Pasca Tsunami H-30, Korban Meninggal 173. 981 Jiwa

:: Panglima TNI, Calang Akan Dibangun Segera

:: Relokasi Pengungsi, Pemerintah Sewa Tanah Penduduk

:: Pasca Tsunami H-25, Data Dpekes 166.320 Meninggal

:: Pasca Tsunami H-22 Meninggal 110.229, Hilang 12.132 Orang

:: Presiden: Reorganisasi Bakornas PBP

:: Pasca Tsunami H-20, 81.665 Korban Dimakamkan

:: Telah Terbuka 90% Jalan Utama Banda Aceh

:: Bakornas PBP, Telah Dievakuasi 65.594 Jenazah

:: Menko Kesra, Aceh Bersih 10 Hari Lagi

:: Pasca Tsunami, Banda Aceh Mulai Aktif

:: Menko Kesra: Relokasi Pengungsi Prioritas

:: Presiden: Jamin Korban Anak Yatim

:: Akibat Tsunami, 2.742 Sarana Ibadah Rusak

:: Deklarasi KTT Dampak Tsunami

:: 1178 Tenaga Medis, Depsos Salurkan 969 ton Beras

:: RS Zainal Abidin Berfungsi, 36.266 Jenazah Dievakuasi

:: Sejuta Anak Pengungsi Aceh

=> Data Korban Tsunami di Aceh dan Sumut