ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
 
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  B E R I T A
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Opini
 ► Editorial
 ► Resensi
 ► Leadership
 ► Pernikahan
 ► Sebelumnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► Pernikahan
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 

 


 
Dr. Laurence Manullang

Kinerja 15 Hari KIB


Jakarta 2/11/2004: Top eksekutif keuangan dunia Dr Laurence Manullang menyoroti kinerja 15 hari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Dia belum melihat para menteri menjabarkan arahan Presiden yang bersifat kualitatif menjadi sasaran objektif yang kuantitatif di departemen masing-masing.

Kepada pers di Jakarta, Selasa (2/11), Direktur Institut Manajemen Indonesia, itu mencontohkan defisit anggaran sebesar Rp 26,271 triliun harus dijelaskan ditutup dengan apa. “Kalau dengan mengurangi subsidi BBM, berapa, atau dengan optimalisasi anggaran, berapa, atau pergeseran pemakaian minyak pada migas, berapa,” kata Manullang, yang juga Ketua STIE IBEK, Jakarta.

Manullang mengatakan, produksi minyak Indonesia yang hanya 1,02 juta barrel perhari tidak dijelaskan apa penyebabnya menurun. Ia menengarai salah satu penyebab adalah dengan UU Migas yang mengharuskan investor membayar pajak, padahal belum menemukan minyak, telah menyebabkan investor tidak ada yang berminat datang ke Indonesia. Padahal, kebutuhan minyak domestik 1,350 juta barrel perhari. Berarti lebih dari 350.000 barrel perhari minyak diimpor menguras devisa.

“Apakah dengan menaikkan harga minyak persoalan selesai, sedang masyarakat 45 persen menghendaki BBM jangan dinaikkan. Menteri terkait harus mendesain action plan sekarang dan sasaran yang akan dicapai dalam 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan dan seterusnya,” kata Manullang.

Demikian pula dengan penerimaan pajak yang Rp 403,8 trilliun, dipertanyakannya apakah tidak mungkin defisit anggaran dapat ditutupi semua dengan menertibkan perpajakan. Sebab, demikian Manullang, selama ini masyarakat dan pengusaha memperkirakan 30 persen pajak bocor ke tangan-tangan individu dengan pelaporan fiktif. Sedangkan penerimaan non-pajak yang sebesar Rp 279,2 trilliun masih dapat ditingkatkan melalui penertiban penyelundupan. “Coba, lihat casing handphone diimport melalui tentengan saja oleh beberapa pengusaha tanpa bea. Bea Cukai, aparat terkait, pengusaha, setiap detik panen,” kata Manullang, mencontohkan betapa lemahnya aparat bea cukai menertibkan sumber pendapatan negara.

Sebagai top eksekutif keuangan dunia yang sudah populer namanya di kalangan internasional, Manullang menyebutkan untuk membayar hutang luar negeri Rp 70 trilliun tahun ini sangat berat. Ia meminta Menteri terkait menjelaskan bagaimana menanggulanginya, sebab nampaknya para kreditor akan tidak menyetujui rescheduling karena mereka menganggap sesungguhnya Indonesia mampu membayar. Penyebabnya hanya karena sumber-sumber dana tidak dioptimalkan malah didesain suatu pipa kebocoran.

Terbukti hasil temuan BPK terdapat Rp 166,5 trilliun kebocoran, berarti 8,3 persen dari PDB yang berjumlah Rp 1.990,3 trilliun. Sedang penggerak ekonomi, seperti investasi PMA, tahun 2003 hanya US$ 1,7 milliar bandingkan dengan US$ 40 milliar di tahun 1995, atau PMDN tahun 2003 hanya Rp 25,3 trilliun dibanding tahun 1995 yang Rp 119 trilliun.

Manullang juga menyoroti perbankan yang belum bisa berfungsi sebagai agent of development. Terbukti dana masyarakat yang terkumpul Rp 909,5 trilliun, yang disalurkan menunjang kegiatan ekonomi baru Rp 430,18 trilliun atau 47,3 persen. Bank mengakumulasikan pendapatan dari spread antara lending rate-borrowing rate yang menyolok. “Bank menyalurkan kredit berbunga 19 persen, dan membayar bunga tabungan ke nasabah hanya 6 persen. Bank aman dengan menikmati selisih bunga tidur 13 persen,” tegasnya.

Angka kemiskinan absolut menurut Manullang telah mencapai 17,4 juta penduduk. Ditambah dengan tenaga kerja setengah menganggur, yang bekerja kurang dari 40 jam seminggu, membuat angka kemiskinan menjadi 41 juta penduduk atau 50 persen dari tenaga produktif.

Hasil hutan yang dicuri bernilai Rp 83 miliar perhari, atau Rp 30,42 trilliun pertahun itu sebenarnya jauh dari cukup menutupi defisit anggaran Rp 26,271 trilliun.

Hasil pertanian dan perikanan dalam 100 hari pertama menurut Manulang hendaknya dikalkulasi berapa kenaikan optimalisasi sebagai kontribusinya menutupi defisit anggaran. Misalnya, hasil ikan budidaya untuk setiap 500.000 hektar dapat menyerap tenaga kerja 1 juta orang, dan menopang PDB Rp 1,2 trilliun. Demikian pula hasil gabah yang 53 juta ton (equivalent 32 juta ton beras), harus dipertahankan atau ditingkatkan untuk menghindari pengurasan devisa.

Manullang juga meminta agar Menteri segera menyiapkan bagaimana rencana terpadu untuk menanggulangi korupsi di segala sentra biaya (cost center), di sentra-sentra pendapatan (revenue centers), serta di sentra-sentra investasi (investment center)

Terhadap ke-326 BUMN pakar akunting Laurence Manullang meminta Menteri harus menjelaskan bagaimana fondasi business objectives, dimana setiap line dari Balance Sheet dan Income Statement harus tajam di-review dengan memakai bedah pisau responsibility accounting. Tidak luput juga, terhadap capital flight dan dana parkir hasil korupsi di 14 negara-negara penadah dollar gelap, perlu dipanggil kembali dengan janji amnesti 60 persen bebas dimasukkan ke kas negara, dalam 6 bulan, bila tidak akan dicari dan diuber melalui intensive investigators.

“Kalau Menteri mengatakan pada saat ini sedang dilakukan pendataan, berarti Menteri yang bersangkutan belum mengerti fungsi manajerial, mereka hanya pekerja rutinitas yang handal (a good lamb) sedang posisi mereka adalah posisi strategis yang bisa memberdayakan lingkungan jadi peluang dan mengelola ketidakpastian (to manage uncertainties),” cetus Manullang.

Manulang menyoroti pula pilihan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang sejak awal sudah menegaskan akan memberi sejumlah pos tertentu porsi menteri kepada kalangan professional, namun pada detik-detik akhir pengumuman kabinet pos itu harus diserahkan kepada kalangan partai politik yang aturan seharusnya netral. Ini, kata Manullang merupakan indikator integritas yang diragukan.

“Untuk ini, saya hanya mengutip pendapat Peter Drunker, yang berkata, eksekutif bisa dimaafkan kalau menduduki jabatan walaupun memiliki kurang kemampuan tentang pekerjaan yang dipimpinnya. Tetapi, tidak bisa dimaafkan orang yang memiliki integritas diragukan, juga yang menunjuk diapun tidak bisa dimaafkan,” kata Laurence. eti/ht-ms
     
Presiden - DPR

Siapa Panglima TNI?

Jakarta 29/10/2004: Presiden Yudhoyono (SBY) yang menarik surat Presiden (Megawati) mengenai penggantian Panglima TNI dianggap sebagaian anggota DPR sebagai pelecehan. DPR pun tidak menanggapi surat SBY tersebut dan malah terus melanjutkan proses sesuai surat presiden terdahulu.

 

 

 

 
Copyright © 2004 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero