| |
C © updated
03042005 |
|
|
|
|
|
|
|
| |
 |
|
| |
► e-ti/ap |
|
| |
Nama:
Paus Yohanes Paulus II
Nama Asli
Karol Jozef Wojtyla
Nama Panggilan:
Lolek
Lahir:
Wadowice, Polandia, 18 Mei 1920
Meninggal:
Vatikan, Sabtu 2 April 2005 pukul 21.37 waktu Italia atau Minggu 3 April
2005 pukul 02.37 WIB
Jabatan:
- Paus Roma Katholik 16 Oktober 1978
- Pimpinan Negara Vatikan
- Uskup Roma
- Vikaris (Wakil) Kristus
- Penerus Santo Petrus
- Uskup Agung Gereja Katolik Sedunia
- Kardinal Gereja Katolik Polandia 1967
Ayah:
Karol Wojtyla
Ibu:
Emilia Kaczorowska Wojtyla |
|
| |
|
|
|
|
PAUS YP II

Paus Yohanes Paulus II
Selamat Jalan Bapa Suci
Dunia pasrah dan berduka atas wafatnya Bapa Suci, pimpinan Roma Katholik
dan Pimpinan Negara Vatikan, Paus Yohanes Paulus II pada Sabtu
(2/4/2005) pukul 21.37 waktu Italia atau Minggu (3/4/2005) pukul 02.37
WIB. Pihak Tahta Suci mengumumkan secara resmi telah berpulangnya Sri
Paus di hadapan sekitar 70 ribu manusia memadati Lapangan Santo Petrus.
Mereka makin banyak berkumpul di lapangan itu sejak ada berita bahwa
Paus mendapat Sakramen Perminyakan Orang Sakit, yang merupakan sakramen
terakhir bagi umat Katolik di ambang ajal.
Bahkan sejak sakit berat Paus diumumkan, beberapa acara penting televisi
Italia (RAI) dibatalkan. Termasuk, pertandingan sepak bola Seri A dan B
ditangguhkan untuk menghormati Paus. Saat itu, Paus sudah dalam kondisi
tidak sadar dan hanya bisa bernapas pendek-pendek dengan alat bantu.
Kondisinya, menurut juru bicara Vatikan Joaquin Navarro Valls, sangat
lemah karena jantung dan ginjalnya gagal berfungsi.
Kesehatan Sri Paus, 84, yang menderita penyakit parkinson dan sejak lama
menggunakan kursi roda, mendadak turun drastis pada Kamis malam. Namun
Paus sempat sadarkan diri pada Sabtu subuh. Dia berbicara, matanya
terbuka dan dalam keadaan sadar, lalu terlihat ingin tidur.
Menurut aturan Tahta Suci Roma Katholik, pertemuan para kardinal untuk
memilih Paus (conclave) harus sudah dilakukan tidak boleh kurang dari 15
hari dan tidak boleh lebih dari 20 hari sesudah Paus meninggal. Waktu 15
hari dimaksudkan untuk persiapan penguburan dan masa berkabung. Biasanya
Paus dimakamkan sesudah sekitar enam hari.
Paus Yohanes Paulus II adalah seorang anak Polandia bernama Karol Jozef
Wojtyla. Lahir pada 18 Mei 1920 di Wadowice, sebuah kota dengan 8.000
umat Katolik dan 2.000 orang Yahudi, 56 kilometer di barat daya Krakow.
memanggil Wojtyla dengan nama "Lolek".
Dia anak kedua dari Karol Wojtyla (ayah) seorang penjahit dan pensiunan
tentara dan Emilia Kaczorowska Wojtyla (ibu) seorang guru sekolah. Pada
saat kecil, dia dipanggil teman-temannya Lolek. Pada masa muda, dia
gemar main sepakbola sebagai penjaga gawang, juga gemar berenang di
Sungai Skawa, serta bermain ski, mendaki gunung dan naik kayak.
Namun masa kecil dan remajanya tidak sebahagia teman-temannya. Saat
berumur sembilan tahun, ibu yang dicintainya wafat karena sakit jantung
(1929). Tiga tahun kemudian kakak laki-lakinya meninggal. Sebelum ia
lahir, kakak perempuannya yang masih kecil meninggal dunia. Bahkan dia
sendiri nyaris tewas dua kali akibat tertabrak mobil dan tertabrak truk
(1944). Dia luka-luka namun tidak cacat.
Sepeninggalan ibu dan saudaranya, Lolek dan ayahnya hidup di sebuah
Spartan, apartemen satu kamar di belakang gereja. Ayahnya, Wojtyla
membesarkan dan mendidik Lolek dengan disiplin seperti tentara dan
belajar agama. Ayahnya ingin Lolek kelak menjadi pelayan Tuhan. Lolek
sendiri gemar puisi, teater dan agama.
Setelah lulus sekolah menengah (1938), Lolek dan ayahnya pindah ke
Krakow. Di kota ini, ia belajar sastra dan filsafat di Universitas
Jagiellonian. Kesempatan baik baginya bergabung dengan kelompok pembaca
puisi dan kelompok diskusi sastra.
Ketika Jerman menyerang Polandia (1940), Lolek bekerja sebagai seorang
pemotong batu, untuk menghindari penjara. Tak lama kemudian, Februari
1941, ayahnya meninggal dunia dalam usia 61, tanpa sempat melihat Lolek
menjadi pastor.
Sekitar 18 bulan berikutnya, Lolek memulai memenuhi harapan ayahnya
untuk menjadi pastor. Dia belajar di sebuah seminari bawah tanah di
Krakow, sekaligus belajar teologi di universitas. Ketika itu, ada
larangan dari penguasa Jerman, sehingga harus belajar sembunyi-sembunyi.
Dia belajar sembari bekerja di sebuah pabrik hingga Agustus 1944.
Kemudian tentara Jerman mulai menangkapi pemuda-pemuda Polandia, Wojtyla
bersembunyi di rumah uskup Krakow hingga perang berakhir. Pada tahun
1946, dia ditahbiskan sebagai pastor di Krakow. Di tengah kesibukannya,
dia terus melanjutkan sekolah hingga meraih dua gelar sarjana dan sebuah
gelar doktor. Setelah itu, dia bertugas sebagai asisten pastor Krakow
(1949).
Pengalaman awalnya sebagai pastor, Wojtyla bertugas sebagai pastor
pembimbing mahasiswa di Gereja St. Florian, Krakow. Gereja itu
berdekatan dengan Universitas Jagiellonian, tempatnya mengerjakan
doktoral keduanya dalam bidang filsafat.
Ketika itu (1954) pemerintah komunis Polandia menghapuskan departemen
theologi dari universitas. Seluruh fakultas digabungkan ke Seminari
Krakow. Wojtyla pun melanjutkan belajar di situ. Pada saat itu, ia juga
diminta mengajar di Universitas Katolik Lublin - satu-satunya
universitas Katolik di negara komunis. Sehingga Wojtyla harus
bolak-balik Lublin-Krakow.
Dua tahun kemudian (1956), Wojtyla bertugas sebagai Pimpinan Studi Etika
di Universitas. Karirnya di hirarki gereja pun naik pesat setelah ia
dinobatkan sebagai pembantu uskup Krakow. Ketika Konsili Vatikan II
dimulai (1962), Wojtyla menyumbang gagasan terutama dalam hal kebebasan
beragama.
Kemudian, dia ditunjuk menjadi pejabat uskup Krakow ketika pendahulunya
wafat. Dia uskup yang cerdas, tegas namun bersahabat, luwes, pendengar
yang baik, memiliki selera humor yang segar. dan sangat suci. Namanya
mulai menonjol di antara uskup lainnya.
Maka tak heran bila pada tahun 1967, Paus Paulus VI menunjuknya sebagai
kardinal Gereja Katolik Polandia. Saat itu pemerintah komunis Polandia
tidak keberatan karena sifat-sifatnya yang baik tersebut. Pada hal saat
itu, gereja dan masyarakat berada di bawah tekanan pemerintah komunis.
Ketika itu, Gereja Katolik Polandia menjadi salah satu sarana untuk
mengungkapkan perasaan-perasaan nasionalisme warganya.
Kardinal Wojtyla memainkan peran dengan sangat baik. Dia seringkali
memposisikan diri sebagai penentang komunisme. Dia pun mengakomodir dan
mengarahkan ekspresi-ekspresi warga dengan sangat elegan sehingga tidak
sampai memprovokasi reaksi brutal pemerintah komunis. Pada masa-masa
sulit itu pula, Kardinal Wojtyla banyak menulis mengenai etika dan
filsafat.
September 1978, Paus Yohanes Paulus I wafat akibat serangan jantung,
yang menjadi Paus hanya selama 34 hari. Para kardinal dari seluruh dunia
berkumpul untuk memilih penggantinya. Para kardinal sangat sulit
menemukan kata sepakat setelah tujuh kali pemungutan suara. Lalu ketika
petang hari 16 Oktober 1978, dilakukan putaran ke delapan, muncul nama
Wojtyla. Kardinal Wojtyla dari negara komunis Polandia terpilih menjadi
Paus.
Wojtyla menerima hasil pemilihan itu dengan mata berkaca-kaca.
Sebelumnya, tidak seorang pun menyangka bahwa Wojtyla bakal dipilih
sebagai Paus. Wojtyla sendiri bahkan sudah memiliki tiket pulang ke
Polandia. Ia Paus non-Italia pertama sejak 455 tahun (yang terakhir
adalah Paus Adrian VI tahun 1523). Juga Paus termuda (58 tahun) dalam
132 tahun terakhir.
Wojtyla kemudian memilih nama sama seperti pendahulunya, Paus Yohanes
Paulus II, dan menjadi Paus Slav yang pertama. "Saya gentar menerima
tugas ini. Tetapi saya menerimanya dengan semangat kepasrahan pada Tuhan
dan kepercayaan sepenuhnya terhadap Bunda Maria yang suci," katanya
ketika itu kepada umat yang menunggu di Lapangan Santo Petrus.
Dalam kepemimpinnya sebagai Paus, dia telah melakukan pembaharuan gereja
dan dunia. Paus satu-satunya paus yang pernah masuk komik - karya Marvel
(1983) ini berbeda dengan paus-paus sebelumnya yang lebih banyak berdiam
di Roma. Paus Yohanes Paulus II yang bisa berbicara dalam delapan bahasa
itu muncul di mana-mana dan menjadi pemberitaan di seluruh dunia. Dia
Paus paling banyak melakukan perjalanan ke luar negeri. Dia telah
mengunjungi lebih dari 115 negara, termasuk Indonesia (1989). Dia juga
selalu mencium bumi negeri yang dikunjunginya.
Pada tahun 1994, majalah Time memilihnya sebagai Man of the Year, karena
dianggap menggetarkan hati banyak orang. Andrew M. Greeley dalam bukunya
"The Making of Popes 1978", menuliskan, "Gerakannya, kehadirannya,
senyumnya, gerakan tubuhnya, rasa bersahabat di matanya, telah membuat
senang setiap orang. Ia selalu menjabat tangan, tersenyum, berbicara dan
memberkati anak-anak."
Namun seorang warga Turki bernama Mehmet Ali Agca pernah menembaknya dua
kali dalam suatu percobaan pembunuhan (1981) di Lapangan Santo Petrus.
Tak lama kemudian Paus mengunjungi penembaknya di penjara dan memaafkan
dia. Ketika itu Agca pun sempat berkata, "Bagaimana mungkin aku tidak
bisa membunuh Anda?"
Dia sungguh Paus yang disenangi banyak orang. Kendati selalu saja ada
orang yang tidak menyukai bahkan memusuhinya. Dia memang sering
memperingatkan bahayanya materialisme, egoisme dan sekularisme. Ia juga
menyerukan penurunan standar hidup di beberapa negara maju seperti AS
bisa berbagi dengan negara dunia ketiga. Paus menegaskan bahwa
materialisme bukanlah jawaban bagi dunia. Dia juga menolak perang,
termasuk invasi AS ke Afghanistan dan Irak. Dia juga menentang aborsi,
kontrasepsi, dan euthanasia. Baginya bayi di dalam kandungan adalah
kehidupan yang harus dibela.
Sungguh, dunia kehilangan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II ini. Namun
namanya pastilah dikenang sepanjang masa. Selamat Jalan! ► e-ti/
tsl, dari berbagai sumber
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
|
|