|
|
 |
Sidang Tahunan MPR
Korupsi Marak ke Legislatif dan Bahan Tertawaan
Jakarta 1/8/03: Presiden Megawati Soekarnoputri dalam laporannya pada
Sidang Tahunan MPR 2003 mengatakan, memberantas korupsi, kolusi dan
nepotisme (KKN) ternyata bukan pekerjaan gampang. Bahkan, katanya, di
tengah upaya pemerintah memberantas kejahatan berbahaya itu, kini KKN itu
malah marak secara kolektif oleh sementara kalangan politisi, khususnya
yang duduk di badan-badan legisliatif daerah.
Pembukaan Sidang Tahunan MPR 2003 yang berlangsung 1-10 Agustus 2003
diawali pidato pembukaan dari Ketua MPR Amien Rais. Kemudian dilanjutkan
laporan lembaga-lembaga tinggi negara (presiden,DPR, BPK dan MA).
Megawati selain melaporkan perihal sulitnya memberantas KKN juga soal
imbal beli pesawat tempur Sukhoi, pemberantasan separatis di Aceh, dan
post program monitoring (PPM) sebagai pilihan penyelesaian program IMF.
Pada bagian program IMF ini, Presiden Megawati mengatakan: “Kita telah
belajar banyak dari krisis ekonomi yang melanda negara kita sejak tahun
1997. Salah satu yang terpenting dan mungkin juga terpahit adalah bahwa
kita jangan terlalu mudah percaya kepada nasihat pihak lain. Jangan kita
lupakan bahwa tanggung jawab terakhir terhadap masa depan bangsa dan
negara tetap terletak di tangan kita sendiri. Kitalah yang harus
menetapkan kebijakan dan strategi ekonomi yang akan kita anut dan kita
laksanakan."
Sementara, Ketua MPR Amien Rais dalam pidato pembukaan mengharapkan
Mahkamah Konstitusi (MK) dapat dibentuk selambat-lambatnya pada tanggal 17
Agustus 2003, sesuai Pasal III Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945.
Ia mengingatkan pentingnya kehadiran MK, antara lain agar Pemilihan Umum
2004 bisa berjalan demokratis.
Ketua DPR Akbar Tandjung dalam laporannya mengakui bahwa tugas
konstitusional yang diembannya belum dilaksakan secara optimal. Ia bilang,
sampai saat ini Dewan terus berupaya untuk memperbaiki berbagai kekurangan
menuju DPR yang ideal seperti dikehendaki masyarakat. Dilaporkan, dalam
kurun waktu Agustus 2002 sampai Juli 2003, DPR telah membahas 68 RUU di
luar RUU pemekaran wilayah. Selain itu, berhubungan dengan rekomendasi MPR
yang meminta DPR proaktif mendorong penyelesaian secara hukum, kasus-kasus
KKN dengan memperhatikan prioritas, Dewan sudah membentuk berbagai panitia
untuk menyelesaikan berbagai kasus yang muncul.
Sementara, Ketua Mahkamah Agung Bagir Manan melaporkan langkah-langkah
yang ditempuh untuk mengatasi masalah klasik MA yakni mengurangi
menumpuknya perkara yang pada Juni 2003 berjumlah 16.581 menjadi 10.000
perkara pada akhir tahun 2003.
ST MPR ini juga diwarnai unjuk rasa ratusan mahasiswa di depan Gedung DPR/MPR,
mengingatkan para wakil rakyat di parlemen soal memanfaatkan dana rakyat
yang digunakan untuk sidang tahunan tersebut. Selain itu mereka juga
mendesak para wakil rakyat membuat agenda khusus masalah pembelian pesawat
Sukhoi.
Secara khusus Badan Eksekutif Mahasiswa se Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi
(Jabotabek) dan Kesatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), mendesak
peserta sidang melakukan evaluasi kritis dan progresif terhadap Megawati
dan Wakil Presiden Hamzah Haz yang dinilai gagal melaksanakan agenda
reformasi.
Unjuk rasa tidak hanya ada di Jakarta, juga di di depan Gedung DPRD Jatim,
Surabaya oleh seratus lima puh mahasiswa yang tergabung dalam KAMMI
Surabaya, BEM Universitas Airlangga (Unair), dan BEM Institut Teknologi
Sepuluh Nopember (ITS), mereka menolak agenda ST MPR 2003.
Bahan Tertawaan
Presiden dalam rangkaian laoprannya memaparkan berbagai keberhasilan yang
telah dicapai pemerintah, baik di bidang politik, keamanan, ekonomi, dan
keuangan maupun kesejahteraan rakyat. Namun, katanya, sejujurnya ia ingin
menyampaikan dua hal yang tampaknya menjadi beban pikiran dalam
menjalankan tugas-tugas kenegaraan dan pemerintahan.
Pertama, sesungguhnya segala jerih payah pemerintah selama ini bukanlah
tanpa hasil. Meski belum semuanya, banyak yang telah diperbaiki. Contohnya,
pemulihan di bidang perbankan, redanya gejolak yang dipicu pertikaian
kelompok atau golongan, serta diredamnya ancaman separatisme di sejumlah
daerah.
Memang, katanya, belum semuanya rampung, tetapi arah dan bentuk
penyelesaian masalah tersebut secara prinsip telah dapat dilihat.
Namun, ujar presiden, adalah aneh bila demi kepentingan dan dengan alasan
apa pun, ada pihak yang lebih senang berkisah tentang kegagalan dan
kejelekan. Apalagi menggunakannya sekadar alat untuk menjatuhkan,
mematikan, atau memberi gambaran jelek pihak lain yang tidak disukai.
Sikap seperti itu, hanya mengedepankan gambaran bangsa yang sangat gemar
mengolok-olok diri sendiri dan menggunakan diri sendiri sebagai bahan
tertawaan. Senang atau tidak senang, yang kita rasakan adalah
berkembangnya sikap senang menghukum diri sendiri, menonjolkan kegagalan,
kejelekan, serbakurang, pandir, dan sebagainya.
Sikap itu, hanya menjadikan seluruh bagian bangsa ini menjadi objek
cemoohan, olok-olok, dan bahan tertawaan pihak lain. Karenanya, ia
mengajak agar sikap tidak baik dan tidak menguntungkan itu diakhiri.
Kedua, harus diakui bahwa kegiatan atau hasil aplikasi dari 'rancang
bangun' kehidupan berbangsa selama ini, dalam beberapa hal ternyata belum
dapat memberikan gambaran tentang 'desain besar' dari kehidupan kebangsaan
dan kenegaraan.
Dengan kata lain, rasanya kita perlu merenungkan ulang dengan hati dingin
dan pikiran jernih, apakah 'desain besar' yang kita rancang bagi kehidupan
nasional ini sudah benar-benar memadai dan tepat, dan apalagi yang harus
kita lakukan bila untuk itu kita harus memperbaiki dan menyempurnakannya.
Presiden menyebut contoh, sistem presidensial yang semestinya melandasi
praktik pemerintahan negara sesuai konstitusi. Namun, praktiknya malah
kian berkembang tindakan dengan pola pikir parlementer. Begitu pula dengan
kehidupan kebangsaan dengan bingkai negara kesatuan, namun praktik
pemerintahan yang dijalankan kian menebarkan bau dan semangat federalisme.
*e-ti
|
|
Gus Dur Dirawat di RSCM
Jakarta 1/8/03: Mantan Presiden Aburrahman Wahid (Gus Dur) dirawat di RSCM
(1/8). Semula ia ke RSCM untuk menjalani general check up atau observasi
rutin yang biasa dilakukan tiga bulan sekali. Tapi setelah diperiksa, lalu
dokter menganjurkan ia perlu dirawat selama dua atau tiga hari.
Sebenarnya, menurut Ketua Umum PKB Alwi Shihab, seusai menjenguk Gus Dur,
tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan Gus Dur sedang sakit serius. ''Dia
biasa saja,'' katanya. Tapi, karena dokter sudah putuskan untuk dirawat
maka Gus Dur pun menerima anjuran tersebut. Gus Dur dirawat di paviliun
Soepardjo Roestam. *e-ti
|
|