| BERITA |
|
|
 |
Mari Alkatiri
Pemilu Dipercepat 2009, Fretilin Yakin Menang
Wawancara: Mari Bin Amude Alkatiri (Mari Alkatiri) mengatakan
kekuasaan yang diberikan presiden kepada Xanana Gusmao atas dukungan
partai koalisi, melawan konstitusi, juga menyalahi undang-undang Pemilu.
Pemerintah ini inkonstitusional, tidak ada legitimasi. Lagi pula,
menurutnya, dalam delapan bulan mereka berkuasa, menunjukkan tidak
mempunyai kapasitas dan kompetensi.
Dalam wawancara dengan wartawan Web site dan Majalah Tokoh Indonesia, Ch
Robin Simanullang, Sekretaris Jenderal Fretilin Mari Alkatiri menegaskan
bahwa dia dan Fretilin tidak mengakui legitimasi pemerintahan. Maka
konsekuensinya, semua perjanjian yang dibuat oleh Xanana dengan negara
lainnya yang bisa menyebabkan berkurangnya kedaulatan negara Timor Leste
atau perjanjian eksplorasi hak sumber daya alam Timor Leste, atau
kebijakan yang membuat perubahan struktur pemerintahan Timor Leste,
kalau nanti Fretilin menang dalam Pemilu, tidak akan mengakui itu semua.
Namun, Fretilin tidak ingin negara ini kembali dalam kekacauan. Maka,
Fretilin memakai mekanisme politik agar bisa menunjukkan kepada
masyarakat bahwa pemerintah ini tidak bisa memimpin lama dan harus ada
Pemilu yang dipercepat pada tahun 2009. Dalam rangka Pemilu dipercepat
ini, Fretilin telah menandatangani perjanjian dengan partai ASDT
(Timorese Social Democratic Association) pimpinan Francisco Xavier do
Amaral, yang tadinya berkoalisi dengan Xanana. Juga dengan partai lain
yakni UDT (Timorese Democratic Union) juga dalam kelompok Xanana, yang
dipimpin Joao Viegas Carrascalao. “Dia pun berkeyakinan Pemilu
dipercepat adalah salah satu solusi untuk menyelesaikan krisis di Timor
Leste,” ungkap Alkatiri.
Sesuai penuturan Alkatiri, bahwa Joao Viegas Carrascalao mengatakan
pemerintah Xanana berjalan bagaikan di atas kaca. Semudah kaca pecah,
begitu pemerintah ini rapuh akan jatuh. Di samping itu, kata Alkatiri,
kita juga melihat pemerintah sekarang memberlakukan diskriminasi pejabat
yang dicurigai sebagai Fretilin. Ini menunjukkan bahwa pemerintah ini
tidak memerintah untuk semua orang. Mereka memerintah untuk orang mereka
saja.
Maka Alkatiri sangat yakin jika Pemilu dipercepat 2009, Fretilin akan
menang di atas 50 persen sampai 60 persen. “Masyarakat mengatakan kalau
ada Pemilu sekarang maka semua akan memberikan suaranya kepada Fretilin.
Saya percaya kalau ada Pemilu sekarang, Fretilin akan menang lebih dari
50 persen, saya boleh mengatakan lebih dari 60 persen,” kata Alkatiri.
Sementara mengenai pentingnya hubungan Timor Leste dengan Indonesia,
Alkatiri menegaskan, siapa pun yang memerintah Timor Leste perlu
berusaha untuk memberikan perhatian besar pada Indonesia. Berikut kami
sajika petikan wawancara selama lebih 100 menit dengan Mari Bin Amude
Alkatiri, yang berlangsung di Jakarta, Mei 2008.
Partai Fretilin memenangkan Pemilu 2007 tetapi tidak dengan suara
mayoritas. Xanana Gusmao dari partai urutan kedua malah akhirnya menjadi
Perdana Menteri menggantikan Anda. Lalu, yang terakhir ada tragedi di
Timor Leste, Presiden Ramos Horta ditembak. Kalau menurut Anda apa
penyebabnya hingga terjadi hal itu?
Pertama kita bicara dulu bagaimana Xanana bisa menjabat sebagai Perdana
Menteri. Kita tahu pada tahun 2006 terjadi krisis politik di Timor Leste.
Pada masa itu Xanana menggunakan alasan-alasan yang tidak tepat untuk
mengeluarkan saya dari kursi Perdana Menteri.
Sekelompok orang dengan bersenjata mengatakan kalau saya
memberikan senjata kepada mereka, nama orang itu adalah Railos. Xanana
tidak mau tahu ini benar atau tidak. Dia menerima orang ini untuk alasan
menekan saya melepas kursi PM. Ini terjadi akibat permainan politik yang
Xanana ada di dalamnya. Mereka juga berharap mendepak saya dari kursi
Sekjen Partai Fretilin (Revolutionary Front for an Independent East
Timor) dalam kongres Fretilin, 20 Mei 2006.
Akan tetapi pada kongres tersebut saya terpilih kembali. Maka Xanana
harus mencari jalan lain untuk mengeluarkan saya dari kursi PM. Ini
menujukkan jelas Xanana ikut dalam konspirasi dengan tujuan utamanya
adalah mengeluarkan saya dari kursi PM. Bukan hanya itu, dia juga
menginginkan saya keluar dari kursi Sekjen Fretilin. Semua ini yang
membuat krisis terjadi 2006. Konflik antara angkatan bersenjata dan
polisi.
Konflik ini menunjukkan di dua kekuatan besar ini ada perpecahan.
Angkatan bersenjata memberi dukungan kepada saya dan polisi memberikan
dukungan kepada Xanana. Karena saya tidak mau konflik kedua lembaga ini
berlanjut maka saya mengambil keputusan untuk berhenti dari PM. Tapi
sebelum saya mengambil keputusan, saya meminta bantuan negara-negara
luar datang ke Timor untuk menstabilkan keadaan.
Meskipun saya sudah keluar, mereka tetap tidak gembira karena mereka
tahu saya dan Fretilin akan menang kembali pada Pemilu berikutnya. Oleh
sebab itu, mereka terus menekan saya, menekan Fretilin, membawa saya ke
pengadilan untuk melawan saya dan lebih jauh lagi merusak nama saya.
Kalau nama saya sudah rusak berarti nama Fretilin juga rusak. Mereka
kira nama saya sudah rusak, nama Fretilin juga rusak, maka pada Pemilu
2007 mereka kira Fretilin akan kalah dan mereka bisa menang.
Meskipun demikian, ternyata pada Pemilu 2007 Fretilin menang. Memang,
tidak menang sebagai mayoritas absolut, tapi kita menang. Xanana karena
sudah kalah dalam Pemilu bergabung pada partai-partai kecil dan bisa
memengaruhi Presiden Ramos Horta. Akhirnya presiden menyerahkan
pemerintahan kepada Xanana. Itu yang menyebabkan dia menjadi PM.
Kekuasaan yang diberikan presiden kepada Xanana atas
dukungan partai koalisi, melawan konstitusi, menyalahi undang-undang
Pemilu juga. Oleh sebab itu, bisa kita katakan pemerintah ini adalah
pemerintahan inkonstitusional, tidak ada legitimasi dan ini menujukkan
dalam delapan bulan mereka berkuasa mereka tidak mempunyai kapasitas dan
tidak ada kompetensi.
Bagaimana relevansinya dengan situasi yang terakhir terjadi?
Mayor Alfredo Reinaldo dengan krunya dipakai banyak orang untuk melawan
Fretilin sebelum Pemilu 2007. Ini yang menyebabkan problem Alfredo,
Railos dan kawan-lawannya tidak pernah terselesaikan karena mereka butuh
orang-orang ini untuk mengintimidasi, membuat masyarakat takut dan untuk
tidak memilih Fretilin. Selama kampanye Pemilu, mereka menyatakan kalau
Fretilin menang maka akan terjadi kekerasan kembali. Mereka mengatakan
kepada masyarakat di kampung, apabila di kampung kamu Fretilin menang,
maka kampung kamu akan kami bakar semua.
Mereka yang menggunakan Alfredo dkk, serta berjanji kepada Alfredo,
kalau mereka menjadi memimpin negara, akan mengembalikan Alfredo, Railos
dkk kembali dalam angkatan bersenjata. Mereka akan diberikan kompensasi
besar.
Tetapi, setelah mereka duduk di dalam pemerintahan, Railos ditangkap,
dipenjara, karena hukumlah yang berlaku. Hukum terus berjalan dan terus
juga akan menangkap Alfredo dan lainnya. Presiden Ramos Horta berusaha
mencarai jalan untuk memberikan yang terbaik kepada Alfredo. Terus
mengadakan pendekatan dengan kita semua untuk membicarakan tentang
pengampunan.
Akan tetapi ketika kami mulai berkumpul sudah mendekati pada kesepakatan
terjadilah peristiwa 11 Februari 2008. Alfredo datang dan menyerang
rumah Presiden Ramos Horta. Ramos Horta tertembak, seorang presiden yang
kita tahu memberikan perlindungan kepada Alfredo. Ini yang meyebabkan
semua orang bertanya-tanya, siapa orang yang menyuruh Alfredo menyerang
presiden. Sampai sekarang belum ada jawaban, banyak spekulasi, belum ada
kepastian.
Oleh sebab itu, Fretilin menuntut diadakannya komisi investigasi
internasional agar bisa mengetahui siapa yang berdiri di belakang
Alfredo, siapa yang kasih uang kepada Alfredo, minuman, obat dan
sebagainya hingga otak Alfredo menjadi gila dan melakukan itu. Karena
investigasi sedang berjalan, saya sebagai seorang politikus tidak mau
intervensi. Saya menuntut orang yang melakukan investigasi benar-benar
kredibel agar bisa menerima hasilnya.
Jadi itu sikap Anda sebagai pimpinan Fretilin atau mantan PM terhadap
tragedi itu?
Sebenarnya, saya ada kepuasan dan ketidakpuasan, akan tetapi karena
investigasi sedang berjalan saya tidak ikut campur.
Kembali pada masalah Xanana menjadi PM, yang tadi Anda sebutkan itu
kekuasaan yang inkonstitusional. Dalam posisi dia menjabat secara
inkonstitusional, bagaimana sikap Anda?
Pertama, Fretilin dan saya tidak mengakui legitimasi pemerintahan. Maka
sebab itu konsekuensinya adalah semua perjanjian yang dibuat oleh Xanana
dengan negara lainnya yang bisa menyebabkan berkurangnya kedaulatan
negara Timor Leste atau perjanjian eksplorasi hak sumber daya alam Timor
Leste, atau kebijakan yang membuat perubahan struktur pemerintahan Timor
Leste, kalau nanti Fretilin menang dalam Pemilu, tidak akan mengakui itu
semua.
Namun, Fretilin tidak ingin negara ini kembali dalam kekacauan. Maka,
Fretilin memakai mekanisme politik agar bisa menunjukkan kepada
masyarakat bahwa pemerintah ini tidak bisa memimpin lama dan harus ada
Pemilu yang dipercepat pada tahun 2009, ini yang kedua.
Ketiga, Fretilin sudah membuat proposal agar nanti pemerintah bisa
membangun mekanisme tingkat tinggi, bisa bersatu memelajari reformasi
angkatan bersenjata dan keamanan, administrasi pemerintah, keadilan,
membangun sebuah otoritas yang menjamin pemerintahan yang bersih.
Fretilin berusaha mempercepat Pemilu pada 2009. Apa upaya konkrit
Fretilin sendiri dan bagaimana respon Xanana akan hal itu?
Terlihat bahwa aliansi-aliansi yang bersatu dengan Xanana sudah mulai
pecah. Salah satu partai yang sangat penting dalam tubuh Xanana telah
menandatangani perjanjian dengan Fretilin. Dalam satu poinnya adalah
Pemilu dipercepat. Di antaranya, partai ASDT (Timorese Social Democratic
Association) pimpinan Francisco Xavier do Amaral. Ada partai lain yakni
UDT (Timorese Democratic Union) juga dalam kelompok Xanana, pimpinannya
adalah Joao Viegas Carrascalao. Dia pun berkeyakinan Pemilu dipercepat
adalah salah satu solusi untuk menyelesaikan krisis di Timor Leste.
Kalau dua partai ini telah menunjukkan posisi mereka yang jelas ditambah
Fretilin dan dua atau tiga partai kecil lainnya, menunjukkan sudah
mayoritas mendukung Pemilu dipercepat. Tinggal kita membuat kondisi hal
itu bisa tercapai. Tidak boleh kita berlari terlalu cepat yang bisa
menyebabkan krisis kembali terjadi. Tetapi kita mendorong agar Pemilu
dipercepat ini bisa direalisasi. Maka sebab itu, saya bisa mengatakan
hasilnya sudah kelihatan.
Pada tahun 2006, dengan kekerasan mereka menjatuhkan saya, akan tetapi
Fretilin menunjukkan anti kekerasanlah jalan yang benar. Bisa juga
dengan jalan politik untuk mendapat solusi politik yang baik.
Timor Leste menganut sistem parlementer. Kalau parlemen sudah tidak
memberi dukungan mayoritas kepada PM, apakah tidak ada langkah mosi
tidak percaya di parlemen?
Ada dua cara. Pertama meminta parlemen untuk memberikan suara dukungan
kepercayaan. Usulan Joao Viegas Carrascalao adalah agar pemerintah
meminta dukungan kepercayaan kepada parlemen. Dia bagian dari Xanana.
Lebih baik pemerintah tanya kembali apakah masih ada kepercayaan. Ini
adalah usulan Joao Viegas Carrascalao. Karena dia mengatakan pemerintah
berjalan bagaikan di atas kaca. Semudah kaca pecah, begitu pemerintah
ini rapuh akan jatuh.
Seandainya pemerintah tidak minta dukungan kepercayaan kepada parlemen,
Fretilin dan partai lainnya bisa meminta ketidakpercayaan (mosi tidak
percaya) di parlemen atau kita menunggu sampai diskusi anggaran belanja
negara. Apabila parlemen tidak menyetujui anggaran belanja negara dua
kali berturut-turut maka pemerintah ini akan jatuh.
Apakah ada upaya secara langsung yang dilakukan Fretilin untuk
membangun koalisi dalam rangka mengajukan mosi tidak percaya?
Fretilin menginginkan Pemilu dipercepat pada tahun 2009, karena masih
banyak problem yang harus diselesaikan bersama. Di antaranya adalah
masalah pengungsi, para petisioner. Sekarang ada masalah baru, masalah
makanan. Harga makanan naik dengan cepat. Kita perlu melihat masalah ini
sebagai masalah nasional karena siapa pun yang menang dalam Pemilu akan
menghadapi masalah ini.
Maka dari itu, kita jangan membuat masalah baru lagi dalam masalah ini.
Kita menunggu waktu untuk bersatu, sesudah itu kita melihat kepada
Pemilu yang bisa mengembalikan hidup kita kembali normal.
Fretilin menempuh cara-cara anti kekerasan dalam rangka proses
politik. Langkah-langkah konkrit yang dilakukan Fretilin dalam rangka
konsolidasi Pemilu 2009, kira-kira apa?
Sebenarnya pada 11 Februari lalu Fretilin akan mulai konsolidasi dari
tingkat paling bawah sampai atas. Akan tetapi program ini tertunda
akibat ada peristiwa 11 Februari, hal mana pemerintah memutuskan negara
dalam keadaan bahaya. Karena Fretilin taat pada peraturan maka Fretilin
tidak melakukan aktifitas.
Sekarang Fretilin sudah mulai. Mulai dari daerah fusi dan sekarang sudah
berjalan di perbatasan. Sampai bulan Agustus ini yang kami sebut dengan
pendaftaran kembali dari tingkat bawah sampai tingkat atas sudah selesai.
Ini menunjukkan pimpinan Fretilin dari desa sampai kabupaten sudah
terpilih yang baru. Fretilin siap Pemilu.
Jadi Anda sudah berkeyakinan Pemilu dipercepat 2009 nanti akan
dimenangkan oleh Fretilin?
Saya tidak ragu karena masyarakat sudah mulai melihat pada peristiwa
2006 itu banyak hal yang ditambah-tambahkan untuk menjatuhkan Fretilin.
Pemerintah ini tidak punya kapasitas untuk memerintah. Pemerintah ini
menggunakan uang asal-asalan. Kita melihat perjalan dinas mereka ke luar
negeri. Mereka memakai uang yang sangat banyak dalam perjalanan mereka
ke luar negeri.
Saya dulu ketika menjadi PM, rombongan PM saya tidak lebih maksimum
sepuluh orang. Selama pemerintahan saya, hanya sepuluh orang dan terjadi
hanya tiga kali, yang pertama ketika saya ke Jakarta, Beijing dan Lisbon
Portugal. Ke negara lainnya delegasi saya hanya tiga atau lima orang.
Kita lihat ketika Xanana berkunjung ke Indonesia dengan delegasi lebih
dari 70 orang. Uang yang dipakai untuk perjalanan dinas ini tak bisa
dihitung. Karena ini masyarakat mulai melihat. Presiden ASDT sendiri
mengatakan, masyarakat sedang lapar kalian pergi dengan delegasi yang
sangat besar dalam perjalanan dinas kalian, tidak tahu apa yang kalian
bikin.
Kita juga melihat pemerintah sekarang memberlakukan diskriminasi pejabat
yang dicurigai sebagai Fretilin. Ini menunjukkan bahwa pemerintah ini
tidak memerintah untuk semua orang. Mereka memerintah untuk orang mereka
saja.
Ini terjadi juga pada proyek-proyek pemerintah. Tidak ada tender terbuka,
mereka serahkan pada teman-teman mereka. Orang mengatakan bahwa tindakan
mereka ini agar pengusaha tersebut bisa memberi donasi yang besar pada
mereka. Agar mereka bisa mempersiapkan diri juga jika Pemilu dipercepat.
Orang mengatakan pemerintahan mereka melakukan korupsi sampai sekarang.
Semasa pemerintahan saya, setiap tahun kami meminta auditor
internasional untuk mengaudit pemerintahan. Pemerintahan ini belum ada
auditor, belum meminta auditor internasional. Karena itu semua orang
melihat bahwa mereka menggunakan anggaran tidak melalui jalur yang ada
sehingga mereka takut diaudit. Fretilin tetap menuntut adanya audit pada
pemerintahan.
Menurut pandangan Anda tentang kondisi masyarakat di Timor Leste, apa
problem krusial yang ada?
Problem yang paling krusial sekarang adalah harga minyak dan harga
makanan. Orang melihat harga makanan sangat naik. Harga minyak di
internasional juga naik. Pemerintah sekarang mengatakan harga makanan
naik karena harga minyak naik. Harga beras naik karena harga beras
internasional naik. Namun kita lihat di Timor Leste, harga beras naik
sebelum harga beras internasional naik.
Karena pemerintah hanya menggunakan satu-dua orang saja untuk impor
beras dan mereka membuat monopoli dan mereka mulai menaikkan harga. Dan
sekarang ketika harga beras internasional sudah naik satu-dua orang yang
bekerjasama dengan pemerintah tersebut yang akan mendapat keuntungan
besar karena pemerintah memberikan subsidi keuntungan kepada mereka
sebanyak 60 persen. Semua orang bertanya-tanya, karena apa.
Masyarkat sudah capek dengan ini. Dan masyarakat mengatakan kalau ada
Pemilu sekarang maka semua akan memberikan suaranya kepada Fretilin.
Saya percaya kalau ada Pemilu sekarang, Fretilin akan menang lebih dari
50 persen, saya boleh mengatakan lebih dari 60 persen.
Kalau Fretilin kembali menang, apa yang akan Anda lakukan?
Sejak tahun 2006, saya sudah lalui dua fase yang berbeda. Pertama, saya
tidak menyangka akan keluar dari kursi PM. Dan, kedua, saya pun sudah
siap pada tahun 2007 untuk tidak menjadi PM dan memberikan kesempatan
pada generasi berikutnya.
Saya menyadari generasi tua ini keluar dari politik dan memberikan
kesempatan kepada yang muda agar politik itu bisa berjalan. Kalau kita
masuk pada pemerintah maka kita akan menjadi tempat kritik orang. Kalau
generasi tua berada di luar maka akan bisa membantu membimbing generasi
muda. Sebagai seorang Sekjen Fretilin, partai besar dan bersejarah, saya
bisa memengaruhi segala situasi lebih baik daripada saya menjadi PM.
Oleh karena itu, meskipun saya bekerja keras kepada Fretilin agar bisa
menang, saya mencoba agar semua orang Fretilin memberi dukungan kepada
generasi muda. Saya juga mempertimbangkan, sebagai PM saya tidak
mempunyai kebebasan. Saya datang ke banyak tampat termasuk Jakarta,
malah saya tidak tahu Jakarta. Sekarang saya sebagai masyarkat biasa
saya sudah tahu Jakarta. Saya gembira betul.
Saat ini Fretilin sedang mempersiapkan regenerasi bidang politik.
Tentu ada orang-orang yang dipersiapkan?
Ya kita lihat Wakil Presiden Fretilin sekarangg berumur 33 tahun. Dua
orang Wakil Sekjen berkisar di antara 40 tahun. Ini sekedar contoh dan
akan terjadi pada struktur pemerintahan Fretilin yang baru, hasil dari
konsolidasi Fretilin yang sedang berjalan. Fretilin akan tetap kuat
kalau dia merekrut generasi muda. Ini perjuangan yang saya buat dengan
penuh keyakinan.
Apa Anda akan ikut dalam pemilihan presiden?
Saya adalah seorang manajer bukan politikus. Dalam pemerintahan Timor
Leste, PM adalah manajer. Karena itu saya tidak punya feeling menjadi
Presiden Republik Timor Leste.
Kalau nanti semua petinggi Fretilin dan partai koalisi meminta Anda
menjadi PM?
Saya yang mengajarkan kepada semua orang apabila partai menuntut maka
kita harus melaksanakan. Oleh sebab itu kalau Fretilin menang dan tetap
menuntut saya menjadi PM maka saya akan meminta Presiden Fretilin untuk
rapat luar biasa Fretilin agar saya bisa mempertahankan posisi saya.
Kalau semua tetap menginginkan saya menjadi PM, saya minta kepada mereka
untuk satu-dua tahun saja menjadi PM untuk menyelesaikan peralihan ini.
Apakah Anda masih merasa fit atau tidak sehingga sulit menerima
jabatan PM?
Saya tidak takut menjadi PM. Saya bisa melakukan tugas ini lebih baik
lagi. Tetapi, yang menjadi perhatian saya sekarang adalah kontinuitas,
karena itu saya mengatakan mendukung regenerasi.
Apa sebenarnya agenda utama Fretilin untuk membangun Timor Leste?
Pertama, kita semua tahu agar suatu negera bisa lebih baik, pendidikan
pada generasi muda harus ditingkatkan. Untuk itu prioritas utamanya
adalah investasi pendidikan. Agar masyarakat bisa mendapatkan pendidikan
yang baik maka dibutuhkan kesehatan, sebagai prioritas kedua.
Maka, seharusnya pendidikan gratis dan kesehatan gratis diberikan kepada
semua orang. Suatu masyarakat perlu pembangunan maka perlu adanya
investasi. Maka prioritas ketiga adalah perlu adanya investasi besar
dalam membangun infrastruktur. Pemerintah yang harus melaksanakannya
terlebih dulu untuk membangun kondisi sehingga sektor swasta bisa masuk.
Ini perlu diperinci secara jelas. Karena proses pembangunan tidak bisa
melompat.
Sekarang, di mana pun negara kalau ingin membangun perlu adanya hubungan
baik terutama dengan negara-negara tetangga. Buat Timor Leste, saya
tidak ragu bahwa hubungan baik dengan Indonesia dan Australia, kemudian
Asia lainnya dan forum Pasifik, lalu negara seluruh dunia. Karena
hubungan internasional bukan hanya diplomasi tetapi juga kerjasama
ekonomi, teknik, keamanan, dan kerjasama mencegah teroris.
Juga yang terpenting adalah kerjasama dalam mempertahankan lingkungan
hidup karena lingkungan hidup adalah sustainable kehidupan berkelanjutan.
Ini sangat penting dalam sisi global kita. Globalisasi adalah mau tidak
mau kita ambil bagian dalam dunia ini. Agar tidak terjadi dunia ini
dipimpin oleh satu negeri, kita perlu memperkuat blok regional.
Bukan seperti yang kita lihat pada mempertahankan blok pada
tahun 60-70 an tentang kedaulatan. Tetapi kita perlu kerjasama dalam
membangun identitas regional. Kalau sudah ada identitas regional yang
sudah membangun dalam bentuk komunitas maka kita bisa jadi penyeimbangan
dari utara ke selatan.
Bagaimana Anda melihat pentingnya hubungan Timor Leste dengan
Indonesia?
Sekarang ini, apa yang kita konsumsi di Timor Leste datang dari
Indonesia. Sekarang hubungan antar dua negara ini sangat baik. Orang
Timor datang ke Indonesia seolah-olah di rumah mereka sendiri, begitu
pula dengan orang Indonesia. Jika ke depan, bila ada pendidikan yang
menjadi dasar membangun ke depan, banyak sekali pemuda-pemuda yang
membentuk mereka dalam arti pendidikan di Indonesia. Bukan hanya
hubungan fisik dan geografis saja melainkan hubungan emosional. Ini yang
sangat kuat sekali bukan hanya ekonomi. Siapa pun yang memerintah Timor
Leste perlu berusaha untuk memberikan perhatian besar pada Indonesia.
Apakah masih ada kekhawatiran Anda kalau Indonesia akan kembali
mengusai Timor Timur (Timor Leste)?
Saya kira dua negara ini masuk dalam pengalaman yang baru. Indonesia
masuk dalam pengalaman demokrasi yang sangat baik. Orang kira ketika
tahun 1999 Timor Leste pisah dari Indonesia maka negara itu akan
terpecah-pecah. Ternyata, ini tidak terjadi. Problem yang sangat besar
adalah Aceh, ternyata bisa diselesaikan dengan damai. Dengan demokrasi
dan visi demokrasi Indonesia akan bisa mencapai satu solusi.
Saya percaya demokrasi di Indonesia akan ada konsolidasi. Sudah dua kali
Pemilu dan sedang berjalan Pilkada. Semua berjalan dengan baik. Banyak
partai, dalam demokrasi memang seperti ini dan pada akhirnya hanya akan
ada dua tiga atau empat dalam waktu ke depan.
Persamaan kedua negara ini adalah, mereka berdua sama-sama negara yang
merdeka. Yang terpenting adalah tidak mendominasi satu dengan yang lain.
Jelas Timor Leste tidak pernah bermimpi untuk menguasai negara lain.
Saya kira juga dalam kultur budaya Indonesia tidak memberikan kesempatan
pada hal itu.
Para pemimpin Indonesia mempunyai perhatian yang besar sekali untuk
membantu Timor Leste menjadi negara yang merdeka yang prospektif. Karena
itu saya percaya bahwa problem antara Indonesia dengan Timor Leste tidak
akan terjadi. Bahkan problem di perbatasan tinggal empat persen hampir
selesai. Komisi persahabatan Timor Leste akan berakhir masanya dengan
rekomendasi dua pemerintahan ini untuk terus mempererat hubungan dua
negara tersebut.
Masyarakat Indonesia mungkin tidak tahu, komisi persahabatan Indonesia
Timor Leste, itu saya yang mengusulkan pertama kali. Mungkin orang kira
Xanana atau Ramos Horta yang memulai padahal saya yang mulai ini terjadi
pada pertemuan dengan presiden SBY-JK di Bali. Xanana ikut partisipasi
dan Ramos Horta pada saat itu menteri luar negeri ikut melaksanakannya.
Banyak orang kira saya anti persahabatan atau rekonsiliasi dua negara
ini maka sebab itu mereka melihat komisi persahabatan ini bukan dari
saya.
Fretilin pada masa kedudukan Indonesia di Timor-Timur adalah yang
orang terpinggirkan dan memberi perlawanan. Kemudian ada pelanggaran
hak-hak azasi manusia tetapi Anda mencetuskan ide untuk persahabatan.
Apa sebenarnya yang ada dipikiran Anda?
Solusi untuk menyelesaikan masalah yang dulu adalah rasa kepercayaan
dari dua negara. Kalau tidak ada kepercayaan dan tidak ada persahabatan
sulit untuk menyelesaikan masalah. Dari dulu pun saya mulai dari
konsolidasi di Timor Leste dan Indonesia. Untuk dapat solusi itu adalah
harus ada konsolidasi demokrasi. Timor Leste boleh mendukung Indonesia
dalam konsolidasi demokrasi, Indonesia pun boleh melakukan hal yang sama.
Kalau demokrasi sudah sampai pada satu tingkat yang sudah tercapai
konsolidasi, maka demokrasi itu sendiri yang akan menjadi solusi.
Pasca jajak pendapat dengan opsi otonomi atau merdeka 1999 di Timor
Timur, yang dimenangkan opsi merdeka, terjadi kerusuhan di Timor Timur.
Bagaimana sikap Anda tentang proses peradilan atas pelanggaran HAM yang
dulu terjadi di Timor Timur?
Apa yang dilakukan dalam proses peradilan di Indonesia adalah masalah
Indonesia. Sama juga seperti masalah peradilan yang terjadi Timor Leste
adalah masalah Timor Leste. Saya tidak mau memberikan komentar kepada
masalah yang masuk dalam kedaulatan negara Indonesia.
Bisa kembali sedikit ke belakang pada pasca jajak pendapat, di mana
pilihan merdeka mendapat suara terbanyak, terjadi perubahan cukup besar
di Timor Timur, lalu Anda sendiri memandang itu seperti apa?
Di Timor Leste masalah keadilan terus berjalan. Dalam hal ini, saya
percaya juga bahwa di Indonesia pun terus berjalan. Karena ini adalah
merupakan keinginan daripada masyarakat dua negara ini. Kalau masyarakat
bisa menuntut keinginan ini maka perlu ada satu informasi. Informasi
yang benar mana, dan yang salah mana? Komisi persahabatan dua negara ini
akan membawa informasi.
Dulu di Timor Leste ada satu komisi yang namanya CAPR adalah memberi
informasi yang benar kepada masyarakat apa yang terjadi tahun 1975
sampai 1999. Sampai sekarang pemerintah belum menyosialisasikan hasil
dari pada CAPR kepada masayarakat. Bukan karena tidak mau, harus mencari
waktu yang tepat agar tidak menyebabkan timbul masalah baru lagi. Harus
mencari satu kondisi yang tepat untuk memberikan kompensasi kepada
mereka-mereka yang korban. Kalau kita hanya memberikan informasi dan
tidak memberikan kompensasi kepada para korban maka berarti kita
menciptakan satu masalah baru.
Kami sendiri, Timor Leste, sedang mempersiapkan kondisi ini. Sekarang
datang lagi daripada komisi persahabatan dua negara ini akan membawa
informasi ini juga. Dua negara ini harus bersatu, harus melihat
informasi yang bagaimana yang bisa kita sosialisasikan kepada masyarakat
agar pada masa yang akan datang masyarakat bisa mengerti bahwa mengapa
pemerintah mengambil keputusan ini atau keputusan itu.
Siapa yang berkuasa akan mencari satu solusi, tapi bukan berarti solusi
itu akan menyebabkan satu masalah baru. Biasanya para civil society
menginginkan berjalan dengan cepat, akan tetapi siapa memerintah harus
mengetahui bagaimana ini bisa berjalan ke depan dengan baik. Agar
mencegah munculnya masalah baru.
Dalam kaitan dengan kondisi masyarakat yang tenteram, bersahabat dan
toleran, bagaimana kerukunan beragama di bina di Timor Leste?
Banyak orang bertanya kepada saya, bagaimana mungkin satu negara
mayoritas Katolik sedang saya muslim bisa menjadi Perdana Menteri. Saya
ingin mengatakan bahwa saya adalah pendiri nasionalis Timor Leste. Kalau
kita mulai ingin memisahkan antara masalah nasionalisme dan agama maka
di Timor Leste hal ini tidak. Mayoritas Katolik hormat pada agama lain.
Hubungan antara Islam, Katolik, dan Protestan berjalan dengan sangat
baik.
Jelas bahwa ada orang tertentu yang ingin membuat agama dalam politik.
Kalau sudah tidak ada alasan lain lagi, alasan satu yang mereka pakai
adalah agama. Dan ini adalah hanya individu. Dan ini bukan berarti dari
pihak gereja secara lembaga yang kontra kepada Islam atau Islam dari
segi lembaga yang kontra kepada Katolik, itu tidak ada.
Ini hanya orang-orang individu yang opportunis. Opportunis politik yang
untuk mencapai tujuan dia sendiri, namun masyarakat tidak mengikuti dia.
Karena itulah Katolik masih kuat sampai sekarang.
Luar biasa! Hal ini mungkin di Timor Leste sudah dipraktekkan dengan
baik, walaupun tingkat kedewasaan demokrasi masih baru tumbuh. Anda
sendiri sebagai seorang muslim bisa menjadi Perdana Menteri di negara
yang penduduknya mayoritas Katolik. Tapi itu mungkin tidak hanya karena
kesadaran politik di Timor Leste yang demikian tinggi, tapi mungkin
karena kapasitas Anda sendiri?
Saya ingin mengatakan bahwa dalam politik, saya bukan bagian dari
minoritas tapi bagian dari mayoritas. Saya Sekretaris Jendral Fretilin
dan Fretelin adalah mayoritas bukan minoritas. Dalam agama ya saya tahu,
bahwa saya minoritas. Tetapi agama ini adalah merupakan hubungan saya
dengan Tuhan, yang akan membawa saya hidup ke dunia lain. Politik adalah
hubungan saya dengan masyarakat yang membuat masyarakat ini hidup lebih
baik. Ini adalah perbedaan jelas antara agama dengan politik.
Ya, tapi itu berarti Anda sendiri dalam mengamalkan agama, tidak
hanya mementingkan kepentingan kelompok agama yang Anda anut. Sementara
ada juga orang yang hanya mementingkan kelompok agamanya?
Selalu ada indikasi orang mempergunakan agama. Itu di mana-mana. Saya
kira kita harus mulai untuk mengklarifikasi masalah ini dengan jelas.
Semasa saya menjadi Perdana Menteri, banyak orang bertanya kenapa saya
tidak membentuk satu departemen agama, saya menjawab saya Islam, saya
setelah memelajari di semua negara-negara, hanya negara-negara Islam
sajalah yang mempunyai departemen agama.
Maka sebab itu Timor Leste mayoritas Katolik ini menginginkan adanya
departemen agama, mau ikut negara mana yang mayoritas Katolik punya
departemen agama?
Jadi menurut Anda prinsip sebuah negara tidak memerlukan departemen
agama?
Bukan masalah perlu atau tidak perlu. Tetapi berdasarkan study
comporative yang saya lakukan. Kalau saya yang Islam lalu saya membentuk
satu departemen agama, orang akan mengatakan saya mengikuti
negara-negara Islam yang memiliki departemen agama.
Dalam rangka hubungan internasional terutama hubungan regional,
dengan semua negara tetangga, terutama Indonesia, Australia, dan Asia
Fasifik. Tapi, kalau ada suatu kondisi yang mengharuskan Anda memilih
antara Australia atau Indonesia, mana yang Anda pilih?
Saya ingin mengatakan bahwa Timor Leste sangat beruntung. Suatu negara
yang sangat kecil tapi berhubungan dengan dua kekuatan besar, Asia dan
Fasifik. Berhubungan, bukan akan pecah. Dan berhubungan juga dengan dua
kelautan besar, laut Hindia dan laut Pasifik. Dalam kaitan ini, Timor
Leste akan menjadi penghubung bukan menjadi pemisah.
Sekarang
kita mau atau tidak mau melalui budaya, Timor Leste ada banyak campuran
budaya. Masyarakat original separo dari Male, separo dari Melanesia.
Dari segi geografi akan ada elemen-elemen perhubungan, kultural, sosial,
campuran antara kultural (budaya) dan sosial. Timor Leste tidak bisa
memilih, dia tidak dalam posisi memilih, dia sudah hidup dengan keadaan
yang demikian.
Dari sudut pandang Anda apa yang paling menarik di Indonesia?
Saya kira Indonesia adalah suatu negara yang sangat besar. Mampu juga
membangun satu persatuan yang sangat kuat. Dulu orang berkata bahwa
persatuan ini ada karena diktator. Saya melihat bahwa persatuan ini
terus akan meningkat karena demokrasi. Dan apa yang bisa ditunjukkan
oleh Indonesia adalah suatu negara yang besar dan Islam adalah mayoritas
mampu berbuat demokrasi, ini adalah salah-satu contoh yang penting
sekali.
Karena ada indikasi yang mengatakan bahwa Islam itu fanatik anti
demokrasi, kekerasan. Indonesia menunjukkan dengan jelas bahwa tidak
demikian. Indonesia adalah sebuah negara kepulauan mayoritas penduduknya
beragama Islam, melaksanakan demokrasi dengan baik. Ini bisa merubah
mentalitas dunia. Ini yang menjadikan ketertarikan saya besar pada
Indonesia.
Tadi Anda tegaskan, kalau Fretilin berkuasa, akan memprioritaskan
pendidikan. Konkritnya bagaimana?
Pendidikan ada dua tahap. Pendidikan bagi semua orang, harus ada
kualitas. Dan kita juga tahu, satu negara yang ingin berkompetisi di
dunia, harus membentuk kelompok elit intelektual sehingga mampu
mempererat kedaulatan untuk bisa menunjukkan kapasitas mereka. Untuk itu,
pendidikan harus dimulai dari orang-orang yang punya talenta dan
keahlian masing-masing, membuka jalan kepada mereka agar mereka berjalan
dengan cepat.
Saya sudah berkali-kali mengatakan apa yang dilakukan oleh Singapura,
Malaysia, Indonesia dalam tempo 40 tahun. Timor Leste harus melakukan
dalam 10 tahun. Kalau tidak seperti itu, maka kita akan selalu menjadi
adik yang terbelakang. Maka oleh sebab itu kita harus melakukan dalam 10
tahun seperti mereka melakukan dalam 40 tahun. Ini harus dibuat
keputusan dalam sektor pendidikan.
Apa ada keinginan untuk mengajak lembaga-lembaga di Indonesia,
pemerintah maupun nonpemerintah untuk berperan serta dalam program ini?
Ini ada sesuatu keuntungan besar saya datang ke Indonesia bukan sebagai
perdana menteri. Saya bisa berbicara dengan berbagai macam institusi,
saya melihat bahwa bukan hanya pemerintah saja yang mendukung Timor
Leste, tetapi juga berbagai institusi yang mengontrol universitas, yang
mengontrol institusi tehnik, siap untuk membantu Timor Leste.
Sekarang saya bisa punya visi yang global. Dulu saya datang hanya
berbicara dengan presiden dan dengan para menteri dan tidak tahu
bagaimana bisa melaksanakannya. Dan pemerintah di berbagai dunia perlu
waktu untuk melaksanakannya.
Karena mereka juga mempunyai masalah problem domestik akan
tetapi bila kita bisa mengidentifikasi terhadap institusi tertentu, maka
akan lebih cepat. Maka bisa saya katakan, bahwa saya sekarang lebih
mengenal Indonesia. Dan mengenal bahwa Indonesia bersedia untuk membantu
Timor Leste. ►mti/ch robin simanullang, dan doan adikara *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia) |