|
Enam Tokoh
Berbahasa Indonesia Lisan Terbaik
Jakarta 14/10/03: Susilo Bambang Yudhoyono (Menko Polkam), Yusril Ihza
Mahendra (Menkeh HAM), Eep Saefulloh Fatah (pengamat politik),
Nurcholish Madjid (cendekiawan), Pradjoto (pengamat hukum perbankan),
dan Richard Gozney (Duta Besar Inggris untuk Indonesia) terpilih sebagai
tokoh berbahasa Indonesia lisan terbaik.
Pemilihan itu dilakukan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
bersama tujuh organisasi media massa untuk pertama kalinya dan diumumkan
dalam Pembukaan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia Jakarta,
Selasa (14/10). Keenam tokoh itu memperoleh penghargaan berupa plakat
yang diserahkan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Jusuf
Kalla.
“Pemilihan tokoh berbahasa Indonesia lisan terbaik ini dilakukan untuk
menumbuhkan kepedulian berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dari
tokoh-tokoh lainnya. Mereka yang terpilih, diharapkan bisa menjadi
teladan bagi masyarakat,” begitu kata Kepala Pusat Bahasa Depdiknas
Dendy Sugono.
Menurut Dendy, kriteria penilaian meliputi vokal, berupa kenyaringan dan
keterdengaran serta enunsiasi (kejelasan pengucapan) dan intonasi (tekanan
suara). Juga dinilai pilihan kata, istilah dan struktur kalimat,
penalaran dan organisasi tuturan, serta sikap ketika berbicara.
Pemilihan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama media massa cetak dan
elektronik sejak tanggal 1 April hingga 15 Juli 2003 masing-masing
mencalonkan lima tokoh. Tahap kedua pemilihan dilakukan oleh dewan juri
dari nama-nama tokoh usulan media itu.
Dewan juri juga terdiri dari Pusat Bahasa dan wakil-wakil organisasi
media massa, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jakarta, Aliansi
Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI),
Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), Dewan Pers,
Lembaga Pers Dr Sutomo, dan Forum Bahasa Media Massa (FBMM).
Pada kesempatan itu, Pusat Bahasa juga memberikan penghargaan kepada
tiga sastrawan, yakni NH Dini, Dorothea Rosa Herliany, dan Oka Rusmini.
Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan mewakili para penerima
penghargaan, terlebih dulu mempertanyakan patut-tidaknya para tokoh
tersebut dianggap berbahasa Indonesia lisan terbaik. Kemudian, ia
mengatakan: "Bagi kami, tiada hari tanpa terus-menerus memperbaiki,
belajar, dan menyempurnakan kemampuan dan cara berbahasa Indonesia kami.
Karena kami yakin, universitas yang abadi itu adalah hidup dan kehidupan
kita.".
Sementara Richard Gozney tidak percaya kalau dirinya layak mendapat
penghargaan itu. Namun bagi Gozney penghargaan itu menjadi tantangan
untuk lebih banyak belajar menyempurnakan kemampuan berbahasa Indonesia
lisan. Gozney berharap, orang-orang asing termasuk diplomat yang berada
di Indonesia berniat mempelajari bahasa Indonesia.
Menurut Gozney, yang mengaku mempelajari bahasa Indonesia sejak tahun
1970-an ketika pertama kali berdinas di Indonesia, sungguh merupakan
sikap mulia dari orang asing jika berupaya mempelajari identitas bangsa
yang ditempatinya hidup dan bergaul. Apalagi, katanya, bahasa Indonesia
sangat fleksibel menerima kata-kata serapan asing. *e-ti |
|
Wawancara Theo L Sambuaga (2)
Pertama, aparatur pemerintahan harus berdasarkan sistem good
governance. Kedua, civil society harus kuat. Sektor negara seperti
pemerintah, MA, BPK dan sektor masyarakat seperti pers, mahasiswa, LSM,
Parpol harus diberdayakan. Semuanya ini harus kuat tidak hanya di Pemilu
saja tetapi setelah Pemilu terus diperkuat.
|
|