Konvensi Partai Golkar
Wiranto Capres Golkar
Jakarta, 21/04/2004: Wiranto resmi menjadi Calon Presiden Partai
Golkar setelah memenangkan Konvensi Nasional Calon Presiden partai
beringin, itu Selasa 20 April 2004. Mantan Panglima TNI ini menang
melalui dua putaran pemungutan suara. Di putaran kedua, ia mengalahkan
Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung yang semula diunggulkan
dengan skor 315 -227 suara, dengan abstain 1 dan tidak sah 4 suara.
Pada putaran pertama Akbar Tandjung masih mengungguli Wiranto dengan
perolehan suara 147-137. Disusul Aburizal Bakrie 118, Surya Paloh 77 dan
Prabowo Subianto 39 suara, dengan 28 suara tidak sah dan 1 suara abstein.
Namun pada putaran kedua limpahan suara dari kandidat lain lebih banyak
beralih ke Wiranto. Diduga berkat kuatnya loby tim sukses Wiranto.
Selepas putaran pertama Wiranto sempat bertemu Aburizal Bakrie dan
Prabowo. Sementara Surya Paloh dan Wiranto sejak awal sudah menyatakan
saling mengalihkan suara jika salah satu masuk putaran kedua.
Selain menetapkan Capres, konvensi ini juga menetapkan perihal koalisi
pasangan Cawapres harus atas persetujuan DPP. Jadi Capres terpilih tidak
bisa sesukanya menentukan pasangan Cawapres. Dengan demikian Capres
harus mampu menjalin kerjasama dengan DPP dalam memenangkan Pemilu
Presiden putaran pertama 5 Juli 2004.
Perhitungan suara yang berlangsung sejak pukul 17.00 sampai 00.30 WIB di
Jakarta Convention Center, Selasa 20 April 2004, itu dilakukan setelah
kelima kandidat menyampaikan visi dan misinya di hadapan 1.083 peserta
konvensi dengan 545 hak suara. Masing-masing DPD Kota/Kabupaten
mempunyai hak 1 suara, DPD Provinsi 3 suara (voting block) dan
DPP 18 suara (voting block).
Sistem pemilihan yang digunakan adalah absolute majority atau kontestan
dinyatakan menang jika mendapat suara 50 persen plus 1 atau harus
mendapat 273 suara atau lebih. Jika pada putaran pertama belum ada
kontestan mendapatkan suara 50 persen plus satu, dilakukan pemungutan
suara putaran kedua yang diikuti dua konstentan peraih suara terbanyak
putaran pertama.
Sebenarnya ada tujuh konstentan yang lolos Prakonvensi Nasional akhir
Oktober 2003, tapi dua di antaranya mengundurkan diri dengan alasan
berbeda. Sri Sultan Hamengkubowono mengundurkan diri setelah Akbar
Tandjung memperoleh vonis bebas dari Mahkamah Agung atas kasus koruosi
Rp 40 milyar. Sementara Jusuh Kalla mengundurukan diri sehari sebelum
Konvensi Nasional setelah dipinang Susilo Bambang Yudhoyono menjadi
pasangan Cawapres.
Acara konvensi ini dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya,
dilanjutkan sambutan Ketua Panitia Oetojo Oesman dan Akbar Tandjung
dengan kapasitas ketua umum Partai Golkar. Lalu panitia membacakan tata
tertib dan jadwal acara. Usai pembacaan, lima kontestan mengambil nomor
urut untuk menyampaikan visi dan misinya di podium.
Surya Paloh mendapat giliran pertama. Akbar mendapat nomor urut dua, Abu
Rizal Bakrie nomor tiga, Wiranto nomor empat, dan Prabowo Subianto nomor
urut kelima. Setiap kontestan mendapat jatah waktu 30 menit untuk
menyampaikan visi dan misi serta tanya jawab. Kelima kontestan hampir
sama dalam memberikan visi dan misi yakni mengangkat perekonomian bangsa
dan meningkatkan keamanan bangsa.
**e-ti/tsl |
|
Wiranto
Namanya cukup fenomenal dalam derap awal reformasi di negeri ini.
Kini, setelah mencermati perjalanan reformasi dalam lima tahun terakhir,
mantan Panglima ABRI ini sungguh merasa terpanggil dan siap menjadi
Presiden Republik Indonesia ke-6 untuk mewujudkan Indonesia Baru yang lebih demokratis, lebih aman, adil
dan sejahtera.
|
|