|
Rapimnas VII Partai Golkar
Loloskan 7 Bakal Capres
Jakarta 20/10/03: Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) VII Partai Golkar
berakhir semalam (19/10). Keputusan penting Rapimnas adalah perubahan
penentuan bakal calon presiden dalam prakonvensi dari lima menjadi tujuh
orang dan penundaan jadwal pelaksanaan konvensi nasional pemilihan calon
presiden yang seyogianya dilaksanakan Februari 2004, menjadi setelah
pemilu legislatif 5 April 2004.
Tujuh bakal calon presiden yang diloloskan tanpa melalui prakonvensi
nasional yang semula dijadualkan harus dilakukan 20-22 Oktober 2003 itu
adalah Surya Paloh, Wiranto, Aburizal Bakrie, Akbar Tandjung, Jusuf
Kalla, Prabowo Subianto, dan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Menurut Wakil Sekretaris Konvensi Nasional Partai Golkar Rully Chairul
Azwar, usai paripurna IX Rapimnas Partai Golkar, di Hotel Shangri-La
Jakarta, semua peserta rapimnas menerima rekomendasi dari komisi-komisi
pada rapat paripurna IX, dengan agenda pengesahan hasil-hasil komisi,
dipimpin oleh Ketua DPP Partai Golkar Agung Laksono.
Menurutnya, tidak ada perdebatan yang berarti mengenai perubahan jadwal
itu. Beberapa peserta rapim hanya menanyakan alasan mengapa ditetapkan
tujuh nama, bukan lima, dan mengapa jadwal konvensi nasional calon
presiden berubah menjadi setelah pemilu legisltif yang bertujuan untuk
kepentingan Golkar menghadapi Pemilu 2004.
Keputusan ini mendapat tanggapan beragam. Surya Paloh, kandidat Capres
Golkar menyatakan rasa kecewa tetapi dapat memahami. Kandidat lainnya,
Jusuf Kalla menyambut baik keputusan itu demi kepentingan partai Golkar
pada Pemilu 2004. Fahmi Idris Anggota Badan Pengawas Konvensi Partai
Golkar mengatakan salah satu esensi prakonvensi adalah kompetisi
antarkandidat capres untuk menentukan lima besar yang akan mengikuti
proses selanjutnya. ''Kalau rapim sudah menetapkan tujuh nomine dan
menunda waktu penentuan satu calon pada dari Februari menjadi setelah
pemilu legislatif, untuk apa ada prakonvensi lagi?'' kata Fahmi.
Ketua DPP Partai Golkar Marzuki Darusman mengatakan konvensi capres
Partai Golkar telah berjalan secara terbuka dengan melibatkan
partisipasi publik. Namun, anehnya, keputusan rapim memperlihatkan
seolah-olah konvensi hanya menjadi urusan internal Golkar. *e-ti |
|
Wawancara Theo L Sambuaga (2)
Pertama, aparatur pemerintahan harus berdasarkan sistem good
governance. Kedua, civil society harus kuat. Sektor negara seperti
pemerintah, MA, BPK dan sektor masyarakat seperti pers, mahasiswa, LSM,
Parpol harus diberdayakan. Semuanya ini harus kuat tidak hanya di Pemilu
saja tetapi setelah Pemilu terus diperkuat.
|
|