|
|
ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA |
|
| Search |
|
|||||||||||||||
|
|
|
|||||||||||||||
|
|
|
|
|
|||||||||||||
| :: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka :: | ||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||
|
|
C © updated 090703 | |||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
MensosCabut Izin Undian Asuransi KematianBanda Aceh 8/7/03: Menteri Sosial (Mensos) Bachtiar Chamsyah mengatakan izin undian asuransi kematian atau kupon megakuis olahraga dan kemanusiaan (Oke) dicabut. Alasannya, undian tersebut meresahkan masyarakat karena dinilai berbau judi dan bertentangan dengan agama. Mensos mengemukakan hal itu kepada pers di Medan, Sumatera Utara, sebelum berangkat ke Banda Aceh, Selasa (8/7). Ia menguatirkan keberadaan undian itu akan menambah polemik di tengah masyarakat. Dijelaskan, undian Oke tidak sama dengan Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Izin undian diterbitkan Mensos pada akhir Juni lalu dan direncanakan pelaksanaannya pada Agustus mendatang. Tetapi sebelum undian itu berjalan, sudah mendapat kritikan dari berbagai organisasi keagamaan. Karena, keberadaan undian itu diinterpretasikan sebagai judi. Daripada menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, Mensos mencabut izin undian tersebut. "Saya melihat ada pro kontra di masyarakat terhadap undian. Ini bukan SDSB, namun daripada menambah polemik di tengah masyarakat saya stop. Jangan menambah polemik lagi karena masyarakat sudah bosan," kata Mensos. Sementara itu Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial H Safwan kepada Pembaruan menjelaskan, Mega Kuis Oke diselenggarakan oleh PT Provisia. Sebagai regulator, katanya, Departemen Sosial mengeluarkan izin. Penerbitan izin undian itu diharapkan bisa menghimpun dana sosial dari masyarakat atau dana usaha kesejahteraan sosial (UKS). Kupon dijual seharga Rp 6.000 hingga Rp 12.000 setiap lembar. Penarikan undian dilakukan sekali seminggu dan ditayangkan di televisi. Kupon tersebut menggunakan gambar-gambar olahraga dan berhadian uang tunai. Selain berhadiah uang tunai, kupon tersebut juga memberi asuransi kematian kepada si pemilik kupon sebesar Rp 2,5 juta. Disebutkan, seseorang akan mendapat hadiah bila gambar permainan olahraga (seperti sepakbola, bulutangkis) sama dengan gambar olahraga yang terdapat pada kupon yang berhasil diundi. Sedangkan asuransi kematian hanya berlaku seminggu. Sebenarnya, kata Safwan, asuransi kematian merupakan bonus dari pihak penyelenggara yang bekerja sama dengan perusahaan asuransi jiwa. Namun di tengah masyarakat yang beredar seolah-olah Departemen Sosial yang mempromosikan asuransi kematian tersebut. Sepuluh Persen Bila undian tersebut terlaksana, Departemen Sosial akan mendapat dana sebesar 10 persen dari total hadiah yang diberikan penyelenggara kepada pemenang undian. Menurutnya, undian asuransi kematian berbeda dengan SDSB yang menawarkan dua jenis kupon, yaitu kupon bernomor dan kupon tidak bernomor. Safwan mengakui SDSB mempunyai sisi buruk yang bisa dijadikan sebagai judi. Meskipun demikian, ketika SDSB beredar pendapat para tokoh agama pun tidak sama, ada yang pro dan ada yang kontra. Ia menambahkan, masalah sosial tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Karena dana pemerintah pun terbatas sementara masalah sosial selalu ada dan tidak terencana, seperti bencana alam dan operasi darurat militer di NAD yang membutuhkan dana besar. Padahal, APBN tidak mengalokasikan dana untuk itu. Selain itu, dana Departemen Sosial yang terbatas, untuk tahun 2003 sebesar Rp 1,84 triliun tidak akan cukup untuk menanggulangi seluruh masalah sosial/bencana. Salah satu sumber dana adalah UKS yang diperoleh dari berbagai undian gratis. Setiap bulan rata-rata dana yang masuk dari undian gratis berhadiah itu berkisar Rp 1 miliar sampai Rp 2 miliar. "Asuransi kematian itu hanya untuk promosi. Undian ini belum berjalan, masih dalam persiapan tapi sudah dipersoalkan. Bisa saja ada beda pendapat terhadap undian ini. Jika memang sebelum pelaksanaannya sudah menimbulkan keresahan, harus diantisipasi. Silakan pihak independen memberikan opini," kata Safwan. Mensos melakukan kunjungan kerja selama lima hari di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) untuk melihat secara langsung kondisi pengungsi di Bireuen, Takengon, Kelurahan Bintang, Aceh Timur, Bireum Bayeun dan Tamiang. *e-ti/sp
Kualitas Manusia Indonesia MemburukJakarta 9/7/03: Indeks Pembangunan Manusia Indonesia mengalami kemerosotan dari 0,684 ke 0,682, sehingga berada di urutan 112 dari 175 negara atau turun dua tingkat dari urutan 110 sebelumnya. Kualitas manusia Indonesia, sesuai Laporan Pembangunan Manusia 2003 yang dikeluarkan secara resmi oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jakarta, Rabu (9/7), berada di bawah Thailand (74) Filipina (85) dan Vietnam (109).
|
Jawa Barat Juara Umum MTQN XXPalangkaraya 9/7/03: Jawa Barat berhasil mempertahankan gelar juara umum pada Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) XX di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Begitu pula DKI Jakarta mempertahankan posisi juara kedua seperti MTQN lalu. Disusul diurutan berikutnya (10 besar) Jawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Selatan, Banten, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, dan Kalimantan Tengah.
Kongres PGRI di SemarangSemarang 9/7/03: Kongres XIX Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang berlangsung di Hotel Patra Jasa, Semarang, diikuti sekitar 1.400 peserta dan 500 undangan dari seluruh Indonesia diresmikan pembukaannya oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, hari Kamis 10 Juli 2003 di Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan Jawa Tengah, di Semarang.
|
|||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
| Copyright © 2003 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |