|
|
ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA |
|
| Search |
|
|||||||||||||||
|
|
|
|||||||||||||||
|
|
|
|
|
|||||||||||||
| :: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka :: | ||||||||||||||||
|
|
||||||||||||||||
|
|
C © updated 020703 | |||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
Menko Kesra Jusuf KallaKunjungi Pondok Pesantren Bahrul UlumJombang 28/6/03: Indonesia merupakan negara besar namun jauh tertinggal karena tingkat pendidikan masyarakatnya masih rendah. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat HM Jusuf Kalla mengemukakan hal itu hari Sabtu, 28 Juni 2003, saat mengunjungi Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur. Pengasuh pondok pesantren tersebut mengundang Jusuf Kalla untuk menyamakan visi dan misi dengan para kyai dan pengurus pondok pesantren dalam menghadapi tantangan sekaligus peluang yang menuntut mereka agar peka terhadap perubahan untuk meningkatkan kualitas pendidikannya. Pondok Pesantren Bahrul Ulum ini memiliki siswa kurang lebih 80.000 orang. Sudah berdiri selama 105 tahun dan memiliki 15 unit pendidikan formal, mulai TK hingga Perguruan Tinggi. Menurut Jusuf Kalla rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain karena para siswa malas belajar. "Mengapa anak-anak sekolah malas belajar? Itu karena orang yang belajar dengan yang tidak belajar sama saja, lulus juga," kata Kalla menjelaskan disambut sorak-sorai dari para santriawan dan santriawati. Menurutnya, kebiasaan guru-guru sekolah mendongkrak nilai siswanya merupakan salah satu faktor yang membuat murid malas belajar. "Kalau saya mengatakan, sistem 4/4 - 6/6, jadi kalau nilainya 4, ditulis 4, 6 ditulis 6, nggak lebih nggak kurang," kata Kalla sembari matanya menyapu tempat terbuka yang dipasang tenda siang itu. Dengan dikeluarkannya ketentuan tentang nilai minimal untuk mata pelajaran tertentu agar siswa dinyatakan lulus, Kalla berharap budaya mendongkrak nilai bukan lagi ciri khas sekolah-sekolah di Indonesia. Dengan adanya ketentuan ini, Kalla berpendapat tidak akan ada lagi kesenjangan pendidikan di berbagai daerah. "Nilai 7 di Jakarta sama saja bobotnya dengan nilai 7 di Surabaya," katanya. Kenyataan seperti ini tentu akan semakin memacu daerah-daerah dalam mengoptimalkan otonomi daerah yang sudah dicanangkan oleh pemerintah. Beberapa Kyai yang memberikan kata sambutan berulang kali mengucapkan terima kasih atas kehadiran Jusuf Kalla di tempat itu. Begitu pula perwakilan dari wali santri diberikan kesempatan untuk berdialog dengan Jusuf Kalla. Seorang wali santri, Ibu Munawaroh, mengeluh karena anaknya kurang mendapat pendidikan yang bersifat umum. Ia berharap program pondok pesantren bisa disinkronisasi dengan program sekolah umum sehingga selain anaknya belajar agama, juga belajar matematika, IPA, dan sebagainya lebih baik. Menanggapi hal ini, Kalla memaklumi pendapat ibu tersebut serta menjelaskan itulah mengapa dibutuhkan 4 tahun untuk menyelesaikan studi di pondok pesantren, karena banyaknya bidang studi yang diambil. Kalla mengingatkan bahwa bila ingin maju, mereka harus fokus pada bidang yang ingin mereka geluti. "Kalau ingin ahli matematika, pelajari matematika. Kalau mau belajar agama, pelajari agama. Nggak mungkin semua mata pelajaran bisa masuk ke kepala kita," kata Kalla. *e-ti |
M Jusuf Kalla Kata Kuncinya Agroindustri
|
|||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
| Copyright © 2003 Ensiklopedi Tokoh Indonesia. All right reserved. Design and Maintenance by Esero |