A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
:: Beranda :: Berita :: Profesi :: Politisi :: Pejabat :: Pengusaha :: Pemuka :: Selebriti :: Aneka ::
 ► Home
 ► Biografi
 ► Versi Majalah
 ► Berita
 ► Galeri
  A N E K A
 ► Aneka
 ► Alumni
 ► Ratu Indonesia
 ► Sang Juara
 ► Maestro
 ► Penghargaan
 ► Ratu Dunia
 ► Tokoh Dunia
 ► Penemu
 ► Hadiah Nobel
 ► Pengasuh
 ► Iklan
 ► Majalah TI
     ► MTI Khusus
 ► Nusantara
 ► Search
 ► Poling Tokoh
 ► Selamat HUT
 ► In Memoriam
 ► Redaksi
 ► Buku Tamu
 

 


 
  C © updated 16082008  
   
  ►e-ti/doan  
  BIODATA:

Nama:
Mari Bin Amude Alkatiri  Nama Panggilan:
Mari Alkatiri
Lahir:
Dili, 26 November 1949
Agama:
Islam

Jabatan:
- Sekretaris Jenderal Partai Fretilin
- - Perdana Menteri pertama Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), 2001-2006

Pendidikan:
- Lulus sebagai surveyor dari The Angolan School of Geography
- Lulus studi hukum di Eduardo Mondlane University, Maputo, Mozambique

Karir:
- Salah seorang pendiri organisasi Gerakan Pembebasan Timor Timur (MLET = Movement for The Liberation of East Timor) - Konsultan hukum di Maputo (1992-1998)
- Konsultan hukum internasional dan hukum konstitusional pada parlemen Mozambik (1995-1998)
- Pengajar di jurusan hukum internasional di Universitas Mozambik
- Pendiri Fretilin (Revolutionary Front for an Independent East Timor)
- Sekretaris Jenderal Fretilin

 
 
     
BIOGRAFI
Mari Alkatiri

Perdana Menteri Pertama Timor Leste


Siapkan Generasi Muda Jadi Perdana Menteri. Mari Bin Amude Alkatiri atau akrab dikenal Mari Alkatiri, seorang muslim yang beraliran politik nasional sosialis. Sekretaris Jenderal Fretilin ini terpilih sebagai Perdana Menteri pertama Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) yang berpenduduk mayoritas Katolik, setelah Fretilin memenangkan (57% suara) Pemilu 2001.

 

Pria kelahiran Dili, 26 November 1949, itu seorang pemimpin berkarakter yang berhasil memimpin Partai Ferilin sebagai partai besar dan berpengaruh di Timor Leste.

ia mempunyai andil signifikan pada kemerdekaan dan bertumbuhnya demokrasi di Timor Leste. Dia telah menggeluti dunia politik sejak usia muda. Bahkan ketika berumur 20 tahun (1970), Alkatiri telah tercatat sebagai salah seorang pendiri organisasi Gerakan Pembebasan Timor Timur (MLET = Movement for The Liberation of East Timor).


Alkatiri keturunan Arab-Yaman yang dilahirkan dalam sebuah keluarga besar (10 orang bersaudara) kala itu meninggalkan Dili, Timor Timur (sekarang Timor Leste) untuk melanjutkan studi ke Angola dan Mozambique. Setelah lulus sebagai surveyor dari The Angolan School of Geography, ia meneruskan studi hukum di Eduardo Mondlane University, Maputo, Mozambique.


Selepas kuliah, Alkatiri sempat menjadi konsultan hukum di Maputo (1992-1998), serta konsultan hukum internasional dan hukum konstitusional pada parlemen Mozambik (1995-1998). Selain itu, pria kelahiran Dili, 26 November 1949 ini juga menjadi pengajar di jurusan hukum internasional di Universitas Mozambik.


Namun di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, konsultan hukum dan dosen hukum internasional, dia selalu gigih memperjuangkan negerinya. Ketika Timtim (Timor Timur) berada dalam wilayah negara Indonesia, Alkatiri mendirikan Fretilin (Revolutionary Front for an Independent East Timor), suatu partai yang gigih memperjuangkan pembebasan Timtim dari Indonesia ketika itu. Sehingga dunia internasional lebih mengenalnya sebagai tokoh pejuang Fretilin internasional. Sebagai salah seorang tokoh pejuang Fretilin, Alkatiri pernah memegang jabatan menteri Timor Leste (Timtim) di pengasingan sejak Fretilin mendeklarasikan pemerintahan transisi.


Setelah referendum pada 1999 dan Timor Leste di bawah kekuasaan PBB, Alkatiri dipercaya sebagai menteri ekonomi sementara. Kemudian Alkatiri terpilih sebagai Perdana Menteri pertama Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), setelah partainya, Fretilin, memenangkan Pemilu 2001 dengan meraih suara mayoritas mutlak 57%.


Pria keturunan Yaman ini sangat teguh memegang prinsip-prinsip perjuangan. Pemikiran sosialisnya kental dalam menentukan kebijakan politik dan haluan partainya, Fretilin. Ketika menjabat perdana menteri, Alkatiri bertekad membangun ekonomi bangsa Timor Leste secara mandiri melalui pemanfaatan kekayaan alam yang ada. Ia tidak menginginkan jika pembangunan negaranya tergantung pada utang luar negeri. Suatu sikap mengenai pentingnya kemandirian ekonomi. Namun demikian, menurut Alkatiri, Timor tetap harus membuka diri pada investor asing yang bisa memberikan keuntungan secara adil. Salah satu keberhasilan Alkatiri adalah pernah menekan Australia untuk membuat perjanjian tentang bagi hasil minyak di Celah Timor secara adil.


Ternyata, dalam perjalanannya, kepemimpinan Alkatiri direcoki dari dalam negeri. Menurut Alkatiri, Xanana Gusmao, yang kala itu menjabat Presiden Timor Leste, ikut serta di dalamnya. Kala itu muncul pertikaian antarkelompok bersenjata (antara tentara dan polisi). Alkatiri memecat sekitar 691 anggota Angkatan Bersenjata Timor Leste yang dinilai tidak disiplin dan melakukan desersi.


Tahun 2006 terjadi krisis politik di Timor Leste. Menurut Alkatiri, pada masa itu Xanana menggunakan alasan-alasan yang tidak tepat untuk memecatnya dari kursi Perdana Menteri. Didasarkan pada pengakuan sekelompok orang bersenjata yang mengatakan Alkatiri memberikan senjata kepada mereka. “Xanana tidak mau tahu ini benar atau tidak. Dia menerima orang ini untuk alasan menekan saya melepas kursi PM. Ini terjadi akibat permainan politik yang Xanana ada di dalamnya,” jelas Alkatiri dalam percakapan dengan wartawan Tokoh Indonesia.


Hal ini memicu terjadinya krisis 2006. Konflik antara angkatan bersenjata dan polisi. Angkatan bersenjata memberi dukungan kepada Alkatiri dan polisi memberikan dukungan kepada Xanana. Presiden Xanana Gusmao mengumumkan negaranya dalam keadaan darurat, dan akan mengambil-alih kekuasaan perdana menteri dari Alkatiri. Xanana mengultimatum Alkatiri: mengundurkan diri atau dipecat.


Alkatiri sendiri sebenarnya menginginkan peralihan kekuasaan melalui Pemilu berikutnya (2007) sebagai jalan terbaik dan demokratis. Namun, “karena saya tidak mau konflik kedua lembaga ini berlanjut maka saya mengambil keputusan untuk berhenti dari PM. Tapi sebelum saya mengambil keputusan, saya meminta bantuan negara-negara luar datang ke Timor untuk menstabilkan keadaan,” jelas Alkatiri. Akhirnya, Alkatiri mengalah dengan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai perdana menteri (26/06/06).


Setelah mengundurkan diri, Alkatiri bukan diperlakukan sepantasnya, malah menghadapi penyelidikan terkait kerusuhan atau krisis di negara itu. Ia dituduh sebagai orang yang berada di balik pembagian senjata kepada sekelompok milisi sipil. Bahkan berdasarkan surat panggilan dari Jaksa Agung Timtim (7/7/06), ia dijadikan tersangka atas kasus tersebut.


“Meskipun saya sudah mengundurkan diri, mereka (pemerintahan Xanana) tetap tidak gembira. Karena, mereka tahu, saya dan Fretilin akan menang kembali pada Pemilu berikutnya. Oleh sebab itu, mereka terus menekan saya, menekan Fretilin, membawa saya ke pengadilan untuk melawan saya dan lebih jauh lagi merusak nama saya. Kalau nama saya sudah rusak berarti nama Fretilin juga rusak,” kata Alkatiri.


Tapi ternyata tahun 2007, Fretilin masih memenangi Pemilu, namun bukan lagi mayoritas mutlak. Fretilin mengumpulkan suara 29 persen dari 412.679 suara sah. Pesaing terdekatnya, Kongres Nasional Rekonstruksi Timor Leste (CNRT) yang dipimpin Xanana Gusmao, hanya memperoleh 24,1 persen suara. Koalisi The Association of Timorese Democrats-Social Democrat Party (ASDT-PSD) memperoleh 15,8 persen. Partai Demokrat meraih 11,3 persen.


Dengan perolehan suara ini Fretilin menduduki 21 dari 65 kursi parlemen, CNRT meraih 18 kursi, partai gabungan ASDT-PSD 11 kursi, Partai Demokrat delapan kursi. Sementara, dalam konstitusi Timor Leste, untuk menjadi partai memerintah, harus memiliki lebih dari 50 persen suara. Xanana menggalang koalisi dengan partai lain, sehingga Presiden Ramos Horta menetapkan Xanana menjadi Perdana Menteri.


Alkatiri, tidak mau ribut-ribut, kendati ia menganggap pemerintahan Xanana inskonstitusional. Alkatiri memilih jalan demokratis dengan mendesak percepatan Pemilu pada 2009. Dia yakin, jika Pemilu dipercepat, Fretilin akan meraih suara di atas 50%. Dengan demikian, Fretilin akan kembali berkuasa. Namun, Alkatiri tidak lagi berambisi menjabat Perdana Menteri. Dia akan mempercayakan jabatan PM itu kepada generasi muda yang sudah dipersiapkan partainya.


Bahkan pada tahun 2007 pun Alkatiri susah siap untuk tidak menjadi PM dan memberikan kesempatan pada generasi berikutnya. “Saya menyadari generasi tua ini keluar dari politik dan memberikan kesempatan kepada yang muda agar politik itu bisa berjalan,” kata Alkatiri.


Menurutnya, lalau generasi tua berada di luar maka akan bisa membantu membimbing generasi muda. Sebagai seorang Sekjen Fretilin, partai besar dan bersejarah, dia bisa memengaruhi segala situasi lebih baik daripada menjadi PM. “Oleh karena itu, meskipun saya bekerja keras kepada Fretilin agar bisa menang, saya mencoba agar semua orang Fretilin memberi dukungan kepada generasi muda,” ungkap Alkatiri.
Bahkan untuk ikut Pemilu Presiden pun dia tidak berniat ikut.

 

 “Saya adalah seorang manajer bukan politikus. Dalam pemerintahan Timor Leste, PM adalah manajer. Karena itu saya tidak punya feeling menjadi Presiden Republik Timor Leste,” tegasnya.


Proses regenerasi memang berjalan sedemikian rupa si Fretilin. Llihat saja, Wakil Presiden Fretilin sekarang berumur 33 tahun. Dua orang Wakil Sekjen berkisar di antara 40 tahun.
 ►mti/ch robin simanullang, doan adikara dan sopian

 

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)