ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA
 
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 
  B E R I T A
 ► Berita
 ► Wawancara
 ► Opini
 ► Editorial
 ► Resensi
 ► Leadership
 ► Pernikahan
 ► Sebelumnya
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► In Memoriam
 ► Majalah
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
BERITA  
 
   

Pesan Natal Bersama 2003

Damai Sejahtera di Bumi


Jakarta Des 2003: Dengan penuh rasa syukur kepada Allah, Bapa yang ada di dalam surga dan oleh pimpinan Roh Kudus, tahun ini Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (MPH-PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) kembali menyampaikan Pesan Natal Bersama kepada segenap bangsa, dan umat Kristiani Indonesia khususnya.

Saudara-saudari sekalian yang terkasih,
Setiap kali kita merayakan Natal, kita mengenang kembali kelahiran Yesus Juruselamat, Sang Raja Damai. Pada malam kelahiran-Nya para malaikat bernyanyi di padang Efrata: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi dan damai sejahtera di bumi diantara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14). Ia sungguh Raja yang membawa damai sejahtera bagi manusia seperti yang sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya (bdk. Yes 9: 5,6).

Pada dewasa ini “damai sejahtera di bumi”, sangatlah dirindukan oleh seluruh umat manusia di dunia.

Saudara-saudara seiman yang terkasih,
Sudah lima puluh delapan tahun bangsa Indonesia merdeka. Ketika para Bapak Bangsa memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, cita-cita mereka adalah Indonesia nan jaya, adil, makmur dan damai sejahtera bagi seluruh rakyatnya, seperti yang mereka tandaskan dalam dasar negara Pancasila, khususnya dalam Sila ke lima yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pelbagai kekuatan sosial politik telah muncul dan tenggelam, kepemimpinan negeri ini pun tampil silih berganti. Pelbagai kebijakan sistem politik dan ekonomi telah dicoba, namun cita-cita damai sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia belum kunjung tiba. Bahkan pada akhir-akhir ini kondisi kemasyarakatan bangsa ini nampak sedang sakit; perpolitikan semakin kacau dan perekonomian semakin sulit.

Dalam situasi yang sulit dan serba tidak menentu ini, kita diajak agar selalu menimba inspirasi dari ajaran iman kita, untuk meneguhkan sikap iman percaya kita sebagai bangsa yang dewasa. Dalam perayaan Natal tahun ini, kepada kita diperdengarkan lagi kata-kata malaikat kepada para gembala di padang Efrata: “Jangan takut sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan…” (Luk 2:11-12). Sang Juruselamat adalah pembawa damai sejahtera bagi dunia seperti yang dipujikan para malaikat: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi dan damai sejahtera di bumi diantara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14). Para malaikat memujikan Dia yang datang adalah “Pembawa damai sejahtera”, karena memang “Dialah Sang Raja Damai, yang memerintah dengan keadilan dan kebenaran sampai selama-lamanya” (Yes 9: 5,6).

Damai yang diwartakan malaikat itu tidak melulu berarti tidak ada perang dan pertikaian, melainkan suatu situasi tenteram karena terciptanya keadilan. Damai merupakan kesejahteraan tertinggi yang sangat diperlukan untuk perkembangan manusia dan lembaga-lembaga kemanusiaan.

Kesejahteraan adalah keseluruhan kondisi hidup masyarakat, yang memungkinkan manusia dapat lebih penuh dan lancar mencapai kesempurnaannya.
Damai sejahtera mengandaikan adanya tatanan sosial yang adil, sama dan serasa yang menjamin ketenangan dan keamanan hidup setiap manusia. Keadilan adalah satu prinsip menata dan membangun masyarakat manusiawi yang damai sejahtera dalam kaitan yang amat erat dengan martabat manusia, yang merupakan anugerah tak ternilai dari Sang Pencipta bagi manusia.

Perayaan Natal adalah peringatan tentang datangnya Mesias, Juruselamat, Sang Raja Damai yang akan membangun kerajaan-Nya di bumi ini, di mana manusia akan dapat mengalami kesejahteraan lahir dan batin. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk berperan serta aktif dalam membangun Kerajaan Allah di bumi ini, supaya bumi dan negeri kita menjadi lebih manusiawi dan damai sejahtera seperti yang telah dinubuatkan oleh nabi Yesaya: “Serigala akan tinggal bersama domba dan macam tutul akan berbaring di samping kambing… Anak yang menyusu akan bermain dekat liang ular tedung… Tidak ada yang akan berbuat jahat atau berlaku busuk di seluruh gunungku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan, seperti air laut yang menutupi dasarnya” (Yes 11:1-10).


Tuhan Yesus datang untuk membebaskan manusia dari ketakutan dan kekuatiran, penderitaan dan kematian. Tuhan datang untuk mempersatukan umat manusia dalam suasana damai sejahtera, memulihkan hubungan yang benar antara manusia dengan Allah dan antara manusia dengan sesamanya.

Oleh sebab itu, dalam menghadapi pelbagai kesukaran, tekanan dan pertentangan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, Natal senantiasa memberikan harapan-harapan dan damai sejahtera yang benar, baik dalam keluarga, komunitas Gereja dan masyarakat dunia. Tuhan yang telah mendamaikan kita dengan dirinya menghendaki agar manusia hidup dalam damai sejahtera dengan sesamanya.

Saudara-saudara seiman yang terkasih,
Dalam semangat pesan Natal ini mari kita berjuang di segala bidang hidup, juga di bidang politik untuk menggapai masyarakat yang adil, damai dan sejahtera.

Kiranya tidak salah kalau dalam pesan Natal ini kami menyinggung sebentar tentang peranan umat Kristiani di bidang politik. Politik bukanlah sesuatu bidang yang kotor atau yang berada di luar wilayah pelayanan umat Kristiani, melainkan adalah salah satu bidang pelayanan umat untuk melaksanakan misinya di dunia ini. Politik adalah upaya secara terencana dan teratur dari sebuah komunitas masyarakat untuk membangun kehidupan bersama menjadi kehidupan yang lebih tertib, maju, adil dan sejahtera.

Pelayanan umat di bidang politik, meliputi perjuangan mengenai Hak-Hak Asasi Manusia, Hak Sipil, Hukum dan Keadilan, yang mesti ditegakkan dan dijunjung tinggi bagi semua orang di seluruh negeri. Karena itu tidak ada pilihan lain bagi umat Kristiani kecuali ikut berperan-serta dalam berpolitik guna membangun kehidupan bersama di Nusantara tercinta. Peran politik umat kristiani, haruslah mencerminkan perhatian yang amat khusus dari Gereja kepada rakyat kecil yang hidup dalam kemiskinan, ketidakadilan dan kelemahan yang sering hak-hak kewarganegaraannya dirampas oleh golongan yang kuat dan berkuasa.

Pemilihan Umum yang akan dilaksanakan pada tahun 2004 yang akan datang, merupakan sebuah peristiwa politik nasional bagi bangsa Indonesia. Kita usahakan supaya Pemilihan Umum ini menjadi kesempatan untuk pendidikan politik bagi umat kita, antara lain dengan mencermati dan mengkritisi seluruh langkah-langkah yang dilakukan dalam mempersiapkan pelaksanaan pemilu itu dan selanjutnya mengambil sikap dan tindakan yang tepat terhadapnya secara bertanggung jawab.

Saudara-saudara seiman yang terkasih,
Pada akhirnya kami mengajak, semoga perayaan Natal yang kita rayakan dapat mengubah sifat, sikap dan tindakan kita yang membuat negeri ini tidak damai sejahtera, seperti sifat serakah dan sikap mementingkan diri dan golongan, dsbnya. Semoga ia memberi inspirasi dan peneguhan bagi kita untuk lebih bersikap terbuka dan mengutamakan kepentingan serta kesejahteraan umum sebagai bangsa. Kami berharap “Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Yesus Kristus” (Flp 4:7).

Dalam semangat ini pula kami mau mengucapkan kepada saudara-saudara seiman: “Selamat Pesta Natal dan bahagia Tahun Baru 2004”.

Jakarta, Desember 2003
Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) *e-ti
     
Wawancara

:: Rokhmin Dahuri

:: Yusril Izha Mahendra

:: Theo L Sambuaga

:: Hidayat Nur Wahid

:: Slamet E. Jusuf

:: Bachtiar Chamsyah

:: Jusuf Kalla

:: Abdul Khaliq Ahmad

:: Alinafiah, MBA

:: Tambunan RO

:: Soenarno

:: Adang Ruchiatna

:: Alwi Shihab

:: Hatta Rajasa

:: Matori Abdul Djalil

:: Bagir Manan

:: Ali Sadikin

:: Satrio Billy Joedono

:: Butet Kertaradjasa

:: Aberson Sihaloho

 

 

Rokhmin Dahuri (3)

Pembangunan Berbasis Kelautan

Prof. Dr. Rokhmin Dahuri, Menteri Kelautan dan Perikanan yang juga guru besar tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), ini menggagas paradigma baru pembangunan Indonesia berbasis kelautan. Menurutnya, sudah saatnya Indonesia melakukan reorientasi paradigma pembangunannya.

 
Copyright © 2002-2003 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero