BERITA TOKOH INDONESIA
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
  B E R I T A
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Opini
 ► Editorial
 ► Resensi
 ► Leadership
 ► Berita KIB
 ► Berita Tsunami
 ► Sebelumnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah TI
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
Pertemuan Khusus OKI

Geng Kriminal Bajak Citra Islam


Republika, Jumat, 09 Desember 2005: Raja Abdullah bin Abdulaziz dari Arab Saudi mengungkapkan bahwa citra Islam menjadi buruk karena dibajak oleh geng kriminal. Wacana ini mewarnai pertemuan khusus 57 negara anggota OKI di Makkah 7-8 Desember 2005. Tampaknya, krisis yang dihadapi umat Islam di dunia, mulai menyadarkan para pemimpin negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Ini sungguh menyakitkan hati para Mukminin untuk melihat bahwa ajaran yang terhormat ini jatuh ke jurang kelemahan dan ajaran ini dibajak oleh pengikut setan dan geng kriminal yang menebar kerusakan di bumi,'' tutur Raja Abdullah, dalam pertemuan tersebut, kemarin, seperti dikutip situs The Peninsula. Karena itulah, dia pun menyeru para pemimpin negara Islam untuk bersatu melawan 'pembajak' itu.

Pernyataan senada juga dikemukakan Sekjen OKI, Ekmelettin Ihsanoglu. Dalam laporannya dia mengungkapkan bahwa saat ini Muslimin berada dalam krisis akibat persoalan eksternal dan kampanye buruk terhadap Islam. Seperti termuat dalam situs OKI, dia pun menyerukan pentingnya solidaritas Muslimin dan berharap para tokoh Islam bisa mengambil peran dalam percaturan dunia. Laporan itu juga mengemukakan bahwa forum tersebut merisaukan munculnya kembali fobia (ketakutan) terhadap Islam. Kata Ihsanoglu, para anggota OKI berharap ada sistem monitoring yang mendunia untuk memantau berkembangnya sikap fobia terhadap Islam itu.

Sedangkan Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi, menekankan bahwa umat Islam kini menghadapi kondisi paling buruk selama 14 abad sejarah Islam. ''Ribuan saudara kita di Irak, Afghanistan, Suriah, Iran, Sudan, dan sebagainya, hidup dalam ketakutan akibat perang dan kekerasan,'' ujarnya. Sebagian lain umat Islam, kata Badawi, hidup di bawah ancaman kemiskinan dan keterbelakangan.

Pada akhirnya, pertemuan itu menghasilkan deklarasi yang mencakup aspek intelektual, politik, dan ekonomi. Dalam deklarasi itu, antara lain, disinggung agar media-media di dunia Islam bisa mulai membersihkan citra Islam. (irf ) 

 

Akhiri Tudingan Konspirasi Asing
Sementara Indopos (9/12/2005) memberitakan dari acara yang sama (KTT OKI) di kota suci Makkah yang berakhir 8/12/2005, bahwa para pemimpin dan menteri perwakilan 57 anggota OKI sepakat untuk bersatu melawan terorisme dan menjaga citra Islam.

"Semua (pemimpin) sepakat memerangi terorisme dan ekstrimisme dan menekankan (sifat dasar) moderat Islam," jelas Pangeran Saud al-Faisal usai pertemuan OKI.

Ia menjelaskan pemimpin negara muslim dalam pertemuan dua hari itu menekankan untuk berhenti menyalahkan kekuatan luar atas berbagai masalah di dunia muslim. Mereka memilih jalan kerja sama.

"(Mereka sepakat) menekankan pentingnya kerja sama antar muslim dan mengakhiri tudingan konspirasi asing, serta berkonsentrasi untuk menghadapi tantangan perubahan," papar al-Faisal yang juga .

Pada pembukaan KTT OKI, Rabu, Raja Saudi Abdullah menyerukan sikap moderat dan menolak kekerasan ekstremis. "Persatuan Islam tidak bisa dicapai dengan ceceran darah, seperti klaim orang tersesat karena pemikiran yang gelap (dark ideas)," kata pemimpin negeri muslim beraliran Wahabi ini. Dia menunjuk ekstremis pemimpin jaringan Al Qaidah kelahiran Saudi, Usamah bin Laden.

Ia mengimbau agar bagian fiqh Islam di OKI "memenuhi peran sejarah untuk melawan ekstremisme." Selain itu, dia mengajak mereformasi program pendidikan di negara Islam. AS memang menekan agar mengubah buku teks sekolah yang dikritik Washington sebagai tidak toleran.

Selama ini, Washington mengampanyekan reformasi demokratis dan liberalisasi ekonomi di negara Islam dan Arab. AS beranggapan dua hal itu merupakan solusi untuk menangkal frustrasi dan kemiskinan yang menjadi akar teroris.

Ketua OKI yang juga PM Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi, mengatakan dunia Islam menghadapi masalah akut yang mempengaruhi hidup ratusan juta penduduk dunia. "Kita tidak bisa mengabaikan lagi persoalan ini atau mengharap orang lain memecahkannya untuk kita," tegas Badawi.(afp/nie)

 

Perangi Hasutan, Gampang Murtadkan
DI Jeddah, para Menlu OKI menyiapkan dua dokumen pokok KTT. Yakni, draf Deklarasi Makkah dan rencana tahapan untuk menghadapi tantangan abad 21 dalam sepuluh tahun ke depan.

Draf Deklarasi Mekah itu menyerukan para pemimpin negara muslim agar "memerangi penghasutan dan penyimpangan dari imam, yang bertujuan untuk merusak prinsip damai Islam." Namun, juga dinyatakan sikap prihatin atas "berkembangnya fenomena kebencian dan sikap anti-Islam."

Selain itu, sebuah komite dibentuk untuk menyelesaikan pertikaian antaretnis di antara muslim. Komite ini merumuskan rencana sepuluh tahun dalam pasal tambahan yang melarang untuk mengecap sekelompok tertentu sebagai murtad.

Usulan pasal itu tampaknya dimaksudkan untuk meredam ketegangan Sunni dan Syiah. Karena itu, ditekankan bahwa "kepercayaan yang benar oleh sekelompok muslim … sepanjang mereka mengimani Tuhan … dan seluruh prinsip Islam."

Kelompok ultrakonservatif Sunni, yang sebagian penganut aliran Wahabi di Saudi, selalu menilai Syiah sebagai kelompok "pembangkang" dan menganggap kepercayaannya bukan Islam.

Masalah lain yang dibahas adalah pergantian nama OKI. Nama badan yang dibentuk 1969 itu diusulkan diganti dengan Organisasi Negara Islam (bukan konferensi).

Selain agenda besar idealistik itu persoalan krisis keuangan ikut menghantui keberlangsungan organisasi 57 negara itu. Sebagian anggotanya sudah tidak membayar iuran tahunan.

Sebagian pemimpin OKI nonmuslim mengikuti acara dari Makkah dengan videokonferensi, karena nonmuslim dilarang memasuki kota suci Makkah dan Madinah.(afp/nie) 

 

Tajuk Kompas

OKI dan Deklarasi Pembaruan
 

Kompas 10/12/2005: Keinginan melakukan perubahan dalam berbagai bidang kehidupan mendominasi konferensi tingkat tinggi Organisasi Konferensi Islam pekan ini.


Secara khusus KTT dua hari di Mekkah, Arab Saudi, yang ditutup hari Kamis, 8 Desember, itu bersepakat melawan terorisme, dan mempertahankan citra Islam sebagai agama moderat dan penuh perdamaian.


Kaum teroris dinilai para peserta konferensi telah membajak agama, yang telah merusak citra. Para pemimpin OKI juga menegaskan lagi dukungan terhadap perjuangan bangsa Palestina dan perjuangan Kashmir.


Hasil KTT Mekkah secara keseluruhan dianggap strategis karena menghasilkan deklarasi tentang perbaikan dan pembaruan sosial, politik, dan ekonomi yang dituangkan dalam Program Aksi 10 Tahun.


Prioritas program kerja 10 tahun itu antara lain peningkatan pendidikan, percepatan pembangunan ekonomi, peningkatan perdagangan, peningkatan peran perempuan, serta menolak ekstremisme dan terorisme.


Agar program itu terlaksana dan tercapai, para pemimpin OKI menyatakan tekad menggalang kerja sama di kalangan anggota, dan menjauhi berbagai perpecahan yang sering mengancam kekompakan selama ini.


Lebih jauh lagi, OKI menegaskan jauh lebih penting berbenah diri ketimbang saling mempersalahkan dan mengecam kekuatan luar, yang sering dicurigai melakukan konspirasi berbahaya.


Deklarasi pembaruan dan Program Aksi 10 Tahun yang dikeluarkan OKI dalam KTT Mekkah dinilai sebagai rancangan strategis dan komprehensif dalam menghadapi peluang dan tantangan abad ke-21.


Meski dinilai terlalu ambisius dan dipertanyakan keseriusan OKI melaksanakannya, Program Aksi 10 Tahun dan hasil KKT Mekkah secara keseluruhan dinilai strategis sebagai kerangka dan acuan penting.


Khusus bagi dunia Arab, yang merupakan komponen utama OKI, hasil KTT Mekkah memberi kerangka yang jelas bagi upaya pembaruan. Selama ini dunia Arab terombang-ambing oleh silang pendapat mengenai pembaruan.


Masih ada yang mencurigai kemungkinan gerakan pembaruan dapat menggoyahkan kehidupan, lebih-lebih kalau tidak mampu dikendalikan secara tepat. Bukankah Uni Soviet bubar karena program pembaruan yang tak terkendali?


Sebaliknya pula ada yang menuntut pembaruan sebagai sebuah keniscayaan sejarah. Dunia Arab dikhawatirkan akan ketinggalan jika tidak segera melakukan pembaruan di tengah dunia yang terus berubah. Pembaruan bertahap dianggap paling cocok. *ti/

  BERITA LAINNYA  
= Geng Kriminal Bajak Citra Islam
= Pemerintah RI Turut Berduka
= Purnawirawan TNI-AD Tolak MoU Aceh

= Damai, Damai, Damailah Aceh
= DPR Pilih Anggota Komisi Yudisial

= Aljazair Anugerahkan Medali kepada 13 Tokoh Indonesia.
= 36 Tokoh Iklan Kenaikan Harga BBM

= Harga BBM Naik

= Tidak Semua Eselon I Akan Diganti

= Kementerian Negara Kominfo Jadi Departemen

= Ical, Sugiharto, dan Suryadharma Dapat Nilai Terendah

= M Samsul Arif, Kinerja Belum Sentuh Substansi

= Presiden Tak Pernah Janji Soal 100 Hari

= Dikritik, SBY Ngaku Lapang Hati

= Paul Sutaryono: 100 Hari Pemerintah dan Industri Perbankan