Rapat Paripurna Ricuh
Kepemimpinan DPR Sangat Lemah
Jakarta 17/3/2005: Rapat Paripurna DPR, Rabu 16/3/2005 berakhir ricuh
akibat kepemimpinan DPR yang dinilai sangat lemah. Sehingga DPR, secara
kelembagaan, belum berhasil menyikapi kebijakan pemerintah yang
menaikkan harga bahan bakar minyak per 1 Maret 2005. Ini kedua kalinya,
Rapat Paripurna DPR periode 2004-2009 ricuh.
Kericuhan pertama terjadi pada rapat paripurna tanggal 9
November 2004. Rapat itu juga dipimpin Agung Laksono. Saat itu anggota
F-PD tidak bisa menguasai emosi, menggebrak-gebrak meja dan maju ke
podium. Mereka keberatan surat interpelasi dibacakan.
Sementara kericuhan kedua dalam Rapat Paripurna DPR ini terjadi ketika
Ketua DPR Agung Laksono yang memipin rapat hendak mengetuk palu
mengesahkan hasil rapat konsultasi pimpinan Dewan dan pimpinan fraksi
yang berlangsung sebelumnya, yakni untuk memvoting dua opsi.
Opsi pertama, menyerahkan pembahasan lanjutan tentang
kenaikan harga BBM kepada alat kelengkapan Dewan (Komisi VII, Komisi XI,
dan Panitia Anggaran) secepatnya, sesuai dengan kesepakatan pertemuan
konsultasi tanggal 10 Maret 2005. Opsi ini didukung F-PG, F-PD, F-PKS,
F-PAN, F-PPP, F-BPD dan F-PBR.
Opsi kedua, rapat paripurna mengambil sikap tegas menolak atau menerima
kenaikan harga BBM. Opsi ini didukung F-PDIP, F-PKB dan F-PDS.
Padahal dalam rapat paripurna sehari sebelumnya, dalam pemandangan fraksi
F-PKS, F-PAN dan F-PBR menyatakan menolak kenaikan harga BBM bersama
F-PDIP, F-PKB dan F-PDS. Hanya F-PD dan F-BPD yang menyatakan dapat
memahami. Sedangkan F-PG dan F-PPP tidak menyatakan sikap yang jelas.
Saat Agung Laksono hendak mengetukkan palu mengesahkan kedua opsi itu,
sejumlah anggota Dewan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(F-PDIP), antara lain Aria Bima (Jawa Tengah V), Mangara Siahaan (Jawa
Barat I) dan Effendi MS Simbolon (DKI Jakarta I), mendatangi meja
pimpinan sidang, akibat mikrofon di hadapan mereka dimatikan.
Mereka memprotes Ketua DPR Agung Laksono yang terkesan tidak
netral karena terlalu cepat mengetuk palu sidang mengesahkan materi
voting hasil rapat konsultasi pimpinan Dewan dan pimpinan fraksi. Bagi
mereka materi voting tersebut merupakan upaya mengulur-ulur waktu.
Aksi dorong-mendorong pun terjadi. Sampai-sampai ajudan Agung, Boni,
juga turun tangan mendorong Aria dan Effendi. Effendi yang sempat
tersungkur pun balik mendorong Boni.
Kericuhan semakin triuh setelah anggota Fraksi Partai Golkar (F-PG) di
antaranya Yorris Raweyai (F-PG, Papua) dan Fraksi Partai Demokrat (F-PD)
juga naik ke podium berteriak-teriak melindungi Agung. Mangara jatuh
tersungkur karena didorong. Begitu pula Effendi terjungkal ke belakang
podium karena ditarik dari belakang oleh anggota Dewan dari F-PG.
Akibat kericuhan itu, Wakil Ketua DPR Zainal Ma’arif mengambil-alih
pimpinan rapat dan menskors rapat hingga batas waktu yang belum
ditentukan. Direncanakan Kamis pagi ini (17/2/2005), sekitar pukul 10.00,
pimpinan fraksi kembali mengadakan lobi untuk mencari titik temu.
Agung yang kemudian ditemui pers mengaku menyesalkan adanya kejadian
tersebut. Ia meminta maaf kepada rakyat atas kericuhan yang terjadi.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar di bawah pimpinan Jusuf Kalla itu megnaku
hanya melaksanakan apa yang menjadi pertemuan konsultasi.
Ada Agenda Tersembunyi Effendy Choirie dari F-PKB
seusai sidang menyatakan bisa memahami mengapa anggota F-PDIP begitu
emosi. "Itu karena pimpinan sidang tidak tegas dan terkesan memiliki
agenda tersembunyi," ujarnya.
Sementara Wakil Ketua F-PKS Zulkieflimansyah berkomentar tenyang
kericuhan itu sebagai akibat lemahnya kepemimpinan DPR yang
pimpinan rapat. Walaupun dia melihat kedua belah pihak sama-sama salah.
"Yang dipimpin menjadi liar karena yang memimpin lemah kepemimpinannya
dalam mengambil keputusan dan kesimpulan." Menurutnya, apa pun alasannya,
pimpinan sidang harus minta maaf kepada publik karena bagaimanapun
persidangan adalah tanggung jawab dia.
Sedangkan F-PDIP Tjahjo Kumolo menegaskan, kawan-kawan sefraksinya tidak
bersalah. "Kami memperjuangkan aspirasi rakyat. Rapat paripurna adalah
hak anggota DPR," ujarnya. Tentang anggota yang terlibat kericuhan,
Tjahjo mengatakan, "Saya yang bertanggung jawab." *ti/tsl |